Cekricek.id — Peneliti Flinders University di Australia memakai data genom dan pemodelan iklim untuk menandai populasi ikan terancam punah yang paling rentan terhadap pemanasan. Hasilnya menunjukkan populasi di sungai dataran tinggi jauh lebih terancam ketimbang kerabatnya di lahan basah dataran rendah.
Dikutip dari laman resmi Flinders University, news.flinders.edu.au, Sabtu (15/8/2026), penelitian itu menyasar pygmy perch selatan atau Nannoperca australis, ikan air tawar berukuran kecil yang asli Australia bagian tenggara. Tim menganalisis data genom dari 467 ekor ikan yang dikumpulkan di 30 lokasi di Murray-Darling Basin, lalu menggabungkannya dengan pemodelan iklim.
Pendekatan itu membaca ribuan penanda DNA untuk memperkirakan populasi mana yang paling sulit menyesuaikan diri bila suhu dan pola air berubah. “Climate change doesn’t affect all populations equally. By combining genomic data with climate modelling, we can identify the populations most at risk and help conservation managers prioritise where actions are likely to have the greatest impact,” kata Dr Emily Booth dari Molecular Ecology Laboratory Flinders University. Dalam pernyataan berbahasa Inggris itu ia menjelaskan bahwa perubahan iklim tidak menghantam semua populasi dengan bobot yang sama, dan penggabungan data genom dengan pemodelan iklim memungkinkan pengelola konservasi menentukan di mana tindakan paling berdampak.
Baca juga: Terumbu Karang Groote Archipelago Dipetakan Ilmuwan, Ungkap Dampak Pemutihan Massal
Populasi Hulu Lebih Terancam
Temuan utamanya berlawanan dengan dugaan umum. Populasi yang menempati aliran sungai di dataran tinggi justru lebih rentan terhadap pemanasan dibanding populasi di lahan basah dan sungai dataran rendah. Ketinggian tempat muncul sebagai penunjuk yang kuat untuk memperkirakan tingkat kerentanan.
Menurut keterangan Flinders University, penunjuk sesederhana itu berguna di lapangan. Pengelola kawasan dapat menandai populasi berisiko tinggi di ekosistem air tawar lain tanpa harus lebih dulu mengumpulkan data genom yang lengkap dan mahal. Pygmy perch selatan sendiri tergolong ikan yang buruk dalam menyebar, sehingga populasi yang terjepit di satu ruas sungai sulit berpindah mencari habitat yang lebih sejuk.
Kemerosotan ikan ini berlangsung lama. Kehilangan habitat, pengaturan aliran sungai, dan kekeringan berkepanjangan membuat sebarannya di Murray-Darling Basin terpecah menjadi kantong-kantong kecil yang terisolasi, dengan keragaman genetik rendah dan kapasitas adaptasi yang menyusut.
Pelajaran dari Millennium Drought
Salah satu bagian paling penting dari studi ini datang dari kawasan Lower Lakes di hilir Sungai Murray. Di sana pygmy perch selatan sempat hilang sepenuhnya ketika Millennium Drought, kekeringan panjang yang melanda Australia tenggara, kemudian dipulihkan melalui program penangkaran dan pelepasliaran.
Analisis genom memperlihatkan populasi hasil pemulihan itu tetap mempertahankan kapasitas adaptifnya. Bagi peneliti, itu bukti bahwa program penangkaran yang dirancang dengan panduan data genetik tidak sekadar menambah jumlah individu, melainkan juga menjaga bekal evolusioner yang dibutuhkan populasi untuk bertahan pada masa mendatang.
Baca juga: Peneliti OIST Ciptakan Saklar Molekul Cahaya yang Bisa Berpendar dan Berubah Struktur
Flinders University menyebut kerangka kerja yang dipakai dalam studi ini dapat dipakai ulang untuk menyusun prioritas konservasi ikan air tawar di kawasan lain di dunia, termasuk untuk menimbang kapan pengelola perlu menempuh langkah seperti penangkaran, pemindahan individu antarpopulasi untuk menambah aliran gen, atau pemulihan habitat.
Genomik Tak Lagi Sekadar Mendata
Guru besar biodiversitas genomik Flinders University, Profesor Luciano Beheregaray, menilai studi ini menandai pergeseran peran genomik dalam kerja konservasi. “This is another study showing that genomics has moved beyond describing biodiversity to actively helping conserve it. We can now identify the populations most vulnerable to climate change and use that information to guide actions such as captive breeding, assisted gene flow and habitat restoration,” ujarnya. Ia menyatakan genomik kini bergerak melampaui pekerjaan mendeskripsikan keanekaragaman hayati menjadi alat yang langsung dipakai untuk melestarikannya.
Temuan itu diterbitkan Emily J. Booth, Chris J. Brauer, Jonathan Sandoval-Castillo, Scotte D. Wedderburn, Nick S. Whiterod, Peter J. Unmack, Michael P. Hammer, dan Luciano B. Beheregaray dengan judul Genomic vulnerability to climate change of a poorly dispersing and threatened fish, the southern pygmy perch (Nannoperca australis) di jurnal Journal of Heredity terbitan 2026.
Baca juga: Stetoskop AI Terbukti Sering Lewatkan Murmur Jantung pada Kucing dan Anjing
Penelitian ini didanai Australian Research Council melalui tiga hibah, dengan dukungan tambahan dari Departemen Lingkungan dan Air Australia Selatan, South Australian Museum, serta Native Fish Australia SA. Dalam publikasinya, tim peneliti juga mencantumkan pengakuan kepada masyarakat Ngarrindjeri sebagai pemilik tradisional wilayah tempat penelitian dilakukan.


















