Rekonstruksi Kreatif Trumpet Padukan Klasik, Melayu, Latin

A A

Solis terompet membawakan repertoar lintas genre dalam sebuah pertunjukan. [Foto: Priscilla Du Preez/Wikimedia Commons (CC0)]

Daftar Isi
  1. Tiga Genre Digabung
  2. Rekonstruksi Kreatif
  3. Mozart Dibuka Klasik
  4. Katung Berbaju Jazz
  5. El Preso Berdrama
  6. Teknik Jadi Fondasi
  7. Keterbatasan Kajian
  8. Kejanggalan Naskah

Satu solis trumpet membawakan tiga genre musik dalam satu pertunjukan. Konserto klasik Mozart, lagu Melayu, dan salsa Latin dijajarkan tanpa jeda pentas terpisah. Ketiganya digelar 1 Juli 2025 di gedung Hoeridjah Adam, Institut Seni Indonesia Padangpanjang.

Pertunjukan itu dibahas M Yunus Prayogi Sinulingga, Selvi Kasman, Melisa Fitri Rahmadinata, dan Rosmegawaty Tindaon dalam artikel Rekonstruksi Kreatif dalam Pertunjukan Solis Trumpet Lintas Genre, dimuat Musica: Journal of Music volume 5 nomor 2, tahun 2025. Keempatnya berasal dari Program Studi Seni Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang.

Tiga Genre Digabung

Tiga repertoar dibawakan berurutan dalam satu rangkaian pertunjukan yang sama. Urutannya Concerto No.1 in D Major karya Mozart, lagu Melayu "Tanjung Katung", lalu lagu salsa "El Preso". Ketiganya mewakili tiga dunia musik yang jauh berbeda karakternya.

Klasik Barat, tradisi Melayu, dan populer Latin dipertemukan dalam satu penyaji dan satu panggung yang sama. Perbedaan karakteristik gaya musik ini disebut naskah sebagai tantangan tersendiri bagi solis dalam membangun interpretasi yang tepat dan meyakinkan.

Naskah menyebut kajian pertunjukan solis trumpet umumnya masih berfokus pada aspek teknis atau analisis repertoar tertentu secara terpisah. Kajian yang menggabungkan pendekatan interpretatif kreatif dan reflektif lintas genre disebut masih relatif terbatas, khususnya di pendidikan tinggi seni pertunjukan Indonesia.

Penelitian ini disebut bertujuan menganalisis penerapan rekonstruksi kreatif dalam pertunjukan solis trumpet lintas genre. Dua tujuan lain adalah mengkaji peran penguasaan teknik dasar trumpet dan mengidentifikasi karakter interpretatif yang muncul dari perbedaan gaya tiap repertoar.

Ketiga repertoar dipilih karena merepresentasikan spektrum gaya musik yang berbeda: klasik Barat, tradisional Melayu, dan populer Latin. Pemilihan ini disebut memungkinkan analisis komparatif atas strategi interpretasi yang diterapkan pada tiap karya.

Rekonstruksi Kreatif

Naskah menyebut pendekatan yang dipakai bernama rekonstruksi kreatif. Pendekatan ini membuka ruang dialog antara teks musikal asli, konteks historisnya, dan kreativitas penyaji sendiri di atas panggung.

Karya lama dihidupkan kembali tanpa melepas sumber dan karakter aslinya. Ruang interpretasi baru tetap dibuka, disesuaikan dengan konteks pertunjukan dan kemampuan artistik pemain saat itu. Pendekatan ini dianggap penting ketika solis harus beradaptasi dengan perbedaan gaya, teknik, dan ekspresi dalam repertoar lintas genre.

Mozart Dibuka Klasik

Concerto Mozart dimainkan dalam dua gerakan, Allegro dan Rondo. Gaya Klasik ditonjolkan lewat artikulasi jelas, frasa simetris, dan ekspresi elegan pada melodi utama, serupa dengan dialog antara solois dan orkestra pada versi aslinya.

Teknik trumpet yang kuat menyampaikan dinamika legato lembut pada bagian tema. Pergantian forte pada bagian kontras tetap mengikuti struktur klasik yang baku. Interaksi antara solis trumpet dan ensemble string ditata dengan teknik call-and-response.

Solo masuk di tengah eksposisi orkestral, melanjutkan tema dengan transposisi yang tepat. Improvisasi ornamentasi halus muncul pada salah satu pergantian melodi, mengacu pada kebebasan interpretatif solo dalam tradisi Klasik. Penyesuaian tempo turut dilakukan untuk menjaga keseimbangan keseluruhan pertunjukan.

Tiga Repertoar Diinterpretasi BerurutanTiga repertoar lintas genre dibawakan berurutan dalam satu pertunjukan solis trumpet.Tiga Repertoar Diinterpretasi BerurutanPertunjukan 1 Juli 2025 di ISI PadangpanjangConcertoMozartGaya klasik,artikulasi jelasTanjung KatungBig band alaGeligaEl PresoLatin big band,tarian salsaPaduInterpretasiutuh sesuaiSetiap repertoar direkonstruksi sesuai karakter genre aslinya, bukandisamakan.
Sumber: M Yunus Prayogi Sinulingga, Selvi Kasman, Melisa Fitri Rahmadinata, dan Rosmegawaty Tindaon, Rekonstruksi Kreatif dalam Pertunjukan Solis Trumpet Lintas Genre, Musica: Journal of Music, 5(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Katung Berbaju Jazz

Repertoar kedua, "Tanjung Katung", dibawakan dengan aransemen big band ala Geliga. Iringan full band jazz dipakai, lengkap dengan bass listrik, drum, dan brass. Aransemen ini menampilkan sisi melodius sekaligus ritmis dari karya aslinya.

Solis membawakan tema utama dengan nuansa ekspresif, pelan pada bagian inti melodi. Legato panjang dan frasa ornamentatif yang lirikal dan puitis dipakai di bagian itu. Aksen syncopated dan dinamika lebih kuat muncul pada bagian ritme yang lebih dinamis.

Ada jeda solo bebas di akhir bagian pertama untuk improvisasi ritmik. Improvisasi itu tetap disinkronkan dengan iringan band, bukan dibiarkan lepas begitu saja. Karena temponya lebih lambat dari karya klasik, solis mengedepankan kekayaan frasa tradisional Melayu berwarna jazz.

Swing feel dan progresi harmoni yang kompleks tetap mempertahankan nuansa Melayu di dalamnya. Hasilnya, penonton disebut merasakan nuansa melankolis sekaligus kehangatan tradisi lewat kombinasi ini.

Baca juga Kerah Kebaya Labuh Riau Naik ke Enam Busana Pastel

El Preso Berdrama

Repertoar ketiga, "El Preso", diaransemen sebagai solo trumpet dengan Latin big band lengkap percussion dan brass section. Solis menggantikan vokal utama, sehingga tone yang dimainkan harus "bercerita" secara emosional sepanjang lagu.

Frase panjang dan dinamika fleksibel khas ballad salsa dipakai pada bagian refrain. Artikulasi lalu bergeser tajam dan ritme menguat pada bagian coro yang berenergi tinggi, mengikuti struktur lagu aslinya. Teknik pernapasan mendalam dan penguasaan frasa panjang dipakai untuk kontinuitas melodi yang penuh emosi.

Karakter dramatis lagu, yang berkisah tentang penyesalan seorang tahanan, dipertegas lewat nuansa minor pada beberapa jeda lagu. Tarian salsa yang terintegrasi dengan musik menambah dimensi visual di panggung, dengan penari energik mensimulasikan elemen ritual pertunjukan musik Latin.

Kombinasi musik dan tarian ini mempertegas bahwa pertunjukan musik merupakan ritual interaksi budaya antara pemain dan penonton. Interpretasi ini dinilai berhasil menyampaikan dualitas "El Preso", meski iramanya bersemangat, pesan sosialnya tetap tersampaikan nyata kepada audiens.

“El Preso tidak sekadar hiburan tapi media ekspresi kuat, di mana trumpet solis dapat mengambil peran narasi penuh perasaan,” tulis Sinulingga dan kawan-kawan tentang repertoar ketiga ini dalam naskahnya. Kutipan itu menutup pembahasan atas repertoar yang menuntut ekspresi emosional paling kuat di antara tiga karya yang dibawakan.

Satu Pertunjukan, Tiga Genre BerbedaTiga repertoar lintas genre dibawakan satu solis trumpet dalam satu pertunjukan.Satu Pertunjukan, Tiga Genre BerbedaInstitut Seni Indonesia Padangpanjang, Musica 5(2), 20253repertoar dibawakanklasik, Melayu, populerLatin2gerakan ConcertoMozartAllegro dan Rondo1pertunjukan digelar1 Juli 2025Jalan risetnyaPenguasaan teknik dasarInterpretasi tiap genrePertunjukan solisKetiga repertoar dibawakan solis trumpet dalam satu rangkaianpertunjukan yang sama.
Sumber: M Yunus Prayogi Sinulingga, Selvi Kasman, Melisa Fitri Rahmadinata, dan Rosmegawaty Tindaon, Rekonstruksi Kreatif dalam Pertunjukan Solis Trumpet Lintas Genre, Musica: Journal of Music, 5(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh

Teknik Jadi Fondasi

Ketiga repertoar menuntut penguasaan teknik dasar trumpet yang matang. Artikulasi, kontrol pernapasan, dan pengelolaan dinamika disebut naskah berperan penting mendukung keberhasilan interpretasi lintas genre pada penyaji.

Teknik bermain yang solid, hasil latihan etude, menjadi fondasi utama sepanjang pertunjukan. “Teknik dasar memungkinkan ekspresi yang lebih bebas,” tulis Sinulingga dan kawan-kawan dalam naskahnya, merangkum prinsip yang berlaku di ketiga repertoar.

Penyaji dinilai berhasil merealisasikan interpretasi sesuai karakter tiap repertoar yang dibawakan. Kreativitas dalam rekonstruksi menghadirkan nuansa segar pada karya klasik dan tradisi, tanpa menghilangkan esensi aslinya.

Brass section, misalnya, ditambahkan untuk suasana meriah pada "Tanjung Katung". Kolaborasi dengan pengiring, baik ensemble string maupun big band, tetap menjaga kohesi musikal sepanjang tiga repertoar itu berlangsung.

Temuan ini disebut konsisten dengan studi lain soal perbedaan interpretasi antargenre. Sukron (2024) menemukan cara interpretasi klasik berbeda dengan jazz, namun dalam pertunjukan ini semua unsur berhasil diintegrasikan secara harmonis.

Suasana pertunjukan yang dihasilkan disebut kaya variasi emosi dan gaya sepanjang tiga repertoar. Pengalaman pendengaran yang dihasilkan dinilai mendalam sekaligus seru bagi audiens yang hadir menyaksikan ketiga karya itu dibawakan berurutan.

Baca juga Sound Logo Netflix, Dua Detik yang Dirancang Ketat

Keterbatasan Kajian

Ketiga repertoar dipilih sendiri oleh penyaji secara purposif. Pemilihan itu berdasarkan perbedaan karakter musikal, tuntutan teknis, dan nilai artistiknya, bukan lewat sampel acak atau perbandingan dengan banyak penyaji lain di luar dirinya.

Penilaian keberhasilan interpretasi juga berasal dari refleksi kritis penyaji sendiri sebagai pelaku pertunjukan. Bukan dari penilaian pihak luar yang independen terhadap hasil akhirnya. Temuan soal strategi interpretasi lintas genre ini karena itu terbatas pada pengalaman satu penyaji dan tiga karya tersebut saja, belum tentu berlaku pada solis trumpet lain di luar konteks pertunjukan ini.

Kejanggalan Naskah

Kalimat penutup kesimpulan naskah diakhiri dua tanda titik berurutan, bukan satu, saat menyebut karya musik yang "dihidupkan kembali" dengan nuansa baru sambil tetap berakar pada budaya aslinya. Kejanggalan tipografis kecil semacam ini lazim luput dari proses penyuntingan naskah akademik sebelum diterbitkan, sehingga bisa diperiksa pembaca langsung di teks aslinya.

Daftar pustaka naskah ini juga memuat belasan skripsi tidak dipublikasikan dari almamater yang sama, dengan pola judul yang sangat mirip satu sama lain. Salah satu entrinya bahkan menyebut nama penulis pertama naskah ini sendiri sebagai penulis skripsi di tahun yang sama.

Naskah menyebut hasil kajian ini diharapkan menjadi referensi bagi musisi solis trumpet lain yang menggarap repertoar lintas genre dengan pendekatan serupa. Rekonstruksi kreatif pada tiga karya ini disebut berpeluang terus dikaji untuk repertoar musik tradisional dan modern lainnya, selama akar budaya aslinya tetap dijaga.

Bagikan

Baca Juga

Dendang Suayan Balenggek Diubah Jadi Fantasia Orkestra
Contrabass Beralih Peran lewat Tiga Repertoar Lintas Genre
Malapak, Saat Indang Solok Diubah Jumlah dan Bunyinya
Yusuf Gayos Ubah Vokal Barzah Jadi Lagu Kaylana Batang Hari
Fantasia Begambang: Dua Wajah Tradisi Musik Muaro Jambi
Saluang Pauah, Pendendang Laki-laki Pengiring Kaba Pauh