- Kemampuan menjalankan Motayok diyakini diwariskan langsung dari leluhur kepada keturunannya, sehingga jumlah orang yang bisa menjalankannya sangat terbatas.
Daftar Isi
- Ritual Tarian yang Dipercaya Memanggil Roh Leluhur
- Sesajen dan Ramuan dari Kebun yang Jauh dari Kampung
- Keyakinan bahwa Leluhur Bisa Menyembuhkan yang Dokter Tak Sanggup
- Ajaran Islam Menyebutnya Syirik, Warga Tetap Bertahan
- Sesajen dan Roh Leluhur di Ritual Penyembuhan Lain di Nusantara
- Tradisi yang Nyaris Punah, Hanya Bertahan di Bilalang
Di Desa Bilalang, Kotamobagu, Sulawesi Utara, sebagian warga masih percaya bahwa penyakit kronis yang gagal disembuhkan dokter bisa dipulihkan lewat bantuan roh leluhur. Kepercayaan itu diwujudkan lewat Motayok, ritual tari penyembuhan yang hanya bisa dijalankan perempuan tua pewaris kemampuan turun–temurun, dan kini nyaris punah karena tak ada lagi generasi muda yang mewarisinya.
Temuan itu dipaparkan Putra Jufriyandi Mokodompit, Nur Halisa Dolot, dan Hairil Akbar dari Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika dalam artikel Tradisi Motayok Dalam Pengobatan Tradisional (Studi Kasus Sosiologi Kesehatan di Bolaang Mongondow) di jurnal Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia Volume 5 Nomor 4 edisi April 2022.
Ritual Tarian yang Dipercaya Memanggil Roh Leluhur
Motayok berbentuk tarian yang mirip kuda lumping. Perempuan tua yang menjalankannya mengenakan gelang berlonceng di tangan dan kaki, kain penutup kepala, serta memegang tongkat yang juga berbunyi mengikuti gerakan. Tarian dimulai setelah ia melantunkan nyanyian pemanggil roh leluhur, dan baru berhenti diam bila belum ada roh yang dianggap masuk ke tubuhnya.
Begitu roh dianggap merasuk, penari mulai berdiri dan bergerak, kadang berbicara dengan bahasa yang menurut kesaksian warga yang menyaksikan terdengar tidak jelas. Bila roh leluhur lain ingin masuk secara bergantian, penari akan berganti selendang, karena warga meyakini setiap roh leluhur menyukai warna kain yang berbeda–beda.
Hanya satu orang yang menari dalam satu ritual, dan menurut peneliti, kemampuan menjalankan Motayok tidak bisa dipelajari sembarang orang. Kemampuan itu diyakini diwariskan langsung dari leluhur kepada keturunannya, sehingga jumlah orang yang benar–benar bisa menjalankan ritual ini sangat terbatas.
Sesajen dan Ramuan dari Kebun yang Jauh dari Kampung
Ritual Motayok tidak digelar di rumah, melainkan di sebuah gubuk besar yang didirikan di kebun jauh dari permukiman, salah satunya di Desa Tungoi. Di sekitar gubuk itu tumbuh dedaunan dan bambu berwarna kuning yang dipakai sebagai bahan ramuan obat bagi pasien yang menjalani pengobatan.
Sebelum ritual dimulai, warga Desa Bilalang menyiapkan sesajen berupa daging ayam, jahe, rokok, dan garam yang ditata di atas piring putih polos beralas daun pisang. Namun peneliti mencatat, tidak semua tempat menjalankan syarat yang sama: Motayok yang digelar di Desa Tungoi berlangsung tanpa sesajen sama sekali.
Perbedaan itu menunjukkan Motayok bukan ritual yang baku secara nasional, melainkan praktik yang dijalankan berbeda–beda tergantung siapa yang mewariskannya di tiap desa, meski inti ritualnya tetap sama: memohon bantuan roh leluhur untuk menyembuhkan.
Keyakinan bahwa Leluhur Bisa Menyembuhkan yang Dokter Tak Sanggup
Motayok umumnya dicari warga setelah pengobatan medis dijalani namun penyakitnya tak kunjung sembuh. Salah satu informan yang pernah mengantar kerabatnya berobat lewat ritual ini menuturkan kepada peneliti bahwa proses penyembuhan melibatkan mandi di sungai, lalu tubuh pasien dipercikkan air yang telah didoakan dalam ritual tersebut.
Warga yang mempercayai Motayok menilai ritual ini terbukti menyembuhkan, karena mereka menyaksikan sendiri kerabat atau tetangganya pulih setelah menjalaninya. Kepercayaan itulah yang membuat sebagian warga Bilalang tetap datang mencari pengobatan lewat Motayok, meski dokter dan pengobatan modern kini mudah dijangkau.
Ajaran Islam Menyebutnya Syirik, Warga Tetap Bertahan
Di sisi lain, peneliti mencatat keyakinan terhadap Motayok berbenturan dengan ajaran agama Islam yang dianut mayoritas warga Bolaang Mongondow, karena praktik meminta bantuan kepada roh leluhur untuk kesembuhan dipandang sebagai perbuatan syirik.
Meski demikian, sebagian warga tetap mempertahankan kepercayaan itu secara berdampingan dengan keyakinan keagamaan mereka. Peneliti menilai kondisi ini mencerminkan bagaimana tradisi lokal yang sudah mengakar lama tidak serta–merta hilang hanya karena berseberangan dengan ajaran agama yang dianut.
Sesajen dan Roh Leluhur di Ritual Penyembuhan Lain di Nusantara
Peneliti membandingkan Motayok dengan sejumlah ritual penyembuhan tradisional lain di Indonesia. Di Bungku Utara, Sulawesi Tengah, warga Tau Ta’a Wana menjalankan ritual momago bila penyakit tak kunjung sembuh dalam dua sampai tiga minggu, dengan keyakinan penyakit disebabkan agen aktif yang harus dilawan lewat ritual.
Di Prabumulih, Sumatra Selatan, warga Gunung Kemala dan Payoputat mempertahankan pengobatan dengan memberi sesajen kepada makhluk gaib, dengan keyakinan penyakit muncul karena ada nazar yang belum dipenuhi. Sementara itu, warga Amungme di Mimika, Papua, disebut peneliti tidak seluruhnya memakai pengobatan tradisional, karena keputusan memakainya melalui proses pertimbangan yang panjang di tingkat keluarga.
Perbandingan itu menunjukkan Motayok bukan fenomena tunggal, melainkan satu dari banyak praktik penyembuhan berbasis roh leluhur yang masih bertahan di berbagai komunitas adat Indonesia, meski bentuk dan syaratnya berbeda–beda di tiap daerah.
Pola serupa—pengobatan yang menempatkan hubungan spiritual dengan leluhur sebagai inti penyembuhan—juga ditemukan dalam mantra penyembuhan Suku Tidung dari Kalimantan Utara, dan pada peran Baboi dalam komunitas Mentawai sebagai penghubung dunia manusia dan dunia roh.
Tradisi yang Nyaris Punah, Hanya Bertahan di Bilalang
Peneliti mencatat Motayok kini sangat jarang ditemukan dan hanya bertahan konsisten di Desa Bilalang. Seluruh pengetahuan tentang ritual ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa catatan tertulis maupun mekanisme resmi untuk mengajarkannya kepada perempuan muda di desa itu.
Ancaman serupa juga dihadapi tradisi mantra penolak bala dari Jambi, yang terancam hilang seiring minimnya jumlah pewaris pengetahuan tradisional di tengah arus modernisasi.
Peneliti mengingatkan, temuan ini hanya menggambarkan kondisi Motayok di Desa Bilalang berdasarkan penuturan sejumlah tokoh adat dan warga yang diwawancarai pada Desember 2021, sehingga praktik di desa lain seperti Tungoi bisa saja berjalan dengan aturan dan tingkat kelestarian yang berbeda.















