Dikie Mauluik Kini Tinggal di Satu Korong Pariaman

A A

Surau Atok Ijuk, surau kayu beratap tumpang di Sumatera Barat. [Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Daftar Isi
  1. Dua belas pasal, dua waktu
  2. Urang siak duduk berpasangan
  3. Lamang dibakar sehari sebelumnya
  4. Bajamba menutup rangkaian
  5. Yang tidak dicatat

Cekricek.id — Tradisi dikie mauluik kini tinggal di satu korong.

Korong itu bernama Bukit Bio-bio, terletak di Nagari Sikucua Utara, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman. Peneliti memilih lokasi tersebut justru karena hanya di sanalah tradisi itu masih dijalankan sampai sekarang. Wilayah lain di sekitarnya sudah lama tidak menggelarnya lagi.

Catatannya ditulis Yudhi Pratama dan Asril, keduanya dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Judul laporan mereka Penyajian Dikie Mauluik dalam Upacara Maulid Nabi di Korong Bukit Bio-Bio Nagari Sikucua Padang Pariaman. Artikel itu terbit di Jurnal Musik Etnik Nusantara Volume 5 Nomor 2, edisi Juli–Desember 2025, halaman 107 sampai 119.

Dikie mauluik adalah seni vokal tradisional bernuansa Islam yang berfungsi sebagai media spiritual masyarakat setempat. Isinya berupa syair pujian kepada Nabi Muhammad dan dinyanyikan khusus pada bulan Rabiul Awal. Kata dikie berasal dari dzikir yang berarti mengingat Allah, sedangkan mauluik merujuk pada upacara Maulid Nabi.

Andika Bayu Putra, peneliti yang dikutip dalam laporan itu, menyebut makna dikie sebagai bentuk rasa cinta kepada nabi. Menurut dia, dikie memperkuat kembali kasih kepada beliau sekaligus mengajak orang mengikuti teladan serta ajarannya secara utuh. Pandangan itu dipakai peneliti sebagai titik berangkat penguraian.

Dua belas pasal, dua waktu

Ilustrasi dua halaman naskah Arab tua bertulisan tangan gaya kufi.
Ilustrasi dua halaman naskah Arab tua bertulisan tangan gaya kufi. [Foto: Wikimedia Commons, CC0]

Teks lagunya seluruhnya diambil dari kitab Sarafal Anam yang ditulis dalam bahasa Arab. Isi kitab itu dibagi menjadi dua belas pasal, dan tiap pasal terdiri atas sejumlah ayat yang disebut batang. Jumlah batang berbeda-beda pada setiap pasal, sehingga panjang tiap bagian tidak sama.

Enam pasal dinyanyikan pada malam hari dan enam sisanya pada siang hari, tepat di hari puncak upacara. Pembagian tersebut bersifat tetap dan tidak pernah ditukar oleh siapa pun. Urutan pasalnya pun sudah baku sejak acara itu disepakati dalam musyawarah kampung.

Pasal malam adalah Assalamualaika 17 batang, Alphasallu 15 batang, Allah Allah 5 batang, Maulana 8 batang, Ziqirun 6 batang, dan Badat lana 9 batang. Seluruhnya berjumlah enam puluh batang untuk satu malam penuh.

Pasal siang adalah Allahumasa 9 batang, Salu alalmanjana 10 batang, Salatullah 7 batang, Ayasayadi 7 batang, Habbibullah 8 batang, dan Ahmad Muhammad 16 batang. Jumlahnya lima puluh tujuh batang, sedikit lebih pendek daripada babak malam.

Menurut laporan itu, babak pertama berlangsung sesudah isya hingga menjelang subuh dan biasanya dimulai sekitar pukul 23.00. Penyajian siang baru dimulai sekitar pukul 10.00 pada hari berikutnya. Dua babak itu dipisahkan oleh jeda beberapa jam saja.

Irama tiap pasal berbeda satu sama lain. Nyanyian diulang-ulang dan sesekali berkembang menjadi imbauan. Teksnya berisi rasa syukur kepada Allah, sanjungan kepada Nabi Muhammad, dan penggalan perjalanan hidup beliau.

Peneliti membaca acara ini dengan kerangka Richard Schechner yang membagi pertunjukan menjadi tiga bagian berurutan. Ketiganya adalah persiapan, pementasan yang mempertemukan pemain dan penonton, lalu pasca-pertunjukan. Urutan itulah yang dipakai untuk menyusun seluruh temuan lapangan mereka.

Baca juga Ketika Wijasti Berhenti Menunduk di Atas Panggung

Unsur pendukungnya mengikuti daftar Djelantik, yaitu pemain, kostum, lagu yang disajikan, waktu dan tempat, serta penonton. Daftar tersebut dipakai sebagai rangka penguraian, bukan sebagai alat penilaian mutu pertunjukan. Satu per satu unsurnya ditelusuri langsung di lokasi selama dua hari acara.

Urang siak duduk berpasangan

Penyanyi dikie mauluik disebut urang siak, dan jumlahnya berkisar antara empat sampai dua belas orang. Mereka dibagi berpasangan, dua orang untuk tiap kelompok kecil. Setiap pasangan membacakan satu ayat lagu secara bergantian sampai pasal itu tuntas.

Mereka duduk melingkar di dalam masjid atau surau, tepatnya di sekitar area mimbar. Tidak ada panggung khusus, tidak ada tata lampu, dan tidak ada pembatas apa pun dengan hadirin. Ruang ibadah itu sekaligus menjadi ruang pertunjukan sepanjang malam.

Surau di Pariaman tidak seragam bentuk maupun ukurannya. Ada yang disebut surau gadang, ada pula surau ketek yang jauh lebih kecil. Keduanya sama-sama bisa menjadi tempat penyajian dikie mauluik.

Di antara para penyanyi duduk seorang tuangku, sebutan bagi ulama di Padang Pariaman. Untuk sampai ke derajat itu seseorang harus menguasai kitab gundul, memahami tafsir Alquran dan Hadis, serta menguasai ilmu nahwu-sharaf dan fikih.

Menurut Rio, tukang dikie yang diwawancarai peneliti pada 12 Oktober 2024, tuangku duduk lebih dulu bersama urang siak. Ia membaca al-fatihah dan ayat dikie sebelum yang lain mulai. Sesudah itu barulah urang siak melanjutkan nyanyian.

Tuangku juga bertugas meluruskan bacaan tukang dikie sepanjang acara berlangsung. Perannya bersifat korektif, bukan sekadar seremonial pembuka. Posisinya di dalam lingkaran membuat koreksi itu bisa diberikan tanpa harus menghentikan lagu yang sedang berjalan.

Armen, narasumber lain dalam penelitian ini, menerangkan bahwa urang siak adalah laki-laki dewasa yang mendalami ilmu agama Islam. Mereka menjadi imam masjid di kampungnya. Masyarakat menempatkan mereka sebagai panutan sekaligus pemimpin agama secara tradisi.

Asal-usul sebutan urang siak ditarik jauh ke belakang oleh peneliti. Ketika Islam mulai berkembang di Minangkabau, khususnya Padang Pariaman, banyak orang datang berguru kepada Syekh Burhanudin. Sebagian di antara mereka adalah perantau yang berasal dari Siak, Provinsi Riau.

Para perantau itu hidup jauh dari keluarga dan menghadapi keterbatasan biaya. Syekh Burhanudin lalu mengimbau masyarakat setempat mengikutsertakan mereka dalam acara syukuran sebagai pembaca doa. Sebagai gantinya mereka diberi makanan atau sedekah.

Lamang dibakar sehari sebelumnya

Persiapan acara tidak dimulai di surau, melainkan di dapur rumah warga. Ibu-ibu malamang, yakni memasak lemang, tepat sehari sebelum acara puncak digelar. Pekerjaan itu dilakukan sendiri-sendiri di rumah masing-masing tanpa dapur bersama.

Baca juga Tungku Tigo Sajarangan dalam Film Onde Mande

Lemang dibuat dari beras pulut, kadang dicampur pisang, lalu dimasak dengan santan kelapa di dalam buluh. Buluh ditegakkan di dekat api sampai isinya matang. Jenis yang lazim adalah lamang sipuluik, lamang tapai, dan lamang pisang.

Lemang di sini bukan sekadar penganan pelengkap. Ia dipakai untuk mengenang jasa Syekh Burhanuddin dalam menyebarkan Islam di Padang Pariaman. Pada masanya lemang dipilih sebagai makanan alternatif agar terhindar dari makanan yang mungkin tercemar atau terkena najis.

Pada hari puncak lemang diantarkan ke panitia yang terdiri atas pemuda korong. Sebagian pemuda ditunjuk sebagai janang tamu, janang urang siak, dan janang jamba. Tugas mereka menghidangkan makanan dan minuman selama acara.

Waktu pelaksanaan sudah ditentukan sebulan sebelum Rabiul Awal tiba. Labai, niniak mamak, dan pemuda bermusyawarah untuk menetapkan hari dan tanggalnya. Keputusan itu tidak pernah diambil satu orang saja.

Labai adalah tokoh agama yang mendukung tuangku sekaligus mengelola surau dan menentukan arah kebijakannya. Niniak mamak adalah pemimpin adat dalam masyarakat Minangkabau. Keduanya berwenang menetapkan keputusan yang menyangkut kepentingan bersama.

Penonton dalam acara ini bukan penonton biasa yang hanya duduk menyaksikan. Pemuda melakukan manatiang, yaitu mengantarkan makanan bajamba kepada urang siak. Induak-induak menyiapkan lemang di rumah masing-masing sejak sehari sebelumnya.

Batas antara pemain dan penonton karena itu menjadi kabur di sepanjang acara. Warga menonton sekaligus menyelenggarakan hajatan mereka sendiri. Peran keduanya bertumpuk dalam satu rangkaian yang sama, dari dapur sampai lantai masjid.

Bajamba menutup rangkaian

Sebelum penyajian dikie dimulai ada prosesi pembuka yang disebut sasambahan. Prosesi itu terekam dalam dokumentasi lapangan yang dikumpulkan peneliti pada September 2024. Sesudah seluruh rangkaian selesai, acara mengarah ke makan bajamba sebagai kegiatan penutup.

Jamba adalah nasi dan lauk-pauk yang disusun di atas dulang atau nampan. Dulang itu ditutup tudung saji anyaman daun enau. Di atasnya dilapiskan dalamak, yaitu kain bersulam benang emas.

Baca juga Tiga Kata Arab untuk Cinta di Dalam Al-Quran

Jamba kemudian dimakan bersama dalam kegiatan yang disebut bajamba. Tidak ada yang duduk lebih tinggi atau lebih rendah. Semua orang makan dari dulang yang sama, duduk sejajar di lantai masjid.

Yang dinyanyikan sepanjang malam sebelumnya berisi pujian dan salam. Batang pertama pasal Assalamualaika diterjemahkan tim peneliti sebagai “Keselamatan semoga tercurah untukmu, wahai sebaik-baiknya nabi”. Larik itu dinyanyikan berpasangan dan bergantian sampai batang ketujuh belas.

Di dalam bajamba terdapat satu kegiatan lagi yang bernama baretong. Baretong adalah donasi tunai dari warga setempat untuk mendukung penyelenggaraan dikie mauluik. Panitia menerima uang itu lalu mengumumkan asal donasinya di hadapan seluruh hadirin.

Sesudah diumumkan, para donatur menerima lamang dari panitia. Pemberian itu menandai prestise sosial di dalam korong. Tradisi ini karena itu bukan semata urusan surau, melainkan juga urusan kedudukan warga.

Yang tidak dicatat

Penelitian ini punya batas yang jelas dan disebut sendiri oleh penulisnya. Lokasinya hanya satu korong, dipilih justru karena di sana saja tradisi itu masih bertahan. Gambaran yang dihasilkan tidak bisa diperlakukan sebagai potret Padang Pariaman, apalagi Minangkabau.

Metodenya kualitatif deskriptif dengan data dari pengamatan langsung, rekaman suara, dan wawancara. Peneliti juga mencari kitab Sarafal Anam untuk mencocokkan pasal dan ayat yang dinyanyikan. Wawancaranya menjangkau urang siak, labai, ninik mamak, alim ulama, pemuda, dan ibu-ibu.

Tidak ada hitungan berapa orang yang kini masih menguasai kedua belas pasal itu. Tidak ada pula catatan sejak kapan korong lain di sekitarnya berhenti menggelarnya. Dua pertanyaan tersebut dibiarkan terbuka oleh laporan ini.

Yang dikerjakan peneliti jauh lebih sederhana daripada semua pertanyaan itu. Mereka mencatat bentuk penyajiannya selagi masih bisa dilihat, direkam, dan ditanyakan langsung kepada para pelakunya.

Enam pasal malam, enam pasal siang, dan satu korong yang belum berhenti menyanyikannya.

Bagikan

Baca Juga

Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop
Fly Ash Batubara di Gambut dan Baris Nol yang Diukur Duluan
Kambing Perah dan Galo-Galo di Pekarangan Patalangan
Padang Pariaman Raih Dua Penghargaan Terbaik I KPPN Padang Awards
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie Berkurban Seekor Sapi di Sumbar
Mengangkat Asam Kandis Menjadi Magnet Wisata di Desa Wisata Nyarai