- Segelas air yang sudah didoakan berpindah dari tangan dukun ke tangan pasien di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.
- Dari tuturan dukun itu mereka menemukan empat nilai kearifan lokal dalam mantra pengobatan orang Osing.
- Mantra pengobatan tergolong mantra putih, yakni mantra yang dijiwai nilai-nilai baik.
- Bunga yang tumbuh di depan pintu rumah pasien diambil, dihaluskan, lalu dioleskan ke bagian tubuh yang gatal.
Daftar Isi
Segelas air yang sudah didoakan berpindah dari tangan dukun ke tangan pasien di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. Pasien belum boleh meneguknya. Ia harus melafalkan selawat lebih dulu, sesuai perintah sang dukun dalam bahasa Osing: Siro ngombye byanyu iki ambi ndonga sholawat. Kamu minum air ini sambil berdoa selawat.
Adegan itu dicatat Regina Dhea Caesarine dan Yuliana Setyaningsih dalam artikel The Values of Local Wisdom in the Oral Tradition of Healing Spells for the People of Osing, Banyuwangi Regency: An Anthropolinguistic Study. Artikel itu terbit di KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya volume 9 nomor 2 tahun 2023. Keduanya berasal dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Mereka mewawancarai seorang dukun yang menangani langsung pengobatan dengan mantra, dibantu seorang tokoh desa yang mampu berbahasa Osing. Dari tuturan dukun itu mereka menemukan empat nilai kearifan lokal dalam mantra pengobatan orang Osing. Keempatnya adalah memohon kesembuhan kepada Tuhan, memohon limpahan rahmat, pantangan agar tidak sembarangan bertingkah laku, serta manfaat tumbuhan dan alam.
Mantra Putih
Orang Osing di Banyuwangi menyimpan tradisi lisan berupa legenda, puisi lisan, mitos, dan dongeng. Yang paling populer adalah puisi lisan. Jenisnya beragam: basanan, wangsalan, sanepan, batekan, syair, dan mantra. Kedua peneliti menyebut mantra sebagai budaya Osing yang paling menonjol sekaligus identitas budaya orang Osing.
Mantra Osing mengenal empat jenis magi, yakni mantra putih, kuning, merah, dan hitam. Dalam naskah itu, keempatnya disebut dipakai sebagai alternatif ketika lembaga formal tidak mampu mengatasi persoalan sehari-hari. Tujuannya macam-macam: menyembuhkan penyakit, mengusir roh jahat, melancarkan rezeki, memperoleh dan mempertahankan kedudukan, sampai mencari jodoh.
Mantra pengobatan tergolong mantra putih, yakni mantra yang dijiwai nilai-nilai baik. Perannya menetralkan praktik mantra hitam dan merah, baik untuk menyembuhkan maupun menolak kejahatan. Wujudnya bisa berupa pengobatan magis, doa, dan pengobatan herbal. Bahan pendukungnya pun disebut satu per satu. Ada air jernih. Ada bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, daun, bunga, hingga getah. Ada pula organ hewan, wewangian, dan dupa. Di Desa Aliyan, sebagian bahan itu muncul dalam empat cuplikan mantra yang dituturkan sang dukun.
Tangan yang Memijat
Pengobatan dibuka dengan doa. Sebelum memijat pasien, dukun membaca Bismillahir rahmanir rahim untuk memohon restu Allah. Lalu menyusul kalimat berbahasa Osing: Kabeh penyakit teko Allah, baliko neng Allah. Artinya, semua penyakit yang berasal dari Allah, kembalilah kepada Allah.
Kedua peneliti menempatkan cuplikan itu sebagai unsur awal mantra, yang disebut purwa. Isinya salam pembuka dan niat. Niatnya jelas, yakni memohon kesembuhan atas penyakit yang diderita. Dasar mantra pengobatan Osing, tulis mereka, memakai doa dalam agama Islam, sejalan dengan budaya Osing yang memadukan kepercayaan setempat dengan tradisi Islam.
Kalimat itu diulang. Menurut kedua peneliti, pengulangan menunjukkan kesungguhan dan berdampak pada alam bawah sadar pasien. Pasien menjadi yakin bahwa Allah yang memberi penyakit, dan Allah pula yang dapat mengangkatnya selama manusia berserah kepada-Nya. Narasumber mereka menyebut mantra ini dipakai sebagai permohonan kesehatan melalui perantaraan Yang Mahakuasa.
Di titik ini naskah itu menengok ke Papua. Mengutip kajian Dewi dan Wulandari, kedua peneliti menulis bahwa orang Muyu di wilayah Mindiptana menjalankan penyembuhan lewat perantara nenek atau orang yang lebih tua dalam keluarga, bukan lewat perantaraan Tuhan. Keyakinan itu disebut dipengaruhi letak geografis dan terbatasnya akses layanan kesehatan.
Baca juga Nalar Mistis Kebo-keboan Banyuwangi Dicari Nilai Islamnya
Segelas Air
Dari pijatan, pengobatan berpindah ke gelas tadi. Selawat yang wajib dibaca pasien berbunyi Allaahumma sholli alaa muhammadin nabiyyill ummiyyi wa alaa aalihi wasalim. Isinya permohonan agar selawat dilimpahkan kepada Nabi Muhammad dan keselamatan tercurah kepada segenap keluarganya.
Cuplikan kedua ini masuk unsur tengah mantra, yang disebut madya. Di dalamnya ada sugesti, perintah, tujuan, dan harapan. Air menjadi bahan utamanya. Orang Osing, tulis kedua peneliti, meyakini air sebagai media perantara yang memberi kekuatan magis kepada pasien agar lekas pulih.
Makna selawat itu dibaca lebih dari satu lapis. Doa tersebut bukan hanya meminta limpahan rahmat, melainkan juga kesembuhan. Yang diutamakan adalah memohon rida Allah supaya penyakit lebih mudah diobati. Ketika pasien berzikir, tulis kedua peneliti, rasa tenang muncul karena ada keyakinan penuh pada mantra yang dilafalkan.
Ada satu lapis lagi. Dengan membaca selawat, pasien secara tidak langsung meminta izin kepada tubuhnya sendiri untuk menerima air yang sudah didoakan. Kedua peneliti menulis bahwa rasa percaya pasien saat menerima pengobatan tradisional berdampak pada masa penyembuhan yang cepat.
Ujung Keris
Selesai memeriksa penyakit, dukun memberi pantangan. Bunyinya dalam bahasa Osing: Ojo nandur kembyang werno cemeng, ijo tuwek. Jangan menanam bunga yang berwarna jenuh seperti hijau tua. Tanaman yang tidak biasa ditanam jangan ditanam, sebab itu memang tidak boleh ditanam oleh keturunan si pasien.
Sesudah pantangan diucapkan, sebilah keris emas dikeluarkan. Dukun menempelkannya sambil membaca basmalah. Pasien harus memejamkan mata selama doa itu dilafalkan. Kemudian dukun menyentuh bagian tubuh yang sakit dengan ujung keris. Larangan menanam itu punya akibat. Menurut kedua peneliti, pantangan tersebut berpengaruh pada keturunan. Bila terus dilanggar, ia membawa bahaya bahkan kematian bagi keluarga. Bagi mereka, persoalannya bukan apakah ungkapan itu logis atau tidak logis, melainkan fungsi sosial yang dijalankan ungkapan larangan tersebut.
Pantangan dan larangan, tulis mereka, menjadi tolok ukur dalam hidup orang Osing, baik menyangkut daur hidup maupun ritual. Kepercayaan yang tumbuh di tengah orang Osing belum tentu diterima masyarakat lain. Namun di sana pantangan menjadi sarana pengendali perilaku dan dianggap pedoman bertingkah laku.
Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu
Bunga di Depan Pintu
Dari tubuh pasien, pengobatan bergeser ke halaman rumah. Dukun berkata: Njuwuto kembyang nong ngarep lawang, gerusen, terus diwedhakaen nong hang loro gatel. Iku ampuh. Bunga yang tumbuh di depan pintu rumah pasien diambil, dihaluskan, lalu dioleskan ke bagian tubuh yang gatal.
Minyak pijat diracik dengan cara serupa. Dukun memakai lengo klentik, yakni minyak kelapa, yang ditambah rempah seperti pala, jahe, lengkuas, dan cengkih. Semuanya dicampur menjadi satu, ditumbuk, lalu diperas. Terakhir ditambahkan sedikit minyak kayu putih. Tidak ada alat khusus dalam pengobatan ini. “Mereka hanya menggunakan doa berupa mantra penyembuhan dan obat yang diracik dari tumbuhan yang tumbuh di tanah Osing,” tulis Regina Dhea Caesarine dan Yuliana Setyaningsih dari Universitas Sanata Dharma dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Kemampuan dukun pun tidak datang dari bangku pendidikan atau ilmu kedokteran. Kedua peneliti menulis bahwa kemampuan itu berasal dari keturunan, mimpi, gagasan, dan belajar dari kitab pengobatan tradisional. Dukun selalu meracik obat dari tumbuhan di sekitarnya.
Semua bahan pengobatan Osing berasal dari alam. Kedua peneliti menyebut orang Osing memiliki kepedulian tinggi terhadap alam, dan pemakaian kekayaan alam sekitar sebagai obat mereka nilai sebagai upaya konservasi yang cukup tinggi. Ajaran leluhur, tulis mereka, melarang orang merusak tumbuhan yang tumbuh di sekelilingnya.
Naskah itu lalu membandingkannya dengan masyarakat Afrika, mengutip Kiringe. Di sana banyak penyembuh tradisional meracik obat secara rahasia dan menambahkan banyak bahan supaya orang awam tidak tahu tanaman yang dipakai. Kemampuan menyembuhkan diwariskan lewat kekerabatan, dan penyembuh wajib menempuh pendidikan pengobatan tradisional untuk memperoleh lisensi.
Baca juga Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili
Kitab Mantra
Empat cuplikan itu bertemu di satu titik. Ungkapan mantra pengobatan Osing, tulis kedua peneliti, umumnya menunjukkan hubungan manusia dengan Tuhan. Mantra itu memuat keyakinan kepada Sang Pencipta, nasihat agar manusia menjaga perilaku dan memanfaatkan alam, serta pantangan yang menuntun tingkah laku.
Tradisi lisan ini mereka maknai sebagai adat setempat yang berkembang di tengah orang Osing untuk menyampaikan nasihat dan kearifan kepada generasi muda. Namun mereka juga mencatat keadaannya kini. Pada masyarakat modern, keberadaan tradisi lisan ini kian memudar dan berangsur luntur bila tidak dilestarikan.
Kajian ini punya batas yang diakui penulisnya. Keterbatasannya terletak pada ketersediaan data mantra yang bersumber dari dokumen kitab mantra pengobatan. Karena itu, kedua peneliti menyarankan peneliti lain yang berminat pada topik serupa menggali lebih jauh isi kitab mantra pengobatan itu agar hasilnya lebih lengkap.
Sampai kitab itu dibuka, yang tercatat dari Desa Aliyan adalah empat cuplikan tutur seorang dukun. Di dalamnya ada tangan yang memijat, ujung keris, bunga di depan pintu, dan segelas air yang baru diminum setelah selawat dibaca. Dari situlah kedua peneliti membaca empat nilai kearifan lokal orang Osing.















