Boru Panggoaran, Anak Perempuan Pertama yang Tak Cuma Mengasuh

A A

Tetua berulos menyampirkan ulos kepada pasangan dalam upacara mangulosi adat Batak Toba [Foto: Firman Ronald/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Dalam adat, anak itu punya sebutan sendiri: Boru Panggoaran.
  • Boru Panggoaran menjadi penanda relasi keluarga, identitas orang tua, dan kehormatan keluarga dalam sistem panggoaran.
  • Ia menjaga komunikasi, harmoni, dan keteraturan relasi adat.
  • Hormat kepada orang tua dan kasih kepada keluarga tetap dipertahankan, hanya tidak harus berwujud domestik.
Daftar Isi
  1. Rumah Keluarga
  2. Nama Panggilan
  3. Pesta Adat
  4. Boru ni Raja
  5. Ruang Baru
  6. Catatan di Naskah

Di rumah keluarga Batak Toba, anak perempuan pertama membantu ibu, membimbing adik, dan merawat orang tua. Ia belajar lebih dulu soal kerja rumah, pengasuhan, dan hormat kepada kerabat. Orang tuanya pun kerap dikenali lewat dirinya. Dalam adat, anak itu punya sebutan sendiri: Boru Panggoaran.

Sebutan itu dibaca ulang oleh Hanna Masta Pasaribu dan Riris Johanna Siagian dari Sekolah Tinggi Teologi HKBP Pematangsiantar dalam Rekonstruksi Makna “Boru Panggoaran” dalam Sistem Kekerabatan Batak Toba, terbit di MARSAHALA: Jurnal Studi Agama dan Budaya volume 2 nomor 1, tahun 2026. Keduanya menelaah literatur antropologi, sosiologi, dan budaya Batak, termasuk ungkapan adat dan teks lagu, tanpa turun ke lapangan.

Titik berangkat mereka sederhana. Boru Panggoaran kerap direduksi menjadi beban domestik dan kewajiban adat anak perempuan pertama, padahal menurut kedua penulis istilah itu menyimpan makna relasional, simbolik, dan kultural yang jauh lebih luas. Dari tumpukan teks itu mereka menyusun lima tema, sekaligus satu tawaran cara membaca yang lebih setara.

Rumah Keluarga

Naskah menggambarkan anak perempuan pertama sebagai figur yang dibentuk tanggung jawabnya sejak dini. Ia diperkenalkan pada nilai kepedulian, kerja domestik, pengasuhan adik, hormat kepada orang tua, dan kepekaan terhadap relasi keluarga. Ia diharapkan menjadi teladan bagi adik-adiknya dan menjaga nama baik keluarga di mata kerabat.

Peran semacam itu, menurut para penulis, tidak hanya praktis tetapi bermuatan moral. Anak perempuan pertama dicitrakan peduli, dewasa, dan bertanggung jawab. Ia merawat orang tua, membantu ibu, membimbing adik, dan menjaga keharmonisan rumah. Inilah tema kedua dalam temuan mereka, figur pengasuhan dan kepedulian di dalam keluarga Batak Toba.

Persoalannya muncul ketika gambaran itu dianggap otomatis. Dalam banyak praktik sosial, anak perempuan pertama langsung dikaitkan dengan urusan domestik, pendampingan orang tua, dan tugas adat. Pasaribu dan Siagian tidak menyebut pemaknaan itu keliru, sebab ia berakar pada nilai kepedulian dan hormat. Yang mereka soroti adalah bila tidak dibaca kritis.

Pada titik itu, kata mereka, makna bisa bergeser menjadi pembebanan sosial yang tidak seimbang. Anak perempuan pertama dipandang seolah punya kewajiban alamiah untuk selalu melayani, mengalah, dan memikul tanggung jawab keluarga lebih besar dari anggota lain. Dalam budaya patriarkal, dimensi martabat, agensi, dan kapasitas sosialnya kerap luput dari perhatian.

Bagaimana harapan menjadi bebanTiga tahap konstruksi sosial: eksternalisasi, objektivasi, internalisasi, yang membuat anak perempuan pertama merasa dilekati tanggung jawab keluarga sejak dini.Bagaimana harapan menjadi bebanKonstruksi sosial menurut Berger dan LuckmannEksternalisasiharapan lewatpanggilanObjektivasijadi kelazimansosialInternalisasimasuk kekesadaran anakPeranterasa sejakdiniNaskah menilai proses ini menjelaskan mengapa tanggung jawabkeluarga terasa melekat sejak dini.
Sumber: Hanna Masta Pasaribu dan Riris Johanna Siagian, Rekonstruksi Makna “Boru Panggoaran” dalam Sistem Kekerabatan Batak Toba, MARSAHALA: Jurnal Studi Agama dan Budaya, 2(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Kedua penulis memakai kerangka Berger dan Luckmann untuk menerangkan bagaimana harapan itu melekat. Keluarga menaruh harapan kepada anak perempuan pertama lewat panggilan, nasihat, pembiasaan, dan cerita budaya. Harapan itu lalu diterima sebagai kelaziman sosial. Sesudahnya, sang anak menanamkan identitas itu ke dalam kesadarannya sendiri, seakan sudah begitu adanya.

Proses berlapis itulah, menurut naskah, yang menjelaskan mengapa Boru Panggoaran kerap merasa dilekati tanggung jawab keluarga sejak kecil. Karena apa yang dianggap wajar merupakan hasil konstruksi sosial, ia pun dapat ditafsirkan ulang. Para penulis meminjam Bourdieu untuk menambahkan satu hal: pembiasaan sejak dini itu berlangsung dalam struktur sosial tertentu, sehingga tidak pernah benar-benar netral.

Baca juga Lamaran Adat Sahu Dimulai Pukul Empat Pagi di Halmahera

Nama Panggilan

Kata panggoaran sendiri, tulis naskah, tidak bisa dipahami hanya sebagai sistem penyebutan nama. Dalam budaya Batak Toba, panggilan adat berfungsi sebagai penanda relasi sosial. Seseorang dapat dikenali lewat hubungannya dengan anak, orang tua, marga, atau posisi adat tertentu. Identitas tidak berdiri sendiri, tetapi selalu terkait keluarga dan jaringan kerabat.

Masyarakat Batak Toba menganut kekerabatan patrilineal. Marga, penanda garis keturunan, diwariskan lewat ayah, sehingga anak laki-laki sering ditempatkan sebagai penerus marga, penjaga tarombo atau silsilah, dan pelaksana tanggung jawab adat tertentu. Namun, menurut kedua penulis, keadaan itu tidak berarti anak perempuan pertama kehilangan makna penting di dalam keluarganya.

Justru di sini tema pertama mereka berdiri, yakni identitas relasional. Boru Panggoaran menjadi penanda relasi keluarga, identitas orang tua, dan kehormatan keluarga dalam sistem panggoaran. Ia punya fungsi simbolik dalam jaringan sosial Batak Toba, meski tidak meneruskan marga. Karena itu, para penulis menolak membacanya sekadar sebagai status biologis anak perempuan pertama.

Tema ketiga datang dari ungkapan adat dan lagu Batak. Menurut naskah, teks-teks itu menggambarkan anak perempuan sebagai sosok yang dikasihi, didoakan, diharapkan menjadi teladan, dan membawa martabat keluarga. Teks budaya itu merekam harapan moral orang tua. Bagi kedua penulis, Boru Panggoaran adalah simbol doa, harapan, dan kasih, bukan semata pelaksana tugas rumah.

Pesta Adat

Keluar dari rumah, naskah membawa Boru Panggoaran ke ruang adat yang lebih luas. Relasi Batak Toba diatur oleh Dalihan Na Tolu, yang menghubungkan hula-hula, yakni kerabat dari garis istri atau ibu, dongan tubu atau saudara semarga, dan boru, kelompok kerabat yang berasal dari perempuan. Ketiganya membentuk tata etika sosial yang mengikat setiap orang.

Tata itu, menurut naskah, menentukan cara seseorang menghormati, berbicara, memberi, menerima, dan mengambil bagian dalam peristiwa adat. Di dalamnya perempuan berperan sebagai penghubung relasi antarmarga lewat perkawinan dan posisi boru. Ia menjaga komunikasi, harmoni, dan keteraturan relasi adat. Inilah tema keempat, penghubung kekerabatan, yang melampaui dinding rumah.

Kerja semacam itu punya nama lain dalam kajian yang dirujuk naskah. Simatupang menulis tentang perempuan Batak Toba sebagai parhobas, pihak yang melayani dalam komunitas adat. Posisi itu penting bagi kelancaran adat, tetapi, kata kedua penulis, menjadi problematis bila pelayanan dibaca sebagai kewajiban alamiah perempuan, termasuk anak perempuan pertama dalam keluarga.

Rujukan lain, tulisan Siregar, mencatat struktur Dalihan Na Tolu dalam praktik sosial sering memuat ketidaksetaraan gender karena otoritas adat lebih banyak diberikan kepada laki-laki. Perempuan dapat dihormati secara simbolik, tetapi tetap ditempatkan sebagai pendukung dalam struktur yang dikendalikan laki-laki. Dari situ para penulis menarik garis tegas antara kepedulian dan pembebanan.

“Apabila tidak dikritisi, nilai kepedulian dapat berubah menjadi normalisasi beban,” tulis Pasaribu dan Siagian dalam naskahnya. Mereka menegaskan rekonstruksi tidak menghapus kepedulian, melainkan membedakannya dari ketidakadilan. “Tanggung jawab keluarga seharusnya menjadi nilai bersama, bukan kewajiban yang hanya dibebankan kepada Boru Panggoaran,” tulis keduanya.

Baca juga Badamai, Adat Banjar yang Menunggu Diakui Perda Kalsel

Boru ni Raja

Dalam bahasa adat, anak perempuan justru mendapat sebutan yang terhormat. Boru ni raja, tulis naskah, disematkan karena perempuan berasal dari pihak pemberi perempuan yang dalam relasi adat harus dihormati. Ada pula konsep sahala, yang menunjuk pada wibawa, daya hidup, kehormatan, dan kualitas spiritual-sosial yang melekat pada diri seseorang.

Bila kedua konsep itu dikenakan pada Boru Panggoaran, kata para penulis, anak perempuan pertama tidak bisa lagi dipahami hanya sebagai pelaksana tugas rumah tangga. Ia pembawa kehormatan keluarga, penjaga relasi, dan wakil nilai hidup yang diwariskan orang tua. Namun penghormatan itu, menurut mereka, tidak otomatis berubah menjadi ruang partisipasi yang setara.

“Di sinilah terjadi ambivalensi: perempuan dihormati melalui bahasa adat, tetapi dalam praktik sosial sering tetap dibatasi oleh struktur patriarkal,” tulis kedua penulis. Karena itu mereka menuntut martabat Boru Panggoaran tampak bukan hanya dalam sebutan, melainkan juga dalam kesempatan pendidikan, keputusan keluarga, partisipasi sosial, dan kebebasan mengembangkan diri.

Dua cara membaca Boru PanggoaranPerbandingan pemaknaan reduktif dan rekonstruksi makna Boru Panggoaran pada lima aspek: urutan kelahiran, peran domestik, adat, martabat, modernitas.Dua cara membaca Boru PanggoaranLima aspek dalam model rekonstruksi maknaPemaknaan sempitRekonstruksiPenanggung bebanIdentitas relasiUrutan kelahiranKewajiban utamaKepedulian adilPeran domestikPelaksana teknisPenjaga harmoniAdatSebatas simbolRuang partisipasiMartabatAncaman adatRuang tafsirModernitasDiringkas dari tabel model rekonstruksi makna di naskah; sisi kiridisebut pemaknaan reduktif.
Sumber: Hanna Masta Pasaribu dan Riris Johanna Siagian, Rekonstruksi Makna “Boru Panggoaran” dalam Sistem Kekerabatan Batak Toba, MARSAHALA: Jurnal Studi Agama dan Budaya, 2(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Ruang Baru

Tema kelima menyangkut perubahan zaman. Pendidikan, urbanisasi, mobilitas sosial, pekerjaan profesional, pelayanan gereja, dan kesadaran kesetaraan gender, tulis naskah, telah membuka ruang baru bagi perempuan Batak Toba. Mereka kini hadir sebagai pendidik, pemimpin komunitas, pekerja profesional, akademisi, dan aktor sosial yang memberi kontribusi nyata dalam masyarakat.

Perubahan itu membuat Boru Panggoaran tidak lagi bisa dibaca lewat kerangka lama yang menekankan fungsi domestik dan kepatuhan adat. Para penulis meminjam Turner untuk menyebutnya simbol yang sedang bertransformasi. Makna lamanya tidak hilang, tetapi meluas. Hormat kepada orang tua dan kasih kepada keluarga tetap dipertahankan, hanya tidak harus berwujud domestik.

Model rekonstruksi mereka merangkumnya dalam lima aspek. Urutan kelahiran bergeser dari penanggung tanggung jawab keluarga menjadi identitas relasional. Pengasuhan menjadi etika kepedulian yang dibagi adil. Boru dilihat sebagai subjek penjaga harmoni Dalihan Na Tolu, bukan pelaksana teknis adat. Perubahan sosial dibaca sebagai ruang menafsirkan adat, bukan ancaman.

Kedua penulis berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak sedang menggugat adat. “Rekonstruksi ini bukan penolakan terhadap adat, melainkan upaya menjaga adat agar tetap manusiawi, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan perempuan Batak Toba masa kini,” tulis mereka. Nilai holong atau kasih, tarombo, dan martabat keluarga tetap berdiri di tengah tawaran itu.

Batas kajian ini juga diakui terang. Karena berbasis studi pustaka dan analisis teks budaya, naskah belum menggali secara empiris pengalaman perempuan Batak Toba yang menyandang posisi Boru Panggoaran. Tidak ada satu pun suara anak perempuan pertama yang direkam. Para penulis menyarankan wawancara mendalam atau studi etnografi untuk mendengar tafsiran mereka sendiri.

Baca juga Sanksi Jihpon Adat Dayak Uud Danum bagi Suami Pemukul Istri

Catatan di Naskah

Pembaca yang teliti akan menemukan jarak antara janji dan isi. Abstrak dan bagian metode menyebut peribahasa, ungkapan adat, dan teks lagu Batak sebagai data utama, tetapi naskah tidak mengutip satu pun ungkapan, judul lagu, atau baris liriknya. Tema simbol harapan budaya karenanya berdiri tanpa contoh teks yang bisa diperiksa langsung.

Rujukan dalam tabel temuan pun tidak seluruhnya cocok. Simatupang tertulis bertahun 2024 di tabel, sementara teks dan daftar pustaka menyebut 2021. Sinaga 2012 dirujuk untuk tema harapan budaya, tetapi tidak tercantum di daftar pustaka. Rujukan Siregar dan Fatmariza, menurut judulnya di daftar pustaka, membahas masyarakat Batak Angkola, bukan Toba.

Pada akhirnya naskah kembali ke rumah yang sama: anak perempuan pertama yang membantu ibu, membimbing adik, dan merawat orang tua. Kerja itu tidak diminta untuk dihentikan. Yang ditawarkan Pasaribu dan Siagian adalah cara lain memandangnya, sebagai kepedulian yang dibagi bersama, bukan kodrat yang dipikul sendirian.

Bagikan

Baca Juga

She Stoops to Conquer, Lima Dialog yang Menggugat Mitos Kelas
Faktor Risiko Kebotakan Pola: Keturunan, Rokok, dan Tidur Buruk
Bahasa Wolio Kian Jarang Dipakai, Anak Baubau Belajar Lewat Kartu
Novel Soji Shimada: Alurnya Rapi, Konfliknya Berganti Wajah
Sabilulungan di Kampung Adat Cikondang, Pusaka Dibersihkan
Tiga Iklan Buttonscarves dan Citra Perempuan Berhijab Global