Tari Adolesensi Membaca Gejolak Pubertas Anak Perempuan

A A

Ilustrasi delapan penari berkostum merah dan biru tua berdiri berjajar di atas bangku panjang [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Karya itu dibangun dalam tiga bagian, yakni fase keriangan centil, fase kebingungan emosional, dan fase penerimaan diri.
  • Para penari belum mengenakan sepatu heels, karena fase itu masih mewakili anak yang baru mengenal pubertas.
  • Sepatu heels setinggi 5 sentimeter dipakai sejak bagian kedua hingga akhir, sedangkan kursi panjang polos baru muncul di bagian akhir.
  • Adolesensi dipentaskan di Gedung Hoerijah Adam ISI Padangpanjang dengan memakai panggung prosenium dan apron.
Daftar Isi
  1. Tubuh yang Mendahului Kata
  2. Cermin dan Keriangan yang Rapuh
  3. Langkah yang Ragu
  4. Kursi Panjang dan Arti Dewasa
  5. Panggung sebagai Pesan
  6. Celah yang Masih Terbuka

Orang dewasa gemar menganggap pubertas anak perempuan sebagai urusan tubuh semata, perkara hormon, tinggi badan, dan ciri-ciri yang tumbuh tanpa diminta, seolah semuanya akan beres dengan sendirinya begitu waktunya lewat. Namun, sebuah karya tari dari Padang Panjang memilih membaca masa itu dari sisi yang lebih sulit dilihat, yakni sikap dan emosi yang berubah-ubah, kadang centil, kadang malu, kadang bingung, sebelum akhirnya menemukan pijakan yang tenang.

Karya itu berjudul Adolesensi, dan proses penciptaannya ditulis Okta Dia Putri, Wardi Metro, Adjuoktoza Rovylendes, dan Dony Osmond dari Program Studi Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang dalam Adolesensi: Karya Tari Baru tentang Perubahan Sikap dan Emosional Anak Perempuan di Masa Pubertas, yang terbit di Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni volume 9 nomor 1 tahun 2025. Tari itu dibawakan delapan penari perempuan, diiringi musik techno yang dimainkan langsung, dengan sepatu heels dan kursi panjang sebagai properti yang memikul makna paling berat.

Tubuh yang Mendahului Kata

Naskah itu membuka persoalannya dari perkembangan anak. Pada anak perempuan, tulis para pengkarya dengan merujuk Santrock, pubertas biasanya dimulai lebih awal, sekitar usia 10 hingga 12 tahun, ditandai munculnya ciri seksual sekunder, perubahan hormon, dan percepatan pertumbuhan fisik. Bersamaan dengan itu datang perubahan psikologis yang intens, dari sensitivitas emosional yang meningkat, suasana hati yang naik turun, sampai kecenderungan mencari identitas diri.

Masa itu, menurut naskah, kerap memunculkan kebingungan, rasa malu, bahkan perilaku centil atau berlebihan untuk menarik perhatian orang lain, dan semuanya disebut sebagai bagian alami dari perjalanan menuju kedewasaan. Namun, yang alami belum tentu mudah dijalani, sebab gejolak itu tidak hanya bekerja di dalam diri anak, tetapi juga merembes ke hubungannya dengan orang-orang terdekat, terutama keluarga di rumah, yang menurut naskah berperan penting memberi dukungan emosional agar anak merasa aman dan mampu menerima perubahan dirinya.

Banyak anak perempuan, tulis para pengkarya, kesulitan mengomunikasikan apa yang mereka rasakan, sehingga muncul jarak dengan orang tua atau lingkungan sekitar. Sikap mudah marah, memberontak, atau justru menjadi lebih pendiam sering muncul sebagai respons terhadap gejolak batin yang sulit dipahami. Mengutip Desmita, naskah menyebut perubahan hormonal dapat memicu konflik antara kebutuhan akan kemandirian dan ketergantungan pada orang tua, dua tarikan yang bekerja bersamaan dalam diri anak yang sama.

Di situlah persoalannya bagi para pengkarya, karena pengalaman yang bahkan sulit diucapkan oleh anak itu sendiri hendak dipindahkan ke panggung tanpa satu kata pun. Mereka bersandar pada gagasan bahwa tari, sebagai bahasa tubuh, mampu mengekspresikan pengalaman batin yang rumit, sehingga kebingungan, keriangan, rasa malu, hingga penerimaan diri dapat diolah lewat gerak, ruang, waktu, dan dinamika menjadi simbol visual yang komunikatif.

Bahannya diambil dari dekat, dari pengalaman pribadi pengkarya dan pengamatan terhadap remaja perempuan berusia 12 sampai 17 tahun di lingkungan sekitarnya. Pada masa itu, catat naskah, banyak anak perempuan berubah sikap secara drastis, menjadi lebih periang, centil, malu-malu, hingga mudah tersinggung. Gerak tarinya pun bersumber dari kegiatan sehari-hari, seperti berdandan, berjalan dengan sepatu hak tinggi, dan bereaksi spontan terhadap rangsangan di sekitarnya.

Tiga babak Adolesensi di atas panggungTiga babak Adolesensi di atas panggungTiga babak Adolesensi di atas panggungStruktur dramatik karya tari tentang pubertas anak perempuanCentilgerak mengalir,tanpa heelsBingungstakato, heels,spotlightMenerimarampak di kursipanjangStabilkeseimbanganemosionalCahaya bergeser dari general light ke spotlight, lalu fresnel hangat.
Sumber: Okta Dia Putri, Wardi Metro, Adjuoktoza Rovylendes, dan Dony Osmond, Adolesensi: Karya Tari Baru tentang Perubahan Sikap dan Emosional Anak Perempuan di Masa Pubertas, Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni, 9(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Cermin dan Keriangan yang Rapuh

Karya itu dibangun dalam tiga bagian, yakni fase keriangan centil, fase kebingungan emosional, dan fase penerimaan diri. Ketiganya disusun sebagai tari murni, dengan pola gerak yang eksploratif, abstrak, dan elastis, sehingga penonton tidak disuguhi cerita berurutan tentang seorang tokoh, melainkan rangkaian suasana batin yang bergeser dari satu fase ke fase berikutnya, dipandu properti, musik, dan cahaya. Naskah menyebut susunan ini merepresentasikan perjalanan emosional anak perempuan pada masa pubertas.

Adegan pertama menghadirkan anak perempuan yang mulai penasaran dengan dunia orang dewasa. Seorang penari berdiri di depan properti yang menyerupai cermin, menatap bayangannya perlahan, dengan ekspresi malu-malu dan gerak tangan yang gemulai. Musiknya bernuansa ceria dengan ritme ringan, geraknya lembut dan mengalir dalam tempo sedang, sementara cahaya umum yang lembut menciptakan suasana netral dan polos, mendukung tema keingintahuan awal.

Cermin itu, menurut naskah, bukan sekadar benda panggung. “Properti cermin digunakan sebagai metafora dari pencarian identitas, di mana anak mulai mencoba memahami dirinya sendiri,” tulis Okta Dia Putri dan rekan-rekannya. Keriangan pada fase ini, dengan demikian, sudah membawa pertanyaan tentang siapa diri itu, meski masih dibungkus gerak yang ringan dan tampak tanpa beban, sebuah keriangan yang dalam susunan karya ini hanya menjadi pintu masuk menuju fase yang lebih rumit.

Adegan berikutnya memperlihatkan peralihan dari sifat kekanak-kanakan menuju rasa percaya diri yang lebih tinggi. Para penari berjalan sambil memainkan rambut, berputar kecil, tersenyum manja ke arah penonton, dan mencoba menarik perhatian penari lain. Pola lantainya masih sederhana pada level sedang, busananya santai dengan warna cerah, dan tambahan par light menegaskan transisi dari malu menjadi percaya diri. Naskah menyebut penari pada adegan ini bergerak dengan gaya yang lebih ekspresif.

Justru pada titik ini ada satu hal yang sengaja ditahan. Para penari belum mengenakan sepatu heels, karena fase itu masih mewakili anak yang baru mengenal pubertas. Penundaan kecil ini membuat sepatu tersebut, ketika akhirnya muncul, terbaca sebagai penanda bahwa sesuatu telah berubah, bahwa keriangan awal sudah tidak cukup untuk menampung apa yang sedang terjadi di dalam diri anak.

Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu

Langkah yang Ragu

Bagian kedua menampilkan perubahan yang lebih kompleks, dan sepatu heels mulai dikenakan sebagai simbol transisi menuju kedewasaan. Geraknya menjadi lebih dinamis, memakai gerak stakato yang patah-patah untuk menunjukkan rasa cemas, bingung, dan bimbang. Musik pun berubah menjadi lebih ritmis, bertempo cepat dengan beat elektronik yang kuat, menggambarkan gejolak emosi yang tidak stabil. Dalam naskah, fase ini adalah saat anak mulai merasa malu, bingung, bahkan cemas dengan dirinya sendiri.

Sepatu itu membawa beban fisik yang nyata. Penggunaannya mengharuskan penari menjaga keseimbangan, sehingga eksplorasi gerak terasa lebih berat, dan kaki menjadi pusat perhatian dengan langkah yang ragu-ragu. Menurut naskah, keraguan itu mengekspresikan ketidakstabilan anak pubertas dalam menerima perubahan, sementara lampu sorot mulai menyoroti penari tertentu dan memberi kesan tekanan emosional yang lebih kuat, sementara tubuh yang tadinya ringan kini harus berhitung pada setiap langkahnya.

Adegan kedua pada bagian ini memperlihatkan konflik batin secara lebih terbuka. Penari terbagi menjadi tiga kelompok kecil, satu menari lincah untuk suasana senang, satu bergerak lambat dengan kepala tertunduk untuk suasana sedih, dan satu lagi bergerak tak beraturan untuk suasana bingung. Gerak jatuh-bangun, lompatan kecil yang berhenti tiba-tiba, dan tata cahaya zoom spot membagi fokus penonton ke tiga suasana itu.

Adolesensi dalam angka naskahAdolesensi dalam angka naskahAdolesensi dalam angka naskahGedung Hoerijah Adam, ISI Padangpanjang8penarisemuanyaperempuan3bagiancentil, bingung,menerima5 cmsepatu heelsdipakai sejakbagian kedua12-17tahunusia remaja yangdiamatiJalan risetnyaPengalaman pribadiGerak sehari-hariTari murniKursi panjang polos dipakai pada bagian akhir sebagai simbol stabilitas.
Sumber: Okta Dia Putri, Wardi Metro, Adjuoktoza Rovylendes, dan Dony Osmond, Adolesensi: Karya Tari Baru tentang Perubahan Sikap dan Emosional Anak Perempuan di Masa Pubertas, Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni, 9(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Kursi Panjang dan Arti Dewasa

Bagian terakhir menggambarkan penerimaan diri setelah gejolak itu dilalui. Penari bergerak rampak dengan tempo yang stabil, dan kursi panjang hadir sebagai simbol stabilitas. Delapan penari berdiri di atas kursi itu, bergerak serempak dengan langkah mantap, diiringi musik yang lebih harmonis dan melodi yang mengalir, sementara cahaya fresnel yang hangat menciptakan suasana damai dan penuh harapan. Naskah menyebut musik itu menggambarkan ketenangan setelah badai emosional.

Di sinilah arah karya itu berbelok. “Sepatu heels yang sebelumnya menjadi beban kini justru menjadi simbol keanggunan dan kedewasaan yang diterima dengan lapang,” tulis Okta Dia Putri, Wardi Metro, Adjuoktoza Rovylendes, dan Dony Osmond dalam naskahnya. Benda yang sama tidak berganti, tinggi haknya pun tidak berubah, tetapi cara tubuh membawanya yang bergeser, dari langkah goyah menjadi langkah serempak di atas kursi.

Rincian propertinya memperkuat pembacaan itu. Sepatu heels setinggi 5 sentimeter dipakai sejak bagian kedua hingga akhir, sedangkan kursi panjang polos baru muncul di bagian akhir. Musik techno yang dimainkan langsung diolah dengan perangkat digital Studio One untuk menghadirkan suasana ceria, tegang, dan damai, sejalan dengan cahaya yang bergeser dari lampu umum, ke lampu sorot yang dinamis, lalu ke fresnel yang hangat.

Rias dan busananya dibuat untuk menahan dua dunia sekaligus. Riasnya adalah rias cantik panggung yang sederhana, hanya menonjolkan struktur wajah, agar tetap mencerminkan karakter anak pubertas. Busananya semi kodok dengan manset berwarna merah dan biru kehitaman, yang menurut naskah melambangkan campuran sifat kekanak-kanakan dan kedewasaan, sementara tiap penari mewakili aspek emosi yang berbeda, dari centil, malu, bingung, hingga stabil.

Ruang pertunjukannya pun ikut bercerita. Adolesensi dipentaskan di Gedung Hoerijah Adam ISI Padangpanjang dengan memakai panggung prosenium dan apron. Panggung apron diatur menyerupai kamar pribadi anak pubertas untuk adegan awal, sedangkan panggung prosenium dipakai untuk adegan utama, sehingga penonton diajak merasakan perpindahan dari dunia pribadi ke ruang sosial yang lebih luas. Dengan pengaturan itu, adegan awal berlangsung di ruang yang dibayangkan sebagai kamar anak itu sendiri.

Baca juga Seblang Olehsari: Izin Sehari Ditolak, Tari Tujuh Hari Batal

Panggung sebagai Pesan

Para pengkarya tidak berhenti pada soal keindahan. “Adolesensi bukan hanya sekadar karya estetis, tetapi juga sarana edukasi sosial tentang pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan pada masa pubertas anak perempuan,” tulis mereka dalam ringkasan naskah. Mereka berharap penonton, khususnya orang tua, dapat lebih memahami dinamika emosional anak perempuan pada masa transisi itu, masa yang dalam naskah disebut menuntut dukungan emosional agar anak merasa aman.

Dalam analisisnya, para pengkarya menyimpulkan bahwa gerak centil dan malu-malu di awal, gerak stakato yang saling bertentangan di tengah, hingga gerak rampak yang stabil di akhir memperlihatkan perjalanan emosional yang realistis. Mereka juga menyatakan karya ini membuktikan tari murni dapat menjadi media representasi fenomena sosial yang kompleks tanpa kehilangan nilai estetisnya, sehingga karya itu disebut punya nilai ganda.

Celah yang Masih Terbuka

Namun, klaim keberhasilan itu perlu dibaca dengan batasnya. Naskah tidak memuat data tanggapan penonton, sehingga penilaian bahwa karya ini berhasil menyampaikan pesannya bersandar pada pembacaan pengkarya sendiri, bimbingan dosen, diskusi dengan penari, dan uji coba pertunjukan. Bahan awalnya berasal dari pengalaman pribadi, pengamatan lingkungan sekitar, dan wawancara informal tanpa jumlah narasumber, sementara tanggal pementasan tidak disebutkan. Naskah juga tidak menguraikan bagaimana pesan edukatif itu sampai kepada orang tua yang menonton.

Beberapa kejanggalan juga bisa diperiksa langsung di naskah. Kop halaman pertama menulis tahun hak cipta sebagai 20z5, nama penulis keempat ditulis Dony Osmond pada baris penulis tetapi Donny Osmond pada kop halaman berikutnya, dan daftar pustaka memuat Hawkwins tahun 1988 di samping Hawkins tahun 1990. Bagian metode merujuk Santrock tahun 2012, padahal judul yang sama di daftar pustaka tidak bertahun.

Ada pula uraian yang tidak sepenuhnya bertemu. Delapan penari disebut mewakili aspek emosi yang berbeda, yakni centil, malu, bingung, dan stabil, tanpa penjelasan bagaimana delapan orang dibagi ke empat aspek itu, sementara di bagian kedua mereka dibagi ke dalam tiga kelompok. Busana bagian awal disebut santai berwarna cerah, sedangkan bagian rias dan busana hanya menyebut semi kodok merah dan biru kehitaman.

Baca juga Fantasia Begambang: Dua Wajah Tradisi Musik Muaro Jambi

Karya ini, pada akhirnya, menyodorkan satu gambaran yang rapi tentang pubertas, dari cermin ke sepatu hak, lalu ke kursi panjang yang ditapaki bersama. Yang tersisa adalah pertanyaan yang tidak dijawab naskahnya: bila anak perempuan yang dibicarakan itu duduk di kursi penonton, apakah ia akan mengenali dirinya dalam urutan yang begitu tertib, atau justru merasa gejolaknya tidak pernah benar-benar berakhir di atas kursi?

Bagikan

Baca Juga

Petani Padi Roi-Et Paham Ergonomi, Nyaris Semua Tetap Nyeri Otot
Susut Pascapanen Sayur di Rwanda Mengosongkan Piring Petani
Solis Gitar Ikbal Nabawi Bawa Vivaldi ke Rentak Joget Melayu
Listrik Padam Memperberat Penyakit Kronis Lansia Puerto Rico
Skrining Warga Madagaskar Ungkap HIV dan Sifilis Tersembunyi
Lansia Jatuh di China: Kulit Semangka hingga Takut Melangkah