Daftar Isi
- Kenapa Nada yang Terdengar Sama Ternyata Selalu Bergeser
- Bagaimana Nada Rendah Bekerja sebagai Jangkar
- Kenapa Skala Bailau Mengambang Antara Dua Sistem Nada
- Kenapa Lompatan Nada Tinggi Tak Pernah Sampai
- Di Mana Noise dan Formant Ikut Berbicara
- Bagaimana Fantasi Zizek Menata Trauma Ini
- Batas dan Kejanggalan yang Bisa Dicek Sendiri
Sebuah ratapan kematian di Minangkabau terdengar seperti mengulang satu nada dari awal sampai akhir, padahal penyanyinya tidak pernah benar-benar menyentuh titik nada yang sama dua kali. Bailau, begitu ratapan ini disebut, terkesan monoton bagi telinga yang mendengarnya sekilas, tetapi di balik kesan itu tersembunyi pergeseran nada yang berlangsung terus-menerus sepanjang ratapan berjalan, nyaris tak kasat dengar kecuali dianalisis lewat rekaman.
Kejanggalan itu dibedah Nurkholis dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang dan Putri Simponika dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam artikel Histeria dalam Bailau: Analisis Lacanian—Zizekian dan Implikasinya bagi Penciptaan Musik Kontemporer, dimuat di Musica Journal of Music volume 5 nomor 2, tahun 2025. Bailau, ratapan kematian Minangkabau, dibaca sekaligus lewat analisis musikologis-akustik dan psikoanalisis Lacan serta Zizek.
Kenapa Nada yang Terdengar Sama Ternyata Selalu Bergeser
Karena itu, pelacakan pitch dalam penelitian ini menunjukkan bahwa nada yang sepintas terdengar sebagai satu titik stabil sebenarnya penuh modulasi halus sekitar 20 sampai 40 cents, bahkan mencapai 70 cents saat ratapan memuncak secara emosional. Pergeseran seketat ini, menurut paper, tidak bisa disamakan dengan vibrato yang bergetar teratur. Ia lebih mendekati micro-sliding, pergeseran kontinu akibat ketegangan otot laring dan kerja afektif tubuh peratap.
Persoalannya, fleksibilitas pitch semacam ini bukan cacat teknis, melainkan ciri yang sengaja atau tidak sengaja dipertahankan tradisi lisan Minangkabau. Merujuk Verhaeghe dan Declercq (2015), paper ini membaca fleksibilitas pitch sebagai cerminan ketidakstabilan simbolik yang menjadi inti histeria, sedangkan Nettl (2005) dikutip untuk menunjukkan bahwa tradisi lisan nonbarat memang lebih mengutamakan fluiditas nada ketimbang stabilitas nada tetap seperti pada musik diatonis.
Bagaimana Nada Rendah Bekerja sebagai Jangkar
Yang membuatnya rumit, di tengah nada yang terus bergeser itu ada satu pola yang justru diulang-ulang: nada rendah yang berfungsi sebagai pusat gravitasi emosional ratapan. Paper ini mencatat bahwa interval dalam Bailau cenderung kembali ke nada rendah sebagai titik berulang, mirip cara seseorang terus-menerus mengucapkan satu kalimat pendek yang sama ketika kehilangan kata-kata untuk melanjutkan ceritanya.
Dalam kerangka Lacan, pengulangan nada rendah itu dibaca bukan sekadar teknik vokal, melainkan representasi kembalinya subjek pada lack, yakni kekurangan fundamental yang menurut paper tidak pernah bisa ditutup. Repetisi nada rendah, tulis paper ini, sekaligus berfungsi sebagai jangkar musikal dan sebagai titik kembali subjek histeris yang terus mengelilingi kekurangan itu tanpa pernah benar-benar sampai padanya.
Kenapa Skala Bailau Mengambang Antara Dua Sistem Nada
Skala nada Bailau sendiri tidak berpijak pada satu sistem tunggal. Paper mencatat karakter hemitonik, yakni interval yang mengandung semitone seperti pada tetrachord diatonis, bercampur dengan anhemitonik yang tanpa semitone seperti pentatonik atau slendro. Campuran inilah yang membuat skala Bailau berdekatan dengan skala madenda, hirojoshi, ragas, dan maqamat, sekaligus menjadi landasan bagi fleksibilitas pitch yang menjadi kondisi dasar munculnya histeria vokal.
Kenapa Lompatan Nada Tinggi Tak Pernah Sampai
Sementara nada rendah menahan, bagian lain dari kontur melodi Bailau justru meledak ke register tinggi lewat lompatan dan glissando ekstrem. Paper menggambarkan kontur ini sebagai pendakian gradual yang diikuti collapse tiba-tiba ke register rendah, lalu ledakan afektif yang memuncak pada puncak melodi, pola yang tidak mengikuti frase musik diatonis melainkan intensifikasi emosional yang bersifat psiko-fisiologis.
Karena itu, dalam bacaan Lacanian, lompatan nada tinggi ini diartikulasikan sebagai desire, dorongan menuju Yang Lain yang tidak pernah bisa dicapai sepenuhnya. Ambitus yang membentang dari rentang rendah ke puncak tinggi, menurut paper, menjadi semacam koreografi antara lack dan desire, di mana setiap lompatan nada seolah bertanya kepada pendengar tanpa pernah benar-benar mendapat jawaban. Catatan paper juga menunjukkan puncak amplitudo pada nada tinggi mencapai 8 sampai 12 desibel di atas rata-rata frasa normal, bukti bahwa intensitas emosi itu benar-benar menggetarkan ruang akustik, bukan sekadar terdengar oleh telinga.
Baca juga Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop
Di Mana Noise dan Formant Ikut Berbicara
Persoalannya tidak berhenti pada pitch. Pemeriksaan spektrum memakai perangkat lunak Praat menunjukkan formant pertama (F1) bergerak antara 550 dan 900 Hz tergantung intensitas ratapan, sementara formant kedua (F2) bergeser signifikan hingga 2.000 sampai 2.300 Hz pada nada tinggi. Pergeseran formant ini menandakan rongga mulut dan posisi lidah peratap terus berubah mengikuti luapan afek, bukan mengikuti pola artikulasi vokal yang stabil.
Di kawasan 3 sampai 5 kHz, paper ini juga mencatat munculnya noise bands yang tidak tersistem, disertai peningkatan energi harmonisa atau harmonics tingkat atas. Dalam logika Lacanian yang dipakai penelitian ini, noise semacam itu adalah titik munculnya Real, dimensi psikis yang tidak dapat diartikulasikan tetapi terus mengganggu simbolik. Nurkholis dan Putri Simponika menulis dalam naskahnya, “Bailau adalah laboratorium akustik dan psikis, tempat histeria diwujudkan melalui struktur melodi yang tidak stabil, interval mikrotonal, glissando panjang, tekstur vokal kasar, dan amplitudo ekstrem.”
Bagaimana Fantasi Zizek Menata Trauma Ini
Kalau kerangka Lacan menjelaskan bagaimana suara Bailau membentur lack dan desire, kerangka Zizek dipakai penelitian ini untuk menjelaskan ke mana energi psikis itu disalurkan agar tidak menghancurkan tatanan sosial. Fantasi, dalam pembacaan paper atas Zizek, adalah struktur yang memungkinkan subjek menjaga jarak dari Yang Real sekaligus tetap terikat pada ikatan sosialnya, semacam layar penyangga pengalaman yang tidak menghapus trauma tetapi membuatnya bisa ditanggung.
Dalam konteks Bailau, paper ini menyebut fantasi kolektif itu bekerja meredakan trauma kehilangan akibat kematian, migrasi, dan keterputusan yang dialami masyarakat Minangkabau, sembari membentuk narasi simbolik komunitas dan menyediakan ruang untuk menegosiasikan relasi dengan Yang Lain. Fantasi ini, ditegaskan paper, tidak bertujuan menghapus trauma, melainkan menyediakan ruang simbolik bagi afek untuk dikeluarkan tanpa meruntuhkan ikatan sosial yang menopang masyarakat.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Setelah mekanisme histeria dan fantasi ini terpetakan, paper membawanya ke ranah penciptaan musik kontemporer. Mikrotonalitas yang ditemukan dalam Bailau, menurut penelitian ini, dapat diperluas menjadi kerangka komposisi spektral, glissando dapat dimanipulasi lewat pitch-tracking elektronik dan granular synthesis, sementara intensitas amplitudo dan noise vokal dapat diolah sebagai dinamika psikoakustik dan sumber bunyi utama. Paper turut menyebut teknik vokal yang diperluas sebagai salah satu strategi komposisional yang bisa dikembangkan dari karakter Bailau ini.
Konsep lack dan desire, tulis paper ini, dapat diterjemahkan menjadi bentuk musik yang terus menunda resolusi, sedangkan fantasi Zizek dapat dijadikan kerangka dramaturgikal untuk membangun karya yang memproses trauma kolektif lewat suara. Jalan ini, menurut penelitian, membuka ruang bagi penciptaan karya yang tidak hanya estetik tetapi juga psiko-afektif, menjadikan Bailau basis bagi seni kontemporer yang berurusan langsung dengan tubuh, memori, dan afek.
Batas dan Kejanggalan yang Bisa Dicek Sendiri
Paper ini mengakui bahwa sebagian data ilustratifnya berasal dari observasi pengalaman histeris satu anggota keluarga peneliti sendiri serta refleksi afektif peneliti melalui pengalaman pribadinya, bukan dari sampel yang lebih luas. Pembacaan Lacanian-Zizekian yang diterapkan juga bertumpu pada satu tradisi ratapan tunggal di satu wilayah budaya, sehingga kerangka yang sama belum tentu berlaku dengan cara yang identik pada ratapan Minangkabau lain seperti Ilau atau Ratok, apalagi tradisi ratapan di luar Minangkabau.
Ada perbedaan tahun pada satu rujukan yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Di bagian isi, penelitian ini menulis “Rahayu Nengsih (2024)” saat membahas transformasi Bailau ke tari kontemporer, tetapi pada daftar pustaka di bagian akhir naskah, rujukan yang sama tercatat sebagai “Nengsih, Rahayu. (2020)”. Selisih empat tahun antara kutipan dalam teks dan daftar pustaka ini tidak dijelaskan lebih lanjut oleh penulis naskah.
Baca juga Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi
Yang tersisa dari penelitian ini adalah jawaban atas kejanggalan di baliknya. Ratapan yang terdengar monoton itu ternyata tidak pernah benar-benar diam, sebab setiap pergeseran nada, setiap noise, dan setiap lompatan register membawa subjek histeris berputar mengelilingi kekurangan yang tidak pernah tertutup, sementara fantasi kolektif menahannya agar duka tetap bisa ditanggung bersama-sama oleh masyarakat Minangkabau.















