- Saluang pauah berlubang enam tetapi mengeluarkan tujuh nada, berbeda dari saluang Minangkabau lain.
- Pertunjukan hanya memuat dua orang, tukang saluang dan tukang dendang, keduanya laki-laki.
- Berlangsung seusai Isya sampai menjelang Subuh dengan enam sampai tujuh kali jeda.
- Struktur bakunya enam bagian, dari pado-pado sampai lambok malam tanpa saluang.
Daftar Isi
Kursi dijejer tepat di depan pelaminan, bantal disusun di lantai untuk meninggikan letak mikrofon, dan dua laki-laki duduk bersila dengan punggung sedikit membungkuk. Dari posisi itu, sebuah pesta perkawinan di Kecamatan Pauh, Kota Padang, berpindah tangan kepada dua orang yang akan menghabiskan tujuh jam berikutnya meniup bambu dan menyanyikan kisah sedih.
Bentuk pertunjukan itu dicatat Yudha Pratama Putra, Jhori Andela, dan Yurnalis dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang dalam artikel Studi Bentuk Pertunjukan Saluang Pauah pada Upacara Perkawinan di Kecamatan Pauah Kota Padang di Jurnal Musik Etnik Nusantara, Volume 5 Nomor 1 edisi Januari sampai Juni 2025. Naskahnya terbit 1 Juni 2025.
Datanya dikumpulkan lewat pengamatan, wawancara, studi pustaka, dan pengumpulan dokumentasi. Penelitinya mewawancarai pelaku keseniannya sendiri, antara lain Zamri Marlin Bungsu dan Afrijon, pada rentang Maret sampai April 2023, lalu merekam pertunjukan pada Desember 2023. Kerangka yang dipakai untuk membaca hasilnya diambil dari empat aspek: bentuk, struktur, organologi, dan musikal. Metodenya dinyatakan kualitatif dengan uraian deskriptif, yang tujuannya disebut membuat gambaran sistematis atas bentuk dan struktur pertunjukan itu.
Enam lubang, tujuh nada, dan sebuah lidah di ujungnya
Saluang pauah tumbuh di Kecamatan Pauh dan berbeda dari saluang Minangkabau pada umumnya. Ia tergolong seruling berlidah, sementara saluang lain umumnya ditiup dari ujung tanpa lidah. Sepintas ia mirip bansi, alat tiup Minangkabau berlubang tujuh, tetapi ukurannya lebih besar. Bagian atasnya bertutup pasak seperti bansi, dan teknik meniupnya pun mengikuti bansi.
Lubang nadanya enam, disebut giriak, tetapi bunyi yang keluar tujuh nada. Naskah menyebut deretannya mendekati A-C-D-E-F-G-A. Pada bagian tertentu alat ini sanggup mengeluarkan nada hias yang disebut garitiak. Tiupannya tidak keras dan tidak pelan, memakai napas sedang dan tidak terburu-buru, karena ciri khas bunyinya adalah irama yang mengalun, yang orang Pauh sebut abok.
Secara etimologi namanya menggabungkan dua kata. Saluang merujuk pada alat tiup dari bambu talang, sedangkan pauah adalah nama daerah di Kecamatan Pauh, Kota Padang. Dari sisi penggolongan alat musik, ia masuk kelompok aerofon, yaitu alat yang bunyinya lahir dari getaran udara, dan dalam pertunjukan ia berperan sebagai pembawa melodi.
Pemainnya dua orang, dan keduanya harus laki-laki
Satu pertunjukan hanya memuat dua orang: seorang peniup yang disebut tukang saluang dan seorang penyanyi yang disebut tukang dendang. Keduanya laki-laki dewasa. Menurut Zamri Marlin Bungsu, pelaku kesenian saluang pauah yang diwawancarai penelitinya, jumlah tukang dendang sebenarnya bisa lebih dari satu, tetapi bila terlalu banyak pertunjukan justru kurang bergairah.
Alasannya teknis. Masing-masing tukang dendang tidak mendapat kesempatan penuh untuk berimprovisasi bila giliran terbagi. Adapun ketiadaan perempuan di kursi pendendang dijelaskan lewat norma sosial: budaya Minangkabau yang kuat dipengaruhi Islam tidak menghendaki perempuan berada di luar rumah sampai tengah malam, dan pelanggarannya berbuntut citra negatif di rumah tangga, kampung, maupun nagari.
Baca juga Gandang Sarunai Solok Selatan dan Empat Tahap Pertunjukannya
Pakaiannya tidak diatur. Tukang saluang dan tukang dendang mengenakan kemeja polos berwarna terang, peci hitam, dan celana bahan sesuai selera masing-masing. Satu-satunya ketentuan yang disebut naskah adalah kesopanan. Tidak ada fasilitas khusus di panggung selain dua bantal, yang dipakai bukan untuk duduk melainkan untuk meninggikan letak pengeras suara.
Pengeras suara itu bukan tambahan zaman. Naskah menyebutnya keharusan, sebab tamu undangan tetap mengobrol satu sama lain selama pertunjukan berlangsung. Tanpa mikrofon, bunyi saluang dan kaba yang dilantunkan tukang dendang tidak akan terdengar jelas di tengah keramaian orang yang datang ke pesta.
Tujuh jam yang dipotong enam sampai tujuh kali jeda
Pertunjukan dimulai seusai salat Isya dan berhenti menjelang azan Subuh. Selama kira-kira delapan jam itu terjadi enam sampai tujuh kali jeda, masing-masing sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Artinya tukang saluang dan tukang dendang berhenti kira-kira tiap satu jam lebih sedikit, lalu kembali ke posisi bersila.
Jeda itu dipakai untuk minum dan makanan ringan, dan suguhannya dibedakan dari suguhan penonton. Tuan rumah menyediakan kopi dan telur setengah matang. Naskah menyebut maksudnya menjaga stamina dan konsentrasi pemain agar bertahan semalaman, dan telur setengah matang diharapkan menjaga tekanan darah orang yang begadang sampai pagi.
Tidak semua malam berakhir menjelang Subuh. Naskah menyebut ada pertunjukan yang berhenti lebih awal, dan penonton tetap menerimanya. Tempatnya pun tidak selalu pesta perkawinan: saluang pauah juga dimainkan di lapau, sekadar untuk begadang dan melepas lelah sepulang dari ladang, serta di acara turun mandi dan akikah.
Isi kabanya kisah sedih, sebagian milik pendendang sendiri
Yang dinyanyikan adalah kaba, prosa berirama berbentuk kisah yang tergolong pantun panjang. Isinya kontekstual, menyangkut kejadian di tengah masyarakat atau kisah keluarga yang menghadapi tantangan hidup di masa lampau. Kisahnya disusun lewat perenungan tukang dendang sendiri, dengan syarat tidak berbenturan dengan nilai budaya setempat. Judul yang biasa dibawakan antara lain Kaba Urang Bonjo, Kaba Urang Batawi, Kaba Urang Batipuah, Kaba Urang Makassar, dan Kaba Urang Lubuak Sikapiang.
Naskah mengutip dua teks kaba beserta terjemahannya, yakni Kaba Urang Lubuak Sikapiang dan Kaba Urang Piaman. Keduanya berkisah tentang kehilangan. Satu baris menyebut nasib yang serupa ayam tidak berinduk, ayah pergi dan ibu telah hilang, tanpa ninik mamak, hingga tidak ada lagi tempat bergantung. Penelitinya menyimpulkan hampir seluruh liriknya kesedihan yang diangkat dari kisah nyata.
Isi kaba juga bisa datang dari kursi penonton. Pada bagian pakok limo, penonton dapat meminta cerita tertentu, termasuk sindiran kepada teman sebaya yang belum menikah. Tukang dendang lazimnya menerima permintaan itu dan membalasnya dengan lirik menyindir, tetapi dibawakan dalam nada lucu.
Baca juga Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi
Satu kaba jarang selesai dalam satu malam, dan tidak ada kebiasaan melanjutkannya pada malam berikutnya. Penonton tidak mempersoalkannya, yang menurut naskah mungkin karena bagian klimaksnya sudah terlewati. Sebaliknya, kaba yang dipaksa selesai justru berisiko kehilangan daya tariknya, sebab daya tarik kaba justru terletak pada alur yang berbelit.
Yang tercatat dan yang masih longgar dalam naskah ini
Naskah ini berdiri di atas pengamatan dan wawancara, bukan pengukuran, dan penulisnya menyebut sendiri bahwa metodenya kualitatif deskriptif. Tidak ada jumlah pertunjukan yang diamati, tidak ada jumlah narasumber, dan tidak ada rentang waktu pengamatan yang dinyatakan. Pembaca mendapat gambaran bentuk, bukan taksiran seberapa sering bentuk itu masih dijalankan.
Beberapa keterangannya juga tidak sepenuhnya sejalan. Jam mulai disebut pukul 20.00 di dua tempat dan pukul 21.00 di tempat lain. Struktur pertunjukan disebut empat bagian pada pendahuluan, tetapi dirinci menjadi enam bagian pada bagian hasil, dengan tambahan irama limo jain dan lereang ibo.
Penontonnya pun disebut dua kali dengan susunan berbeda. Bagian tentang pemain menjelaskan perempuan terikat norma untuk tidak keluar malam, sementara bagian tentang penonton menyebut yang hadir rata-rata pria dewasa dan wanita dewasa. Tanggal wawancara dengan Afrijon ditulis 26 Maret 2023 pada satu kutipan dan 26 April 2023 pada kutipan lainnya.
Baca juga Pemkot Padang Gelar Nongkrong Kreatif untuk Lestarikan Budaya Lokal
Soal pewarisan, naskah menyimpan satu catatan yang tidak dibesar-besarkan. Lirik kaba berisi kata kiasan yang menurut narasumbernya sangat sulit dimengerti kaum muda sekarang. Harapan yang disebut hanya satu kalimat: dengan pertunjukan itu tetap dilestarikan di pesta perkawinan Kota Padang, generasi muda perlahan akan mengerti maknanya.
Naskah juga mencantumkan potongan kaba yang menyinggung tigo tungku sajarangan, yaitu tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh cerdik pandai. Penelitinya membaca potongan itu sebagai tanda bahwa pertunjukan di lingkungan Minangkabau baru berjalan setelah mendapat persetujuan dan izin dari ketiga tokoh tersebut, bukan semata kehendak tuan rumah yang membayar.
Yang tersisa dari catatan ini adalah satu bambu berlubang enam, dua orang bersila di bawah kain pelaminan berwarna hijau, putih, dan merah, dan sebuah kisah yang hampir selalu berhenti sebelum tamat. Panggungnya kini sudah melebar sampai ke acara penyuluhan pemerintah, tetapi tempat paling seringnya tetap halaman rumah orang yang sedang menikahkan anaknya.















