- Hanya 50 dari 700 perempuan (7,1 persen) di klinik ginekologi Phramongkutklao Hospital, Bangkok, berpengetahuan memadai tentang inkontinensia urine
- Perempuan bergejala berat lebih jarang tahu: 3,0 persen berbanding 12,8 persen pada yang bergejala ringan, bertahan setelah penyesuaian (aOR 0,25)
- Pendidikan menengah ke atas dan bekerja sebagai tenaga kesehatan adalah dua faktor yang menaikkan pengetahuan
- Semua peserta berbobot berlebih dan dari satu rumah sakit kota, sehingga temuan tidak bisa digeneralisasi
Daftar Isi
Orang yang paling sering mengalami sesuatu semestinya paling tahu tentang hal itu, dan begitulah cara sistem kesehatan biasanya berpikir tentang keluhan yang menahun. Perempuan yang sering mengompol tanpa sengaja, misalnya, dianggap akan mencari tahu sendiri apa yang terjadi pada tubuhnya, lalu datang ke dokter. Di sebuah klinik ginekologi di Bangkok, anggapan itu ternyata bekerja terbalik: yang paling terganggu justru yang paling sedikit tahu.
Temuan itu ditulis Wanchat Komon, Pannicha Chonwarangkoon, dan Apisith Saraluck dalam The knowledge–symptom paradox in urinary incontinence: a health literacy and equity challenge in urban Southeast Asia, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1011 tahun 2026. Ketiganya bekerja di Phramongkutklao Hospital and College of Medicine, Phyathai2 Hospital, dan Faculty of Medicine Ramathibodi Hospital, Mahidol University, semuanya di Bangkok. Naskahnya berbahasa Inggris.
Kejanggalan yang mereka namai paradoks pengetahuan-gejala itu muncul dari 700 perempuan Thailand berusia 20 sampai 90 tahun yang datang ke klinik ginekologi Phramongkutklao Hospital sepanjang Mei sampai Oktober 2024. Semuanya berbobot berlebih, dengan indeks massa tubuh 25 atau lebih, karena penelitian induknya memang menyasar kelompok berisiko tinggi inkontinensia urine. Usia rata-rata mereka 49 tahun, dan separuhnya lebih dari 50 tahun.
Bagaimana gejala dan pengetahuan diukur terpisah
Inkontinensia urine adalah keluarnya urine tanpa bisa ditahan, dan paper ini mengukurnya dengan lima pertanyaan domain inkontinensia dari kuesioner ICIQ-FLUTS versi Thai yang berskala nol sampai 20. Perempuan dengan skor lima atau lebih digolongkan bergejala berat. Pengetahuan tentang kondisi itu diukur dengan kuesioner lain, PIKQ-UI versi Thai, dua belas soal tentang penyebab, diagnosis, dan pengobatan inkontinensia. Benar sembilan soal dari dua belas dihitung sebagai pengetahuan memadai.
Dua alat ukur yang terpisah itulah yang memungkinkan kedua hal disandingkan. Kalau gejala berat dan pengetahuan diukur oleh pertanyaan yang sama, hubungan keduanya tidak bisa diuji. Karena itu, dengan dua kuesioner, para peneliti bisa bertanya apakah perempuan yang skor gejalanya tinggi juga menjawab soal pengetahuan lebih baik. Jawabannya, seperti akan terlihat, tidak.
Mengapa hasilnya rendah di semua ambang
Skor pengetahuan rata-rata seluruh peserta hanya 6,2 dari 12, atau 51,8 persen benar. Dari 700 perempuan, hanya 50 orang atau 7,1 persen yang mencapai pengetahuan memadai; 650 sisanya tidak. Persoalannya bukan pada batas sembilan soal yang dipilih. Ketika batas diturunkan ke tujuh soal benar, yang lolos tetap cuma 126 orang atau 18 persen; ketika dinaikkan ke sepuluh soal, tinggal 24 orang atau 3,4 persen.
Angka-angka itu menerangkan satu hal sebelum paradoksnya dibahas: pengetahuan tentang inkontinensia urine di kelompok ini rendah secara merata, bukan hanya di satu lapisan. Paper menyebut kesenjangan pengetahuan itu merata pada ambang mana pun yang dipakai. Yang membuatnya rumit adalah pola di dalam angka rendah itu, yakni ke mana sedikit pengetahuan yang ada itu terkumpul.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Ke mana pengetahuan yang sedikit itu terkumpul
Gejala berat dialami 404 perempuan atau 57,7 persen peserta, sedangkan 296 orang bergejala ringan. Di kelompok gejala berat, hanya 12 orang atau 3,0 persen yang berpengetahuan memadai. Di kelompok gejala ringan, jumlahnya 38 orang atau 12,8 persen. Selisih absolutnya 9,8 poin persen, dan uji kai kuadrat memberi nilai 25,1 dengan p kurang dari 0,001. Yang lebih terganggu, lebih sedikit tahu.
Hubungan itu tidak hilang ketika faktor lain diperhitungkan. Sesudah disesuaikan dengan usia, indeks massa tubuh, pendidikan, dan status sebagai tenaga kesehatan, gejala berat tetap terkait dengan peluang pengetahuan memadai yang lebih rendah, dengan rasio peluang tersesuaikan 0,25 dan interval kepercayaan 0,09 sampai 0,71. Dalam bahasa paper, peluang perempuan bergejala berat untuk berpengetahuan memadai hampir 80 persen lebih rendah.
Ada satu catatan yang menahan tafsir terlalu jauh. Ketika skor gejala dan skor pengetahuan diperlakukan sebagai angka kontinu, bukan dua kelompok, korelasinya lemah dan tidak bermakna: r sebesar minus 0,057 dengan p 0,135. Artinya, makin tinggi skor gejala tidak serta-merta makin rendah skor pengetahuan secara bertahap. Yang terlihat jelas adalah perbedaan pada ambang memadai, bukan garis menurun yang rapi.
Siapa yang tahu, dan mengapa
Dua faktor bekerja ke arah sebaliknya. Pendidikan menengah ke atas menaikkan peluang pengetahuan memadai dengan rasio peluang tersesuaikan 1,72. Status sebagai tenaga kesehatan menaikkannya jauh lebih besar, dengan rasio 27,99, tetapi interval kepercayaannya membentang dari 7,93 sampai 98,86 karena hanya 15 dari 700 peserta yang bekerja di bidang kesehatan. Usia di atas 50 tahun dan indeks massa tubuh tidak terkait bermakna dengan pengetahuan.
Angka tenaga kesehatan itu menyimpan petunjuk lain. Dari 15 tenaga kesehatan, 14 orang berada di kelompok gejala ringan dan hanya satu di kelompok gejala berat. Kelompok gejala berat juga sedikit lebih tua, 49,9 berbanding 47,2 tahun, dan indeks massa tubuh mediannya lebih tinggi, 29,4 berbanding 27,9. Penyesuaian statistik dimaksudkan menyerap perbedaan itu, dan menurut paper hubungan terbaliknya bertahan.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Cara paradoks ini bekerja menurut penulisnya
Paper mengajukan beberapa mekanisme yang saling berkait. Stigma dan rasa malu membatasi perempuan mengungkapkan keluhannya dan mencari informasi. Pertemuan di klinik cenderung mendahulukan peredaan gejala ketimbang edukasi yang terstruktur. Norma budaya menganggap mengompol sebagai bagian wajar dari menua, dan sistem kesehatan yang terpecah-pecah memperlebar jurangnya. Pendidikan dan pekerjaan, dua penentu sosial, terbukti membentuk pengetahuan.
Kesimpulannya diletakkan di luar diri perempuan itu sendiri. “Dengan demikian, paradoks ini mencerminkan hambatan sistemik dan sosial, bukan perilaku individu,” tulis Wanchat Komon, Pannicha Chonwarangkoon, dan Apisith Saraluck dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Di bagian simpulan, mereka menyebut perempuan yang paling terbebani gejala adalah yang paling kecil kemungkinannya mengetahui kondisinya sendiri, dan itu memperlihatkan batas edukasi yang hanya digerakkan oleh gejala.
Karena itu, rekomendasi mereka menjauh dari model menunggu pasien bertanya. “Sistem kesehatan seharusnya tidak bergantung pada edukasi reaktif yang diprakarsai pasien,” tulis ketiganya. Edukasi inkontinensia, menurut paper, perlu dilekatkan ke layanan primer, kesehatan reproduksi, dan program penyakit tidak menular, disampaikan kader komunitas dengan cara yang mengurangi stigma, serta dibawa ke sekolah, tempat kerja, dan media.
Di mana penjelasan ini berhenti
Batasnya ditulis sendiri oleh para penulis. Rancangannya potong lintang, sehingga arah sebab-akibat tidak bisa ditentukan; datanya dari satu rumah sakit rujukan tersier di kota, sehingga belum tentu berlaku di desa atau di puskesmas. Pesertanya hanya perempuan berbobot berlebih, sehingga tidak bisa digeneralisasi ke perempuan dengan indeks massa tubuh normal. Yang diukur pun pengetahuan faktual, bukan literasi kesehatan yang lebih luas atau perilaku nyata.
Ada pula soal sampel yang layak diingat pembaca. Pendahuluan paper menyebut inkontinensia mengenai hampir sepertiga perempuan Thailand paruh baya dan lanjut usia, tetapi di penelitian ini 57,7 persen peserta bergejala berat. Selisih itu bukan kontradiksi, melainkan akibat memilih perempuan berbobot berlebih yang sudah datang ke klinik ginekologi. Angka 3,0 persen dan 12,8 persen berlaku untuk kelompok itu, bukan untuk perempuan Thailand pada umumnya.
Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Beberapa hal di dalam naskah bisa diperiksa langsung. Median indeks massa tubuh seluruh peserta ditulis 29,9 di teks hasil, tetapi 28,9 di Tabel 1 dengan rentang interkuartil yang sama, 26,1 sampai 32,4. Kepanjangan PIKQ pada bagian singkatan adalah Prolapse and Incontinence Knowledge Questionnaire, sedangkan bagian pengukuran menulisnya Patient Knowledge in Incontinence Questionnaire. Nilai p untuk pendidikan dan status menikah di Tabel 1 sama persis, 0,042.
Kejanggalan yang lebih substantif menyangkut berat badan. Abstrak dan teks menyebut proporsi gejala berat secara deskriptif meningkat pada kategori indeks massa tubuh yang lebih tinggi. Tabel 1 justru memperlihatkan 61,9 persen perempuan kelebihan berat bergejala berat, lebih tinggi daripada 46,9 persen pada obesitas kelas I, 23 dari 58 orang pada kelas II, dan 17 dari 34 orang pada kelas III. Median yang lebih tinggi di kelompok gejala berat memang benar, tetapi arah per kategori tidak searah dengan kalimatnya.
Kembali ke kejanggalan pembuka: mengapa yang paling sering mengompol bukan yang paling tahu? Paper ini tidak menjawabnya dengan satu sebab, melainkan dengan satu pengukuran yang memperlihatkan bahwa gejala tidak mengajarkan apa-apa dengan sendirinya. Pengetahuan datang dari sekolah dan dari bekerja di bidang kesehatan, bukan dari tubuh yang terus-menerus memberi tanda. Selama edukasi menunggu perempuan datang bertanya, mereka yang paling terganggu tetap yang paling akhir diberi tahu.















