Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan

A A

Kawasan permukiman warga terendam banjir di Kecamatan Limboto, Gorontalo, Juli 2024 [Foto: Sandy Syafrudin Nina/Wikimedia Commons CC BY 4.0]

  • Dua puluh ibu di Tallo, Makassar diwawancarai tim Universitas Hasanuddin, Stanford, dan Emory
  • Delapan belas rumah kemasukan air setahun terakhir; hanya lima rumah ditinggikan di atas jalan
  • Pemeriksaan hamil diterjang jalan kaki atau ditunda sebulan; seorang ibu jatuh dan tirah baring dua bulan
  • Air PDAM berbau dan berwarna, toilet meluap, menu banjir tinggal telur rebus dan mi instan
Daftar Isi
  1. Air yang Datang Setiap Tahun dan Ibu yang Bangun Tengah Malam
  2. Kasur Dinaikkan, Kompor Dinaikkan, dan Bau Air Got yang Tinggal
  3. Telur Rebus, Air Galon, dan Toilet yang Meluap
  4. Buku Pink, Jalan Kaki Menerjang Air, dan Oralit Buatan Sendiri
  5. Bagian yang Bisa Diperiksa Pembaca dan yang Tidak Ditangkap Wawancara

Seorang perempuan hamil menuruni tangga rumahnya di Kecamatan Tallo, Makassar, ketika air banjir masih menggenangi lantai bawah. Ia hendak membersihkan rumah. Ia terjatuh. Tidak lama kemudian dokter memerintahkan tirah baring, dua bulan penuh, karena bayinya nyaris keluar sebelum waktunya. Perempuan itu dicatat sebagai Ibu 7 dalam sebuah studi kualitatif tentang ibu hamil dan ibu baru di kawasan langganan banjir, dan tangga itu menjadi salah satu dari sekian adegan yang membuat para penelitinya berhenti sejenak.

Kisah itu dituturkan dalam naskah Riya Goel, Morgan Schillinger Tarpenning, Jumriani Ansar, Aliyyah Ansariadi, Zalsah Puteri Annisa Syahrani, Najwati Anggraeni, Kavita Dave Coombe, Whitney Weber, Emma Blythe, Ansariadi Ansariadi, dan Joelle Ivy Rosser berjudul Maternal and Child Health Challenges During and After Flooding: A Qualitative Study in Makassar, Indonesia, yang terbit di BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit tahun 2026. Naskahnya berbahasa Inggris, dan wawancaranya dilakukan dalam bahasa Makassar dan Indonesia.

Tim gabungan Universitas Hasanuddin, Stanford University, dan Emory University itu mewawancarai dua puluh ibu di Tallo yang melahirkan dalam tiga tahun terakhir. Semua kehamilan mereka bertumpang tindih dengan musim banjir Makassar, November sampai April.

Air yang Datang Setiap Tahun dan Ibu yang Bangun Tengah Malam

Mundur sebentar ke musim hujan. Di Tallo, kecamatan rendah di tepi Sungai Tallo, banjir bukan bencana yang datang sesekali, melainkan tamu tahunan yang kadang mampir lebih dari sekali dalam setahun. Semua dua puluh ibu mengalami banjir di lingkungannya dalam setahun terakhir, dan delapan belas di antaranya mendapati air masuk ke dalam rumah. Sepuluh ibu terendam sehari, enam ibu dua sampai tujuh hari, dua ibu lebih dari seminggu.

Airnya naik dari mata kaki sampai pinggang. Kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang tamu, seluruh lantai dasar bisa terendam, dan bila saluran tersumbat sampah, genangan bertahan berhari-hari. Musim hujan 2022, 2023, dan 2024 disebut para ibu sebagai yang paling parah, ketika air untuk pertama kalinya masuk ke rumah yang sebelumnya selamat. Tidak ada pusat pengungsian. Semua orang bertahan di rumah masing-masing, karena rumah kerabat pun sama terendamnya.

Ibu 2 menceritakan kebiasaan yang tumbuh dari pengalaman itu. Setiap kali hujan, bahkan tanpa banjir, ia gelisah, dan di tengah malam ia bangun untuk memeriksa apakah air sudah masuk. Ibu 15 menjelaskan mengapa penghalang di depan pintu tidak banyak menolong: air tidak hanya datang dari luar, tetapi merembes naik lewat ubin lantai. Satu-satunya jalan keluar, katanya, adalah meninggikan rumah, dan itu butuh uang.

Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas

Uang itulah yang membelah pengalaman dua puluh ibu ini. Hanya lima rumah yang ditinggikan di atas permukaan jalan, dan lima pula yang bertingkat, sementara empat belas rumah lainnya satu lantai. Ibu 10, yang rumahnya lebih tinggi, menyebut banjir sekadar urusan orang lain: selama air tidak masuk ke dalam rumah, hidup berjalan seperti biasa, tidak ada yang berubah. Kalimat sesantai itu tidak keluar dari mulut ibu yang tinggal di rumah rendah.

Rumah 20 ibu Tallo yang diwawancaraiBanjir masuk rumah setahun terakhir: Persen ibu +90%; Terendam 1 hari: Persen ibu +50%; Terendam 2-7 hari: Persen ibu +30%; Terendam lebih 7 hari: Persen ibu +10%; Rumah satu lantai: Persen ibu +70%; Rumah ditinggikan di atas jalan: Persen ibu +25%.Rumah 20 ibu Tallo yang diwawancaraiPersen dari 20 responden, Tabel 1 paper25%50%75%0Banjir masuk rumah setahun terakhir90%Terendam 1 hari50%Terendam 2-7 hari30%Terendam lebih 7 hari10%Rumah satu lantai70%Rumah ditinggikan di atas jalan25%Hanya 5 dari 20 rumah ditinggikan; ibu di rumah itu menyebut banjirtidak mengubah keseharian.
Sumber: Riya Goel, Morgan Schillinger Tarpenning, Jumriani Ansar, Aliyyah Ansariadi, Zalsah Puteri Annisa Syahrani, Najwati Anggraeni, Kavita Dave Coombe, Whitney Weber, Emma Blythe, Ansariadi Ansariadi, dan Joelle Ivy Rosser, Maternal and Child Health Challenges During and After Flooding: A Qualitative Study in Makassar, Indonesia, BMC Public Health, 2026 (dalam proses terbit). Grafik: Cekricek.id

Kasur Dinaikkan, Kompor Dinaikkan, dan Bau Air Got yang Tinggal

Beberapa jam sebelum air tiba, rumah-rumah di Tallo berubah menjadi tempat kerja yang hampir seluruhnya dikerjakan perempuan. Ibu memindahkan anak, kasur, bantal, piring, dan barang berharga ke lantai atas atau ke tempat yang lebih tinggi, menahan pintu dengan papan atau karung pasir, menggantung barang di langit-langit, memasak lebih dulu, dan menimbun beras serta mi instan. Ibu 11 mengangkat mesin cuci ke atas bangku. Ada yang mengubah ban motor menjadi rakit darurat.

Laki-laki, menurut para ibu, terutama mengurus nafkah dan sesekali membantu mengangkat barang. Prioritas ibu tergambar dari jawaban Ibu 13 ketika ditanya apa yang ia siapkan: pakaian dan kebutuhan anak, susu, popok, makanan. Ketika ditanya persiapan untuk dirinya sendiri, jawabannya pendek saja, itu tidak penting, yang utama anak-anak. Para peneliti menulis bahwa para ibu secara rutin mengorbankan kebutuhan gizinya sendiri demi keluarga.

Air surut. Pekerjaan belum selesai. Menimba sisa air, menggosok lumpur, menjemur kasur yang basah kuyup, menata kembali barang yang rusak, semuanya dilakukan ibu, sering kali sambil hamil atau menggendong balita.

Ibu 4 menyebut membersihkan rumah sebagai bagian paling berat, karena seluruh kotoran dari luar masuk, dan bau air got itu, katanya, tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Ibu 19 mengingat rasa marah yang sama setiap kali rumah kebanjiran lagi dan ia harus membersihkan semuanya lagi.

Kemarahan itu, dalam catatan para peneliti, tidak punya tempat untuk pergi. Ibu 20 mengaku kesal dan marah ketika air membawa kotoran ke dalam rumah, lalu menutupnya dengan pertanyaan yang ia jawab sendiri: tetapi apa yang bisa saya lakukan? Sebagian ibu berbicara tentang banjir dengan nada pasrah, seolah ia bagian dari hidup yang wajar. Sebagian lain menyimpan ketakutan yang terus diingat dari tahun ke tahun.

Telur Rebus, Air Galon, dan Toilet yang Meluap

Dapur ikut terendam, pasar tak terjangkau, dan penghasilan suami yang tidak bisa keluar rumah turun lebih dari separuh, kadang nol selama beberapa hari. Ibu 8 merangkum menu keluarganya: bila tidak banjir mereka bisa ke pasar membeli sayur dan ikan, bila banjir biasanya hanya telur rebus. Ibu 18 menaikkan kompor dan menaruh bahan makanan di kursi atau meja. Beras, mi instan, telur, dan camilan kemasan menjadi andalan.

Ibu 3 tidak menutupi apa yang ia rasakan ketika suaminya tinggal di rumah tanpa penghasilan: marah, tidak ada uang, anak-anak ribut minta jajan, bahkan beras pun habis. Suaminya tidak bisa bekerja, dan rumah yang mereka tempati pun rumah sewaan.

Bantuan resmi yang disebut para ibu hanya sekali dari Palang Merah berupa beras, minyak, telur, gula, dan biskuit, atau dari ketua lingkungan. Selebihnya rumah tangga mengandalkan diri sendiri, dan yang mereka minta pun sederhana: stok beras, ayam broiler, dan mi instan sebelum air datang.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Air minum berubah menjadi urusan yang mahal. Air PDAM dan sumur bor berubah warna, berbau, kadang membawa serpihan dan cacing, sehingga air galon menjadi satu-satunya yang dipercaya untuk diminum, dengan harga yang menekan keluarga berpenghasilan rendah. Ibu 18 membayar sepuluh ribu rupiah per jam untuk air sumur bor.

Ibu 19 begadang menampung air keran karena pada malam hari airnya biasanya lebih baik. Air yang tampak jernih tetap diminum dengan perebusan yang tidak konsisten, dan sesekali berujung diare.

Toilet meluap. Mandi dilewati, atau dilakukan dengan air banjir itu sendiri, seperti diakui Ibu 18, kecuali ada air hujan yang bisa ditampung. Buang air besar ditunda sampai air surut, dan bila tidak tertahan lagi, keluarga memakai popok, seperti kata Ibu 20, atau kantong plastik untuk anak yang tidak bisa menunggu, seperti dialami Ibu 2. Semua itu berlangsung di rumah tempat seorang ibu baru saja melahirkan atau sedang mengandung.

Hari kering dan hari banjir di Tallo, MakassarPerbandingan hari kering dan hari banjir menurut 20 ibu di Tallo.Hari kering dan hari banjir di Tallo, MakassarCerita 20 ibu yang melahirkan dalam tiga tahun terakhirHari keringHari banjirMotor, bentorJalan kakiKe puskesmasIkan, sayurTelur, mi instanLauk keluargaPDAM, sumur borGalon berbayarAir minumToilet rumahPopok, plastikBuang airBerjalanTurun lebih 50%PenghasilanPemeriksaan hamil yang jatuh pada hari banjir diterjang atau ditundasebulan.
Sumber: Riya Goel, Morgan Schillinger Tarpenning, Jumriani Ansar, Aliyyah Ansariadi, Zalsah Puteri Annisa Syahrani, Najwati Anggraeni, Kavita Dave Coombe, Whitney Weber, Emma Blythe, Ansariadi Ansariadi, dan Joelle Ivy Rosser, Maternal and Child Health Challenges During and After Flooding: A Qualitative Study in Makassar, Indonesia, BMC Public Health, 2026 (dalam proses terbit). Grafik: Cekricek.id

Buku Pink, Jalan Kaki Menerjang Air, dan Oralit Buatan Sendiri

Maju ke hari pemeriksaan. Setiap ibu hamil memegang buku pink yang mencatat tanggal dan jam kunjungan bulanan, dan tanggal itu tidak peduli pada cuaca. Pada hari kering, motor atau bentor mengantar ke puskesmas. Pada hari banjir, seperti kata Ibu 14, hanya jalan kaki. Ibu 6 pernah diantar pergi lalu pulang menerjang banjir dalam keadaan hamil, dan ketika ditanya perasaannya ia menjawab satu kata saja: takut.

Sebagian ibu memilih menunda ke bulan berikutnya, seperti Ibu 1 yang tidak bisa berangkat bila hujan terlalu lebat. Ibu 7, perempuan yang jatuh di tangga itu, juga menunda pemeriksaan nifasnya karena air masih tinggi dan kendaraan tidak bisa keluar. Posyandu yang dekat rumah nyaris tidak terganggu, sedangkan kunjungan ke puskesmas biasanya ditangguhkan sampai air surut. Kekhawatiran kehabisan obat atau melewatkan jadwal rumah sakit justru mendorong sebagian ibu nekat berangkat.

“Ketiadaan langkah sistemik untuk menopang kehamilan dan layanan kesehatan ibu selama banjir meningkatkan risiko janji temu yang terlewat dan memaksa perempuan menempuh perjalanan berbahaya ke pusat kesehatan,” tulis Riya Goel dan Joelle Ivy Rosser, keduanya dokter di Emory University dan Stanford University, bersama rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Pada bagian lain mereka mencatat satu hal yang tidak berubah: banjir tidak mengubah rencana persalinan seorang pun dari para ibu yang diwawancarai.

Anak-anak adalah ketakutan terbesar para ibu. Mereka bermain dan mandi di air banjir, lalu pulang membawa diare, demam, dan ruam kulit, sementara puskesmas terhalang air. Ibu 9 menghadapi bayinya yang diare setiap setengah jam ketika air di depan rumah terlalu tinggi, sehingga ia terpaksa membuat oralit sendiri, dan menurutnya itu berhasil. Ibu 2 mengaku tidak bisa bekerja bahkan memasak ketika anaknya rewel dan demam, karena si anak tidak mau ditinggal.

Baca juga RPJMD Rajin Menulis Target, Hemat Menulis Capaian Lalu

Tubuh ibu sendiri menanggung sisanya. Kaki memerah dan luka karena berendam air banjir, demam dan diare sesekali, pusing karena naik turun tangga membersihkan rumah, kadang bertentangan dengan nasihat dokter. Yang paling ditakuti hampir semua ibu adalah terpeleset. Ibu 16 memilih tinggal di dalam rumah setiap hujan, tetapi mengaku lebih sering memarahi anak-anaknya pada hari-hari itu, terutama si sulung, karena begitu banyak hal bisa terjadi selama banjir.

Bagian yang Bisa Diperiksa Pembaca dan yang Tidak Ditangkap Wawancara

Para peneliti sendiri membatasi jangkauan temuan ini. Dua puluh ibu direkrut dari kohort ibu-anak Universitas Hasanuddin dan melaporkan banjir atas pengakuan sendiri, sehingga perempuan yang mengungsi, terdampak paling parah, atau sedang bekerja mungkin tidak terwakili. Ibu dengan anak yang lebih besar atau yang merawat lansia tidak dijangkau. Wawancara dilakukan setelah musim banjir berlalu, bukan di tengah genangan, sehingga sebagian detail bisa saja terlupa atau berubah dalam ingatan.

Ada pula beberapa hal kecil dalam naskah yang bisa dicek pembaca. Bagian latar belakang menempatkan Makassar di tepi Selat Makassar, tetapi keterangan Gambar 1 menyebut Tallo berbatasan dengan Samudra Hindia.

Rujukan nomor 25, yang dipakai untuk batas wilayah administrasi Indonesia, berjudul batas administrasi subnasional Kenya. Rujukan 45 mengulang rujukan 32, rujukan 74 mengulang rujukan 70, dan salah satu salinan Tabel 3 mengutip nomor 75 dan 79 padahal daftar pustaka berhenti di nomor 74.

Satu kalimat hasil kehilangan kata: sembilan puluh persen peserta disebut mengalami banjir di dalam, tanpa menyebut di dalam apa, meski tabelnya jelas menunjuk rumah. Salah satu alamat rujukan tentang perlindungan banjir berakhir dengan penanda utm_source=chatgpt.com.

Ibu 16 juga dikutip menyebut pemeriksaannya hanya dua tahun sekali, dalam konteks kunjungan rutin yang di bagian lain disebut bulanan. Tidak satu pun dari catatan ini mengubah cerita para ibu, tetapi semuanya tertulis di naskah yang sama.

Kembali ke tangga di rumah Ibu 7. Air sudah surut, dua bulan tirah baring sudah lewat, dan bayinya lahir sesuai rencana yang tidak diubah oleh banjir. Musim hujan berikutnya, antara November dan April, air akan mencari jalan masuk lagi lewat pintu atau lewat ubin, dan seorang ibu di rumah satu lantai akan bangun tengah malam untuk memeriksanya.

Bagikan

Baca Juga

Harapan Hidup Subjektif Lansia Thailand Naik Seiring Usia
Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Bibit Ginseng Jawa Ditanam di Salimpek, Pestisida Tetap Dipakai
Aplikasi CheckPD Thailand: 81 Persen Peringatan Parkinson Benar
Iki Paleg Suku Dani: Potong Jari yang Kini Ditinggalkan