Kumbang Pemangsa Siput Jepang Berevolusi Tanpa Sekat Laut

A A

Ilustrasi seekor kumbang bergaris di atas daun. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Kumbang tanah pemangsa siput yang tidak bisa terbang di Jepang ternyata membentuk beragam bentuk tubuh tanpa perlu dipisahkan oleh laut. Temuan itu menantang gambaran yang sudah lama dipakai di buku ajar, bahwa percabangan bentuk tubuh atau radiasi adaptif umumnya terjadi pada populasi yang terkurung di pulau-pulau samudra yang terpisah jauh.

Dikutip dari siaran Toho University yang dimuat Mirage News, miragenews.com, Senin (17/8/2026), hasil penelitian tersebut diterbitkan di jurnal Biological Journal of the Linnean Society pada hari yang sama. Penelitian dikerjakan bersama oleh Toho University, National Museum of Nature and Science, dan Kyoto University.

Objek kajiannya adalah Carabus blaptoides, kumbang yang tersebar hampir di seluruh Jepang dan hidup dengan memangsa siput. Tim peneliti memadukan data genetik dari 170 individu yang dikumpulkan di 70 lokasi dengan data bentuk tubuh dari 50 populasi, lalu memetakan hubungan antara kekerabatan, bentuk tubuh, dan jarak geografis.

Baca juga: Bos NASA Yakin Artemis 3 Meluncur 2027, Uji Dua Pendarat Bulan di Orbit

Dua Cara Menyantap Siput

Hasil pengukuran memperlihatkan dua rancangan tubuh yang berbeda tajam, dan keduanya sejalan dengan cara kumbang itu memakan mangsanya. Kumbang bertubuh langsing memiliki kepala dan toraks yang memanjang, bentuk yang memudahkannya menjangkau ke dalam cangkang siput berukuran besar. Kumbang bertubuh gempal punya kepala lebih pendek dengan rahang yang kuat, cocok untuk meremukkan cangkang siput yang lebih kecil.

Secara keseluruhan tim mencatat delapan subspesies dengan bentuk tubuh yang saling berbeda. Yang membuat temuan ini menarik, perbedaan itu tidak hanya muncul antarpulau, tetapi juga di dalam satu daratan besar seperti Honshu, pulau utama Jepang.

Baca juga: Riset Flinders: Genomik Petakan Ikan Terancam Paling Rentan Perubahan Iklim

Jarak dan Lingkungan Menggantikan Peran Laut

“Radiasi adaptif sering dibahas dalam konteks populasi yang terisolasi di pulau-pulau samudra. Hasil kami menunjukkan bahwa di pulau benua yang besar, divergensi adaptif dapat didorong oleh jarak geografis dan variasi lingkungan di dalam daratan yang sama,” jelas Junji Konuma, associate professor di Toho University.

Sifat kumbang ini membuatnya cocok untuk pertanyaan semacam itu. Sayap belakangnya menyusut sehingga hewan tersebut tidak mampu terbang, dan kemampuan menyebarnya sangat terbatas. Akibatnya aliran gen antarpopulasi tertahan dan perbedaan antarkelompok lebih mudah bertahan, bahkan ketika tidak ada laut yang memisahkan mereka.

Anggota tim lainnya adalah Nobuaki Nagata dari National Museum of Nature and Science dan Teiji Sota, profesor di Kyoto University. Laporan penelitian tercatat dengan pengenal digital 10.1093/biolinnean/blag065.

Baca juga: Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri

Perlu dicatat bahwa penelitian ini bersifat pembandingan pola, bukan percobaan. Tim mencocokkan sebaran genetik, bentuk tubuh, dan kondisi geografis, lalu menyimpulkan pola yang paling sesuai. Rancangan seperti itu kuat untuk memperlihatkan keterkaitan, tetapi tidak menguji langsung bagaimana setiap bentuk tubuh terbentuk dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bagikan

Baca Juga

Bantuan Tunai Pakistan Habis Sebelum Banjir Berikutnya Datang
Main Ponsel Sejam Sebelum Tidur, Mahasiswa Tiongkok Kurang Lelap
Warga Inggris di Tempat Lebih Panas Lebih Jarang Radang Lutut
Jam Tangan Pintar Dipercaya Warga Saudi Menjaga Irama Jantung
Ponsel Pintar Menemani Daya Pikir Lansia, Asal Tidak Jelang Tidur
Petani Perempuan Mhondoro Ngezi Menanggung Sakit dari Iklim