Cekricek.id — 90,9 per 100.000 penduduk. Itu angka kematian perempuan Indonesia akibat penyakit jantung iskemik menurut data Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2021. Badan itu menempatkan penyakit jantung iskemik sebagai penyebab kematian utama pada perempuan. Angka 90,9 dikutip dalam artikel Women Cardiovascular Awareness And Physical Activity Promotion. Naskahnya terbit di jurnal Warta Pengabdian Andalas Vol. 33 No. 1 tahun 2026.
Penulis utamanya Mulyanti Roberto Muliantino dari Fakultas Keperawatan Universitas Andalas. Ia bekerja bersama enam rekan. Mereka adalah Yuanita Ananda, Esi Afiyanti, Leni Merdawati, Fitri Mailani, Rahmi Muthia, dan Siski Rahayu. Nama terakhir berasal dari Pascasarjana Fakultas Kedokteran universitas yang sama. Artikelnya menempati halaman 10 sampai 18. Naskah masuk 28 Oktober 2025 dan terbit 25 Maret 2026.
Desain kerjanya satu kelompok, diukur sebelum dan sesudah, tanpa kelompok pembanding. Pesertanya 30 perempuan anggota kelompok senam SEJIWA di Kelurahan Pasar Ambacang, Kota Padang. Rentang waktu datanya Juli sampai Agustus 2025. Analisisnya deskriptif. Naskah menyebut dua hambatan kelompok itu: pengakuan yang terbatas atas pentingnya olahraga rutin dan pengetahuan anggota yang masih kurang.
Dua angka jadi hasil utamanya. Skor kesadaran kardiovaskular naik dari 50,04 ke 69,80. Ukuran aktivitas fisik naik dari 642,56 MET ke 940,38 MET. Selisihnya masing-masing 19,76 poin dan 297,82 MET. Angka ketiga membuat dua angka pertama terasa kurang menenangkan. Sebanyak 26 dari 30 peserta punya kadar kolesterol total di atas 200 mg/dl.
Selisih 0,91 dan 0,80
Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi penyakit jantung nasional 0,85 persen. Angka pada perempuan 0,91 persen. Angka pada laki-laki 0,80 persen. Selisihnya tipis, hanya 0,11 poin, tetapi arahnya berlawanan dengan anggapan lama soal jantung sebagai penyakit laki-laki. Sumatra Barat masuk sepuluh besar provinsi dengan prevalensi tertinggi, yaitu 0,87 persen. Angka provinsi itu berada di atas rerata nasional.
Angka kedua lebih mudah dibandingkan lintas negara. Jerman mencatat 189,9 kematian per 100.000 penduduk. Amerika Serikat 123,4. India 99,4. Kanada 90,4. Australia 70,4. Indonesia berada di 90,9, hampir menempel Kanada. Rentangnya lebar, dari 70,4 di Australia sampai 189,9 di Jerman. Semua angka itu disusun tim penulis dari basis data WHO 2021.
Naskah menyebut faktor risiko pada perempuan lebih berlapis. Ada enam faktor klasik: tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, kelebihan berat badan, diabetes melitus, tembakau, dan gaya hidup diam. Di luar itu ada faktor khas perempuan. Perubahan hormon, pemakaian kontrasepsi, kehamilan beserta komplikasinya, dan masa menopause termasuk di dalamnya. Kesadaran yang rendah juga tercatat pada dua studi di Korea Selatan dan Spanyol.
30 Perempuan dan Dua Bulan Kerja
SEJIWA adalah kelompok senam perempuan di Pasar Ambacang. Tim pelaksananya enam orang, terdiri atas dosen dan mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Andalas. Program berjalan Juli sampai Agustus 2025. Sasarannya anggota perempuan kelompok itu, seluruhnya 30 orang. Isinya empat komponen: edukasi, promosi kesehatan, skrining, dan latihan fisik terbimbing. Tidak satu pun komponen berdiri sendiri.
Peserta didominasi kelompok usia muda. Sebanyak 17 orang atau 56,7 persen berumur 31 sampai 40 tahun. Delapan orang atau 26,6 persen berumur 40 sampai 50 tahun. Lima sisanya, 16,7 persen, berumur 51 sampai 60 tahun. Tidak ada peserta berusia di bawah 31 tahun. Dua puluh peserta, atau 66,6 persen, mengaku tidak punya riwayat penyakit.
Baca juga Obat Lupus Kosong di Apotek dan Risiko Kambuh yang Naik
Riwayat penyakit yang dilaporkan tetap ada. Enam peserta punya riwayat hipertensi, tiga punya diabetes melitus, dan satu orang punya riwayat penyakit jantung. Sepuluh orang itulah yang datang dengan setidaknya satu riwayat. Angka persentase riwayat hipertensi tercetak 20,1 di tabel. Dari 30 peserta, enam orang sebenarnya jatuh di 20,0 persen. Selisih kecil itu tidak dijelaskan naskah.
Alat ukurnya dua. Kesadaran kardiovaskular diukur dengan kuesioner ABCD Risk sebelum dan sesudah edukasi. Versi Indonesia kuesioner itu sudah diterjemahkan dan divalidasi menurut rujukan yang dipakai naskah. Aktivitas fisik diukur dengan International Physical Activity Questionnaire atau IPAQ, juga dua kali. Latihan jantung sehat digelar sepekan sekali, masing-masing 90 menit. Pekan pertama dipandu instruktur, pekan berikutnya peserta berlatih mandiri.
Skrining mencakup lima indikator. Indeks massa tubuh, lingkar perut, tekanan darah, kadar kolesterol, dan kadar glukosa darah. Perangkatnya tensimeter, glukometer, strip gula dan kolesterol, lanset, sarung tangan, serta tisu antiseptik. Materi edukasinya berupa modul, leaflet, dan poster. Seluruh data diolah dengan statistik deskriptif. Hibahnya bernomor 72/UN16.13.D/KPT/III/2025.
Dari 50,04 ke 69,80
Skor kesadaran kardiovaskular sebelum edukasi 50,04. Setelah edukasi 69,80. Selisihnya 19,76 poin pada skala yang di tabel tercetak 0 sampai 80. Kenaikan itu setara sekitar seperempat rentang skala. Angka itu bergerak pada rerata kelompok, bukan pada individu yang dilacak satu per satu. Naskah tidak memerinci berapa peserta yang skornya tidak bergerak sama sekali.
Angka pembandingnya ada di kelurahan yang sama. Tim yang sama pernah bekerja pada kelompok PKK di Pasar Ambacang dengan 21 peserta. Skor pengetahuan jantung di sana naik dari 37,5 ke 49,9. Selisihnya 12,4 poin, lebih kecil daripada 19,76 poin di SEJIWA. Laporan itu terbit di Warta Pengabdian Andalas Vol. 32 No. 1 tahun 2025.
Dua rerata awal itu menarik didudukkan berdampingan. Kelompok PKK berangkat dari 37,5, kelompok SEJIWA dari 50,04. Jumlah pesertanya pun berbeda, 21 berbanding 30. Titik akhir SEJIWA, 69,80, bahkan melampaui titik awal maupun titik akhir kelompok sebelumnya. Naskah tidak menguji apakah selisih itu bermakna secara statistik, karena analisisnya memang hanya deskriptif.
Baca juga Lingkar Pinggang Ramalkan Risiko Penyakit Jantung Lebih Akurat dari BMI, Studi 260.000 Orang
Tambahan 297,82 MET
Ukuran aktivitas fisik naik dari 642,56 MET ke 940,38 MET. Tambahannya 297,82 MET setelah latihan rutin sepekan sekali. Kenaikan itu sekitar 46 persen dari titik awal. Kolom rentang di tabel tercetak sama untuk kedua pengukuran, 80 sampai 2.574. Artinya jarak antara peserta paling pasif dan paling aktif tidak dilaporkan menyempit.
Titik berangkat 642,56 MET itu tidak muncul dari ruang kosong. “Riset menunjukkan bahwa perempuan cenderung memperlihatkan pola aktivitas fisik yang lebih rendah,” tulis Mulyanti Roberto Muliantino dan tim di bagian pendahuluan. Mereka merujuk analisis atas 38 negara berpenduduk mayoritas Muslim yang dipublikasikan Kahan pada 2015. Analisis itu menempatkan perempuan sebagai kelompok dengan kemungkinan tidak aktif paling besar.
Naskah menyandingkan dua rujukan lain milik tim yang sama. Satu studi mencatat latihan berkelanjutan menaikkan kualitas hidup pasien jantung koroner sebesar 0,729. Studi lain mencatat efikasi diri yang menguat berkaitan dengan kenaikan aktivitas fisik hingga 93,513 MET. Keduanya studi pada pasien, bukan pada anggota kelompok senam. Naskah tidak mengklaim kedua angka itu berlaku langsung pada 30 peserta.
86,7 Persen dan Batas 200 mg/dl
Skrining memberi gambaran yang berbeda arah dari dua tabel sebelumnya. Indeks massa tubuh 17 peserta atau 56,7 persen masuk kategori obesitas dengan nilai di atas 27. Tiga peserta atau 10 persen berlebih berat badan. Hanya 10 peserta atau 33,3 persen berada di rentang normal. Rentang normal yang dipakai tabel 18,5 sampai 25.
Lingkar perut memberi angka lebih besar lagi. Sebanyak 24 peserta atau 79,9 persen punya lingkar perut di atas 80 sentimeter. Enam peserta sisanya berada di bawah batas itu. Pada tekanan darah, 17 peserta atau 56,7 persen tercatat meningkat dan tiga orang atau 10 persen masuk kategori hipertensi. Sepuluh peserta lain berada di bawah 120 mmHg.
Angka kolesterol paling mencolok. Sebanyak 26 peserta atau 86,7 persen punya kolesterol total di atas 200 mg/dl. Empat peserta sisanya di bawah angka itu. Empat berbanding 26 adalah perbandingan paling timpang di seluruh tabel skrining. Naskah menyebut 200 mg/dl sebagai batas normal, sedangkan kadar di atas 240 mg/dl digolongkan tinggi. Peserta dengan glukosa di atas 200 mg/dl hanya tiga orang.
Baris glukosa itu justru menyimpan kejanggalan aritmetika. Tiga peserta di atas 200 mg/dl setara 10 persen dari 30 orang. Tetapi baris di bawahnya mencatat 27 peserta dengan persentase tercetak 70,0. Jumlah orangnya genap 30, jumlah persentasenya tidak. Persentase kelompok kolesterol rendah pun tercetak terpotong, hanya sebagai “13.” di tabel.
Baca juga Adenot, Perempuan Prancis Pertama Berjalan di Antariksa
Mekanismenya dijelaskan naskah dengan merujuk literatur. Kolesterol tinggi disebut faktor risiko utama penyakit kardiovaskular aterosklerotik. Gula darah tinggi mempercepat aterosklerosis lewat stres oksidatif, peradangan, dan gangguan endotel. Aktivitas fisik teratur disebut menurunkan kadar kolesterol non-HDL. Naskah juga mengutip temuan bahwa perempuan dengan diabetes punya risiko 40 persen lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular dan 25 persen terkena stroke.
Batas dari 30 Sampel
Semua angka di atas berasal dari 30 orang. Satu kelompok senam, satu kelurahan, satu kota, dua bulan. Tidak ada kelompok pembanding dan tidak ada uji statistik inferensial. Kenaikan 19,76 poin skor dan 297,82 MET karena itu tidak bisa dibaca sebagai bukti sebab-akibat program. Prevalensi nasional 0,85 persen juga tidak bisa dijelaskan oleh 30 orang.
Ada keterbatasan lain yang jarang terlihat di kesimpulan. Angka IPAQ berasal dari laporan peserta sendiri, bukan dari alat ukur gerak. Skrining lima indikator dijalankan satu kali, sehingga tidak ada angka kolesterol atau tekanan darah sesudah program. Dua bulan pun rentang pendek untuk indikator seperti lingkar perut. Alamat kelompok bahkan tertulis dalam dua versi berbeda di dalam naskah.
Tim penulis tidak menutupi ketimpangan antara dua kelompok angka itu. “Meski demikian, faktor risiko penyakit kardiovaskular yang besar pada peserta menegaskan kebutuhan mendesak akan program berkelanjutan untuk pencegahan penyakit kardiovaskular pada perempuan,” tulis Mulyanti Roberto Muliantino dan enam rekannya. Kalimat itu muncul dua kali, di abstrak dan di simpulan. Nadanya menahan diri, bukan merayakan dua kenaikan tadi.
Kalimat itu menempatkan 69,80 dan 940,38 pada proporsinya. Skor pengetahuan bisa naik dalam hitungan pekan. Lingkar perut 80 sentimeter dan kolesterol 200 mg/dl bergerak jauh lebih lambat. Program dua bulan tidak dirancang untuk mengejar keduanya sekaligus, dan naskah tidak mengklaim sebaliknya. Yang diminta penulis justru program yang terus berjalan.
Angka terakhir dari laporan itu 4. Sebanyak itu peserta yang kadar kolesterolnya masih di bawah 200 mg/dl saat skrining dijalankan. Naskah tidak melaporkan pengukuran ulang setelah program berakhir, sehingga tidak ada angka yang memberi tahu berapa dari keempatnya masih bertahan di sana.
















