Salawat Kematian di Koto Panjang Hanya Dibaca di Rumah Duka

A A

Rumah Gadang Ukiran Cino di Jorong Batu Nan Limo, Nagari Simalanggang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota. [Foto: Zhilal Darma/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Di Koto Panjang, salawat hanya diselenggarakan dalam konteks upacara kematian.
  • Pembacaan kitab selalu dimulai dari bacaan hari Senin, apa pun hari kematiannya.
  • Sekitar empat kelompok urang siak rutin membaca salawat di rumah duka tanpa alat musik.
  • Urang siak tidak mau menerima uang atau barang dari tuan rumah sebagai upah.
  • Hari ketujuh, keempat puluh, dan keseratus diisi doa tahlil dan jamuan makan.
Daftar Isi
  1. Bacaan kitab selalu dimulai dari hari Senin
  2. Tukang Rantau memimpin irama tanpa alat musik
  3. Tiga hari besar memanggil tetangga ke rumah duka
  4. Urang siak menolak upah dan datang berkopiah
  5. Salawat kematian menghadirkan kembali si mayit bagi keluarga
  6. Naskah tanpa bagian keterbatasan dan hitungan halaman yang bertabrakan

Cekricek.id — Sekitar pukul 21.00, sesudah sedekah kaji dari tetangga atau keluarga terdekat, para urang siak duduk di tengah rumah duka beralaskan tikar atau karpet dan memulai salawat kematian. Di hadapan mereka hanya ada permen di piring, air putih, dan rokok yang diletakkan di dalam gelas.

Kadang tuan rumah menambahkan kopi dan kue-kue kecil. Tidak ada aturan yang mengikat soal suguhan itu, semuanya menurut keinginan tuan rumah. Sajian sesederhana ini berlaku sejak hari pertama kematian, yang disebut sapatang dikubua, sampai hari sebelum hari ketujuh. Lamanya pembacaan malam itu bergantung pada panjang teks yang dibaca, berkisar 20 sampai 25 halaman setiap harinya.

Rumah duka itu berada di Koto Panjang, Kecamatan Lamposi Tigo Nagori, Kota Payakumbuh. Berbeda dengan wilayah Minangkabau lain yang memakai salawat untuk Maulid Nabi, syukuran, atau penyambutan Ramadan, salawat di nagari ini hanya diselenggarakan dalam konteks upacara kematian. “Kehadiran Salawat di suatu rumah menjadi penanda sosial bahwa telah terjadi peristiwa kematian,” tulis para penulisnya.

Catatan itu disusun Lidya Triana dan Viola Vianda Sari dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, bersama Syahri Anton dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Hasilnya dimuat dalam artikel Salawat pada Upacara Kematian di Koto Panjang Kecamatan Lamposi Tigo Nagori Payakumbuah di Jurnal Musik Etnik Volume 6 Nomor 1 edisi Januari–Juni 2026. Artikel itu terbit pada 2 Juni 2026.

Ketiganya ingin mengungkap makna simbolik salawat dalam upacara kematian masyarakat Koto Panjang. Mereka memakai pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan lewat observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pembaca salawat, Tukang Rantau, tokoh adat, dan tokoh masyarakat, serta perekaman audio, video, dan foto. Bahan itu kemudian ditranskripsi, direduksi, dan dibaca dengan semiologi Ferdinand de Saussure.

Dalam kerangka Saussure, tanda tersusun atas penanda dan petanda. Para penulis memperlakukan unsur-unsur salawat kematian sebagai tanda: struktur penyajian, waktu, pembaca, musik, sajian makanan, busana, dan penonton. Mereka mencatat salawat merupakan kegiatan wajib yang dijalankan turun-temurun oleh Urang Siak, yaitu orang yang pengetahuan agamanya lebih mendalam, seperti santri, ustaz, dan pemuka agama.

Bacaan kitab selalu dimulai dari hari Senin

Sebelum bacaan pertama, ada barundiang. Perwakilan keluarga mengajukan permintaan secara simbolis kepada Urang Siak, lalu terjadi tanya jawab sampai mufakat tercapai. Barulah salawat dimulai. Barundiang diulang sesudah pembacaan sebagai tanda kegiatan telah selesai, termasuk pada salawat hari ketujuh, keempat puluh, dan keseratus. Para penulis mengaitkannya dengan pepatah adat bulek aia ko pambuluah, bulek kato ka mufakat.

Pembacaan dibuka dengan Al Fatihah. Surah itu dibaca bersama-sama, tetapi memakai irama yang sama dengan irama bacaan salawat. Sesudahnya barulah teks dari kitab salawat dilantunkan. Menurut Syamsu Ridzal Angku Lumaijan, pemuka agama dan guru MTI Koto Panjang, kitab itu disusun sebuah tim tujuh ahli kitab yang nama-namanya tercantum di sampul terluarnya.

Isi kitab dibagi menurut nama hari. Meskipun seseorang di Koto Panjang meninggal pada hari Rabu atau hari lain, pembacaan tetap dimulai dari bacaan hari Senin karena sudah menjadi adat kebiasaan. Hari, tulis para penulis, hanya dipakai untuk mempermudah menyebut urutan bacaan. Aturan itu berubah pada hari keempat puluh dan keseratus, ketika bacaan disesuaikan dengan hari yang sedang berjalan.

Bila hari keempat puluh jatuh pada Jumat, yang dibaca adalah bacaan hari Jumat. Bacaan itu, menurut Syamsu Ridzal, berisi permohonan pertolongan untuk keselamatan pribadi dan keluarga, serta permintaan ampun atas dosa seperti antara timur dan barat. Bacaan hari Jumat terdiri dari 26 halaman dan disebut paling panjang dibandingkan bacaan hari lainnya.

Bacaan hari Senin terdiri dari 20 halaman dan menjelaskan salawat kepada nabi dan rasul. Bacaan hari Kamis 22 halaman, menyebut batu, kerikil, daun, kayu, bahkan seekor kijang ikut bersalawat kepada nabi. Bacaan hari Sabtu 25 halaman. Bacaan hari Ahad 25,5 halaman dan menjelaskan kebesaran Allah yang menciptakan langit tanpa tiang dan gunung sebagai pasak dunia.

Kitab salawat kematian itu memuat delapan bagian, padahal pembacaan beruntun hanya berlangsung tujuh hari. Karena itu, bagian kedelapan yang disebut hari Senin di Atas biasanya digabung dengan bacaan hari Ahad, lalu ditutup dengan doa. Bacaan Senin di Atas terdiri dari 12 halaman. Doa salawat sendiri hanya dibaca pada hari ketujuh, keempat puluh, dan keseratus.

Baca juga Induak dan Anak, Dua Suara di Balik Salawat Dulang

Tukang Rantau memimpin irama tanpa alat musik

Pembacanya bergabung dalam kelompok beranggotakan sekitar empat sampai lima orang. “Di wilayah ini terdapat kurang lebih empat grup Salawat yang secara rutin membacakan Salawat di rumah duka, meskipun dalam praktiknya juga sering terbentuk grup dadakan sesuai kebutuhan,” tulis Lidya Triana, Viola Vianda Sari, dan Syahri Anton. Kelompok itu tidak bernama. Warga umumnya menyebutnya kelompok urang siak.

Sehari-hari mereka bekerja sebagai petani, guru, dan pekerjaan lain. Namun, masyarakat menghormati dan menuakan mereka, sehingga sebagian dipanggil angku. Salah satu kelompok mempertahankan anggota yang tetap karena kekompakan dianggap penting untuk menjaga keselarasan bacaan dan irama. Pemimpinnya disebut Tukang Rantau atau kapalo arak, biasanya orang yang bacaan Al-Qur’annya paling baik dan suaranya paling indah.

Tukang Rantau menentukan irama dan jalannya bacaan, sementara anggota lain mengikuti. Ia kerap berimprovisasi secara spontan, sehingga setiap penyajian memiliki karakter irama yang berbeda. Tidak ada instrumen musik yang dipakai. Bacaan dilantunkan dengan pola melodi tertentu sehingga terdengar seolah “dilagukan”, sementara tempo dan dinamika muncul mengikuti suasana ritual dan emosi para pembacanya.

Masjid Ar-Rahman berkubah hijau di Nagari Batuhampar dengan halaman dan pepohonan kelapa
Masjid Ar-Rahman di Nagari Batuhampar, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Puluh Kota. [Foto: Rahmat Irfan Denas/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Warga sendiri tidak menyebutnya kesenian. “Bagi masyarakat Koto Panjang, Salawat lebih dimaknai sebagai kegiatan religius untuk menyampaikan doa bagi arwah si mayit, bukan sebagai pertunjukan seni,” tulis ketiga penulis. Dari sudut pandang akademis, mereka mengategorikannya sebagai seni suara religius. Keluarga dan masyarakat yang menyimak memberi respons beragam, seperti terharu, menangis, atau merenung.

Tiga hari besar memanggil tetangga ke rumah duka

Suasana rumah duka berubah pada hari ketujuh, keempat puluh, dan keseratus, yang disebut manujuah hari, maampek puluah hari, dan manyaratuih hari. Bukan hanya urang siak yang hadir. Tetangga, keluarga, sahabat, dan kerabat sengaja dijapuik atau diundang untuk ikut berdoa. Sesudah doa salawat, pembacaan dilanjutkan dengan doa tahlil, lalu tamu dan urang siak dijamu makan dan minum.

Syamsul Nirwan Dt Rajo Dano Nan Hitam menjelaskannya dengan pepatah adaik bajokok bagujalo, diimbau mangkonyo dotang, dikecekan mangkonyo tibo, yang dalam naskah diartikan dipanggil maka datang, dikatakan maka tiba. Para angku yang hadir pada hari ketujuh dijemput tuan rumah karena mereka datang bukan hanya untuk membaca salawat, tetapi juga untuk doa manujuah hari.

Tuan rumah menyiapkan sajian yang pantas, tidak berlebihan, sesuai kemampuannya. Kebalikan dari undangan itu tercatat dalam pepatah lain, kaba baiak baimbauan, kaba buruak bahamburan. Pada pesta, masyarakat datang karena diundang tuan rumah. Pada kemalangan seperti kematian, masyarakat datang dengan sendirinya tanpa diundang atau dijemput. Para penulis membacanya sebagai bukti hubungan sosial masyarakat yang terbangun dengan baik.

Baca juga Ketika Islam Menulis Ulang Sejarah Minangkabau: Jejak Spiritual dalam Tambo Kuno

Urang siak menolak upah dan datang berkopiah

Suguhan bukan bayaran. DT. Pangulu Basa, salah seorang pembaca salawat, menerangkan bahwa urang siak tidak mau menerima pemberian uang atau barang dari tuan rumah sebagai upah. Mereka menganggap salawat kematian sebagai ladang pahala yang dijanjikan Allah bagi pembacanya. Permen, rokok, kopi, atau jamuan makan dipahami sebagai ungkapan terima kasih tuan rumah.

Tidak ada pula aturan adat soal pakaian. Yang diutamakan kebersihan, kerapian, kenyamanan, dan kesesuaian dengan suasana duka. Umumnya urang siak mengenakan baju koko atau kemeja dengan celana panjang atau kain sarung. Karena pembacaan kerap berlangsung malam hari, sebagian memakai jaket lengan panjang. Kopiah melengkapi penampilan, dikenakan di kepala, bagian tubuh yang dianggap paling terhormat.

Salawat kematian menghadirkan kembali si mayit bagi keluarga

Pada bagian semiologi, para penulis memilah makna menurut siapa yang mengalaminya. Bagi keluarga, salawat kematian menjadi sarana mengingat kembali kebaikan si mayit selama hidup. Menurut informan bernama Siri, keluarga seakan kembali merasakan keberadaan si mayit di tengah mereka, dan doa yang disampaikan lewat salawat seakan dapat didengar serta dirasakan langsung olehnya.

Bagi urang siak, maknanya lain. Dari wawancara dengan Mardison, para penulis mencatat pembaca yang hanyut dalam suasana haru dan seakan berkomunikasi dengan Rasulullah. Syamsu Ridzal menegaskan bahwa bagi mereka Rasulullah tidak meninggal dan ruhnya tetap ada di sekitar orang yang bersalawat. “Bagi urang siak, Salawat dimaknai sebagai bentuk komunikasi spiritual dengan Rasulullah untuk memohon syafaat dan kebaikan,” tulis ketiga penulis.

Bagi masyarakat luas, salawat kematian disebut mempererat silaturahmi antara keluarga, tetangga, dan sahabat, seperti pepatah barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Para penulis juga membacanya sebagai simbol kecintaan kepada Allah, Rasulullah, dan sesama manusia, sekaligus pengingat akan kefanaan hidup. Tradisi itu, menurut mereka, menegaskan identitas masyarakat Koto Panjang sebagai komunitas Muslim yang taat pada prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Naskah tanpa bagian keterbatasan dan hitungan halaman yang bertabrakan

Naskah tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Jumlah informan tidak disebutkan, begitu pula rentang waktu kerja lapangan. Satu-satunya tanggal wawancara yang tercantum adalah 13 Mei 2017, sementara artikel dikirim ke jurnal pada 1 April 2026. Nama pemuka agama yang paling sering dikutip pun ditulis dengan beberapa ejaan, antara lain Syamsu Ridzal dan Syamu Ridjal.

Hitungan halaman kitab juga tidak sejalan. Bacaan hari Senin di Atas yang berjumlah 12 halaman disebut paling pendek, padahal bacaan hari Selasa ditulis hanya 2 halaman. Bacaan hari Jumat 26 halaman, melampaui kisaran 20 sampai 25 halaman setiap hari yang disebut di bagian waktu pelaksanaan. Jumlah halaman bacaan hari Rabu tidak dicantumkan sama sekali.

Baca juga Matrilineal Minangkabau, Utopia Kesetaraan Perempuan

Pada tabel penggalan bacaan, label penanda dan petanda beberapa kali dipasangkan terbalik dengan istilah signified dan signifier. Dalam kesimpulan, para penulis menyebut salawat kematian sebagai penanda utama kematian di Koto Panjang, berdampingan dengan simbol bendera kuning. Bendera kuning itu tidak muncul di bagian hasil maupun pembahasan.

Pada hari keseratus, para urang siak kembali duduk di tengah rumah duka. Kali ini tetangga yang dijemput ikut duduk bersama mereka. Doa salawat dan doa tahlil dibacakan, lalu makanan dihidangkan. Sesudah itu urang siak dan tuan rumah kembali barundiang, bukan lagi untuk memulai bacaan, melainkan untuk menandai bahwa salawat kematian telah selesai.

Bagikan

Baca Juga

Pagang Gadai dan Tanah Kaum yang Tak Boleh Dijual
Migrasi Magis: Mantra Sijundai Jadi Teater Tari
Induak dan Anak, Dua Suara di Balik Salawat Dulang
Kain Sembilan Meter dari Adat Kapan Salampih
Perlawanan Diam Perempuan di Sinema Minangkabau
Lakon Wayang Padang Wisran Hadi Diubah Jadi Skenario Film