Satu Trombon Mainkan Musik Barok, Joget Melayu, dan Lagu ABBA

A A

Ilustrasi trombonis solo bermain di depan orkestra gesek pada sebuah konser di Amerika Serikat [Foto: The United States Army Band (foto Staff Sgt. Victoria Chamberlin)/Wikimedia Commons, Public domain]

  • Satu trombon membawakan Sonata in F Minor karya Telemann, Joget Hitam Manis, dan Dancing Queen karya ABBA.
  • Mordent dan appoggiatura diubah menjadi lip trill dan alternate positions pada trombon.
  • Pada Joget Hitam Manis, glissando dipakai untuk meniru portamento vokal Melayu.
  • Titik napas trombon pada Dancing Queen ditempatkan di lokasi yang sama dengan frasa vokal penyanyi ABBA.
Daftar Isi
  1. Sonata yang Semula Milik Seruling
  2. Joget yang Menyelinap ke Lantai Tango
  3. Menyanyikan ABBA tanpa Kata
  4. Teknik yang Sama, Watak yang Berlainan
  5. Panggung yang Ikut Berganti Rupa

Trombon, dalam catatan sejarah musik, lebih banyak dikaitkan dengan musik brass band dan jazz. Namun di panggung Gedung Hoeridjah Adam, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, pada 5 Januari 2026, satu trombon diminta berganti watak tiga kali: membawakan sonata Barok abad ke-18, menyusup ke dalam joget Melayu yang berdansa tango, lalu menyanyikan lagu disko ABBA tanpa sepatah kata pun.

Pertunjukan itu kemudian dibedah sebagai penelitian oleh Muhammad Rheinhard Afana dan rekan dari Program Studi Seni Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Hasilnya terbit dengan judul Pertunjukan Solis Trombon dengan Repertoar “Sonata In F Minor”, “Joget Hitam Manis” dan “Dancing Queen” dalam jurnal Musica: Journal of Music volume 6 nomor 1 tahun 2026. Mereka menyebutnya penelitian berbasis praktik, karena pertunjukan itu sendirilah yang menjadi jalan menuju pengetahuan.

Pilihan tiga lagu itu bukan kebetulan, dan di situlah taruhannya. Di ISI Padangpanjang, pertunjukan musik diwajibkan bagi mahasiswa minat pertunjukan sebagai syarat kelulusan, tetapi menurut para penulis sebagian besar pertunjukan tugas akhir masih terbatas pada repertoar dari satu periode atau genre. Akibatnya, kemampuan pemain beradaptasi dengan gaya yang berlainan belum tergali optimal, sehingga mereka sengaja memilih tiga karya yang secara mendasar berbeda zaman, gaya, dan karakter.

Sonata yang Semula Milik Seruling

Sonata in F Minor karya Georg Philipp Telemann secara historis ditulis untuk recorder atau flute dengan basso continuo, bukan untuk trombon. Justru di situlah tantangan pertamanya. Karya itu menuntut pemahaman atas retorika musikal Barok dan ornamentasi yang pantas, sementara empat movement-nya punya watak masing-masing: Triste – Andante cantabile yang melankolis dengan legato dan kontras forte-piano, lalu Allegro yang menuntut double tonguing pada notasi 1/16.

Movement ketiga, Andante, menghadirkan watak reflektif dengan frase yang cantabile, sedangkan Vivace di bagian akhir menonjolkan virtuositas lewat arpeggio dan gerakan cepat. Ornamen seperti mordent dan appoggiatura, yang pada instrumen aslinya dimainkan dengan teknik jari, diubah menjadi lip trill dan alternate positions pada trombon, supaya efek musikalnya tetap sama walau caranya berbeda.

Tiga lagu, tiga watak untuk satu trombonKartu ringkas tiga repertoar resital solis trombon di ISI Padangpanjang: Sonata in F Minor karya Telemann bergaya Barok dengan empat movement dan iringan piano; Joget Hitam Manis dalam format fusion Melayu-tango dengan ansambel fusion; Dancing Queen karya ABBA bergaya pop-disco dengan mini orkestra. Tahapannya: persiapan repertoar, analisis tiap karya, latihan, gladi resik dan pertunjukan, lalu refleksi atas rekaman.Tiga lagu, tiga watak untuk satu trombonResital solis trombon, 5 Januari 2026BarokSonata in F MinorTelemann, empatmovement, iringan pianoMelayu-tangoJoget Hitam ManisMelayu dan tango,iringan ansambel fusionPop-discoDancing QueenABBA, iringan miniorkestraJalan risetnyaPersiapanrepertoarAnalisis tiapkaryaLatihanGladi danpertunjukanRefleksirekaman
Sumber: Muhammad Rheinhard Afana dan rekan, Pertunjukan Solis Trombon dengan Repertoar “Sonata In F Minor”, “Joget Hitam Manis” dan “Dancing Queen”, Musica: Journal of Music, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dinamika pun ditata menurut zamannya. Penyaji memakai terraced dynamics, dinamika bertingkat, secara konsisten untuk menciptakan kontras yang jelas antarfrasa, dan menghindari crescendo-decrescendo bertahap yang menurut paper merupakan ciri era Romantik. Vibrato dipakai sedikit dan selektif, hanya pada nada panjang tertentu, agar warna bunyi bertambah tanpa mengganggu kejernihan melodi.

Ujian paling berat datang pada motif alternating ostinato, yakni pola pendek yang diulang dengan variasi ritme atau nada. Di Movement II bar 46 dan bar 75, frase panjang bertempo cepat menuntut napas yang stabil, tonguing yang presisi, dan pemahaman struktur frasa agar tidak terdengar mekanis. Hasil latihan menunjukkan circular breathing tidak diperlukan, asalkan titik napas direncanakan pada jeda frasa yang logis, sesuai praktik musisi Barok.

Para penulis lalu menyandingkan cara bermain itu dengan rekaman Christian Lindberg, yang memainkan adaptasi sonata Telemann untuk trombon. Kesamaannya terdengar pada warna nada yang hangat namun tetap artikulatif, serta pada dinamika yang dipakai untuk memperjelas struktur musik. Keberhasilan interpretasi, menurut mereka, tidak hanya ditentukan kemampuan teknis, tetapi oleh sejauh mana penyaji menginternalisasi prinsip Barok dan menerjemahkannya ke keputusan musikal yang konsisten di setiap movement.

Baca juga Rekonstruksi Kreatif Trumpet Padukan Klasik, Melayu, Latin

Joget yang Menyelinap ke Lantai Tango

Bila sonata menuntut kesetiaan pada satu zaman, Joget Hitam Manis justru meminta trombon setia pada dua tradisi sekaligus. Di satu sisi ada ornamentasi vokal Melayu, dengan ornamen melodi seperti grenek dan ritme lentur yang menciptakan kesan santai dan mengalir. Di sisi lain berdiri ketegasan ritmis tango Argentina, dengan artikulasi dramatis dan ekspresi penuh gairah. Aransemennya membagi dengan jelas bagian berwatak joget Melayu dan bagian yang menekankan unsur tango.

Di bagian kadenza pembuka, penyaji diberi kebebasan berimprovisasi dengan pola ornamentasi Melayu, sementara notasi hanya berfungsi sebagai panduan. Untuk itu ia mempelajari karakter vokal Melayu lewat rekaman asli Joget Hitam Manis, lalu memindahkannya ke trombon: glissando dipakai untuk meniru portamento vokal, dan variasi tonguing dipakai untuk meniru nyanyian bersuku kata. Di bagian tango, staccato pendek dan aksen marcato dipakai secara konsisten demi ritme yang tegas.

Di sinilah poros tulisan para peneliti itu berputar. “Penelitian ini menemukan bahwa keberhasilan interpretasi fusion terletak pada kemampuan pemain untuk mengidentifikasi dan mengeksekusi transisi halus antar gaya, memastikan penampilan keseluruhan terasa menyatu alih-alih terputus-putus,” tulis Muhammad Rheinhard Afana dan rekan. Mereka menambahkan bahwa lagu ini memerlukan bukan hanya penguasaan teknis, melainkan juga kepekaan estetik untuk menegosiasikan dua karakter yang hampir berlawanan.

Kesulitan teknisnya pun nyata, bukan sekadar soal rasa. Tangga nada minor harmonik dalam lagu ini menciptakan banyak alterasi, yaitu perubahan nada setengah langkah, dan pada bar 34–40 paduan appoggiatura, legato, dan staccato beraksen menuntut kontrol embouchure yang presisi agar intonasi tetap akurat. Latihan bersama pengiring menunjukkan komunikasi visual antara solis dan rhythm section, yaitu piano, bass, dan drum, sangat penting, terutama pada bagian poco accel di bar E.

Paper menyandingkan pendekatan ini dengan kajian Gordon tentang world music fusion untuk trombon, yang sama-sama memakai glissando ekspresif dan teknik mute untuk memberi variasi warna nada. Bedanya, para penulis menempatkan karya mereka pada perpaduan Melayu dan tango, konteks yang menurut mereka belum banyak didokumentasikan dalam literatur akademik. Mute sendiri dipakai pada bagian tertentu lagu ini, untuk variasi warna bunyi dan suasana yang lebih intim.

Menyanyikan ABBA tanpa Kata

Dancing Queen menyodorkan soal yang lain lagi: lagu vokal pop-disco dengan aransemen band lengkap harus menjadi panggung instrumental bagi trombon solo bersama mini orkestra. Analisis para penulis menemukan struktur verse-chorus yang standar dengan progresi akor dalam A mayor, ditopang groove disko yang stabil dan energik. Tantangan utamanya terletak pada nada register tinggi di bagian chorus, yang menuntut ketahanan embouchure, sekaligus energi ritmis yang harus konsisten sepanjang pertunjukan.

Salah satu jalan keluarnya justru datang dari para penyanyi aslinya. Cara Agnetha Fältskog dan Anni-Frid Lyngstad membentuk frasa dipelajari dengan teliti, lalu titik napas trombon ditempatkan di lokasi yang sama dengan frasa vokal mereka agar alur musiknya terasa hidup. Pada bar 30 ketukan keempat, penyaji menambahkan glissando slide yang tidak tertulis di partitur, sebagai tafsir pribadi yang memanfaatkan watak khas trombon.

Untuk nada tinggi di chorus, stamina dibangun lewat latihan long tone pada register tinggi dan pemanasan yang berfokus pada latihan kelenturan. Hasil pertunjukan, tulis paper, menunjukkan cara ini efektif menjaga kualitas nada dan intonasi di register tinggi meski dimainkan dalam durasi yang relatif panjang. Pola four-on-the-floor, yakni ketukan kuat di setiap beat, serta tekanan pada backbeat di ketukan dua dan empat menuntut pemain menginternalisasi denyut lagu dengan kuat.

Baca juga Dendang Sirukam Maelo Kayu Digubah Jadi Karya Folk Ranah Berlagu

Pada bagian tutti, saat semua pemain masuk bersamaan, solis harus memproyeksikan suara dengan volume dan kecerahan yang cukup tanpa memaksakan nada. Sebaliknya, pada bagian verse yang lebih intim, rentang dinamika diturunkan untuk membangun kontras. Perbandingan dengan aransemen Swedish Brass Quintet yang memainkan lagu-lagu ABBA menunjukkan bahwa adaptasi pop untuk brass berhasil bila esensi aslinya terjaga sambil diberi warna instrumental yang segar.

Teknik yang Sama, Watak yang Berlainan

Paper merangkum enam teknik khusus trombon dalam resital itu: tonguing, legato, staccato, glissando, mute, dan call-and-response. Penerapannya, kata paper, bervariasi secara signifikan menurut karakter musik tiap repertoar. Tonguing menjadi teknik dasar di semua lagu, tetapi wujudnya lain-lain: double tonguing di Movement II dan IV sonata, tonguing halus dan marcato di Joget Hitam Manis, serta tonguing yang konsisten dengan aksen pada sinkopasi di Dancing Queen.

Dua wajah Joget Hitam Manis di trombonPerbandingan teknik trombon pada Joget Hitam Manis: bagian Melayu memakai tonguing halus, legato mengalir, glissando untuk meniru portamento vokal Melayu, dan ornamen halus; bagian tango memakai marcato tonguing, staccato pendek dengan aksen kuat, glissando ekspresif pada transisi, dan aksen dramatis.Dua wajah Joget Hitam Manis di trombonTeknik per bagian, menurut Tabel 1 dan analisis paperBagian MelayuBagian tangohalusmarcatoTonguinglegato mengalirstaccato pendekLegato danstaccatotiru portamentotransisi ekspresifGlissandoornamen halusaksen dramatisCiri bagian
Sumber: Muhammad Rheinhard Afana dan rekan, Pertunjukan Solis Trombon dengan Repertoar “Sonata In F Minor”, “Joget Hitam Manis” dan “Dancing Queen”, Musica: Journal of Music, 2026. Grafik: Cekricek.id

Glissando adalah teknik yang penggunaannya paling bervariasi di antara ketiganya. Pada sonata ia dipakai minimal, hanya pada ornamentasi tertentu, agar tetap sesuai dengan praktik Barok yang menekankan kejernihan nada. Sebaliknya, pada Joget Hitam Manis glissando menjadi teknik sentral untuk meniru portamento vokal Melayu, sementara pada Dancing Queen ia hadir secara selektif agar tidak mengganggu kejernihan melodi pop yang menjadi kekuatan lagu aslinya.

Mute memperlihatkan pola yang lebih tegas lagi. Ia tidak dipakai pada sonata demi warna nada alami yang diutamakan praktik Barok, dipakai pada joget untuk variasi warna bunyi, lalu kembali disimpan pada Dancing Queen demi kecerahan dan daya pancar yang dibutuhkan musik disko-pop. Call-and-response pun berganti intensitas: dialog dengan piano di titik kadenza sonata, intensif bersama brass section pada joget, dan saling melempar figur dengan orkestra pada lagu ABBA.

Baca juga Tari Sepi ISI Padangpanjang Pentaskan Kesepian Remaja

Panggung yang Ikut Berganti Rupa

Watak yang berubah ternyata juga mengubah tata panggung. Untuk sonata, solis berdiri di tengah depan dengan piano di kiri belakang dari sudut pandang penonton, sehingga kontak mata dan isyarat nonverbal terjaga, dan hubungan keduanya digambarkan sebagai kemitraan setara. Untuk joget, ansambel fusion yang memuat string, brass, woodwind, combo band, dan perkusi dikelompokkan menurut fungsi, sementara solis berdiri di depan tengah sebagai suara utama.

Dancing Queen memakai konfigurasi semi-orkestra: string di depan kiri-tengah, brass di belakang kiri, woodwind di tengah belakang, dan rhythm section di kanan belakang. Uji suara menunjukkan amplifikasi gitar listrik, bass listrik, dan keyboard perlu diimbangi dengan proyeksi akustik orkestra supaya perpaduannya tetap alami. Di lagu ini, solis menjadi bagian dari tekstur orkestra, dengan momen sorotan solo yang diimbangi bagian tutti.

Dari balik panggung, para penulis mencatat tiga pelajaran yang tak tampak oleh penonton. Persiapan tiga repertoar berwatak berbeda menuntut alokasi waktu latihan yang seimbang dengan tingkat kesulitan masing-masing. Bekerja dengan pengiring yang berganti, dari pianis, ansambel fusion, sampai mini orkestra, menuntut kemampuan berkomunikasi dan beradaptasi. Stamina fisik dan mental pun menjadi faktor krusial untuk menjaga embouchure dan dukungan napas sepanjang tiga repertoar berturut-turut.

Seluruh temuan itu bersandar pada satu resital beserta rekaman audio-visual dan catatan evaluasi para penulis sendiri. Dalam simpulannya mereka menulis, “Keberhasilan interpretasi tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknis seperti tonguing, legato, staccato, glissando, mute, dan call-and-response, tetapi lebih fundamental oleh kemampuan menginternalisasi prinsip estetik dari setiap tradisi musikal dan membuat keputusan artistik yang konsisten dengan konteks stilistik karya.”

Paper menawarkan dokumentasinya sebagai rujukan bagi mahasiswa dan musisi trombon lain, dan menyebut trombon punya potensi besar sebagai instrumen solis dalam musik klasik, tradisional, dan populer, membuka kemungkinan eksplorasi repertoar lebih lanjut. Menurut mereka, pendekatan lintas genre dalam pertunjukan tugas akhir tidak hanya memperluas repertoar, tetapi juga mengembangkan kemampuan interpretasi yang lebih utuh.

Bagikan

Baca Juga

Taylor Swift Jadi Termuda di Nashville Songwriters Hall of Fame
Jay-Z Resmi Jadi Pengisi Halftime Show Super Bowl 2027
Pemilik Katalog Elvis Presley Gugat Anthropic atas 274 Lagu
Panggung Piramida Daft Punk Segera Hadir sebagai Set LEGO Resmi
Spotify Family Diperketat, Anggota Wajib Pindai Kode QR
Jihyo TWICE Tinggalkan JYP Setelah 21 Tahun, Dirikan EMITHAUS