Cekricek.id — Mahasiswa di Sumatera Barat dan Jambi mulai disiapkan menggarap persoalan pangan, energi, kesehatan, dan sampah di kampung mereka sendiri lewat program pengabdian baru bernama Aksara Mahasiswa. Pembekalan penulisan proposalnya digelar di Padang, dengan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat sebagai tuan rumah.
Aksara adalah kependekan dari Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa. Program ini dijalankan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, menurut siaran pers yang dimuat kemdiktisaintek.go.id, Rabu, 19 Agustus 2026.
Baca juga: Satpol PP Padang Amankan Lapak PKL di Trotoar Pasar Alai
Yang membedakannya dari kegiatan pengabdian konvensional adalah posisi mahasiswa. Mereka ditempatkan sebagai pelaku utama, sementara dosen berperan sebagai pendamping agar gagasan yang diajukan tetap berpijak pada dasar akademik. Warga pun tidak diperlakukan sekadar sebagai penerima bantuan, melainkan mitra yang ikut menemukan dan menjalankan solusi.
Dua Skema, Dua Sasaran
Ketua Tim Kerja Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdiktisaintek, Lutfi Ilham Ramdhani, menjelaskan Aksara Mahasiswa terbagi dalam dua skema.
Skema pertama, Aksara Peduli, membuka ruang bagi mahasiswa untuk masuk ke persoalan prioritas masyarakat seperti pangan, energi, dan kesehatan. Skema kedua, Aksara Sirkular, difokuskan pada penanganan sampah lewat pemilahan, edukasi, penerapan teknologi, penguatan kelembagaan, dan pengembangan ekonomi sirkular — model ekonomi yang berupaya memakai kembali material agar tidak berakhir sebagai limbah. Menurut Lutfi, penyusunan program harus dimulai dari memahami persoalan yang ada di masyarakat, bukan dari ide yang sudah jadi.
Bagi Sumatera Barat, dua skema itu menyentuh persoalan yang tidak asing. Pengelolaan sampah perkotaan dan penguatan hasil pertanian termasuk pekerjaan rumah yang berulang di daerah ini, sehingga proposal mahasiswa berpeluang bersinggungan langsung dengan agenda pemerintah daerah.
Ukuran Keberhasilan Bukan Jumlah Program
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, mengingatkan bahwa banyaknya kegiatan yang terlaksana bukan tolok ukur yang dipakai kementerian.
“Ukuran keberhasilan kita, bukan sekadar berapa banyak program yang dilaksanakan,” ujar Fauzan. Ia menyatakan yang dinilai adalah sejauh mana ilmu pengetahuan, teknologi, perguruan tinggi, dan energi mahasiswa mampu menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Baca juga: SPAM Taban III Rp289 Miliar Tambah 20 Ribu Pelanggan
Penekanan itu berimplikasi pada cara proposal disusun. Setiap program dituntut punya persoalan yang jelas, mitra yang tepat, serta solusi yang masih bisa dijalankan masyarakat setelah mahasiswa pulang. Selama pembekalan, peserta menerima materi tentang kebijakan program, mekanisme pengusulan, persyaratan, luaran, sistematika proposal untuk kedua skema, sampai tata kelola administrasi dan keuangan.
Tuan Rumah Bicara soal Membaca Realitas
Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Deddy Satria, menilai program ini memperluas ruang belajar mahasiswa sekaligus memperkuat kehadiran kampus di tengah warga. Ia bermain dengan makna kata aksara.
“Maka diharapkan melalui program ini itu mahasiswa tidak hanya dituntut untuk membaca buku tetapi juga diharapkan nanti mampu membaca realitas yang ada di lapangan. Jadi tidak hanya pintar dalam menulis dan membaca saja tetapi juga mampu untuk membaca realitas,” kata Deddy.
Peserta datang dari sejumlah kampus di Sumatera Barat dan Jambi. Aina, mahasiswa program studi Teknologi Hasil Pertanian Universitas Eka Sakti Padang, mengatakan pembekalan itu mengubah urutan berpikirnya dalam merancang inovasi.
“Kami belajar bahwa sebelum membuat program, kami harus benar-benar memahami persoalan yang dihadapi masyarakat. Dari sana baru kami menentukan solusi yang paling sesuai. Jadi, keberhasilan program bukan hanya karena idenya bagus, tetapi karena masyarakat memang membutuhkan dan dapat melanjutkannya,” ungkapnya.
Muhammad Yahya Ayyash dari Universitas Prima Nusantara Bukittinggi menyebut mahasiswa berprinsip hadir untuk mendukung kapasitas masyarakat. “Kami akan membawa program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, dan memberi dampak yang baik, membaca persoalan, bekerja bersama masyarakat, dan mengubah pengetahuan menjadi aksi,” katanya. Peserta lain, Alin dari Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim, menyoroti kesempatan berdiskusi lintas kampus dan dengan calon mitra masyarakat.
Baca juga: DWP Padang Mengajar: Bekali Siswa SD dan SMP Cegah Bullying dan Penyimpangan Seksual
Program yang Sehari Sebelumnya Dipakai untuk Gempa NTT
Aksara Mahasiswa bukan hanya agenda pengabdian rutin. Sehari sebelum kegiatan di Padang, kementerian yang sama mengumumkan program ini disiapkan untuk mendukung penanganan dan pemulihan wilayah terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur.
Keputusan itu diambil setelah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menggelar pertemuan daring dengan para rektor perguruan tinggi negeri dan swasta di wilayah terdampak pada Selasa pagi, 18 Agustus 2026, untuk memetakan kebutuhan di lapangan dan memastikan kegiatan pendidikan tinggi tetap berjalan. Koordinasi dilanjutkan siang harinya bersama rektor dan ketua badan eksekutif mahasiswa Universitas Nusa Cendana serta Universitas Mataram, yang mahasiswanya sudah bergerak ke lokasi terdampak.
Artinya, skema yang sedang diajarkan kepada mahasiswa Sumatera Barat dan Jambi itu adalah instrumen yang sama yang dipakai kementerian untuk merespons keadaan darurat di daerah lain. Bagi peserta di Padang, hal tersebut menjadi gambaran bahwa proposal yang mereka susun berpotensi dipakai jauh melampaui laporan akhir semester.
Kemdiktisaintek menempatkan Aksara Mahasiswa sebagai bagian dari agenda Diktisaintek Berdampak, yang menempatkan perguruan tinggi bukan semata tempat belajar, melainkan bagian dari ekosistem pembangunan.
















