Cekricek.id — Lebih dari lima puluh kotak kayu. Itu yang berdiri di lahan-lahan anggota Kelompok Wanita Tani Nuhairun di Patalangan, Limau Purut, Kabupaten Padang Pariaman, sebelum program pendampingan itu masuk. Di sekitarnya ada empat ekor kambing Peranakan Etawa, seekor sapi lokal, dan beberapa ayam kampung. Kambing-kambing itu diberi rumput yang kebetulan tumbuh, tanpa ransum yang dihitung. Kotak-kotak lebah dibuka sesekali, tanpa jadwal tetap, dan madunya dipanen dengan cara yang diwariskan begitu saja.
Catatan tentang pekarangan itu ditulis Eli Ratni dan Lendrawati dari Departemen Teknologi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Andalas, bersama Virtuous Setyaka dari Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kampus yang sama, dalam artikel Integrated Dairy Goat and Stingless Bee Farming Based on Dual-Purpose Forage Plants to Strengthen Household Food Security in a Women Farmers Group di jurnal Warta Pengabdian Andalas Volume 33 Nomor 1 tahun 2026, halaman 120–127.
Patalangan, Limau Purut
Kelompok itu berdiri pada 2021. Sepuluh perempuan, semuanya masih aktif sampai program berjalan, mengurus ternak dan kebun di sekitar rumah masing-masing. Lahan yang mereka pegang tidak seragam: ada yang seluas kira-kira 1.500 meter persegi, ada yang sampai dua hektare, sebagian milik pribadi dan sebagian lagi lahan bersama. Di atas petak-petak itulah kandang, kotak lebah, dan tanaman pakan harus berbagi tempat.
Lebah tanpa sengat di Sumatera Barat dipanggil galo-galo. Namanya berganti-ganti mengikuti pulau — kelulut di Kalimantan, klanceng atau lenceng di Jawa, te’uweul di tanah Sunda — tetapi serangganya mengerjakan hal yang sama: menghasilkan madu sekaligus menyerbuki tanaman di kebun-kebun tropis. Di Patalangan, dua jenis yang paling banyak dipelihara adalah Tetragonula laeviceps dan Heterotrigona itama, dua nama yang muncul lagi di daftar akhir program.
Kambing yang dipelihara di sana pun bukan sembarang kambing. Peranakan Etawa adalah hasil silang antara Jamnapari dan kambing Kacang lokal, dwiguna — diambil susunya, diambil pula dagingnya — dan menurut para penulis termasuk bangsa yang paling cocok untuk sistem susu skala rumah tangga di Indonesia karena tahan pada lingkungan tropis. Di banyak negara tropis, kambing perah memang jadi tulang punggung peternakan rakyat, penyumbang pendapatan sekaligus gizi keluarga.
Tim Universitas Andalas tidak datang ke Patalangan sebagai orang asing. Dua tahun sebelumnya, Eli Ratni dan koleganya sudah mendampingi usaha lebah kelompok yang sama dan melaporkannya di jurnal yang sama pada 2024. Yang tersisa dari pendampingan itu adalah persoalan yang belum selesai: kotak lebah bertambah, tetapi kambing masih makan seadanya, dan panen madu belum punya jadwal yang bisa dipegang.
Maka tahap pertama kali ini bukan pelatihan, melainkan mendengar. Tim melakukan pengamatan lapangan, diskusi kelompok, dan wawancara dengan anggota untuk memetakan praktik yang sedang berjalan, sumber daya lokal yang tersedia, dan hambatan yang paling sering muncul di kandang maupun di stup. Tahap itu juga dipakai menumbuhkan kesadaran anggota tentang manfaat sistem terpadu, sebelum materi pelatihan, bantuan sarana, dan pendampingan disusun menyusulnya.
Kaliandra dan Telang
Beberapa langkah dari kandang, di petak-petak yang tersedia di area usaha tani, ditanam dua jenis tumbuhan. Kaliandra, Calliandra calothyrsus, perdu berbunga yang daunnya bernilai gizi tinggi untuk ternak dan sudah lama dipakai menggantikan sebagian konsentrat. Lalu telang, Clitoria ternatea, tanaman merambat berbunga biru yang juga dikenal sebagai hijauan pakan. Jumlahnya kira-kira seribu batang untuk masing-masing jenis. Keduanya dipilih bukan karena satu alasan, melainkan dua.
Daunnya masuk ke ransum kambing; bunganya jadi sumber nektar bagi galo-galo. Satu tanaman mengerjakan dua tugas sekaligus, dan justru di titik itulah dua cabang usaha yang tampak tidak berhubungan — ternak perah dan lebah — bertemu di satu pekarangan. Bukan karena kambing membantu lebah, atau sebaliknya, melainkan karena keduanya memakai sumber daya yang sama, di lahan yang sama, pada waktu yang sama.
Baca juga Adenot, Perempuan Prancis Pertama Berjalan di Antariksa
Eli Ratni, dosen Departemen Teknologi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Andalas yang memimpin program itu, menegaskan batas hubungan tersebut hitam di atas putih, di bagian pengantar laporan. “Dalam program ini, integrasi peternakan kambing perah dan budidaya lebah tanpa sengat didasarkan pada penggunaan sumber daya bersama yang efisien, bukan pada mutualisme biologis langsung,” tulisnya bersama dua penulis lain.
Perbedaan itu menentukan apa yang boleh diharapkan dari petak-petak tersebut. Menanam kaliandra tidak membuat koloni lebah otomatis lebih produktif, dan memelihara galo-galo tidak menaikkan produksi susu kambing. Yang terjadi lebih sederhana: satu petak tanah menghasilkan dua bahan baku sekaligus, dan pakan tetap tersedia sepanjang tahun, termasuk ketika musim kering datang dan rumput yang tumbuh di sekitar rumah menipis dengan sendirinya.
Untuk musim itulah anggota dilatih membuat silase dari hijauan yang tersedia di sekitar rumah, sebagai cadangan pakan. Pelatihan kambing perah dibagi menurut fase hidup ternak — anak, kambing tumbuh, bunting, laktasi, dan masa kering — masing-masing dengan strategi pemberian pakan yang berbeda. Pemantauan kesehatan dan kebersihan saat pemerahan masuk ke paket yang sama, dan menurut laporan itu pengetahuan serta kepercayaan diri anggota ikut naik.
Dua Ratus Kotak Kayu
Di sisi lain pekarangan, di deretan stup, pelatihan berjalan dengan materi yang sama sekali lain. Anggota diajari memindahkan koloni, memecahnya menjadi koloni baru, merawat kotak, mencegah hama, lalu memanen madu dengan cara yang menjaga kebersihannya sampai ke tahap penanganan. Kotak model baru dipasang supaya koloni lebih stabil, perawatan rutin lebih gampang, dan madu bisa diambil tanpa merusak sarang. Kerugian akibat kondisi stup yang buruk pun berkurang.
Hasilnya terlihat pada hitungan kotak. Ketika pemantauan pascaprogram dilakukan, jumlah stup yang dikelola kelompok sudah lewat dua ratus buah, dari lebih dari lima puluh pada awal. Sebagian besar tetap Tetragonula laeviceps, sisanya beberapa koloni Heterotrigona itama. Kambing Peranakan Etawa juga masih dipelihara di kandang-kandang yang sudah diperbaiki, meski laporan itu tidak lagi merinci berapa ekor jumlahnya sesudah program berakhir.
Baca juga Separuh Perempuan Muda Tanya Chatbot AI soal Menyusui
Dua produk yang keluar dari pekarangan itu punya fungsi berbeda di meja makan. Susu kambing segar masuk sebagai sumber protein hewani; madu galo-galo sebagai pangan fungsional yang padat energi. Sasaran program memang berhenti di situ — menaikkan akses rumah tangga pada keduanya, bukan mengubah kelompok jadi pemasok besar dalam waktu singkat. Yang dilaporkan anggota pun akses yang membaik, bukan lonjakan produksi yang terukur.
Di situ pula letak batas laporan tersebut. Tidak ada angka produksi susu, tidak ada volume madu per panen, dan tidak ada catatan pendapatan yang bisa dibandingkan antara sebelum dan sesudah intervensi. Penilaian keberhasilan bersandar pada pengamatan lapangan, diskusi kelompok, dan umpan balik peserta — bukan pada pengukuran yang bisa ditimbang ulang oleh orang lain di kemudian hari. Laporan itu sendiri menyebut penilaian dikerjakan secara partisipatif sepanjang masa pelaksanaan.
Penulisnya mengakui hal itu tanpa berputar. “Meskipun data pendapatan rumah tangga belum tercatat secara sistematis, anggota melaporkan peningkatan akses terhadap pangan bergizi dan meningkatnya motivasi untuk mempertahankan sistem pertanian terpadu tersebut,” tulis Eli Ratni, Lendrawati, dan Virtuous Setyaka di bagian hasil. Yang tercatat adalah pengakuan anggota, bukan hasil timbangan dan buku kas. Naiknya motivasi memang bisa dilihat dari deretan stup yang bertambah, tetapi motivasi bukan produksi, dan keduanya tidak boleh ditukar begitu saja.
Sepuluh perempuan di satu desa juga bukan sampel yang bisa mewakili apa pun di luar Patalangan. Kegiatan ini pengabdian masyarakat, bukan uji dengan kelompok pembanding; tidak ada kelompok tani lain yang sengaja dibiarkan tanpa pelatihan untuk dijadikan tolok ukur. Kenaikan jumlah stup pun sebagian datang dari bantuan kotak baru yang dipasang program, bukan semata dari koloni yang berkembang sendiri di pekarangan warga.
Baca juga Kumbang Pemangsa Siput Jepang Berevolusi Tanpa Sekat Laut
Kandang dan Kanvas
Kandang kambing dibenahi lebih dulu. Perbaikan diarahkan pada hal-hal yang terasa sehari-hari: sirkulasi udara, kebersihan, pengelolaan kotoran, dan kenyamanan ternak. Kotoran yang tertangani berarti kandang tidak berubah jadi sumber penyakit, dan ternak yang nyaman lebih mudah dipantau kondisinya oleh pemiliknya sendiri. Bantuan stup tambahan dan penanaman hijauan pakan menyusul di area yang sama, dalam satu paket bantuan sarana.
Pendampingan tidak berhenti di ruang pelatihan. Kunjungan lapangan dilakukan berkala untuk memantau penerapan, menemukan kendala teknis yang muncul di kandang atau di stup, dan memberi arahan langsung di tempat. Evaluasinya dikerjakan dengan cara serupa — pengamatan, diskusi, umpan balik anggota — supaya persoalan ketahuan selagi masih bisa diperbaiki, bukan sesudah program tutup dan tim kembali ke kampus. Apa yang dipakai anggota dari bantuan sarana, dan apa yang dibiarkan menganggur, ikut dicatat di tahap ini.
Sesudah urusan kandang dan stup, pelatihan berpindah ke kertas. Anggota diperkenalkan pada Kanvas Model Bisnis atau Business Model Canvas, alat perencanaan sederhana yang memaksa sebuah usaha dijabarkan dalam kotak-kotak: siapa mitranya, apa yang ditawarkan, kepada siapa dijual, lewat jalur apa, dengan struktur biaya seperti apa, dan dari mana uang masuk. Semuanya ditulis di satu lembar, bukan disimpan di kepala.
Mitra yang mereka daftar adalah penyuluh, pemerintah setempat, pemasok sarana produksi, dan pedagang penjual kembali. Nilai yang ditawarkan: susu kambing segar, madu galo-galo alami, dan produk rumah tangga yang sehat. Dari kanvas itu anggota memetakan pula segmen pembeli, jalur pemasaran, kegiatan produksi, struktur biaya, dan sumber pendapatan yang mungkin dikejar — termasuk peluang produk turunan yang bernilai tambah. Dari lembar yang sama muncul pula daftar manfaat yang tidak berbentuk uang: gizi rumah tangga, keterlibatan perempuan, dan usaha yang tidak lagi bertumpu pada satu komoditas.
Yang juga dicatat penulisnya adalah pergeseran di luar urusan teknis. Anggota jadi lebih terlibat dalam usaha rumah tangga dan pengambilan keputusan bersama, sementara saling belajar antaranggota berjalan tanpa harus dipandu terus-menerus, begitu pula kesadaran memakai sumber daya lokal secara berkelanjutan. Penulisnya menilai model semacam ini punya peluang ditiru di desa lain dengan kondisi agroekologi serupa — peluang, bukan jaminan hasil yang sama.
Program itu berjalan dengan dana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas, lewat skema Program Kemitraan Masyarakat Membantu Usaha Berkembang gelombang pertama tahun anggaran 2025, dan laporannya terbit pada 25 Maret 2026. Hasilnya ditempatkan para penulis pada tiga sasaran pembangunan berkelanjutan: pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan rumah tangga, dan kesejahteraan warga desa. Naskahnya dikirim ke redaksi jurnal pada pertengahan Desember 2025 dan diterima tiga bulan kemudian.
Kotak-kotak kayu itu masih berdiri di pekarangan yang sama, hanya jumlahnya kini empat kali lipat dan di sekitarnya tumbuh seribu batang kaliandra dan seribu telang. Yang berubah bukan cuma isinya. Sebelum program, kotak dibuka kalau sempat; sesudahnya, ia bagian dari hitungan — berapa koloni, kapan dipanen, ke mana madunya dibawa. Selebihnya, seperti diakui penulisnya sendiri, masih menunggu dicatat: berapa liter susu, berapa kilogram madu, dan berapa rupiah yang benar-benar masuk ke sepuluh rumah tangga itu.














