Naskah Bharatayuddha yang Diterjemahkan ke Jawa Baru

A A

Ilustrasi lembar naskah tulisan tangan yang menguning di atas meja kayu gelap. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Menelusuri Naskah yang Dibawa John Crawfurd
  2. Membongkar Tiga Langkah Penerjemah Anonim
  3. Menimbang Satu Kata yang Diselipkan
  4. Mengikuti Bunga Asana ke Dalam Hati

Cekricek.id — Keiko Kamiishi menghitung huruf. Dalam satu pupuh naskah tua yang tersimpan di British Library, ia menemukan 216 konsonan yang ditulis memakai aksara murda, huruf khusus yang dalam tulisan Jawa dipakai untuk menghormati nama yang disebut. Seratus enam puluh delapan di antaranya, sekitar 78 persen, memang menempel pada nama orang, kata ganti, dan gelar. Sisanya, 48 huruf, menempel pada benda. Ada yang menempel pada nama bunga, ada yang pada papan tulis. Dari 48 huruf itulah artikelnya bergerak.

Kamiishi kini peneliti pascadoktoral pada proyek Textual Microcosms di Hebrew University of Jerusalem, setelah menyelesaikan doktornya pada 2022 di Nanzan University, Jepang. Tulisannya, Literature across generations; The Old Javanese epic poem Bharatayuddha translated into Modern Javanese, terbit di Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, Volume 26 Nomor 3, tahun 2025, halaman 512 sampai 535. Yang ia periksa satu naskah saja: Add MS 12279, berjudul Bratayuda, ejaan Jawa Baru untuk Bharatayuddha.

Menelusuri Naskah yang Dibawa John Crawfurd

Ilustrasi interior berhias Keraton Yogyakarta dengan lampu-lampu gantung.
Ilustrasi interior berhias Keraton Yogyakarta dengan lampu-lampu gantung. [Foto: Pexels]

Naskah itu bertarikh 1814 dan berasal dari keraton Pakualaman, Yogyakarta. Kamiishi mencatat tarikh tersebut jatuh setahun setelah Pakualaman memisahkan diri dari Hamengkubuwanan. Masa itu juga masa pendudukan Inggris di Jawa, 1811 sampai 1816. John Crawfurd, residen Inggris di Yogyakarta pada masa tersebut, kemudian membawa naskah ini masuk ke koleksinya. Dari koleksi Crawfurd, Add MS 12279 sampai ke London.

Crawfurd, menurut penelusuran Kamiishi, punya perhatian khusus pada satu hal. Ia terusik oleh praktik bela, yaitu tindakan seorang perempuan mengakhiri hidupnya untuk menyusul suami yang telah mati. Praktik itu masih ia saksikan di Bali. Rasa takjub sekaligus cemasnya membuat Crawfurd menyelidiki istilah-istilah yang dipakai orang Jawa dan Bali untuk menyebut praktik tersebut. Kamiishi menduga naskah ini bahan penyelidikannya, bahkan mungkin dipesan Crawfurd untuk keperluan itu.

Nama penyalinnya tercantum di awal naskah, Pun Sastrawijaya. Kamiishi tidak berani melangkah lebih jauh dari itu. Ia menyatakan tidak pasti apakah Sastrawijaya yang menerjemahkan atau sekadar menyalin dari naskah lain. Nancy Florida pernah mencatat nama Sastrawijaya sebagai penyalin sebuah naskah bertarikh 1872, tetapi Kamiishi menolak menyimpulkan bahwa keduanya orang yang sama. Penerjemah naskah ini, dalam artikelnya, tetap disebut anonim.

Baca juga Menilai Sekolah Bukan dari Kerapian Dokumen

Kenji Tsuchiya lebih dulu menunjukkan mengapa naskah semacam ini bisa lahir. Sejak abad ketujuh belas, cara menyimpan naskah di Jawa berubah. Sastra keraton dahulu ditulis di atas lontar yang tidak tahan lama, sehingga harus disalin berulang-ulang. Kertas Arab dan Cina masuk, teknik menjilid buku berkembang, lalu percetakan aksara Jawa hadir di bawah pengaruh Belanda. Add MS 12279 adalah buku berjilid, bukan lontar. Nancy Florida menambahkan sebab lain: pembelahan kerajaan Jawa Tengah pada 1755 membuat Yogyakarta dan Surakarta bersaing, bukan di medan perang, melainkan lewat karya sastra dan babad.

Membongkar Tiga Langkah Penerjemah Anonim

Yang membuat Kamiishi bertahan pada satu naskah adalah bentuknya. Setiap larik kakawin dipecah menjadi tiga bagian. Bagian pertama larik asli dalam bahasa Jawa Kuno. Bagian kedua mengulang kata-kata Jawa Kuno itu satu per satu, masing-masing langsung diikuti padanannya dalam bahasa Jawa Baru. Bagian ketiga menyusun ulang kata-kata Jawa Baru tadi menjadi satu kalimat utuh. Ketiganya ditulis tanpa ganti baris, beruntun, dari pupuh satu sampai pupuh dua puluh satu.

Naskahnya sendiri memuat seluruh 52 pupuh Bharatayuddha dalam bahasa Jawa Kuno. Terjemahannya berhenti di pupuh dua puluh satu. Kamiishi mencatat gejala itu tidak khas naskah ini. Barbara McDonald pernah menunjukkan bahwa sebagian besar terjemahan dan gubahan Bharatayuddha yang masih ada memang menumpuk di paruh pertama kakawin, dan umumnya berhenti di sekitar pupuh dua puluh dua sampai dua puluh empat.

Bandingannya ada. Ronggawarsita, yang dianggap pujangga keraton Jawa terakhir, menerjemahkan Bharatayuddha dengan membagi halaman naskah menjadi tiga lajur: kata Jawa Kuno di kiri, padanan Jawa Baru di tengah, dan terjemahan satu bait penuh di kanan. T.E. Behrend menyatakan format berlajur seperti itu baru muncul pada 1840-an di Surakarta, dan besar kemungkinan lahir dari kerja penyusunan kamus Jawa-Belanda oleh C.F. Winter dan J.A. Wilkens yang dibantu Ronggawarsita. Pada 1814 format itu belum ada.

Karena itu Kamiishi mencari sumber lain. Ia menunjuk vyakhya, istilah yang dipakai Thomas Hunter untuk format lama berupa bait Sanskerta yang dilekati keterangan frasa demi frasa dalam bahasa Jawa Kuno. Urutannya mirip: teks sumber lebih dulu, lalu leksem sumber diulang dengan glosnya, baru seluruh bait diterjemahkan. Add MS 12279 memakai pola yang sama, hanya tanpa ganti baris. Di Jawa, terjemahan bergantung yang sesungguhnya punya nama sendiri, makna gandhul, dan lazimnya dipakai di lembaga keagamaan untuk mempelajari Alquran dan kitab berbahasa Arab. Naskah Pakualaman ini tidak memakai tata letak itu, tetapi berbagi ciri pentingnya: teks asli ikut ditulis, dipecah sampai satuan terkecil, dan padanannya diletakkan berdekatan sehingga terlihat kata mana bertemu kata mana.

Satu pertanyaan lalu ia ajukan sendiri. Kalau bagian ketiga sudah cukup sebagai terjemahan, mengapa penerjemah repot menyelipkan bagian kedua? Jawabannya, menurut Kamiishi, kehati-hatian. Naskah itu penuh kesalahan kecil dan kata yang terlewat, tetapi banyak di antaranya justru terkoreksi ketika teks melangkah dari bagian pertama ke bagian kedua. Gelar kehormatan pun kerap baru muncul di bagian ketiga, padahal tidak ada di dua bagian sebelumnya. Koreksi semacam itu hanya mungkin kalau prosesnya dibuat tiga langkah.

Baca juga Dikie Mauluik Kini Tinggal di Satu Korong Pariaman

Teks yang ia hadapi memang bukan teks sembarangan. Bharatayuddha digubah di Jawa Timur pada 1157 Masehi oleh dua pujangga, Mpu Sedhah dan Mpu Panuluh, dan sejauh ini merupakan satu-satunya karya sastra Jawa Kuno yang ditulis dua orang. S. Supomo mencatat Mpu Sedhah menggarap kira-kira tiga puluh pupuh pertama, sisanya diselesaikan Mpu Panuluh. Kisahnya mengambil perang terakhir antara Pandawa dan Korawa dari Mahabharata. Kakawin adalah bentuk puisi Jawa Kuno yang memakai metrum bercorak India, bersandar pada pola vokal panjang dan pendek di setiap larik, dengan empat larik per bait dan satu metrum tetap untuk tiap pupuh. Yang membuat Bharatayuddha menyimpang dari epos India justru bagian yang ditambahkan penyairnya: matahari terbenam di laut, bintang mengambang dalam gelap, seorang perempuan duduk di taman keraton, dan medan perang yang porak-poranda.

Menimbang Satu Kata yang Diselipkan

Bagian yang paling lama ditimbang Kamiishi adalah adegan perpisahan dua istri. Ksitisundari, istri Abhimanyu, memutuskan menyusul suaminya yang gugur. Uttari, istri Abhimanyu yang lain, tidak ikut karena sedang mengandung. Supomo menyebut adegan-adegan ratapan perempuan dalam Bharatayuddha sebagai penyimpangan paling berarti dari Mahabharata; di epos India, ratapan seperti itu jauh lebih pendek atau sama sekali tidak ada.

Pada pupuh lima belas bait kelima larik pertama, teks Jawa Kuno itu kurang lebih berbunyi: Ksitisundari memohon izin pergi kepada Uttari, wahai sayangku. Sapaan haram dyah di ujung larik itu artinya sekadar panggilan sayang. Dalam bagian kedua dan ketiga naskah, penerjemah tidak menerjemahkannya. Ia menggantinya dengan satu kata Jawa Baru: abela. Kalimatnya berubah menjadi permohonan izin pergi dengan niat mengorbankan diri.

Kamiishi menolak membaca itu sebagai kekeliruan. Ia memeriksa kamus. Zoetmulder mencatat haram sebagai partikel penegas untuk menyapa, dan dyah sebagai sapaan bagi perempuan muda berdarah bangsawan. Robson dan Wibisono mencatat kedua kata itu juga hidup dalam bahasa Jawa Baru. Penerjemah, dengan kata lain, hampir pasti tahu artinya. Penggantiannya disengaja. Kamiishi menambahkan satu bukti lagi dari larik yang sama, ketika kata Jawa Kuno yang berarti merindukan dialihkan menjadi kata Jawa Baru untuk cinta asmara, sehingga arah kalimatnya bergeser dari kasih sayang antara dua perempuan ke cinta antara suami dan istri. Alasannya, menurut Kamiishi, kejelasan. Bagi pembaca Jawa Kuno, adegan itu sudah jelas berbicara tentang bela sehingga penyairnya bisa menyiratkannya lewat kiasan. Bagi pembaca 1814, yang keratonnya sudah lama memeluk Islam, praktik itu asing. Format naskah tidak menyediakan ruang untuk catatan atau keterangan. Maka satu kata dipakai sebagai penanda, menggantikan penjelasan yang tidak mungkin ditulis.

Helen Creese, yang dikutip Kamiishi, meletakkan adegan semacam itu pada tempatnya. Sebagian besar tokoh perempuan yang menyusul suami atau kekasihnya ke dalam kematian, tulis Creese, tampaknya murni ciptaan Jawa. Adegan itu memberi penyair ruang menciptakan puisi kecil di dalam puisi besar. Fungsinya bukan hanya dramatik, tetapi juga didaktik, sebagai pameran kesetiaan yang paling ekstrem.

Mengikuti Bunga Asana ke Dalam Hati

Di adegan yang sama, Ksitisundari menitip pesan lewat sekuntum bunga. Dua larik Jawa Kuno pada bait itu, dalam terjemahan S. Supomo, berbunyi: “Dan ketika kau melihat bunga asana bermekaran, aku memohon kau menyelimuti tubuhku dengan bunga itu saat ia terbaring di atas batu yang dingin.” Bunga asana, kata Zoetmulder, disamakan dengan hujan emas dalam sastra Jawa Kuno dan digambarkan menikmati awal musim hujan.

Baca juga Kolokasi Bahasa Jerman dan Kalimat yang Janggal

Terjemahan Jawa Barunya berbelok. Larik yang sama di naskah itu berbunyi kurang lebih: dan kau akan melihat bunga asana mekar, bunga itu duduk di dalam hatiku, maka aku terlindung dan tidur dalam kesejukan. Bunga asana di sana tidak lagi menyelimuti tubuh. Kamiishi melacak sebabnya sampai ke bagian kedua naskah: penerjemah tampaknya membaca kata Jawa Kuno untuk batu sebagai kata yang berarti duduk bersila, lalu mengalihkannya menjadi lungguh. Secara harfiah itu keliru. Tetapi hasilnya, tulis Kamiishi, lebih dari sekadar kekeliruan. Keindahan Ksitisundari berpindah dari tubuh yang terbaring ke ketenangan batin seseorang yang menerima kematiannya.

Di bait lain, Ksitisundari meminta abunya dipersembahkan di atas sebuah papan tulis kecil beserta grip. Bagi pembaca Jawa Kuno, papan dan grip mengingatkan pada Abhimanyu sendiri, yang dikenal sebagai penyair. Naskah Jawa Baru menggeser tekanannya dari persembahan ke alat menulis puisi. Yang menarik, huruf s pada asana dan huruf n pada papan sama-sama ditulis dengan aksara murda — huruf hormat yang mestinya hanya untuk manusia.

Dari situ Kamiishi menyusun dugaannya. Penerjemah, katanya, tampaknya memperlakukan bunga dan papan itu sebagai penjelmaan tokohnya, sehingga keduanya layak diberi huruf hormat. Dugaan itu ia perkuat dengan pupuh empat puluh empat, adegan Satyawati mencari jenazah suaminya di medan perang. Di sana huruf hormat bertaburan pada kata-kata untuk keharuman, bunga, samudra, pulau, dan tetes madu — semuanya kiasan yang dipakai Satyawati untuk mengganti pemandangan mengerikan di hadapannya.

Kamiishi tidak menutup tulisannya dengan kepastian. Ia menyebut hipotesis tentang aksara murda sebagai penanda kiasan itu masih spekulatif dan perlu diuji pada naskah-naskah lain. Tujuan penerjemahan itu sendiri tidak pernah dinyatakan di dalam naskah, sehingga jawabannya baru bisa didekati dengan membandingkan naskah sezaman dan segenre. Ia juga mengingatkan bahwa yang ia kerjakan adalah pembacaan dekat atas satu naskah, langkah pertama, bukan simpulan tentang seluruh tradisi jarwa. Yang ia berani nyatakan hanya ini: naskah tersebut “mendamaikan zaman kuno dan zaman modern dalam hal bahasa, agama, dan sastra,” tulis Kamiishi.

Yang tersisa dari kerja itu tetap 48 huruf tadi. Keiko Kamiishi memulai dengan menghitungnya dan mengakhiri dengan mengaku belum bisa menjelaskan semuanya. Di antara dua titik itu, seorang penerjemah tanpa nama dari Pakualaman tampak sedang berusaha keras agar sebuah kisah berusia lebih dari enam ratus tahun masih dapat dipahami orang sezamannya.

Bagikan

Baca Juga

Naskah Ulu Serawai dan Nilai Islam dalam Ritual Kayik Beterang
Masyarakat Adat HukaEa dan Naskah yang Melengkapi Unsur Kelima
Lima Buku Kajian Jawa, Tiga Penulis Indonesia
Jejak Raja Airlangga dalam Kakawin Arjunawiwaha
Kidung Subrata, Naskah Merapi-Merbabu dengan 22 Salinan
Naskah 1789 dan Cara Jawa Menerima Tamu