444 Alat Batu Lembah Walennae dan Satu Bahan Baku yang Melimpah

Ilustrasi kapak batu prasejarah di tanah berdaun kering dengan latar lembah berkabut

Ilustrasi alat batu prasejarah di Lembah Walennae, Sulawesi Selatan, kawasan hunian tertua di pulau itu. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Di Situs Jampu dan Situs Calio, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, kapak batu berumur ratusan ribu tahun tergeletak begitu saja di permukaan tanah, tertutup daun kakao kering. Dari empat situs di Lembah Walennae, peneliti mengumpulkan 444 artefak batu — 116 dari Talepu, 116 dari Paroto, 112 dari Calio, dan 100 dari Jampu. Empat di antaranya kemudian dipotong tipis dan ditembak sinar-X di laboratorium geologi untuk menjawab satu pertanyaan sederhana: batu apa sebenarnya yang dipakai manusia purba di lembah itu.

Jawabannya, menurut penelitian ini, adalah gamping kersikan — batu gamping yang mengalami proses pengersikan atau silisifikasi sehingga kandungan kapurnya digantikan mineral silika. Bahan itu ditemukan paling banyak dibanding tiga bahan lain yang juga dipakai di kawasan tersebut, yaitu tufa, batupasir, dan gamping biasa.

Penelitian itu dipaparkan Khairil Akram dari Universitas Muslim Indonesia dan Dwi Sumaiyyah Makmur dari Universitas Khairun lewat artikel Identifikasi bahan baku artefak batu (gamping kersikan) di Situs Talepu, Paroto, Jampu dan Calio, yang terbit dalam jurnal Berkala Arkeologi Vol. 45 No. 1 pada 2025. Lembah Walennae sendiri disebut sebagai wilayah hunian tertua di Sulawesi, dengan pertanggalan yang menjangkau 200 ribu tahun lalu.

Dari Van Heekeren sampai Ekskavasi Talepu

Riwayat penelitian di lembah ini panjang dan penuh bantahan. Penelitian pertama dilakukan pada 1947 oleh Van Heekeren, peneliti Belanda yang hasil eksplorasinya terbit dalam buku Stone Age of Indonesia pada 1957. Ia menemukan artefak serpih paleolitik yang berasosiasi dengan fosil fauna di teras-teras Sungai Walennae, mengaitkannya dengan Situs Sangiran di Jawa, dan berpendapat bahwa manusia pendukungnya datang lewat jalur migrasi Filipina. Pada edisi kedua bukunya tahun 1972, ia merevisi pendapatnya: lebih dari 100 artefak batu dari wilayah Sompoh dan Beru berasal dari masa Pleistosen Tengah akhir, antara 200 ribu dan 100 ribu tahun lalu.

Pada 1970 Bartstra bergabung dalam penelitian bersama pemerintah Indonesia dan Belanda. Dalam Current Anthropology tahun 1991 ia menyodorkan pandangan berbeda dari Van Heekeren, yakni bahwa industri artefak batu Cabenge punya karakter yang sama dengan industri artefak batu Pacitan. Bersama Keates, ia kemudian menganalisis 28 artefak dari Situs Beru dan Marale dan merumuskan lima tipologi awal, termasuk serpih besar dan artefak inti besar. Perbandingan berikutnya menemukan bahwa tiga artefak bermata runcing dari Situs Paroto mirip dengan delapan artefak dari Pacitan dalam hal pemangkasan dan bentuk, hanya saja ukuran artefak Walennae lebih kecil daripada temuan Lembah Baksoka.

Van den Bergh bersama Fachroel Aziz juga memeriksa endapan fosil fauna di pinggiran depresi Walennae dan memilah teras-teras lembah itu berdasarkan umur faunanya. Hasilnya tiga lapisan: Lapisan Fauna Walennae dengan antara lain Celebochoerus heekereni, Elephas celebensis, dan Stegodon sompoensis; Lapisan Fauna Tanrung dari Pleistosen Tengah; serta lapisan termuda yang dicirikan oleh anoa.

Titik penting berikutnya datang dari ekskavasi Van den Bergh di Situs Talepu pada 2007 hingga 2012, yang menghasilkan pertanggalan absolut untuk artefak batu yang masih berada pada posisi aslinya dan diterbitkan di jurnal Nature dengan judul Earliest Hominin Occupation of Sulawesi, Indonesia pada 2016. Hasil itu menguatkan kembali pernyataan Van Heekeren tahun 1972. Rangkaian temuan yang saling mengoreksi semacam ini lazim dalam arkeologi, sebagaimana terjadi pada perdebatan seputar situs berusia ribuan tahun di Inggris yang berkali-kali ditinjau ulang.

Kapak Perimbas, Penyerut, dan Hitungan Korteks

Data lapangan dikumpulkan dengan survei berbanjar linear, wawancara, serta perekaman tiga dimensi memakai fotogrametri jarak dekat. Objek dipotret mengelilingi 360 derajat pada jarak dan ketinggian yang sama, lalu direkonstruksi menjadi model tiga dimensi berskala satu banding satu. Wawancara dilakukan antara lain kepada Anwar Akib, informan yang sudah mengikuti berbagai kegiatan penelitian di Kabupaten Soppeng sejak 1967.

Dari 444 artefak, 192 tergolong alat inti dan 252 tergolong serpih diretus. Alat inti terdiri atas kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, dan pahat genggam. Kapak perimbas paling dominan dengan 65 buah. Pada kelompok serpih diretus, tipe penyerut mendominasi dengan 155 buah, disusul tipe bilah. Penyerut dikenali dari bentuk dasar yang tidak beraturan dengan retus pada salah satu sisi tepian tajam, sedangkan bilah berbentuk memanjang dengan sisi sejajar.

Yang menarik dari analisis ini adalah hitungan korteks, yaitu kulit luar batu yang belum terpangkas. Pada alat inti, kategori yang paling banyak muncul adalah korteks 76 hingga 100 persen, dengan 73 buah alat. Sebaliknya, pada serpih diretus kategori terbanyak justru 1 hingga 25 persen, dengan 86 buah alat. Kondisi faset pada kedua kelompok sama-sama didominasi bentuk bundar. Teknik pemangkasan pada alat inti terbagi antara bifasial dan monofasial, sementara pada serpih diretus teknik unifasial paling banyak dipakai dengan 149 buah.

Sayatan Tipis dan Sinar-X

Empat sampel dibawa ke Laboratorium Departemen Geologi Universitas Hasanuddin untuk dua jenis pemeriksaan: analisis sayatan tipis dan analisis spektrometri dengan alat X-ray Fluorescence. Sampel yang diambil mewakili empat situs sekaligus empat tipe artefak, yakni kapak penetak dari Paroto, bilah dari Calio, penyerut dari Jampu, dan kapak perimbas dari Talepu.

Sayatan tipis menunjukkan seluruh sampel berupa batuan sedimen. Alat inti dari Paroto dan Talepu tergolong packstone, sedangkan serpih diretus dari Calio dan Jampu tergolong mudstone, mengikuti klasifikasi Dunham yang membedakan batu gamping berdasarkan tekstur pengendapannya. Perbedaan itu bukan sekadar istilah geologi: mudstone adalah batu gamping dengan butiran kurang dari 10 persen di dalam matriks lumpur karbonat, sementara packstone punya tekstur bertumpu pada butiran dengan matriks lumpur. Temuan ini sejalan dengan pengamatan Bartstra bahwa artefak besar cenderung dibuat dari bahan berbutir besar dan artefak kecil dari bahan berbutir lebih halus.

Analisis sinar-X memberi angka yang lebih tegas. Seluruh sampel memiliki komposisi senyawa kimia yang praktis identik, didominasi silikon dioksida dengan persentase 94 hingga 97 persen, ditambah ferri oksida, difosforus pentaoksida, klorida, dan kalsium oksida. Dengan kandungan silika setinggi itu serta kehadiran ferri oksida, kekerasan batu tersebut mencapai angka 7 pada skala Mohs — setara kuarsa, cukup keras untuk dipangkas menjadi tajaman yang awet. Pendekatan laboratorium semacam ini kini makin lazim dipakai untuk membaca benda kuno, seperti pada analisis bata kuno Mesopotamia yang mengungkap perubahan medan magnet bumi.

Batu yang Ada di Halaman Rumah

Menurut kedua penulis, gamping kersikan itu terbentuk lewat proses silisifikasi: matriks mineral karbonat dalam batu gamping berubah dan digantikan mineral silika, akibat pelarutan karbonat dan pelapukan mineral silika yang berlangsung bersamaan. Sumbernya kemungkinan besar adalah kerakal-kerakal gamping kersikan di Formasi Walennae. Deskripsi geologi kawasan itu menyebut endapan aluvium di atas formasi tersebut mengandung kerikil dan kerakal dari masa Pleistosen Tengah yang didominasi deposit batu gamping terkersikan.

“Kondisi lingkungan daerah Lembah Walennae memiliki keadaan geologi yang rumit,” tulis Khairil Akram dan Dwi Sumaiyyah Makmur dalam artikel itu. Lembah tersebut membentang dari utara ke selatan mengikuti Sungai Walennae, seluas sekitar 1.701 hektare pada ketinggian 24 sampai 72 meter di atas permukaan laut, dan kini sebagian besar berupa perkebunan, persawahan, serta permukiman.

Kesimpulan mereka bertumpu pada ketersediaan: “Penggunaan bahan baku gamping kersikan sangat dominan digunakan karena melimpahnya sumber bahan baku tersebut disekitar area kawasan.” Bentang alam yang tergolong terisolasi, tulis mereka, memaksa manusia pendukung budaya di lembah itu memanfaatkan apa yang tersedia di sekelilingnya. Pola serupa — pemilihan bahan yang menentukan teknologi dan pola gerak manusia — sudah lebih dulu ditelusuri di situs-situs Spanyol seperti Asturias, Ametzagaina, dan Gua Aitzbitarte III, yang menjadi pembanding dalam penelitian ini.

Penulisnya sendiri menandai batas pekerjaan mereka. “Penelitian terkait Identifikasi Bahan Baku Artefak Batu Gamping Kersikan di Kawasan Lembah Walennae masih memerlukan banyak penyempurnaan,” tulis keduanya di bagian rekomendasi. Seluruh sampel yang dipakai berasal dari permukaan tanah, bukan dari galian terkendali, sehingga diperlukan sampel artefak yang masih berada pada posisi aslinya sebagai pembanding. Persoalan artefak yang tergeletak terbuka di permukaan juga bukan perkara kecil, mengingat kerentanannya serupa dengan yang dihadapi situs arkeologi yang terancam dijarah di berbagai belahan dunia. Sementara itu, ratusan kapak perimbas dan penyerut dari Talepu, Paroto, Jampu, dan Calio tetap berada di antara kebun kakao, di lembah yang dulu menjadi tempat berburu dan meramu, dan yang temuan sejenisnya di tempat lain kerap berakhir sebagai koleksi senjata kuno di ruang pamer museum.

Baca Juga

Ilustrasi pahatan relief batu candi memperlihatkan pemanah menarik busur
Busur di Relief Candi Menyusut Delapan Abad, dari Vansa ke Saranga
Ilustrasi detail relief batu candi memperlihatkan sosok bermahkota berkepala banyak
Rahwana Berkepala Tujuh di Prambanan, Manusia Biasa di Panataran
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Ilustrasi tangan memegang ponsel yang menampilkan gelembung percakapan di ruang gelap
5.976 Komentar di Bawah Siaran Fatwa PUBG dan Apa Isinya
Ilustrasi struktur bata merah candi tua di tepi kanal dikelilingi hutan rawa
Serbuk Sari Obat Malaria di Percandian Muarajambi Abad ke-7
Ilustrasi undakan batu andesit menembus padang rumput di punggungan gunung berkabut
Api Merbabu Menyingkap Tangga Batu dan Prasasti 1527 Masehi