- Prevalensi stunting rendah di bawah 12 bulan, naik tajam sesudahnya, puncak 29,7 persen pada 31 bulan; wasting dan underweight naik bersamaan
- Tiap 1 poin persen underweight berpadanan dengan 0,93 poin stunting; wasting bekerja sepenuhnya lewat underweight (koefisien baku 0,83 lalu 0,69)
- Imunisasi dasar lengkap menekan wasting (koefisien baku -0,49); MP-ASI tepat waktu satu-satunya cakupan dengan jalur langsung ke stunting
- 51 persen anak stunting ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Banten; data agregat provinsi, bukan sebab-akibat individu
Daftar Isi
Seorang anak Indonesia bisa melewati tahun pertamanya dengan panjang badan yang wajar, lalu mulai tertinggal justru sesudah ulang tahun pertama. Kurva prevalensi stunting nasional memang landai pada bayi di bawah dua belas bulan dan baru menanjak tajam sesudahnya. Kejanggalannya, program penurunan stunting selama ini bertumpu pada seribu hari pertama yang sebagian besar sudah lewat ketika kurva itu naik. Apa yang sebenarnya bergerak di tahun kedua?
Jawabannya dicari Iwan Ariawan, Hafizah Jusril, Zahra Izza Afifa, Azka Fitri, Elmarizha Sekar Utami, Mikail Hasan, dan Dwi Puspasari dalam Intervention Levers for Stunting Reduction in Indonesia: Evidence from the 2023 Indonesian Health Survey Data, terbit di Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional volume 21 nomor 2, tahun 2026. Ariawan mengajar biostatistika di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, lima penulis lain bekerja di Reconstra Utama Integra, Jakarta, dan Puspasari berasal dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan.
Bahan mereka bukan anak satu per satu, melainkan angka agregat tiap provinsi dari Survei Kesehatan Indonesia 2023, survei yang menjangkau 284.178 rumah tangga dengan balita. Lima belas variabel dipilih, lalu diurai dengan pemodelan persamaan struktural untuk melihat jalur mana yang paling kuat membawa satu provinsi pada prevalensi stunting anak di bawah dua tahun yang tinggi. Analisis ini disebut sebagai permintaan langsung Kementerian Kesehatan untuk rekomendasi kebijakan tahun 2024.
Mengapa kurva baru naik sesudah setahun
Survei 2023 mencatat prevalensi stunting balita 21,5 persen, kira-kira 4,84 juta dari 22,5 juta anak. Angka nasional itu menyembunyikan pola umur yang terjal. Pada bayi di bawah dua belas bulan prevalensinya rendah, hanya ada lonjakan kecil pada umur dua sampai enam bulan yang kemudian turun kembali. Lonjakan kedua jauh lebih tinggi dan dimulai sekitar dua belas bulan, mencapai puncak 29,7 persen pada umur 31 bulan.
Yang membuatnya penting, tiga bentuk kurang gizi naik bersamaan pada titik yang sama. Stunting, wasting atau berat badan kurang menurut panjang badan, dan underweight atau berat badan kurang menurut umur, sama-sama menanjak sejak sekitar dua belas bulan dan memuncak sekitar 23 bulan. Bagi penulis, kebersamaan itu bukan kebetulan. Kekurangan gizi akut tampaknya mendahului dan ikut membentuk gagal tumbuh yang kronis, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Penulis menautkan titik belok itu pada peralihan dari ASI ke makanan pendamping, masa ketika kecukupan gizi sering merosot dan paparan kuman meningkat. Survei yang sama mencatat makanan pendamping yang paling umum diberikan: bubur nasi dengan pure protein pada 50,8 persen anak, pure buah 45,3 persen, biskuit 40,8 persen, dan susu formula 38,0 persen. Susunan menu seperti itu, tulis mereka, menandai peralihan makan yang miskin zat gizi.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Bagaimana wasting berjalan menjadi stunting
Di sinilah mekanismenya mulai terlihat. Sebelum membangun model, penulis menyandingkan prevalensi antarprovinsi secara berpasangan. Variasi prevalensi wasting saja sudah menjelaskan 60 persen variasi prevalensi stunting di antara provinsi. Kalau yang dibandingkan jumlah kasus, bukan persentase, angkanya melonjak sampai 96 persen. Provinsi yang banyak anak kurusnya cenderung juga provinsi yang banyak anak pendeknya.
Model strukturalnya lalu memilah mana jalur langsung dan mana yang lewat perantara. Hanya tiga variabel yang punya jalur langsung ke stunting: underweight dengan koefisien baku 0,69, diare 0,33, dan cakupan makanan pendamping tepat waktu yang bersifat melindungi dengan koefisien minus 0,17. Dalam angka kasar, tiap satu poin persen underweight yang lebih tinggi berpadanan dengan 0,93 poin persen stunting yang lebih tinggi, dan tiap poin diare dengan 0,61 poin stunting.
Wasting sendiri ternyata tidak punya jalur langsung. Seluruh pengaruhnya mengalir lewat underweight, dengan koefisien baku 0,83 dari wasting ke underweight, lalu 0,69 dari underweight ke stunting. “Hasil ini menunjukkan bahwa di tingkat provinsi, prevalensi wasting yang lebih tinggi berkontribusi pada stunting melalui perkembangannya menjadi underweight, bukan secara mandiri,” tulis Ariawan dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Cara imunisasi bekerja dari jauh
Persoalannya, sebagian pengungkit yang paling menarik bagi pengelola program justru tidak menyentuh stunting secara langsung. Cakupan imunisasi dasar lengkap, misalnya, tidak punya panah ke stunting dalam model akhir. Panahnya menuju wasting dengan koefisien baku minus 0,49: provinsi dengan cakupan imunisasi lebih rendah cenderung punya prevalensi wasting lebih tinggi. Dari wasting, pengaruh itu diteruskan ke underweight, dan dari underweight barulah ke stunting.
Keragaman pangan minimum, yakni anak enam sampai 23 bulan yang makan dari sedikitnya lima kelompok pangan, menempuh jalur yang serupa lewat wasting. Bedanya, koefisiennya minus 0,26 dengan nilai p 0,053, berada tepat di batas kebermaknaan statistik. Penulis menyebutnya bermakna secara marginal. Dalam tabel efek total ke stunting, keragaman pangan menyumbang minus 0,15 dengan nilai p 0,061, yang berarti belum bisa diandalkan sebagai bukti.
Kualitas bayi baru lahir, konstruk gabungan dari berat lahir rendah dan panjang lahir pendek, juga bekerja tidak langsung. Pengaruhnya masuk ke wasting dengan koefisien 0,47 dan ke underweight 0,39, tanpa panah langsung ke stunting. Bagi penulis, itu berarti kondisi lahir yang buruk memengaruhi gagal tumbuh lewat perantara gizi, sehingga gizi ibu dan pemeriksaan kehamilan tetap menjadi fondasi, meski bukan satu-satunya tuas.
Di mana stunting paling banyak, bukan paling tinggi
Pertanyaan tentang tempat menghasilkan jawaban ganda. Kalau ukurannya prevalensi, tiga provinsi teratas ada di timur: Papua Tengah 39,4 persen, Nusa Tenggara Timur 37,9 persen, dan Papua Pegunungan 37,3 persen. Di Papua Tengah, 58,1 persen balita menyandang setidaknya satu masalah gizi makro. Namun kalau ukurannya jumlah anak, gambarnya berpindah ke pulau yang padat, ke provinsi yang persentasenya justru lebih rendah.
Separuh lebih anak stunting Indonesia, tepatnya 51 persen, tinggal di lima provinsi saja: Jawa Barat dengan 864.328 anak, Jawa Tengah 578.011, Jawa Timur 509.999, Sumatera Utara 267.925, dan Banten 240.192. Penulis mengingatkan bahwa strategi yang hanya membidik provinsi berprevalensi tertinggi berisiko melewatkan capaian besar yang mungkin diraih di daerah padat, karena penurunan prevalensi yang kecil di sana berarti jumlah anak yang besar.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Yang bisa dan tidak bisa dijawab data provinsi
Yang membuatnya rumit, seluruh temuan itu berdiri di atas titik data sebanyak jumlah provinsi, bukan jutaan anak. Penulis sengaja memilih sudut cakupan program karena, ketika cakupan suatu layanan sudah tinggi merata, hubungannya dengan nasib anak per orang menjadi tidak terdeteksi secara statistik. Pilihan itu berguna bagi pengelola program, tetapi punya harga. Data potong lintang tidak bisa menetapkan sebab-akibat, dan praktik pemberian makan serta riwayat sakit rawan bias ingatan.
Penulis sendiri menulis batasnya dengan tegas. “Temuan ini mencerminkan pola agregat tingkat provinsi dan tidak boleh ditafsirkan sebagai hubungan sebab-akibat pada tingkat individu,” tulis mereka, masih dalam bahasa Inggris. Penggunaan provinsi sebagai unit data, lanjut mereka, mungkin membatasi keandalan analisis, dan faktor yang tidak diukur seperti ketahanan pangan rumah tangga serta kondisi lingkungan dapat ikut membentuk hubungan yang tampak.
Karena itu, angka seperti koefisien 0,93 harus dibaca sebagai pola antarprovinsi. Ia tidak berarti seorang anak yang berat badannya turun pasti akan pendek. Ia berarti provinsi dengan lebih banyak anak underweight cenderung punya lebih banyak anak stunting, dengan kekuatan yang terukur, dan bahwa pengelola program yang menekan gizi akut di provinsinya punya alasan statistik untuk mengharapkan prevalensi stunting ikut bergerak.
Beberapa angka yang saling bertabrakan
Ada bagian naskah yang patut diperiksa pembaca. Abstrak menyebut stunting menimpa hampir seperempat balita pada 2023, padahal angka yang dipakai di sepanjang naskah adalah 21,5 persen, dan pendahuluan menyebut satu dari lima anak. Abstrak juga menyatakan wasting sebagai determinan langsung terkuat kedua dan memproyeksikan penurunan wasting satu persen menurunkan stunting 1,2 persen, sementara bagian hasil menyatakan wasting tidak punya jalur langsung sama sekali.
Tabel 1 punya kejanggalan lain. Baris kualitas bayi baru lahir pada blok stunting memuat koefisien 1,24 dengan galat baku 0,17, persis sama dengan baris wasting di blok yang sama; baris yang sama pada blok underweight memuat 1,34 dan 0,15, persis sama dengan baris wasting ke underweight. Bagian diskusi juga menyebut hanya 55,5 persen anak usia enam sampai 23 bulan mendapat ASI eksklusif, rentang umur yang tidak lazim untuk ukuran ASI eksklusif.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
Kejanggalan pembuka kini punya penjelasan yang setidaknya bisa diuji. Kurva stunting baru naik sesudah tahun pertama bukan karena seribu hari pertama tidak penting, melainkan karena pada tahun kedua tiga bentuk kurang gizi bergerak bersama, dan di tingkat provinsi jalurnya berurutan: imunisasi yang rendah, wasting, underweight, lalu stunting. Penulis menyebut tahun kedua sebagai jendela kerentanan yang menuntut intervensi lebih kuat dan lebih lama, dan di situlah penjelasan data provinsi ini berhenti.














