- Skor lelah mengasuh ibu anak tidak stunting 30,5, ibu anak stunting hanya 12,0
- Skor perilaku sikat gigi ibu anak tidak stunting 9,0 berbanding 8,0
- Kelelahan mengasuh tidak berkaitan dengan perilaku sikat gigi di kedua kelompok
- Model hanya menjelaskan 10,1 persen variasi; status stunting dari catatan Posyandu
Daftar Isi
Dea Shita Ramanda datang ke tiga Posyandu di Bandung dengan dua lembar kuesioner. Satu mengukur seberapa lelah seorang ibu menjalani peran mengasuh, satu lagi mencatat bagaimana ibu itu mengurus gigi anaknya. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran ini menemui 208 ibu balita di Posyandu Sukapakir, Puter, dan Tamansari antara Mei dan Juni 2026, separuh lebih di antaranya ibu dari anak yang tercatat stunting.
Hasilnya ditulis Ramanda bersama Fitri Ariyanti Abidin dari Fakultas Psikologi dan Arlette Suzy Setiawan dari Departemen Kedokteran Gigi Anak Universitas Padjadjaran dalam Maternal burnout and oral health behavior among mothers of stunted and non-stunted preschool children in Bandung, Indonesia: a comparative cross-sectional study, terbit di BMC Public Health volume 26 sebagai naskah dalam proses terbit, tahun 2026. Naskah itu berbahasa Inggris, dan Setiawan tercatat sebagai penulis korespondensi.
Ramanda dan dua pembimbingnya berangkat dari dugaan yang terdengar masuk akal. Ibu yang anaknya stunting, tulis mereka, kerap disebut menanggung tekanan tambahan: memantau makan, menimbang berat, bolak-balik ke layanan kesehatan. Karena itu mereka menduga ibu anak stunting akan lebih lelah, dan ibu yang lebih lelah akan lebih longgar mengurus gigi anaknya. Dugaan pertama ternyata terbalik, dan dugaan kedua tidak terbukti.
Ramanda memilah 208 ibu di tiga Posyandu
Ramanda tidak mengukur tinggi anak sendiri. Status stunting diambil dari catatan pemantauan pertumbuhan Posyandu yang dikerjakan kader di bawah pengawasan petugas gizi Puskesmas, dengan batas tinggi menurut usia di bawah minus dua simpangan baku. Dari catatan itu ia mengumpulkan 108 ibu anak stunting lebih dulu, baru kemudian 100 ibu anak tidak stunting dari Posyandu yang sama. Anak mereka berusia 24 sampai 72 bulan.
Syarat yang dipasang Ramanda cukup ketat untuk urusan pengasuhan. Ibu harus ibu kandung, pengasuh utama, dan mengurus anak sehari-hari tanpa bantuan tetap pengasuh lain. Kelelahan mengasuh diukur dengan 23 pernyataan versi Indonesia yang disusun tim Abidin sebelumnya, dengan skor 0 sampai 138. Perilaku gigi diukur lewat lima hal: seberapa sering menyikat, kapan, berapa lama, bagaimana caranya, dan apakah memakai pasta berfluorida.
Kedua kelompok yang dibandingkan Ramanda mirip pada usia ibu, median 30 dan 32 tahun, dan pada jenis kelamin anak, sekitar 58 persen laki-laki di keduanya. Yang berbeda adalah usia anak dan pendidikan ibu. Anak yang tidak stunting lebih tua, median 48,5 bulan berbanding 36 bulan. Ibu anak stunting sebagian besar berpendidikan menengah, 72,2 persen, sementara ibu anak tidak stunting lebih tersebar ke pendidikan dasar dan tinggi.
Abidin membaca skor lelah yang terbalik
Angka yang paling mengejutkan tim Ramanda muncul di skor kelelahan mengasuh. Ibu anak tidak stunting mencatat median 30,5, sedangkan ibu anak stunting hanya 12,0. Selisihnya besar; ukuran efek yang mereka hitung 0,630. Rentangnya pun bergeser: ibu anak stunting bergerak dari 0 sampai 83, ibu anak tidak stunting dari 9 sampai 86. Tidak satu pun ibu anak tidak stunting yang skornya nol.
Ramanda, Abidin, dan Setiawan tidak berpura-pura tahu sebabnya. “Bertentangan dengan hipotesis kami, ibu dari anak yang tidak stunting melaporkan skor kelelahan mengasuh yang lebih tinggi. Studi ini tidak dapat menentukan mengapa perbedaan itu terjadi,” tulis ketiganya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Mereka hanya menyodorkan kemungkinan: anak yang lebih tua, jumlah anak, pekerjaan, dukungan keluarga, atau harapan pengasuhan yang tidak mereka ukur.
Satu kemungkinan lain yang disebut Abidin dan rekan-rekannya justru menyangkut Posyandu itu sendiri. Ibu yang anaknya tercatat stunting, tulis mereka, mungkin lebih sering bersentuhan dengan layanan kesehatan dan mendapat dukungan lewat pemantauan pertumbuhan rutin. Namun mereka menegaskan bahwa penjelasan ini belum diuji dan harus dibaca sebagai dugaan, bukan keterangan yang sudah mapan.
Perlu dicatat pula bahwa tim Ramanda tidak memakai batas untuk menyebut seorang ibu “mengalami burnout.” Skor dianalisis sebagai angka bersambung, tanpa golongan rendah, sedang, atau tinggi. Angka 30,5 dan 12,0 karena itu hanya menunjukkan bahwa satu kelompok lebih lelah daripada kelompok lain, bukan berapa banyak ibu yang kelelahannya sudah mencapai taraf yang mengkhawatirkan.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Setiawan menghitung selisih satu poin di sikat gigi
Di sisi perilaku gigi, arah temuannya sesuai dugaan Setiawan dan rekan-rekannya. Ibu anak tidak stunting mencatat skor median 9,0, ibu anak stunting 8,0. Selisih satu poin itu bermakna secara statistik dengan ukuran efek sedang, 0,304. Setelah usia ibu, usia anak, pendidikan, jenis kelamin anak, dan skor kelelahan diperhitungkan bersama, selisihnya tetap ada: 1,09 poin lebih tinggi pada ibu anak tidak stunting.
Setiawan dan rekan-rekannya membaca angka ini dengan hati-hati. “Temuan ini mendukung kemungkinan bahwa ketimpangan dalam status pertumbuhan anak berjalan beriringan dengan ketimpangan dalam perawatan gigi pencegahan sehari-hari,” tulis mereka. Ibu anak stunting, menurut dugaan mereka, mungkin sedang menghadapi tuntutan pengasuhan yang bersaing, keterbatasan informasi atau perlengkapan, dan kesulitan membangun rutinitas yang ajek.
Namun tim Ramanda menolak menyebut stunting sebagai penyebab perilaku ibu. Data diambil pada satu waktu, sehingga tidak diketahui mana yang lebih dulu. Status stunting anak, tulis mereka, mungkin sekadar mencerminkan keadaan rumah tangga yang lebih luas: pendapatan, ketahanan pangan, pekerjaan ibu, akses layanan, dukungan keluarga. Faktor-faktor itu bisa memengaruhi pertumbuhan anak dan kebiasaan sikat gigi sekaligus.
Ramanda tidak menemukan kaitan lelah dan sikat gigi
Pertanyaan utama Ramanda sebenarnya bukan kelompok mana yang lebih lelah, melainkan apakah ibu yang lebih lelah mengurus gigi anak lebih buruk. Jawabannya tidak, di kedua kelompok. Pada ibu anak stunting, korelasinya 0,080 dan tidak bermakna. Pada ibu anak tidak stunting, korelasinya minus 0,149, juga tidak bermakna. Dalam model regresi, tiap poin tambahan kelelahan hanya menggeser skor gigi sebesar minus 0,002.
Abidin, yang berlatar psikologi perkembangan, dan kedua rekannya menawarkan penjelasan mengapa kelelahan tidak merembes ke sikat gigi. “Perawatan gigi harian mungkin berfungsi sebagai rutinitas keluarga yang sudah menjadi kebiasaan atau sangat terstruktur, yang tetap dipertahankan bahkan ketika ibu mengalami kelelahan psikologis,” tulis mereka. Menyikat gigi, lanjut mereka, kegiatan singkat dan berulang yang mungkin dianggap tanggung jawab dasar seorang pengasuh.
Ramanda dan rekan-rekannya membedakannya dari urusan pengasuhan lain. Kegiatan yang menuntut perencanaan panjang, keterlibatan emosi, atau bolak-balik ke layanan kesehatan, tulis mereka, mungkin lebih peka terhadap kelelahan. Alat ukur kelelahan yang mereka pakai menangkap keletihan, jarak emosional, dan rasa muak mengasuh; alat ukur gigi menangkap perilaku konkret yang lebih ditentukan pengetahuan, ketersediaan alat, dan kebiasaan.
Ada satu angka yang bisa menyesatkan pembaca, dan tim Ramanda sengaja menandainya. Ketika kedua kelompok digabung, muncul korelasi positif yang bermakna, 0,183. Angka itu, tulis mereka, kemungkinan lahir dari perbedaan besar antarkelompok: ibu anak tidak stunting kebetulan lebih lelah sekaligus lebih baik mengurus gigi. Bila dibaca per kelompok, hubungan itu lenyap, dan bacaan per kelompok inilah yang mereka anggap tepat.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Setiawan mengukur seberapa banyak yang belum terjelaskan
Model yang disusun tim Setiawan hanya menerangkan 10,1 persen variasi skor sikat gigi ibu. “Dengan demikian, sekitar 90% variabilitas yang teramati dalam perilaku kesehatan gigi ibu tidak dijelaskan oleh variabel yang dimasukkan dalam model,” tulis ketiganya. Yang belum masuk hitungan, menurut mereka, antara lain pengetahuan ibu soal gigi, penghasilan rumah tangga, dukungan keluarga, ketersediaan pasta berfluorida, dan kerja sama anak saat giginya disikat.
Keterbatasan lain diakui Ramanda secara terbuka. Ibu yang datang ke Posyandu mungkin lebih peduli pada layanan pencegahan daripada yang tidak datang, sehingga temuan ini tidak mewakili semua ibu di Bandung. Kelompok pembanding direkrut belakangan, bukan bersamaan. Semua data adalah laporan ibu sendiri, diisi saat peneliti berada di dekatnya, sehingga jawaban yang lebih baik dari kenyataan tidak bisa disingkirkan. Tidak ada pemeriksaan plak atau karies.
Dari semua itu, Setiawan dan rekan-rekannya menarik satu saran praktis. Karena kelelahan tidak berkaitan dengan sikat gigi, dukungan perawatan gigi tidak perlu dibatasi pada ibu yang tampak tertekan; ia bisa disisipkan ke kegiatan Posyandu untuk semua ibu, berupa konseling singkat, peragaan menyikat gigi sesuai usia, dan rujukan. Sebaliknya, dukungan psikologis tidak boleh dibatasi pada keluarga anak stunting saja, sebab justru ibu anak tidak stunting yang lebih lelah.
Bagian naskah yang bisa diperiksa pembaca
Ada beberapa hal dalam naskah Ramanda, Abidin, dan Setiawan yang layak dicermati. Judul memakai istilah kelelahan ibu (maternal burnout), tetapi abstrak, tabel hasil, dan kesimpulan berganti-ganti menyebut kelelahan orang tua (parental burnout). Bagian instrumen menamai alat ukurnya Maternal Burnout Assessment dengan singkatan PBA-ID, padahal rujukan yang mereka kutip, karya tim Abidin sendiri, berjudul Parental Burnout Assessment.
Bagian metode Ramanda menyebut indeks OHB mengukur praktik kebersihan gigi harian anak, sementara judul dan seluruh analisis menyebutnya perilaku kesehatan gigi ibu. Naskah menyatakan tidak ada data yang hilang, tetapi bagian ketersediaan data menulis tidak ada set data yang dihasilkan atau dianalisis dalam studi ini. Pernyataan pendanaan menyebut riset tidak menerima dana, sedangkan ucapan terima kasih menyebut biaya publikasi ditanggung Unpad lewat LPDP.
Baca juga RPJMD Rajin Menulis Target, Hemat Menulis Capaian Lalu
Dea Shita Ramanda pulang dari tiga Posyandu dengan dua dugaan yang tidak selamat. Ibu anak stunting yang ia kira paling lelah ternyata mencatat skor terendah, dan kelelahan yang ia kira akan mengendurkan sikat gigi ternyata tidak menggeser apa-apa. Yang tersisa di tangannya adalah selisih satu poin skor gigi antara dua kelompok ibu, dan pengakuan tertulis bahwa sembilan persepuluh cerita di balik angka itu belum ia dan pembimbingnya ketahui.














