Ingin Cantik Jadi Alasan Memutihkan Kulit di 26 dari 43 Studi

A A

Ilustrasi dua tangan perempuan mencolek krim dari wadah putih polos berlatar krem [Foto: Shvets Production/Pexels]

  • Keinginan tampil cantik atau menarik menempati urutan teratas dengan 26 penelitian.
  • Sebanyak 20 penelitian mencatat orang memutihkan kulit untuk pasangan atau supaya bisa menikah.
  • Angka pemakaian yang dihimpun Williams terentang lebar, dari 2 sampai 74 persen.
  • Williams hanya menemukan satu penelitian yang melaporkan hasil sebuah intervensi.
Daftar Isi
  1. Williams berangkat dari bahan yang dioleskan ke kulit
  2. Dua belas alasan dalam catatan Williams dan Webb
  3. Dari status sosial sampai lowongan kerja
  4. Siapa pemakainya menurut tabel Williams
  5. Hanya satu upaya pencegahan yang dicatat Williams
  6. Yang disarankan Williams setelah daftar itu selesai

Simon N. Williams membuka naskahnya dengan pertanyaan yang terdengar sederhana: mengapa orang memutihkan kulit? Untuk menjawabnya, peneliti Behavioural Insights Unit World Health Organization di Jenewa itu menghimpun 43 penelitian dari Afrika, Asia, Amerika, dan Eropa. Jawaban yang paling sering ia temukan adalah keinginan untuk tampak cantik, yang tercatat pada 26 penelitian. Di belakangnya berderet sebelas alasan lain, dari jodoh sampai lowongan kerja.

Hasil itu ditulis Williams bersama Trevor Webb, Anna-Leena Lohiniva, Elena Jardan, Lesley Onyon, dan Elena Altieri dalam artikel Why are people cosmetic skin whitening? A systematic review, yang dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Williams juga bernaung di School of Psychology, Swansea University, sedangkan Webb di Flinders University, Australia. Keenamnya mencatat bahwa isi naskah adalah tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan resmi World Health Organization.

Williams berangkat dari bahan yang dioleskan ke kulit

Yang ditelaah Williams adalah pemutihan kulit untuk keperluan kosmetik, bukan pengobatan yang diresepkan dokter. Praktik ini memakai bahan alami atau sintetis untuk mencerahkan warna kulit atau meratakannya. Naskah menyebut sejumlah bahan berbahaya yang lazim dipakai, yakni kortikosteroid, asam buah, hidrokuinon, dan merkuri. Semuanya bertujuan mengurangi kadar melanin di kulit, secara langsung ataupun tidak langsung.

Williams dan rekan menyebut praktik itu sebagai persoalan kesehatan masyarakat global. Mereka mengingatkan bahwa pemakaian merkuri pada sebagian produk pencerah kulit bertentangan langsung dengan Konvensi Minamata tentang Merkuri. Dengan merujuk tinjauan Nordin dan rekan, mereka menulis bahwa pemakaian jangka panjang produk tertentu berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker kulit, skabies, tekanan darah tinggi, diabetes, serta gangguan saraf dan ginjal.

Ukuran persoalannya ikut dicatat. Mengutip Arora dan Amin, Williams menulis bahwa pasar produk pencerah kulit ditaksir bernilai 8,8 miliar dolar AS per tahun dan diproyeksikan tumbuh menjadi 15,7 miliar dolar AS pada 2030. Meta-analisis Sagoe dan rekan atas 68 studi, yang juga dikutipnya, menemukan 27,67 persen orang di negara dan kelompok yang diteliti pernah memutihkan kulit sepanjang hidupnya.

Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara

Dua belas alasan dalam catatan Williams dan Webb

Dari 43 penelitian itu Williams dan Webb menarik dua belas tema, lalu menggolongkannya ke dalam tiga kelompok: faktor psikologis dan kognitif, faktor sosial dan budaya, serta faktor lingkungan. “Pemutihan kulit kosmetik adalah praktik yang kompleks, dipengaruhi oleh banyak faktor perilaku,” tulis Williams dan kelima rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Keinginan tampil cantik atau menarik menempati urutan teratas dengan 26 penelitian. Menurut Williams, pemakai memandang kulit yang lebih putih akan membuat dirinya merasa, atau dipandang, lebih rupawan. Tema ini muncul antara lain pada studi Darj dan rekan di Swedia, dan daftar negaranya dalam tabel Williams memuat pula Indonesia, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam.

Dua belas alasan orang memutihkan kulitAgar cantik atau menarik: Jumlah studi +26; Menarik pasangan atau menikah: Jumlah studi +20; Norma atau pengaruh sosial: Jumlah studi +20; Percaya diri: Jumlah studi +17; Agar tampak lebih putih: Jumlah studi +16; Status sosial: Jumlah studi +15; Demi pekerjaan: Jumlah studi +9; Kurang tahu risiko kesehatan: Jumlah studi +5; Tidak puas dengan warna kulit: Jumlah studi +4; Mode: Jumlah studi +4; Colorism: Jumlah studi +3; Iklan: Jumlah studi +3.Dua belas alasan orang memutihkan kulitJumlah studi yang mencatat tiap alasan, dari 43 studi1020300Agar cantik atau menarik26Menarik pasangan atau menikah20Norma atau pengaruh sosial20Percaya diri17Agar tampak lebih putih16Status sosial15Demi pekerjaan9Kurang tahu risiko kesehatan5Tidak puas dengan warna kulit4Mode4Colorism3Iklan3
Sumber: Simon N. Williams, Trevor Webb, Anna-Leena Lohiniva, Elena Jardan, Lesley Onyon, dan Elena Altieri, Why are people cosmetic skin whitening? A systematic review, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Alasan berikutnya menyangkut pasangan. Sebanyak 20 penelitian mencatat orang memutihkan kulit untuk pasangan yang sudah ada, untuk menarik calon pasangan, atau supaya bisa menikah. Williams menulis bahwa peserta perempuan melakukannya demi suami atau agar menarik bagi laki-laki. Namun studi Egbi dan rekan di Nigeria serta satu studi lain justru tidak menemukan dorongan itu sebagai pendorong yang bermakna.

Rasa percaya diri muncul pada 17 penelitian, sedangkan keinginan tampak lebih putih atau lebih cerah pada 16 penelitian, yang di sebagian studi disebut sebagai ingin terlihat lebih mirip orang Eropa. Empat penelitian, di antaranya karya Harper serta Ahmed dan Hamid, mencatat rasa tidak puas terhadap warna kulit sendiri. Williams mengaitkan tema terakhir ini dengan keinginan umum untuk tampil lebih putih.

Kurangnya pengetahuan tentang risiko kesehatan menjadi faktor penting pada lima penelitian. Akan tetapi Williams mencatat satu studi, garapan Wong dan rekan di India, yang menemukan orang tetap memutihkan kulit meski tahu efek sampingnya. Ia juga mencatat bahwa 16 penelitian menyebut alasan mengatasi masalah kulit, seperti menghilangkan jerawat, ruam, atau noda di wajah, yang pada sebagian orang menjadi alasan awal mulai memakai.

Dari status sosial sampai lowongan kerja

Kelompok kedua dalam susunan Williams adalah faktor sosial dan budaya. Sebanyak 15 penelitian menemukan pemutihan kulit dilakukan agar dipandang berstatus sosial lebih tinggi. Sebanyak 20 penelitian menyoroti norma dan pengaruh sosial, yakni teladan atau dorongan dari keluarga, teman, dan jejaring di sekitar pemakai. Studi Osei dan rekan atas siswi sekolah menengah di Ghana termasuk yang mencatat tema ini.

Sembilan penelitian menyebut pekerjaan. Menurut Williams, studi-studi itu menggambarkan kulit yang lebih cerah dipandang lebih profesional, atau dianggap menguntungkan untuk memperoleh pekerjaan dan menaikkan karier. Tema ini tercatat antara lain pada studi Nyoni-Kachambwa dan rekan di Zimbabwe serta pada etnografi Lasco dan Hardon di Filipina.

Williams memakai istilah colorism untuk pengistimewaan kulit yang lebih terang di dalam satu kelompok etnis atau ras. Tiga penelitian menelaahnya secara langsung. Studi Daftary dan rekan di Amerika Serikat mendapati skor colorism lebih tinggi pada pemakai produk pemutih. Studi Harper atas perempuan Afrika-Amerika mengaitkan perilaku memutihkan kulit dengan terserapnya ideal kecantikan kulit putih.

Penelitian ketiga, karya Adbi dan rekan di India, menelusuri bagaimana colorism yang mengakar dalam budaya membentuk rasa tidak berdaya pada perempuan. Rasa itu, tulis Williams, meramalkan kecenderungan mereka memilih produk pencerah yang lebih kuat dan lebih berisiko. Di luar tiga studi tersebut, ia menilai peran colorism masih perlu diteliti lebih jauh.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Kelompok ketiga, faktor lingkungan, paling sedikit diteliti. Tiga penelitian membahas iklan dan media, termasuk media sosial. Studi Shroff dan rekan di India menemukan media, televisi, dan iklan termasuk pemicu paling umum, meski Williams mengingatkan bahwa studi-studi itu tidak mengamati perilaku membeli. Empat penelitian menyebut mode, antara lain Lasco dan Hardon yang meneliti para pria muda di Filipina.

Siapa pemakainya menurut tabel Williams

Angka pemakaian yang dihimpun Williams terentang lebar, dari 2 sampai 74 persen. Di ujung bawah ada studi Darj dan rekan atas perempuan hamil di Swedia, dengan 2,6 persen pemakai. Di ujung atas ada studi Ahmed dan Hamid atas mahasiswi di Sudan, dengan 74,4 persen. Williams mengingatkan bahwa tiap studi mengukur hal berbeda: ada yang menghitung pemakaian saat ini, ada yang menghitung pemakaian seumur hidup.

Tinjauan pemutihan kulit, sekilasTinjauan pemutihan kulit, sekilasTinjauan pemutihan kulit, sekilasStudi dari Afrika 17, Asia 17, Amerika 7, Eropa 143studiyang ditinjau12alasantema utama2-74%pemakairentangantarstudi1intervensiyang diujiJalan risetnya1.232 catatan ditemukan816 catatan disaring43 studi dipakai
Sumber: Simon N. Williams, Trevor Webb, Anna-Leena Lohiniva, Elena Jardan, Lesley Onyon, dan Elena Altieri, Why are people cosmetic skin whitening? A systematic review, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Soal jenis kelamin, Williams menyimpulkan pemutihan kulit dilakukan laki-laki dan perempuan, tetapi lebih umum pada perempuan. Lima penelitian menemukan bahwa menjadi perempuan meramalkan pemakaian, atau pemakaian yang lebih intensif. Salah satunya survei Peltzer dan rekan atas 19.624 mahasiswa di 26 negara di Afrika, Asia, dan Amerika.

Usia muda juga menonjol. Enam penelitian yang menguji usia menemukan praktik ini lebih umum pada orang dewasa muda. Namun Williams memberi catatan: sebagian besar studi memakai sampel yang tidak mewakili penduduk, dan sebagian hanya merekrut mahasiswa. Pendidikan memberi gambaran yang bercabang. Dua studi di Arab Saudi, karya Bamerdah serta Alanzi, mengaitkannya dengan pendidikan tinggi.

Sebaliknya, beberapa studi di negara lain, misalnya Ghana dan Amerika Serikat, mengaitkan pemutihan kulit dengan pendidikan formal yang rendah. Williams menduga pola ini khas tiap negara dan budaya, tetapi menegaskan bahwa studi-studi yang ditinjaunya tidak menjawab pertanyaan itu. Delapan penelitian mengaitkan praktik ini dengan status ekonomi atau pekerjaan, termasuk studi Motlohi di Lesotho yang menemukannya lebih umum pada pekerja kasar.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Hanya satu upaya pencegahan yang dicatat Williams

Dari seluruh bahan itu, Williams hanya menemukan satu penelitian yang melaporkan hasil sebuah intervensi. Studi Santoso dan rekan di India menggelar kursus daring singkat selama tiga pekan dengan pendekatan bercerita. Setelah kursus, pengetahuan peserta tentang diskriminasi warna kulit dan tentang pemakaian produk pemutih naik secara bermakna.

Williams mencatat batas studi tersebut. Pesertanya hanya 25 orang, tidak ada kelompok pembanding, dan tidak diukur apakah kursus mengubah niat atau kebiasaan memutihkan kulit. Satu studi lain, karya Lewis dan rekan di Tanzania, baru sampai tahap merancang. Komponen yang diusulkan warga ialah pendidikan, tindakan pemerintah, dan media edukasi, tetapi rancangan itu tidak dijalankan ataupun diuji.

Tinjauan Williams sendiri punya keterbatasan yang ia tulis terang. Tidak ada penilaian resmi atas mutu studi atau risiko biasnya, dan 38 dari 43 penelitian tergolong bukti tingkat 4, kebanyakan survei sekali waktu. Hanya naskah berbahasa Inggris yang disertakan. “Penelitian mendatang juga perlu mencakup studi longitudinal yang mengikuti praktik pemutihan kulit dari waktu ke waktu,” tulis Williams dan rekan.

Yang disarankan Williams setelah daftar itu selesai

Williams menempatkan seluruh temuan dalam sejarah yang panjang. Dengan merujuk Blay, ia menulis bahwa pemutihan kulit kosmetik berakar pada rasisme global dan sejarah kolonial, ketika kulit putih dan kulit yang lebih terang diistimewakan serta dikaitkan dengan status dan kuasa. Sementara persoalan itu ditangani lewat strategi jangka panjang, menurutnya intervensi kesehatan masyarakat dapat membantu mengurangi pemakaian produk berbahaya dalam jangka pendek.

Bentuk intervensi yang ia sebut antara lain kampanye kesehatan masyarakat, persuasi lewat keluarga dan teman sebaya, serta label peringatan pada produk. “Regulasi untuk menarik atau membatasi penjualan produk atau bahan berbahaya juga akan mengurangi bahaya dan tidak memiliki sisi buruk dari sudut pandang kesehatan masyarakat,” tulis Williams dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Tujuan tinjauan ini, tulis Williams, ialah menyediakan dasar empiris bagi perancangan intervensi perilaku yang terarah. Ia menulis pula bahwa praktisi kesehatan masyarakat masih memerlukan alat untuk memahami bagaimana orang mulai, lalu terus, memakai produk pencerah kulit sepanjang hidupnya. Intervensi mendatang, menurut Williams, sebaiknya berpijak pada teori perilaku dan dinilai melalui uji acak terkendali yang bermutu tinggi.

Bagikan

Baca Juga

Skrining Kanker di Korea Turun pada 2022, Kecuali Kanker Hati
Tiga Nama Orang Rimba Ditentukan oleh Siapa yang Memanggilnya
Kasa Berinsektisida di Jendela dan Celah Atap Menahan Nyamuk
Hampir Dua dari Tiga Perokok Bangladesh Gagal Saat Coba Berhenti
Jamban Bertambah di India, Tinja Anak Tetap Dibuang Sembarangan
Warga Uzbekistan Kenal Hepatitis B, Sedikit Paham Cara Menularnya