Tujuh Nama Orang India di Jawa pada Prasasti Kuno

Ilustrasi pelabuhan sungai di delta Brantas dengan kapal dagang berlayar segi empat bersandar, kuli memikul bal kain bercelup nila menuruni titian papan, gudang beratap daun dan teras bata merah di tepi muara

Ilustrasi pelabuhan sungai di delta Brantas pada abad ke-11 Masehi, tempat kapal dagang dari India membongkar muatan kain dan memuat rempah. [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — Pada 1021 Masehi, Raja Airlangga mengeluarkan Prasasti Cane. Lempeng itu memuat daftar warga yang wajib membayar pajak di sebuah daerah sima. Di dalam daftar tersebut tercantum kling, aryya, drawida, dan pandikira. Empat sebutan itu merujuk pada orang-orang yang datang dari India. Inilah catatan tertulis pertama yang menyebut kehadiran mereka di Jawa secara eksplisit, dan sesudah itu penyebutannya berlanjut sampai masa Majapahit.

Daftar itu dilacak kembali oleh Asri Hayati Nufus, peneliti dari Program Pascasarjana Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Artikelnya, Kehadiran Orang India di Jawa: Tinjauan Data Prasasti Abad XI–XV Masehi, terbit pada Desember 2024 di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 42 No. 2. Metodenya deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif. Bahannya berupa alih aksara dan alih bahasa dari 13 prasasti Jawa Kuno, ditambah literatur tentang orang-orang India.

Penyebutan orang luar Jawa sudah ada jauh sebelum 1021. Prasasti Gondosuli II bertahun 827 Masehi menyebut tokoh bernama dang puhawang glis, yang diartikan sebagai kapten kapal dagang, dan prasasti berbahasa Melayu Kuno itu menunjukkan adanya komunitas pedagang Melayu di Jawa Tengah. Hampir seabad kemudian, Prasasti Wurudu Kidul bertahun 922 Masehi mencatat Sang Dhanadi menggugat ke pengadilan untuk membuktikan bahwa ia penduduk lokal dan bukan orang Khmer, karena diminta membayar pajak orang asing bernama kikeran.

Perubahan besar datang pada awal abad ke-11 Masehi. Pusat perdagangan yang semula berada di Selat Malaka di bawah Sriwijaya bergeser ke Sungai Brantas dan pantai utara Jawa. Pemicunya konflik antara Sriwijaya dan pedagang Tamil soal upeti yang tinggi, yang berujung pada penyerangan Kerajaan Chola terhadap Sriwijaya. Sriwijaya melemah. Jawa memperoleh peluang menjadi pusat perdagangan internasional, dan pendatang dari berbagai wilayah mulai tercatat namanya di lempeng-lempeng tembaga.

1021: Empat Nama pada Lempeng Cane

Prasasti Cane dikeluarkan pada 943 Saka atau 1021 Masehi. Isinya permintaan penduduk desa Cane agar daerah mereka dijadikan sima, dengan alasan desa itu berada di batas wilayah kerajaan dan berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh. Bagian yang dipakai Nufus terletak pada baris keempat belas verso, tempat kelompok wargga kilalan didaftar satu per satu sebagai masyarakat yang dikenai pajak oleh kerajaan.

Nama-nama pada baris itu tidak hanya berasal dari India. Tercatat kling untuk orang India, aryya untuk orang Arya, singhala untuk orang Sri Lanka, pandikira, drawida, campa untuk orang Vietnam, kmir untuk orang Khmer, dan rmen untuk orang Mon-Birma. Istilah wargga kilalan sendiri berasal dari kata kilalan yang berarti diambil. Nufus menulis: “Wargga kilalān diartikan sebagai warga yang diambil miliknya atau warga yang diharuskan untuk membayar pajak”.

Prasasti Patakan, yang menurut Nufus juga dikeluarkan pada 1021 Masehi, memuat empat nama India yang sama. Kling merujuk pada Kalinga, kerajaan di India Selatan di pantai Teluk Benggala, diapit Sungai Gangga di utara serta Sungai Godavari dan Krishna di selatan. Kota-kota pelabuhannya, seperti Kalingapatnam, Manikpatna, Palur, dan Tamralipti, mengirim kain halus, sutra, dan tembaga ke Sri Lanka, pantai timur Afrika, sampai pelabuhan-pelabuhan di laut Arab.

Baca juga Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno

Jejak kain itu ikut masuk ke dalam prasasti. Dalam daftar hadiah raja kepada para pejabat disebutkan wdihan bwat kling putih, yang berarti kain yang berasal dari Kalinga. Permintaan rempah dari Barat menarik pedagang Kalinga ke arah timur, dan mereka menjadi perantara perdagangan rempah, terutama cengkih, antara produsen di Nusantara dan konsumen di Barat. Komoditas kain itulah yang paling mungkin mereka bawa ke Jawa pada abad ke-11 Masehi.

1022 hingga 1059: Nama-Nama Baru dari Selatan

Setahun sesudah Cane, daftarnya berubah. Prasasti Munggut bertahun 1022 Masehi memunculkan sebutan yang belum ada sebelumnya, yaitu karnnataka, malyala, dan cwalika. Kling dan aryya tetap tercantum, sementara drawida dan pandikira justru menghilang. Pergantian penyebutan semacam itu, tulis Nufus, kemungkinan terkait erat dengan perubahan kondisi politik di wilayah asal para pendatang, bukan dengan perubahan aturan di Jawa.

Lima belas tahun kemudian, Prasasti Kamalagyan bertahun 1037 Masehi merekam suasana perdagangan di tepi Sungai Brantas. Alih bahasanya menyebut orang-orang yang berperahu ke hulu untuk mengambil barang dagangan di Hujung Galuh, dan mereka yang datang ke sana adalah para nakhoda serta para pedagang dari pulau-pulau lain. Prasasti ini tidak menyebut asal wilayah mereka, tetapi menunjukkan lalu lintas pelabuhan sungai yang ramai pada masa Airlangga.

Tiga tahun berikutnya, Prasasti Turun Hyang A bertahun 1040 Masehi menyebut orang Karnataka di Jawa. Karnataka diartikan sebagai wilayah India bagian tengah dan selatan yang dikenal juga dengan sebutan Kanara. Pada masa itu wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Dinasti Chola, tepatnya pada pemerintahan Rajendra Chola I yang memerintah 1012–1044 Masehi. Kelompok pedagang dari Karnataka memang banyak disebut sejak abad ke-9 hingga abad ke-13 Masehi.

Orang Kerala baru muncul pada 1053 Masehi lewat Prasasti Garaman. Mereka disebut malyala, nama yang kemungkinan besar diambil dari bahasa Malayalam yang dipakai penduduk pesisir Malabar di India Selatan. Malabar sendiri sudah jatuh lebih dulu: pada 1018 pelabuhannya ditaklukkan Chola, dan Kerajaan Kerala otomatis berada di bawah kekuasaan Chola. Prasasti yang sama juga menyebut cwalika, yaitu orang Cholika dari Chola di Koromandel.

Chola pada abad ke-11 Masehi sedang berada di puncaknya. Wilayahnya membentang dari Tamil Nadu sampai Orissa dan sebagian Benggala Tengah, ditambah Chera, sebagian Sri Lanka, serta Maladewa pada masa Rajendra Chola. Enam tahun setelah Garaman, Prasasti Sumengka bertahun 1059 Masehi masih memuat karnnataka, malyala, dan cwalika. Bagian depan prasasti itu sudah tidak bisa dibaca lagi, sehingga kling dan aryya tidak muncul di sana.

Baca juga Prasasti 907 Masehi Menyebut Wayang, Kabar Tertua Pertunjukan Jawa

1136 hingga 1194: Jabatan Bernama Juru Kling

Sesudah Sumengka, sebutan kelompok orang India tidak lagi muncul pada prasasti abad ke-11 Masehi yang ditelusuri Nufus. Yang bertahan justru nama sebuah jabatan. Juru kling tercatat pada Prasasti Talan bertahun 1136 Masehi dan Prasasti Kemulan bertahun 1194 Masehi. Jabatan itu sudah lebih dulu disebut pada Prasasti Cane 1021 Masehi, Prasasti Munggut 1022 Masehi, dan Prasasti Turun Hyang A 1040 Masehi.

Penyebutannya tidak berada di bagian wargga kilalan, melainkan di bagian manilala drwyahaji. Menurut Zoetmulder, juru berarti kepala, pemimpin, ketua, pedagang, atau pekerja yang terlatih, sedangkan kling mengacu pada orang yang berasal dari Kalinga. Nufus menyimpulkan: “Jadi, juru kling dapat diartikan sebagai koordinator atau petugas yang mengurusi orang-orang Keling atau Kalinga.” Istilah manilala drwyahaji sendiri berarti menikmati atau mengambil milik raja.

Karena digaji raja, juru kling kemungkinan besar orang Jawa Kuno sendiri, bukan pendatang. Tugasnya mengatur dan menarik pajak dari orang Kalinga, serta mungkin mencatat mereka agar kerajaan lebih mudah membuat pengaturan. Cakupannya ternyata lebih luas daripada namanya. Istilah itu tidak hanya dipakai untuk orang Kalinga, tetapi juga untuk pendatang dari wilayah India lain yang berada di Jawa pada masa itu.

Christie menduga hal tersebut disebabkan dominasi Kalinga dalam perdagangan tekstil, sehingga kata kling diadopsi secara luas di Indonesia, baik untuk menyebut kain maupun untuk menyebut kelompok orang yang berasal dari India. Pengaturan kerajaan tidak berhenti pada pajak. Prasasti Cane menyebutkan segala tindak pidana yang dilakukan wargga kilalan, termasuk orang asing, dikenai denda, dan denda itu dikuasai bhatara bangunan suci di daerah sima.

1305 hingga 1447: Catatan Terakhir dari Majapahit

Pada 1305 Masehi, dua prasasti dari masa Majapahit kembali memuat daftar itu. Prasasti Balawi dan Prasasti Warunggahan sama-sama menyebut kling dan aryya, dan Balawi memuat kembali pandikira yang sempat hilang sejak awal masa Airlangga. Pandikira berasal dari Pandya dan Chera. Pada awal abad ke-11 dan awal abad ke-13 Masehi, Pandya menjadi bagian dari Chola, tetapi pada pertengahan abad ke-13 Masehi, ketika kekuatan Chola melemah, Pandya muncul sebagai kerajaan terkuat di India Selatan.

Perdagangan Majapahit tumbuh bersama pelabuhan-pelabuhannya. Prasasti Canggu bertahun 1358 Masehi dan Kakawin Nagarakrtagama menyebut pelabuhan Surabaya, sementara Prasasti Tirah bertahun 1387 Masehi menyebut Gresik dan Sidhayu. Berita Tiongkok Yingyai Shenglan dari masa Dinasti Ming, 1416 Masehi, menyebut pelabuhan Canggu. Menurut Ma Huan, Gresik, Canggu, Tuban, dan Surabaya merupakan pelabuhan yang paling ramai disinggahi pedagang asing, dan banyak dari mereka menetap di kota-kota pelabuhan itu.

Baca juga Jejak Imperium Terlupakan: Kisah Kerajaan Melayu yang Menguasai Nusantara Selama 9 Abad

Nagarakrtagama juga mencatat siapa saja yang datang. Pada kanto 83 stanza 4 disebutkan orang-orang dari Jambudwipa atau India, Kamboja, Tiongkok, Yawan, Champa, Karnataka, Goda, dan Siam. Di antara mereka terdapat biksu Buddha dan brahmana yang ikut dalam perjalanan laut. Catatan itu menunjukkan yang datang ke Jawa bukan hanya pedagang, tetapi juga tokoh agama yang menumpang kapal-kapal dagang dari India.

Dua prasasti terakhir dalam daftar Nufus, Kaladi dan Kuti, merupakan prasasti tinulad atau salinan dari masa Majapahit, dan keduanya masih memuat sebutan orang India. Seluruhnya ada sebelas prasasti yang menyebut orang India pada bagian wargga kilalan, dengan tujuh wilayah asal yang dapat diidentifikasi: kling, aryya, drawida, pandikira, karnnataka atau karnnake, malyala, dan cwalika.

Batas bahan penelitian ini perlu dicatat. Nufus bekerja dari alih aksara dan alih bahasa yang sudah diterbitkan peneliti lain, bukan dari pembacaan ulang prasasti di lapangan. Bagian depan Prasasti Sumengka tidak terbaca, sementara Kaladi dan Kuti hanya salinan. Prasasti mencatat kategori pajak, bukan jumlah jiwa, sehingga berapa banyak orang India yang benar-benar datang dan menetap di Jawa tetap tidak diketahui.

Tafsir atas nama-nama itu pun belum satu suara. Christie membaca aryya sebagai perkumpulan dagang bernama Aryapura atau Ayyavole yang terbentuk di Aihole, Sarkar mengaitkannya dengan Rajputs, sedangkan Thapar menyebut Arya sebagai konsep linguistik, penanda kelompok penutur bahasa Indo-Arya dan bukan identitas rasial. Hubungan antara pergantian penguasa di India dan pergantian nama di prasasti pun disebut Nufus sebagai kemungkinan, bukan sebab-akibat yang sudah terbukti.

Prasasti Waringin Pitu bertahun 1447 Masehi masih menyebut juru kling. Sesudah tahun itu, daftar prasasti yang ditelusuri Nufus berhenti.

Baca Juga

Bongkahan batu berlubang di tanah vulkanik dengan latar hutan dan kerucut gunung api
Situs Mamuya, Megalitik yang Ternyata Jauh Lebih Muda
Ilustrasi kubur bilik batu megalitik berlumut dengan sisa pigmen merah samar di padang rumput dataran tinggi
Cara Laser Membaca Lukisan Kubur Bilik Batu Pasemah
Ilustrasi pahatan aksara kuno pada permukaan batu.
Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno
Ilustrasi umbi-umbian pangan lokal di meja laboratorium berlatar danau dan perbukitan
Enam Umbi Papua Dibaca di Bawah Mikroskop untuk Kamus Butir Pati
Ilustrasi deretan tabung sampel sedimen dan mikroskop di meja laboratorium
Hanya Sembilan Riset Butir Pati di Indonesia Sepanjang 2011 hingga 2024
Ilustrasi kapak batu prasejarah di tanah berdaun kering dengan latar lembah berkabut
444 Alat Batu Lembah Walennae dan Satu Bahan Baku yang Melimpah