Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

A A

Pameran ramyeon (mi instan) internasional di Seoul, contoh pangan ultra-olahan populer Korea [Foto: Lee jeong woo (Republic of Korea)/Wikimedia Commons CC BY-SA 2.0]

  • Survei nasional Korea 2007-2023 mencatat kontribusi pangan ultra-olahan naik dari 16,8% menjadi 25,1% dari energi harian, tercepat pada usia 19-39 tahun
  • Pada pria, kuintil konsumsi tertinggi berkaitan dengan odds hipertensi 1,27 kali dan hiperkolesterolemia 1,33 kali dibanding kuintil terendah
  • Pola pada wanita berbeda: hiperkolesterolemia dan LDL tinggi naik, tetapi hipertensi dan obesitas keseluruhan tidak bermakna secara statistik
  • Proporsi UPF Korea 25,1% masih jauh di bawah Amerika Serikat (57,0%), Inggris (56,8%), Kanada (45%), dan Prancis (29%)
Daftar Isi
  1. Dari Duksung sampai Harvard
  2. Kelompok Umur yang Bergeser Paling Cepat
  3. Ketika Riset Terdahulu Hanya Menyoroti Satu Sisi
  4. Wanita Berjalan di Rantai yang Berbeda
  5. Korea Dibandingkan dengan Negara Lain
  6. Batas yang Diakui Sendiri, Selisih Angka yang Mudah Terlewat
  7. Rantai yang Belum Selesai

Selama tujuh belas tahun, survei kesehatan nasional Korea Selatan merekam sesuatu yang dulu jarang muncul di piring warganya: pangan yang diproses habis-habisan oleh pabrik, bukan dimasak dari bahan mentah di dapur rumah. Rekaman itu terus bertambah setiap tahun survei berjalan.

Rekaman itu ada dalam Associations of nova-defined ultra-processed food intake and cardiometabolic health among Korean adults from 2007 to 2023, ditulis Eunyoung Tak, Juhae Kim, Heejin Lee, dan Minji Kang. Studinya terbit di BMC Public Health, 2026.

Dari Duksung sampai Harvard

Eunyoung Tak dan Minji Kang tercatat di Departemen Pangan dan Gizi, Duksung Women’s University, Seoul. Juhae Kim berasal dari departemen serupa di Hoseo University, Asan. Heejin Lee, yang menjadi salah satu penulis koresponden, terdaftar di Departemen Gizi, Harvard T.H. Chan School of Public Health, Boston. Kombinasi afiliasi ini menempatkan riset domestik Korea dalam pengawasan yang juga melibatkan lembaga di Amerika Serikat.

Dulu, dominasi meja makan Korea dipegang oleh nasi, sayur, dan lauk fermentasi buatan rumah, kelompok yang dalam studi ini disebut pangan minim-olahan. Sepanjang 2007 sampai 2023, proporsi energi harian dari kelompok itu justru menyusut terus, sementara pangan ultra-olahan naik dari 16,8 persen menjadi 25,1 persen dari total asupan energi.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Kelompok Umur yang Bergeser Paling Cepat

Asupan Pangan Ultra-Olahan Naik di Semua UsiaAsupan pangan ultra-olahan naik pada pria dan wanita di ketiga kelompok usia sepanjang 2007 sampai 2023, paling tajam pada usia 19-39 tahun.Asupan Pangan Ultra-Olahan Naik di Semua UsiaPersen energi harian dari UPF, KNHANES 2007-2023PriaWanita22,4% -> 33,1%21,2% -> 33,7%19-39 tahun,2007->202317,1% -> 26,9%12,4% -> 24,8%40-59 tahun,2007->202311,5% -> 17,4%7,6% -> 14,7%60 tahun ke atas,2007->2023Angka dihitung dari asupan pangan ultra-olahan dibagi total asupanenergi harian tiap kelompok.
Sumber: Eunyoung Tak, Juhae Kim, Heejin Lee, dan Minji Kang, Associations of nova-defined ultra-processed food intake and cardiometabolic health among Korean adults from 2007 to 2023, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Perubahan itu tidak merata di semua usia. Pada kelompok 19 sampai 39 tahun, kontribusi pangan ultra-olahan naik dari 22,4 persen ke 33,1 persen pada pria, dan dari 21,2 persen ke 33,7 persen pada wanita, kenaikan paling tajam di antara semua kelompok umur. Pada usia 40 sampai 59 tahun, angkanya naik dari 17,1 persen ke 26,9 persen pada pria dan dari 12,4 persen ke 24,8 persen pada wanita.

Kelompok tertua, 60 tahun ke atas, tetap paling banyak mengandalkan pangan minim-olahan, tetapi arah perubahannya sama: pangan ultra-olahan naik dari 11,5 persen ke 17,4 persen pada pria, dan dari 7,6 persen ke 14,7 persen pada wanita. Tak satu pun kelompok umur yang lolos dari tren kenaikan ini, sebuah pola yang menempatkan generasi muda Korea di jalur konsumsi yang berbeda dari generasi orang tua mereka.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Ketika Riset Terdahulu Hanya Menyoroti Satu Sisi

Riset-riset Korea sebelumnya, seperti yang memakai data KNHANES 2013 sampai 2018, cenderung memeriksa satu keluaran kesehatan saja, misalnya hanya hipertensi atau hanya obesitas, tanpa menghitung berbagai indikator kardiometabolik sekaligus. Tak jarang pula hasil antarstudi Korea saling berbeda, sesuatu yang menurut Tak, Kim, Lee, dan Kang berakar pada belum bakunya penerapan sistem klasifikasi Nova untuk pola makan Korea, yang aslinya dikembangkan di Brasil dan bertumpu pada bahan tunggal, bukan hidangan campuran ala Korea.

Untuk mengatasi celah itu, tim peneliti memakai sistem Nova versi adaptasi Korea, lalu menganalisis delapan indikator kardiometabolik sekaligus: hiperglikemia, tekanan darah tinggi, hipertrigliseridemia, hiperkolesterolemia, HDL rendah, LDL tinggi, obesitas perut, dan obesitas keseluruhan. Rantai riset ini menempatkan studi mereka sebagai upaya menyatukan bukti yang selama ini tersebar dan kadang bertentangan.

Empat Risiko pada Pria Konsumen UPF TertinggiEmpat Risiko pada Pria Konsumen UPF TertinggiEmpat Risiko pada Pria Konsumen UPF TertinggiOR pria, kuintil UPF tertinggi vs terendah1,33Kolesterol totaltinggiOR Q5 vs Q11,27HipertensiOR Q5 vs Q11,22Obesitas perutOR Q5 vs Q10,68HDL rendahOR terbalik, Q5 vsQ1Jalan risetnyaBagi lima kelompokBandingkan Q5 vs Q1Sesuaikan faktor lainOR di atas 1 berarti odds lebih tinggi pada Q5; OR di bawah 1 pada HDLrendah berarti odds justru lebih kecil.
Sumber: Eunyoung Tak, Juhae Kim, Heejin Lee, dan Minji Kang, Associations of nova-defined ultra-processed food intake and cardiometabolic health among Korean adults from 2007 to 2023, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada pria, kuintil konsumsi pangan ultra-olahan tertinggi, dibanding kuintil terendah, berkaitan dengan odds hipertensi 1,27 kali lebih tinggi, hiperkolesterolemia 1,33 kali, LDL tinggi 1,16 kali, obesitas perut 1,22 kali, dan obesitas keseluruhan 1,17 kali. Seluruh angka itu sudah disesuaikan dengan faktor usia, energi, wilayah, pendidikan, pendapatan, status pernikahan, kebiasaan merokok dan minum alkohol, aktivitas fisik, serta indeks massa tubuh.

Namun untuk HDL rendah, arahnya justru terbalik: odds pada kuintil tertinggi hanya 0,68 kali dibanding kuintil terendah, artinya semakin banyak pangan ultra-olahan yang dimakan, semakin kecil peluang kadar HDL rendah. Pola yang sama, HDL yang justru lebih baik pada konsumsi ultra-olahan tinggi, juga muncul pada wanita, dengan odds 0,57 kali di kuintil tertinggi.

Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia

Wanita Berjalan di Rantai yang Berbeda

Pada wanita, pola keterkaitan tidak semirip pria. Kuintil tertinggi berkaitan dengan hiperkolesterolemia 1,30 kali dan LDL tinggi 1,24 kali, tetapi tekanan darah tinggi dan obesitas keseluruhan tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik. Obesitas perut pada wanita hanya naik tipis, 1,11 kali, jauh lebih lemah dibanding kenaikan setara pada pria.

Tak, Kim, Lee, dan Kang menduga sejumlah mekanisme di balik perbedaan pria dan wanita ini. Dugaan itu meliputi pola konsumsi pangan manis dan minuman bergula yang lebih tinggi pada pria, kandungan natrium dan lemak jenuh dalam pangan ultra-olahan yang berkaitan erat dengan tekanan darah, sampai perbedaan hormon yang memengaruhi distribusi lemak tubuh dan metabolisme energi antara kedua jenis kelamin.

Korea Dibandingkan dengan Negara Lain

Angka 25,1 persen di tahun 2023 itu sendiri terlihat jauh lebih rendah ketika disandingkan dengan negara yang lebih dulu diteliti. “This study found that, in 2023, the proportion of energy intake from UPFs among Korean adults was 25.1%, which is considerably lower than values reported in many Western countries, such as the United State (57.0%), the United Kingdom (56.8%), Canada (45%) and France (29%),” tulis Tak, Kim, Lee, dan Kang.

Kalimat itu menempatkan temuan Korea sebagai satu titik dalam rantai riset UPF yang sudah lebih dulu mapan di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Prancis. Keempat negara itu dipilih penulis sebagai pembanding langsung, bukan sebagai daftar acak.

Menurut penulis, jarak yang masih lebar itu bisa dijelaskan oleh kebiasaan makan tradisional Korea yang masih bertumpu pada biji-bijian, sayuran, dan lauk fermentasi minim-olahan, meski pola makan gaya Barat perlahan mulai menggeser kebiasaan itu dalam beberapa tahun terakhir. Posisi Korea di titik ini, kata mereka, membuka ruang bagi kenaikan konsumsi ultra-olahan lebih jauh di masa depan.

Batas yang Diakui Sendiri, Selisih Angka yang Mudah Terlewat

Tak, Kim, Lee, dan Kang menulis sendiri keterbatasan utama studi mereka: “First, due to the cross-sectional design, temporal and causal relationships could not be established,” yang berarti desain potong lintang ini tidak bisa memastikan mana yang lebih dulu terjadi, konsumsi pangan ultra-olahan atau gangguan kardiometabolik, apalagi memastikan hubungan sebab-akibat di antara keduanya. Data asupan makan yang hanya direkam satu hari lewat metode recall 24 jam juga berisiko tidak mewakili pola makan seseorang sehari-hari.

Klasifikasi Nova versi adaptasi Korea sendiri, menurut penulis, tetap membuka ruang subjektivitas untuk hidangan campuran yang rumit, sehingga sebagian pangan berpotensi salah kelompok. Penggunaan obat penurun kadar lemak darah juga tidak sepenuhnya terhitung dalam analisis, sesuatu yang bisa memengaruhi hasil terutama pada wanita lanjut usia.

Ada kejanggalan kecil yang bisa diperiksa pembaca sendiri bila membandingkan dua tabel dalam naskah ini. Tabel karakteristik peserta mencantumkan jumlah wanita 9.909 orang per kuintil, hasil dari total sampel tren konsumsi 49.547 wanita dibagi lima. Namun tabel asosiasi dengan indikator kardiometabolik mencantumkan angka berbeda untuk kelompok kuintil yang sama, yaitu 9.221 wanita per kuintil, hasil dari total sampel kardiometabolik 46.105 wanita.

Selisih itu muncul karena naskah memakai dua kumpulan sampel yang berbeda, satu untuk menghitung tren konsumsi jangka panjang dan satu lagi khusus untuk peserta yang datanya lengkap pada seluruh indikator kesehatan. Keduanya sah secara metode, tetapi naskah tidak menegaskan ulang perbedaan basis data itu pada setiap tabel, sehingga pembaca yang berpindah dari satu tabel ke tabel lain bisa keliru mengira ada kesalahan hitung.

Rantai yang Belum Selesai

Dari survei nasional yang sama, tempat generasi muda Korea mulai bergeser paling cepat menuju pangan pabrikan, temuan Tak, Kim, Lee, dan Kang menambah satu mata rantai baru: bukti bahwa pergeseran itu berjalan beriringan dengan naiknya sejumlah risiko kardiometabolik pada pria, sementara pada wanita polanya belum sepenuhnya sama. Rantai riset ini, seperti yang mereka tulis sendiri, masih menunggu studi prospektif berikutnya untuk memastikan arah hubungan yang selama ini baru tergambar dari satu potongan waktu.

Bagikan

Baca Juga

Kenapa Pengawasan Orang Tua Tak Langsung Tahan Narkoba
Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Praktik Cegah Mpox Tinggi di Sarawak, Pengetahuan Tertinggal
Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun