Dabba Ana di Sabu, Ayah Menandai Wajah Bayi dengan Ludah Sirih

A A

Ilustrasi seikat sirih pinang di tiang kayu, mangkuk air, dan tangan lelaki berkain tenun [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Di Waduwalla, dabba digelar di setiap rumah warga yang masih menganut Jingitiu.
  • Tanda dari ludah merah dibuat pada dahi, hidung, pipi kiri dan kanan, serta dagu anak.
  • Air dipercikkan ke atas kepala anak sebagai tanda penyucian dan anak memasuki kehidupan dengan nama baru.
  • Pembagian sirih dan pinang kepada setiap orang yang hadir menjadi tanda sahnya anak yang telah di-dabba.
  • Ritual ini sudah jarang dijumpai seiring perubahan era globalisasi.
Daftar Isi
  1. Ayah Menyiapkan Sirih, Pinang, Kapur, dan Air Tanpa Sepatah Tuturan
  2. Dari Dua Tiang Utama, Hanya Tarru Duru yang Boleh Dilihat Peneliti
  3. Ludah Merah di Wajah, Percikan Air di Kepala, Lalu Anak Diangkat
  4. Doa Sepuluh Baris Sang Ayah Meminta Umur Panjang dan Anak Cucu
  5. Leluhur Dipercaya Mendengar Doa Anak Cucunya
  6. Sirih Pinang Dibagikan sebagai Tanda Anak Sudah Sah

Mone Ie, leluhur orang Sabu Raijua, disebut sebagai orang pertama yang menggelar dabba ana. Ia memandikan anaknya, Abba Mone, secara adat agar anak itu disahkan sebagai milik kepunyaan Allah menurut kepercayaan mereka. Kisah asal-usul itu dicatat Jefrison Hariyanto Fernando pada 2017, lalu dikutip kembali oleh dua peneliti yang ingin tahu apa arti ritual tersebut bagi warga Desa Waduwalla.

Kedua peneliti itu adalah Narantoputrayadi Makan Malay dari Universitas Nusa Cendana dan Yeni Padji dari Universitas Karyadarma Kupang. Hasilnya mereka tulis dalam artikel berjudul Makna dan Fungsi Ritual Adat “Dabba Ana” pada Masyarakat Jingitiu, di Desa Waduwalla Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Kajian: Semiotik. Artikel itu terbit di Jurnal Lazuardi volume 4 nomor 2 tahun 2021.

Makan Malay dan Padji menempatkan dabba ana dalam siklus hidup masyarakat Sabu Raijua yang beragama suku atau masih beraliran kepercayaan Jingitiu. “Ritual adat dabba ana dalam budaya Sabu Raijua bisa dikatakan kegiatan permandian adat bagi anak-anak yang baru lahir,” tulis keduanya dalam naskah itu. Waktunya sudah ditentukan, yakni bulan adat waru dabba menurut kalender adat masyarakat Sabu Raijua.

Di Waduwalla, tulis Makan Malay dan Padji, dabba digelar di setiap rumah warga yang masih menganut Jingitiu. Yang paling berperan adalah ayah dari anak yang akan dibaptis secara adat. Ia menjalankannya sambil mengucapkan kata-kata ritual sebagai pemberkatan bagi anaknya. Fernando sebelumnya sudah menulis langkah-langkah ritual ini, tetapi tanpa menyinggung makna dan fungsinya.

Ayah Menyiapkan Sirih, Pinang, Kapur, dan Air Tanpa Sepatah Tuturan

Semuanya dimulai dari persiapan. Makan Malay dan Padji mencatat, pada tahap ini keluarga, yakni ayah si anak, menyiapkan segala keperluan yang akan dipakai selama acara: sirih, pinang, kapur, dan air. Tidak ada tuturan apa pun yang diucapkan pada tahap ini. Dalam foto yang mereka muat, persiapan itu sedang dikerjakan kakek dari anak yang akan di-dabba.

Sirih dan pinang kemudian digantung di tiang utama rumah adat. Menurut Makan Malay dan Padji, gantungan itu adalah persembahan kepada arwah leluhur, yang diyakini bersemayam tepat di tiang tersebut. Persembahan disiapkan lebih dahulu. Baru setelah itu keluarga mengucapkan kata-kata ritual penyerahan diri kepada Sang Pencipta.

Empat bahan itu, dalam bacaan Makan Malay dan Padji, adalah kode sosial dalam kehidupan ritual warga Jingitiu. Sirih, pinang, dan kapur disatukan lalu dikunyah sampai menimbulkan ludah merah, yang dipakai sebagai tanda pada tubuh anak. Tanda itu menjadi simbol bahwa anak telah dibaptis. Air dipakai untuk mengesahkan bahwa anak tersebut telah diberi nama dan didoakan kepada Tuhan.

Urutan ritual dabba ana di WaduwallaUrutan ritual dabba ana di WaduwallaUrutan ritual dabba ana di WaduwallaDari persiapan sampai sirih pinang dibagikanSiapkanSirih,pinangSesajiDi tarruduruTandaiLudahmerahPercikAir dikepalaAngkatSambilberdoaSahSirih pinangdibagikan
Sumber: Narantoputrayadi Makan Malay, Yeni Padji, Makna dan Fungsi Ritual Adat "Dabba Ana" pada Masyarakat Jingitiu, di Desa Waduwalla Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Kajian: Semiotik, Jurnal Lazuardi, 4(2), 2021. Grafik: Cekricek.id

Dari Dua Tiang Utama, Hanya Tarru Duru yang Boleh Dilihat Peneliti

Doa itu dipanjatkan tepat di tiang utama rumah adat. Makan Malay dan Padji menjelaskan, setiap rumah adat orang Sabu memiliki dua tiang utama sebagai penopang. Yang pertama, tarru duru, berdiri di sisi kanan rumah dan menjadi tempat berlangsungnya ritual. Tiang inilah yang disepakati dan diyakini sebagai tempat penyembahan dari zaman dahulu hingga saat ini.

Tiang kedua, tarru wui, berada di sisi kiri rumah dan dibatasi satu bilik dari tarru duru. Bilik itu tidak bisa dilihat sembarang orang, dan di sinilah batas penelitian Makan Malay dan Padji. Tiang itu, tulis mereka, “tidak bisa diliput dan dicantumkan dalam penulisan karya ilmiah ini”. Karena tidak disepakati sebagai tempat penyembahan, tarru wui dianggap tiang biasa saja.

Tarru duru dipahami lain. Makan Malay dan Padji menulis, dalam kepercayaan warga, tiang utama rumah adat adalah lambang salib tempat berdiamnya arwah nenek moyang, yang akan mendengarkan setiap doa. Arwah nenek moyang itu dipahami sebagai perantara doa mereka kepada Deo Ama, yang oleh kedua peneliti diterjemahkan sebagai Allah Bapa.

Dua tiang utama rumah adat SabuDua tiang utama rumah adat SabuDua tiang utama rumah adat SabuMenurut catatan Makan Malay dan PadjiTarru duruTarru wuiSisi kananSisi kiriLetakTempat ritualTiang biasaPeranYaTidakDiliput
Sumber: Narantoputrayadi Makan Malay, Yeni Padji, Makna dan Fungsi Ritual Adat "Dabba Ana" pada Masyarakat Jingitiu, di Desa Waduwalla Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Kajian: Semiotik, Jurnal Lazuardi, 4(2), 2021. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu

Ludah Merah di Wajah, Percikan Air di Kepala, Lalu Anak Diangkat

Pelaksanaannya dimulai ketika sang ayah mengunyah sirih pinang. Makan Malay dan Padji mencatat tanda dari ludah merah itu dibuat pada dahi, hidung, pipi kiri dan kanan, serta dagu anak. Tanda-tanda itu akan terlihat seperti gambar salib. Maknanya, menurut keduanya, adalah penyerahan diri secara utuh kepada Sang Pencipta lewat ritual tersebut.

Sesudah itu air dipercikkan ke atas kepala anak. Bagi Makan Malay dan Padji, percikan itu adalah tanda penyucian diri anak dari segala salah dan dosa. Anak memasuki kehidupan yang baru dengan nama yang baru. Nama itu disebutkan saat ritual berlangsung. Dalam foto yang dimuat kedua peneliti, yang memercikkan air adalah sang ayah.

Lalu anak diangkat ke atas. Makan Malay dan Padji membaca gerakan itu sebagai tanda bahwa orang tua menyerahkan anaknya kepada Sang Pencipta, untuk diatur dan diberkati seluruh kehidupannya. Pada saat itulah tuturan ritual diucapkan, dalam bentuk teks monologis.

Sirih, pinang, kapur, dan air tidak berhenti sebagai perlengkapan. Makan Malay dan Padji menyebut keempatnya membawa makna persekutuan dan kemenyatuan untuk melaksanakan sesuatu. Bahan-bahan itu menjadi sarana penyatu antara orang-orang yang menghadiri acara dabba. Keempatnya juga menjadi pengikat antara manusia dengan Tuhan, sesuai kepercayaan warga Jingitiu.

Doa Sepuluh Baris Sang Ayah Meminta Umur Panjang dan Anak Cucu

Tuturan yang direkam Makan Malay dan Padji terdiri atas sepuluh baris berbahasa Sabu. Baris pertamanya berbunyi “Muri ya Deo woro Deo mahhi”, yang mereka terjemahkan sebagai Tuhan saya, Tuhan pembentuk dan pencipta. Baris berikutnya menyapa Tuhan yang menjadikan tanah dan langit yang luas, lalu Tuhan yang menghidupkan dan menumbuhkan.

Baris kelima menyebut maksud sang ayah: hari ini anak saya akan dibaptis. Sesudahnya, dalam terjemahan Makan Malay dan Padji, datang deretan permohonan. Ayah meminta kekuatan dan pertumbuhan bagi anaknya, usia sampai tua, keturunan dan anak cucu, kesejahteraan dan kemakmuran. Baris penutup memohon agar anak itu kelak dipertemukan dengan pasangan hidup.

Makan Malay dan Padji juga menyusun terjemahan bebas atas seluruh doa itu. Sebagian bunyinya: “pada hari ini anakku akan dibaptis, maka dari itu sekiranya kami memohon diberikan kepada anak ini kekuatan, umur panjang sampai tua kelak”. Doa itu dibuka dengan sapaan kepada Tuhan pencipta dan pembentuk manusia, yang menjadikan langit dan bumi.

Keindahan tuturan itu ikut dicatat. Makan Malay dan Padji menemukan gaya bahasa repetisi dan pleonasme, yaitu pengulangan bentuk bahasa yang sama dalam kalimat atau baris. Pengulangan itu mempertegas bahwa penutur memohon dengan penuh kerendahan hati dan penuh harapan. Tujuannya menciptakan keharmonisan antara Tuhan, leluhur, anggota masyarakat lain, dan alam sekitar.

Baca juga Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili

Leluhur Dipercaya Mendengar Doa Anak Cucunya

Dari doa itu Makan Malay dan Padji menarik makna religius. Warga Waduwalla meyakini peran leluhur sebagai perantara atau pemberi berkat bagi anak yang di-dabba, di samping doa mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa. Roh nenek moyang dan dewa-dewa dirasakan dapat mendengar doa keturunannya. Mereka juga dipercaya dapat mengabulkan permohonan warga yang disebut anak cucunya.

Tidak seluruh baris doa dimasukkan Makan Malay dan Padji ke dalam makna religius. Yang mereka sajikan adalah empat baris pembuka, yakni sapaan kepada Tuhan pembentuk, pencipta, yang menghidupkan, dan Roh Allah yang kudus. Hubungan anak cucu dengan leluhur, tulis keduanya, dipelihara dengan baik lewat berbagai upacara adat, termasuk dabba ana.

Ada pula makna historis. Makan Malay dan Padji menyebut dabba ana memiliki kisah kronologis: peristiwa yang terjadi sejak nenek moyang itu menjadi sejarah yang tidak dilupakan. Ritual tersebut terus diberlakukan turun-temurun, dari generasi ke generasi, hingga saat ini. Fernando, dalam penelitian yang mereka kutip, menyebut Mone Ie sebagai orang yang pertama kali melakukannya.

Leluhur memang sudah meninggal, tetapi warga Waduwalla percaya jiwa mereka tetap bertahan sesudah kematian. Makan Malay dan Padji menulis, nenek moyang diyakini sebagai perantara permohonan antara manusia dan Penciptanya. Nilai religius ritual ini mereka sebut sebagai jembatan hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dengan leluhur, dan dengan Tuhan.

Sirih Pinang Dibagikan sebagai Tanda Anak Sudah Sah

Ritual ditutup dengan pembagian. Makan Malay dan Padji mencatat keluarga membagikan sirih dan pinang, yang sudah disiapkan sebelum acara, kepada setiap orang yang hadir dan menyaksikan. Pembagian itu adalah wujud rasa syukur keluarga dan simbol kebersamaan dengan sesama. Lebih dari itu, pembagian tersebut menjadi tanda sahnya anak yang telah di-dabba.

Di sini Makan Malay dan Padji melihat fungsi sosial dabba ana. Bila keluarga penyelenggara punya persiapan lebih, mereka biasanya makan kacang gula bersama para tamu. Makan bersama itu menjadi tanda sukacita keluarga. Ia juga perwujudan keharmonisan dalam masyarakat, sebab anak-anak mereka telah dibaptis secara adat.

Kedua peneliti lalu merinci nilai yang dikandung ritual ini. Ada nilai sosial berupa kebersamaan, nilai religius berupa kepercayaan dan pengharapan bahwa anak akan diberkati, serta nilai moral berupa rasa syukur kepada orang-orang terdahulu. Makan Malay dan Padji juga menyebut tiga nilai sosiologis: kebersamaan, kesadaran akan hierarki sosial, dan penghormatan akan roh para leluhur.

Baca juga Pemakaman Raja Marapu di Rindi: Delapan Kuda, Delapan Kerbau

Dabba ana juga dipercaya sebagai norma. Alasannya, tulis Makan Malay dan Padji, ritual ini sudah ada sejak awal mula kehidupan masyarakat suku Sabu. Ritual demi ritual dalam kehidupan mereka dianggap sebagai aturan kebudayaan yang mengikat. Aturan itu harus dipatuhi setiap warga Jingitiu.

Dalam kesimpulannya, Makan Malay dan Padji menyebut dabba ana termasuk sistem adat yang masih dijunjung tinggi warga penganut Jingitiu di Waduwalla. Namun ritual ini sudah jarang dijumpai seiring perubahan era globalisasi. Mereka melihatnya sebagai kegiatan masyarakat untuk belajar memahami dan menghayati tata nilai budaya, agar dapat menghargai dan menghormati leluhur.

Permandian adat yang disebut pertama kali dilakukan Mone Ie untuk Abba Mone itu kini dijalankan seorang ayah di depan tarru duru, dengan sirih, pinang, kapur, dan air. Makan Malay dan Padji menutup naskahnya dengan menyebut budaya warisan leluhur itu sebagai pengikat tali persaudaraan dan persahabatan di antara manusia.

Bagikan

Baca Juga

Separuh Lebih Keluarga Suku di India Tanpa Jaminan Kesehatan
Di Desa Tambak, Panen Madu Bermantra Hilang Saat Hutan Jadi Sawit
Tumbuhan Obat Suku Moronene Ada 57, Sagu Paling Bernilai Budaya
Agama Leluhur Talang Mamak Tertanam di Sungai, Ladang, dan Pohon
Remaja Gemuk Tetap Lebih Rentan Dirundung di Negara yang Aman
Orang Kajang Pantang Rumah Bata, Sebab Tanah Mengapit Orang Mati