Dadih Diperkaya Buah Naga Tekan Kenaikan Berat Tikus Obesitas

A A

Dadih susu kerbau dalam tabung bambu ditaburi buah kering dan irisan kacang, Sumatera Barat [Foto: Onyaso/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Dalam empat minggu berikutnya, tikus K+ bertambah 83,2 gram, paling besar di antara semua kelompok.
  • Tikus yang diberi dadih biasa bertambah 48,4 gram, sedangkan yang diberi dadih diperkaya bertambah 38,2 gram.
  • Pada tikus K+, kadar leptin mencapai 9,42 nanogram per mililiter, lebih dari tujuh kali lipat tikus sehat yang hanya 1,31.
  • Korelasi semacam ini menunjukkan bahwa ketiga ukuran bergerak bersama, bukan bahwa SCFA yang menurunkan leptin.
Daftar Isi
  1. Buah Naga untuk Menutup Rasa Asam
  2. Berat yang Naik Lebih Pelan
  3. Cara Leptin Memberi Sinyal Kenyang
  4. Asam Lemak Rantai Pendek sebagai Penghubung
  5. Korelasi yang Kuat, Sebab yang Belum Terbukti
  6. Di Mana Penjelasan Ini Berhenti
  7. Angka yang Tidak Saling Cocok

Tikus-tikus yang diberi dadih dalam penelitian ini tidak menjadi lebih kurus. Mereka menelan susu kerbau fermentasi itu setiap hari, dan timbangan tetap mencatat berat yang bertambah di semua kelompok, termasuk kelompok yang menerima dadih paling lengkap. Meski begitu, judul naskahnya menyatakan dadih yang diperkaya justru menurunkan kadar leptin dan berat badan tikus obesitas.

Naskah itu berjudul Fortified dadih increases short-chain fatty acids, reduces leptin levels, and body weight in obese rats, ditulis Tsamaroh Azzah Mukarromah, Ninik Rustanti, Endang Mahati, Gemala Anjani, dan Ahmad Syauqy dari Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Semarang. Artikelnya terbit di Jurnal Gizi Indonesia volume 14 nomor 2, tahun 2026, dan sebagian risetnya didanai Badan Amil Zakat Nasional.

Selisih antara timbangan dan judul itu menyimpan cara berpikir yang dipakai para peneliti. Yang mereka bandingkan bukan berat sebelum dan sesudah, melainkan seberapa cepat berat itu naik dibanding tikus obesitas yang tidak diberi apa-apa. Karena itu, untuk memahami klaimnya, jalurnya perlu diurai pelan-pelan dari usus sampai jaringan lemak, lalu diperiksa bagian mana yang benar-benar diukur.

Buah Naga untuk Menutup Rasa Asam

Dadih adalah susu kerbau yang difermentasi secara tradisional di Sumatera Barat, dan menurut naskah ini ia mengandung bakteri asam laktat yang berpotensi menjadi probiotik. Persoalannya, rasanya asam, dan rasa asam itulah yang disebut penulis membatasi minat konsumen. Karena itu mereka menambahkan sari buah naga merah, Hylocereus polyrhizus, yang selain memperbaiki rasa juga membawa fruktan oligosakarida bersifat prebiotik.

Bahan ketiga adalah selenium, mikronutrien antioksidan yang diberikan dalam bentuk natrium selenit sebanyak 0,4 ppm. Susu kerbaunya berasal dari peternakan di Agam, Sumatera Barat, lalu dicampur sari buah naga sepuluh persen, dituang ke tabung bambu, ditutup daun pisang, dan dibiarkan berfermentasi di suhu ruang selama 48 jam. Menurut penulis, belum ada studi sebelumnya yang menguji gabungan ketiganya pada model obesitas.

Pengujiannya memakai dua puluh tikus jantan yang dibagi empat kelompok: tikus sehat, tikus obesitas tanpa perlakuan, tikus obesitas yang diberi dadih biasa, dan tikus obesitas yang diberi dadih diperkaya buah naga dan selenium. Tikus-tikus itu lebih dulu dibuat gemuk dengan pakan tinggi lemak dan fruktosa. Sepanjang tulisan ini, keempatnya disebut seperti di naskah, yaitu K-, K+, P1, dan P2.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Berat yang Naik Lebih Pelan

Sesudah diberi pakan tinggi lemak dan fruktosa, tiga kelompok yang digemukkan punya berat hampir sama: K+ 281,2 gram, P1 281,4 gram, dan P2 278,4 gram. Kelompok sehat tertinggal jauh di 219,2 gram. Dari titik itulah perlakuan dimulai, dan dari titik itu pula terlihat bahwa dadih tidak membalik arah timbangan, hanya memperlambat lajunya.

Kenaikan berat tikus selama intervensiK+ obesitas: Kenaikan berat (gram) +83,2 g; P1 dadih biasa: Kenaikan berat (gram) +48,4 g; P2 dadih diperkaya: Kenaikan berat (gram) +38,2 g; K- sehat: Kenaikan berat (gram) +30,2 g.Kenaikan berat tikus selama intervensiRata-rata kenaikan berat dalam 4 minggu, 5 tikus per kelompok30 g60 g90 g0K+ obesitas+83,2 gP1 dadih biasa+48,4 gP2 dadih diperkaya+38,2 gK- sehat+30,2 gSemua kelompok tetap bertambah berat; selisih antarkelompokbermakna secara statistik.
Sumber: Tsamaroh Azzah Mukarromah, Ninik Rustanti, Endang Mahati, Gemala Anjani, dan Ahmad Syauqy, Fortified dadih increases short-chain fatty acids, reduces leptin levels, and body weight in obese rats, Jurnal Gizi Indonesia, 14(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Dalam empat minggu berikutnya, tikus K+ bertambah 83,2 gram, paling besar di antara semua kelompok. Tikus yang diberi dadih biasa bertambah 48,4 gram, sedangkan yang diberi dadih diperkaya bertambah 38,2 gram. Tikus sehat bertambah paling sedikit, 30,2 gram. Selisih antarkelompok itu bermakna secara statistik, termasuk selisih antara P1 dan P2 yang hanya berjarak 10,2 gram.

Kata menurunkan di judul naskah, dengan demikian, berarti kenaikan yang lebih kecil dibanding tikus obesitas tanpa perlakuan. Tikus P2 bertambah kurang dari separuh kenaikan tikus K+, dan jaraknya ke tikus sehat tinggal delapan gram. Yang membuatnya menarik bagi para peneliti bukan angka timbangan itu sendiri, melainkan apa yang terjadi di dalam usus dan jaringan lemak tikus.

Cara Leptin Memberi Sinyal Kenyang

Leptin adalah hormon yang disekresikan jaringan lemak dan, menurut naskah ini, menjadi pengatur utama nafsu makan serta keseimbangan energi. Pada obesitas, jumlah sel lemak yang bertambah membuat kadar leptin ikut naik. Persoalannya, kadar leptin yang tinggi itu berkembang bersama resistensi leptin, sehingga sinyal kenyang justru tumpul dan asupan energi yang berlebih terus berlanjut.

Naskah ini juga menghubungkan leptin tinggi dengan stres oksidatif. Kadar leptin yang meningkat mendorong resistensi leptin dan stres oksidatif lewat aktivasi enzim NADPH oksidase, sementara lemak perut yang berlebih melepaskan zat pro-oksidan. Karena itu, penulis memperlakukan obesitas bukan sekadar gangguan metabolik, melainkan keadaan peradangan kronis derajat rendah yang dipicu penumpukan lemak.

Pada tikus K+, kadar leptin mencapai 9,42 nanogram per mililiter, lebih dari tujuh kali lipat tikus sehat yang hanya 1,31. Tikus P1 mencatat 3 dan tikus P2 mencatat 3,3 nanogram per mililiter. Keempat angka itu berbeda bermakna satu sama lain, dan kedua kelompok dadih berada jauh di bawah tikus obesitas tanpa perlakuan walau belum menyamai tikus sehat.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Asam Lemak Rantai Pendek sebagai Penghubung

Penghubung antara dadih di usus dan leptin di jaringan lemak, menurut penulis, adalah asam lemak rantai pendek atau SCFA, yaitu asetat, propionat, dan butirat. Zat-zat ini adalah hasil utama fermentasi karbohidrat yang tidak tercerna oleh mikroba usus. Sekitar 95 persen SCFA diserap sel usus besar, sedangkan sisanya terbuang lewat feses.

Obesitas, tulis mereka, berkaitan dengan disbiosis usus, yakni berkurangnya bakteri penghasil SCFA seperti Bacteroides, Bifidobacterium, dan Lactobacillus. Dadih menyumbang bakteri asam laktat yang memperkuat fermentasi mikroba. Buah naga menyediakan serat larut, oligosakarida, dan polifenol sebagai makanan bagi bakteri baik. Selenium, bahkan dalam bentuk selenit anorganik, disebut dapat berinteraksi dengan mikrobiota usus dan menaikkan produksi SCFA.

Jalur dadih ke leptin menurut penulisDadih diperkaya menaikkan SCFA sekum, yang lewat reseptor FFAR2/3 dan hormon GLP-1 serta PYY dikaitkan dengan leptin lebih rendah.Jalur dadih ke leptin menurut penulisMekanisme menurut bagian diskusi naskahDadihdiperkayaBAL, buah naga,seleniumSCFA sekumnaikasetat, propionat,butiratHormon ususFFAR2/3, GLP-1,PYYLeptindi bawahkelompok K+Komposisi mikrobiota usus dan hormon GLP-1 serta PYY tidak diukurdalam studi ini.
Sumber: Tsamaroh Azzah Mukarromah, Ninik Rustanti, Endang Mahati, Gemala Anjani, dan Ahmad Syauqy, Fortified dadih increases short-chain fatty acids, reduces leptin levels, and body weight in obese rats, Jurnal Gizi Indonesia, 14(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Hasil pengukuran di sekum tikus menunjukkan kadar total SCFA, asetat, propionat, dan butirat berbeda bermakna antarkelompok. Kadar tertinggi ada pada tikus sehat dan terendah pada tikus obesitas tanpa perlakuan, sedangkan kedua kelompok dadih berada di antaranya. Untuk butirat, penulis mencatat tidak ada perbedaan bermakna antara tikus yang diberi dadih biasa dan dadih diperkaya.

Langkah berikutnya dalam penjelasan penulis adalah reseptor. SCFA mengaktifkan reseptor asam lemak bebas FFAR2 dan FFAR3 pada sel enteroendokrin di usus, yang lalu melepaskan hormon penekan nafsu makan seperti GLP-1 dan PYY. Modulasi hormon ini, menurut naskah, memperbaiki sensitivitas insulin, menekan asupan makan, dan menaikkan pengeluaran energi. Asetat juga disebut mengaktifkan jalur AMPK yang memengaruhi metabolisme lemak dan glukosa.

Korelasi yang Kuat, Sebab yang Belum Terbukti

Keterkaitan itu terlihat dalam korelasi. Total SCFA berkorelasi negatif dengan leptin, r = -0,545, dan jauh lebih kuat dengan berat badan, r = -0,909. Butirat mencatat korelasi negatif paling kuat dengan berat badan, -0,911, disusul asetat -0,901 dan propionat -0,874. Sebaliknya, berat badan berkorelasi positif dengan leptin, r = 0,582, artinya makin berat tikusnya, makin tinggi leptinnya.

Korelasi semacam ini menunjukkan bahwa ketiga ukuran bergerak bersama, bukan bahwa SCFA yang menurunkan leptin. Jalur reseptor dan hormon usus tadi adalah penjelasan yang diajukan penulis dari riset terdahulu, sebab GLP-1, PYY, dan komposisi mikrobiota tidak diukur dalam studi ini. Jadi, rantai dari dadih sampai leptin baru teramati di dua ujungnya, sedangkan bagian tengahnya masih berupa dugaan.

Penulis sendiri menaruh harapan pada kombinasi ketiga bahan. Dadih memberi bakteri asam laktat, buah naga memberi oligosakarida dan antioksidan, sedangkan selenium mendukung aktivitas mikroba sekaligus pertahanan antioksidan tubuh. Dalam naskah berbahasa Inggris itu Mukarromah dan rekan-rekannya menulis, “kinerja P2 yang lebih unggul dibanding P1 mengisyaratkan kemungkinan efek aditif atau sinergis antara dadih, buah naga, dan selenium.”

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Batas terbesarnya diakui penulis sendiri: jumlah sampel kecil, hanya tikus jantan, dan seluruhnya model hewan, sehingga hasilnya belum bisa digeneralisasi ke manusia. Studi ini hanya mengukur SCFA sekum dan leptin, tanpa memeriksa komposisi mikrobiota usus atau penanda metabolik lain. Pemakaian natrium selenit dan masa intervensi yang pendek juga membatasi tafsir tentang efek jangka panjang.

Karena itu mereka menutup kesimpulan dengan peringatan. “Karena studi ini dilakukan pada model hewan dengan masa intervensi yang relatif pendek, hasilnya harus ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis Ninik Rustanti dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Menurut mereka, dibutuhkan studi yang lebih lama, sampel lebih besar, dan terutama uji klinis pada manusia yang dirancang dengan baik.

Angka yang Tidak Saling Cocok

Pembaca yang memeriksa naskahnya akan menemukan beberapa bagian yang tidak saling cocok. Abstrak menyebut kenaikan berat K+, P1, dan P2 serupa, yakni 92 gram, dan K- 30 gram. Badan hasil mencatat angka berbeda, yaitu 83,2, 48,4, dan 38,2 gram, dengan selisih yang bermakna. Bagian hasil juga sempat menulis tikus dibagi menjadi enam kelompok, padahal di bagian lain hanya ada empat.

Uji korelasinya disebut Pearson di abstrak dan metode, tetapi Spearman di teks hasil dan catatan tabel. Leptin disebut dianalisis dengan ANOVA satu arah di metode, sementara tabelnya menyajikan median dengan uji Kruskal-Wallis. Teks merujuk Tabel 3 yang tidak ada, menyebut kelompok P3 yang juga tidak ada, dan di diskusi menyebut P1 sebagai dadih dengan buah naga, padahal metode menyebutnya dadih biasa.

Ada pula soal arah. Leptin tikus P2 sebesar 3,3 nanogram per mililiter justru sedikit lebih tinggi daripada P1 yang 3, dan butirat keduanya tidak berbeda bermakna, sedangkan diskusi menyebut P2 lebih unggul. Diskusi juga menyebut SCFA tertinggi pada tikus sehat konsisten dengan meta-analisis bahwa orang obesitas cenderung punya SCFA feses lebih tinggi, dua hal yang arahnya berlawanan.

Kembali ke timbangan di awal, tikus yang diberi dadih diperkaya memang tidak menjadi kurus, dan tidak ada angka di naskah ini yang mengatakan sebaliknya. Yang dicatat penelitian ini adalah laju yang melambat, yaitu kenaikan 38,2 gram dibanding 83,2 gram pada tikus obesitas, disertai leptin yang lebih rendah dan SCFA yang lebih tinggi. Sisa jalurnya, dari usus sampai rasa kenyang, masih menunggu diukur.

Bagikan

Baca Juga

Kurang Kemauan Jadi Hambatan Gerak Mahasiswa Farmasi Malaya
Yatai Kesehatan di Gang Tokyo, Obrolan Jarang Soal Penyakit
Gempa Gorkha 2015 Hapus 473 Ribu Tahun Hidup Warga Nepal
Kehilangan Separuh Gigi, Risiko Gangguan Kognitif Lansia Naik
Ayah Narapidana Hong Kong Kembali Dekat Anak Lewat Be My Hero
Remaja Tunanetra Denmark Memilih Tak Bertindak Buta demi Diterima