- Dari 41 perempuan Klang Valley berusia 40-71 tahun, 24 belum rutin skrining kanker payudara dan 17 sudah rutin
- Delapan tema hambatan meliputi rasa takut, tabu budaya, kepasrahan pada nasib, dan sistem rujukan yang berbelit
- Enam tema pendorong didominasi anjuran dokter, dukungan keluarga, dan layanan gratis atau bersubsidi
- Cakupan mamografi nasional Malaysia turun dari 21,0 persen (2019) menjadi 12,8 persen (2023)
Daftar Isi
Skrining kanker payudara terdengar seperti keputusan yang sederhana. Seorang perempuan tahu risikonya, layanan tersedia, dan yang tersisa tinggal soal niat untuk datang. Wawancara terhadap perempuan urban di Klang Valley, Malaysia, membantah kesederhanaan itu, dan menunjukkan bahwa antara tahu dan datang terbentang rangkaian pertimbangan yang jauh lebih rumit daripada sekadar niat baik.
Temuan itu ditulis Ching Ee Loo, Nicholas Yee Liang Hing, Aimi Nadiah Mohamad Norzlen, Komathi Perialathan, Pei Xuan Kuan, Wan Mohd Shariffuddin Zainudin, Shazimah Abdul Samad, Zakiah Mohd Said, dan Wen Yea Hwong dalam Exploring women’s perspectives on barriers and facilitators to breast cancer screening among Malaysians: a qualitative study, terbit di BMC Public Health, tahun 2026. Sebagian besar penulis berasal dari Institute for Clinical Research dan Institute for Health Behavioural Research, National Institutes of Health, Kementerian Kesehatan Malaysia.
Jarak antara Tahu dan Pergi
Anggapan bahwa kesadaran akan otomatis berubah menjadi tindakan sering dipakai untuk menjelaskan rendahnya angka skrining, seolah-olah cukup memberi tahu perempuan bahwa kanker payudara berbahaya. Paper ini menunjukkan sebaliknya. Dari 41 perempuan berusia 40 sampai 71 tahun yang diwawancarai, 24 orang belum rutin menjalani pemeriksaan payudara klinis atau mamografi, sementara hanya 17 yang mengikuti jadwal yang dianjurkan. Kesenjangan itu tidak muncul karena mereka tidak pernah mendengar soal skrining, melainkan karena pengetahuan mereka berhenti di permukaan, tanpa sampai ke soal kapan harus memeriksakan diri atau ke mana harus pergi.
Salah satu peserta bahkan mengaku terkejut ketika mengetahui payudara dengan implan pun bisa diperiksa, sementara peserta lain meyakini dirinya tidak perlu skrining karena payudaranya dianggap kurang berkembang akibat gangguan hormon. Kekosongan pengetahuan semacam ini, menurut peneliti, sejajar dengan kebingungan lain yang lebih praktis: sejumlah perempuan menyatakan ingin memeriksakan diri tetapi tidak tahu harus menghubungi siapa atau datang ke mana. Niat baik, dalam banyak kasus, berhenti di titik itu.
Ketakutan yang Tidak Sama Bentuknya
Rasa takut biasa dianggap sebagai satu hal saja, padahal dalam wawancara ini ia terbelah menjadi beberapa wajah yang berbeda. Sebagian perempuan takut pada rasa sakit saat payudara dijepit mesin mamografi, sebagian lain takut pada hasil pemeriksaan itu sendiri, dan sebagian kecil bahkan takut pada teknologinya, meyakini radiasi mamografi bisa mencederai tubuh mereka. Ketakutan-ketakutan itu tidak saling menggantikan; ia menumpuk pada perempuan yang sama, membuat satu ketakutan yang berhasil diredakan tetap disusul ketakutan lain yang menunggu.
Di antara ketakutan itu, ada satu bentuk kepasrahan yang justru paling menohok. Ketika ditanya alasan tidak pernah memeriksakan diri, seorang ibu rumah tangga menjawab dengan ketegasan yang jarang muncul dalam wawancara semacam ini.
“Kalau sesuatu terjadi, itu memang nasib. Bahkan ketika suami saya menyuruh saya pergi memeriksakan diri, saya tidak akan bergerak, dan saya tahu itu tentang diri saya sendiri,” kata seorang ibu rumah tangga berusia 48 tahun yang belum rutin menjalani skrining, sebagaimana dikutip peneliti dari transkrip wawancara berbahasa Inggris: “When something happens, it is your fate. Even when my husband tells me to go and get it done, I won’t move, and I know that about myself.”
Kalimat itu meletakkan skrining di luar jangkauan pilihan pribadi, seolah hasil kesehatan sudah ditentukan sebelum pemeriksaan dilakukan. Peneliti mencatat keyakinan semacam ini sebagai bentuk resignation to fate, kepasrahan pada takdir, yang menurut mereka menggeser manfaat deteksi dini menjadi sesuatu yang terasa tidak relevan bagi sebagian perempuan, betapapun kerasnya orang terdekat mendorong.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Ketika Sistem Ikut Menghalangi
Bukan hanya perasaan pribadi yang menahan langkah perempuan menuju klinik. Sejumlah peserta menceritakan kesulitan mengatur waktu di antara pekerjaan formal yang tidak fleksibel, tanggung jawab momong cucu yang hanya bisa ditinggal pada akhir pekan, dan jadwal antar-jemput anak sekolah yang tidak bisa diganggu. Waktu tunggu di pusat skrining pun ikut menambah beban; seorang peserta menceritakan janji temu pukul setengah sepuluh pagi yang baru selesai pukul empat sore, memakan hampir sehari penuh kerja.
Rasa malu terhadap tubuh sendiri turut menyulitkan sebagian perempuan Melayu, terutama ketika petugas yang memeriksa adalah laki-laki. Di sisi lain, ada juga peserta yang mencurigai motif di balik program skrining pemerintah, khawatir data mereka disalahgunakan untuk penelitian medis tanpa sepengetahuan mereka. Kecurigaan seperti ini, menurut peneliti, adalah gejala ketidakpercayaan pada sistem kesehatan yang lebih luas, bukan sekadar keraguan personal terhadap satu prosedur pemeriksaan.
Hambatan struktural melengkapi daftar itu. Rujukan yang berbelit, jadwal yang terganggu tumpukan antrean sisa pandemi Covid-19, dan keharusan mendatangi beberapa lokasi berbeda untuk satu rangkaian pemeriksaan membuat sejumlah perempuan akhirnya menyerah di tengah jalan. Delapan tema hambatan yang dipetakan peneliti, dari kesenjangan pengetahuan hingga akses layanan, sebagian besar jatuh pada satu kategori yang sama dalam kerangka Health Belief Model: perceived barriers, rintangan yang dirasakan sebelum seseorang benar-benar sampai ke ruang periksa.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Yang Justru Mendorong Perempuan Datang
Namun paper ini tidak berhenti pada daftar hambatan. Enam tema pendorong muncul dari wawancara yang sama, dan yang paling sering disebut adalah anjuran langsung dari dokter. Ketika seorang dokter meminta pasiennya memeriksakan diri, permintaan itu tampak lebih meyakinkan daripada kampanye kesehatan mana pun. Dukungan keluarga dan teman turut berperan, mulai dari suami yang mengantar sampai teman yang mengajak periksa bersama, sementara sebagian lain terdorong justru setelah menyaksikan sendiri dampak kanker pada orang terdekat.
Layanan gratis atau bersubsidi, pengingat lewat pesan singkat, dan kegiatan yang digabung dalam satu kunjungan turut disebut sebagai pendorong yang meringankan beban logistik. Enam tema ini, berbeda dari delapan tema hambatan tadi, mayoritas berada pada kategori cues to action dalam kerangka yang sama, isyarat yang mendorong seseorang bertindak setelah sekian lama menunda. Perbedaan kategori itulah yang menjadi pola paling jelas dalam keseluruhan penelitian.
Kesamaan di Balik Tiga Etnis
Peserta penelitian ini terdiri atas 14 perempuan Melayu, 15 Tionghoa, dan 12 India, sebuah komposisi yang sengaja dijaga agar mencerminkan keberagaman Klang Valley. Menariknya, pola hambatan dan pendorong yang muncul tidak jauh berbeda di antara ketiga kelompok itu. Rasa malu terhadap tubuh memang lebih sering disebutkan peserta Melayu, dan potensi organisasi keagamaan sebagai jalur promosi kesehatan disinggung oleh satu peserta India, tetapi selebihnya kesamaan lebih menonjol daripada perbedaan.
Kesamaan lintas etnis itu penting justru karena ia menyingkirkan satu asumsi yang sering dipakai dalam kebijakan kesehatan: bahwa hambatan skrining adalah persoalan budaya tertentu yang butuh solusi terpisah-pisah untuk tiap kelompok. Data ini menunjukkan sebaliknya, kebutuhan dasarnya serupa, hanya butuh sentuhan penyesuaian pada bagian-bagian tertentu.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Yang Tak Sepenuhnya Selesai
Peneliti sendiri mengakui penelitian ini punya batas. Perekrutan sebagian dilakukan lewat jejaring profesional dan sosial tim peneliti serta panel riset pasar, sehingga perempuan yang lebih melek kesehatan dan nyaman membicarakan skrining berpotensi lebih terwakili, sementara suara kelompok yang lebih terpinggirkan bisa jadi kurang terdengar. Perempuan urban yang hanya fasih berbahasa Mandarin atau Tamil pun mungkin kurang tercakup, karena wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris atau Melayu.
Ada satu kejanggalan kecil yang layak dicermati pembaca. Bagian metode menyebut 68 perempuan didekati, 42 setuju diwawancarai, dan seorang di antaranya kemudian meminta datanya ditarik sehingga sampel akhir menjadi 41 orang. Namun paper tidak pernah menjelaskan alasan penarikan itu, maupun apakah wawancara yang ditarik termasuk salah satu dari 36 wawancara pertama yang disebut mencapai titik saturasi tema, atau justru salah satu dari lima wawancara tambahan sesudahnya. Rincian yang hilang ini kecil, tetapi ia menyisakan celah kecil dalam kronologi yang seharusnya bisa ditelusuri urut.
“Tackling these requires tailored, community-centric strategies, including employer partnerships, provider-led recommendations and health programmes, mobile screening units, and culturally sensitive outreach,” tulis Ching Ee Loo dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris. Kalimat itu, jika diterjemahkan, kurang lebih berbunyi: mengatasi persoalan ini membutuhkan strategi yang disesuaikan dan berpusat pada komunitas, termasuk kemitraan dengan pemberi kerja, rekomendasi dari tenaga kesehatan dan program kesehatan, unit skrining bergerak, serta pendekatan yang peka budaya.
Kalimat penutup penelitian ini terdengar seperti resep kebijakan, rapi dan lengkap dengan daftar strategi. Tetapi di balik daftar itu ada seorang ibu rumah tangga yang meyakini nasibnya sudah ditentukan, seorang perempuan yang baru tahu payudara berimplan bisa diperiksa, dan seorang lain yang menahan diri karena takut disentuh petugas laki-laki. Pertanyaannya bukan lagi apakah program-program itu akan dijalankan, melainkan apakah program itu dirancang cukup dekat dengan alasan-alasan personal yang membuat perempuan seperti mereka memilih untuk tidak datang.















