Kebiasaan Merokok Perempuan di Emirat Memuncak pada Usia 25-29

A A

Ilustrasi deretan pipa shisha bertabung kaca warna-warni di kamp safari gurun Dubai, Uni Emirat Arab [Foto: traveljunction (Flickr)/Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0]

  • Dari 485 perempuan di Dubai dan lima emirat utara, 21,4 persen pernah merokok dan 15,1 persen tercatat sebagai perokok saat ini.
  • Porsi peserta yang punya kebiasaan merokok paling tinggi di kelompok 25 sampai 29,9 tahun, yakni 33,7 persen.
  • Dibanding perempuan yang tidak bekerja, pegawai nonpemerintah berpeluang 2,3 kali lebih besar untuk merokok.
  • Sebanyak 82,1 persen bukan perokok menganggap rokok faktor risiko kanker serviks, sedangkan di antara perokok hanya 62,0 persen.
Daftar Isi
  1. Prevalensi, atau Seberapa Banyak yang Merokok
  2. Kelompok Usia, Tempat Kebiasaan Itu Memuncak
  3. Pegawai Nonpemerintah, Kelompok Kerja yang Menonjol
  4. Faktor Pendorong, atau Alasan Bertahan Merokok
  5. Persepsi Risiko, atau Apa yang Diyakini Peserta
  6. Sampel Kemudahan, atau Peserta yang Mudah Dijangkau

Pernah merokok dan masih merokok terdengar mirip, padahal survei perempuan di Uni Emirat Arab menghitung keduanya terpisah. Dari 485 perempuan yang ditanya di Dubai dan lima emirat utara, 21,4 persen pernah merokok, sedangkan 15,1 persen tercatat sebagai perokok saat ini. Angka pertama mencakup riwayat merokok kapan pun, angka kedua hanya mereka yang masih merokok.

Angka-angka itu berasal dari penelitian Dima Mashhoor Alwardat dari Gulf Medical University di Ajman dan Kementerian Kesehatan Yordania, Basema Saddik dari Khalifa University of Science and Technology di Abu Dhabi dan UNSW Sydney, serta Jayadevan Sreedharan dari Gulf Medical University. Laporan mereka berjudul Tobacco smoking habits, attitudes and associated factors among women in the United Arab Emirates dan terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Pesertanya perempuan berusia 18 tahun ke atas, baik warga negara Emirat maupun pendatang, yang tinggal di Dubai, Sharjah, Ajman, Umm Al Quwain, Ras Al Khaimah, dan Fujairah. Mereka mengisi kuesioner berbahasa Arab atau Inggris antara Januari dan Mei 2023, secara daring maupun langsung di kampus, rumah sakit, dan pusat belanja.

Menurut para penulis, inilah penelitian pertama yang khusus memotret penggunaan tembakau pada perempuan dewasa di negara itu. Riset tembakau di sana sebelumnya kebanyakan berfokus pada laki-laki atau pada gabungan laki-laki dan perempuan, sehingga data tentang perempuan masih terbatas.

Prevalensi, atau Seberapa Banyak yang Merokok

Prevalensi perokok saat ini dalam penelitian ini 15,1 persen, sedangkan yang melaporkan riwayat pernah merokok 21,4 persen. Angka 15,1 persen itu sedikit di atas 13 persen yang dilaporkan Survei Kesehatan Nasional Uni Emirat Arab 2017–2018 untuk perempuan.

Menurut para penulis, selisih itu mungkin mencerminkan perubahan pola merokok perempuan dari waktu ke waktu. Mereka juga menyebut kemungkinan lain. “Perbedaan itu bisa juga mencerminkan susunan sampel, yang memuat lebih banyak perempuan perkotaan dan aktif secara sosial, alih-alih menunjukkan kenaikan sungguhan di tingkat populasi,” tulis Alwardat, Saddik, dan Sreedharan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Meski begitu, menurut mereka, temuan ini tetap menandai tren yang patut diwaspadai dan menunjukkan pentingnya menangani penggunaan tembakau di kalangan perempuan di Uni Emirat Arab.

Bentuk tembakau yang paling banyak pernah dipakai peserta adalah rokok biasa, sebanyak 14,6 persen. Di belakangnya ada rokok elektrik, yang di dalam laporan juga disebut vaping, sebanyak 11,8 persen. Urutan ketiga ditempati pipa air atau shisha, sebanyak 10,7 persen.

Dokha, yang dalam laporan ditulis berdampingan dengan nama midwakh, juga ditanyakan. Pada penelitian terdahulu di Emirat, dokha lebih sering ditemukan, tetapi kali ini pemakainya hanya 0,4 persen peserta. Menurut para penulis, rendahnya angka itu menunjukkan dokha masih terutama dipakai laki-laki.

Mereka membaca pola ini sebagai pergeseran perlahan selera tembakau perempuan ke pilihan yang berperisa dan dianggap lebih ringan, seperti pipa air dan rokok elektrik. Mereka juga mencatat naiknya pemakaian rokok elektrik pada perempuan berusia 20 sampai 35 tahun.

Siapa yang mengisi kuesioner juga perlu diingat. Sebanyak 85 persen peserta berusia di atas 20 tahun, 60 persen bergelar sarjana, dan 20 persen pascasarjana. Pelajar dan mahasiswa menjadi kelompok terbesar, 35 persen. Dari 485 peserta, 410 berasal dari kawasan Mediterania Timur menurut pembagian WHO, termasuk 123 warga negara Emirat, 52 orang Yordania, dan 44 orang Irak.

Baca juga Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti

Kelompok Usia, Tempat Kebiasaan Itu Memuncak

Kebiasaan merokok paling tinggi di usia 25-29,9 tahunDi bawah 20 tahun 6,9%; 20-24,9 tahun 23,4%; 25-29,9 tahun 33,7%; 30-34,9 tahun 26,9%; 35-39,9 tahun 15,0%; 40 tahun ke atas 16,7%.Kebiasaan merokok paling tinggi di usia25-29,9 tahunPersen peserta dengan kebiasaan merokok di tiap kelompokusia0%10%20%30%40%Di bawah 20 tahun6,9%20-24,9 tahun23,4%25-29,9 tahun33,7%30-34,9 tahun26,9%35-39,9 tahun15,0%40 tahun ke atas16,7%Tabel 1, 485 perempuan di Dubai dan emirat utara, 2023
Sumber: Dima Mashhoor Alwardat, Basema Saddik, dan Jayadevan Sreedharan, Tobacco smoking habits, attitudes and associated factors among women in the United Arab Emirates, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kebiasaan merokok tidak tersebar rata menurut usia. Dalam tabel sosiodemografi, porsi peserta yang punya kebiasaan merokok paling tinggi di kelompok 25 sampai 29,9 tahun, yakni 33,7 persen atau 35 dari 104 perempuan.

Di bawah 20 tahun angkanya 6,9 persen, lalu naik menjadi 23,4 persen pada usia 20 sampai 24,9 tahun. Sesudah puncak, angkanya turun ke 26,9 persen pada usia 30 sampai 34,9 tahun dan 15,0 persen pada 35 sampai 39,9 tahun. Kelompok 40 tahun ke atas mencatat 16,7 persen.

Kelompok 40 tahun ke atas sengaja digabung karena peserta di tiap rentang usianya sedikit. Rentang 40 sampai 44,9 tahun, misalnya, hanya berisi 35 orang dengan tujuh perokok. Rentang 60 tahun ke atas berisi delapan orang tanpa satu pun perokok.

Hubungan usia ini juga diukur dengan rasio odds. Dibanding peserta di bawah 20 tahun, perempuan berusia 20 sampai 24,9 tahun berpeluang 4,1 kali lebih besar untuk merokok. Pada kelompok 25 sampai 29,9 tahun, peluangnya 6,8 kali.

Dalam analisis lanjutan yang disesuaikan, angkanya mengecil tetapi tetap bermakna, yakni 3,8 kali untuk usia 20 sampai 24,9 tahun dan 4,0 kali untuk 25 sampai 29,9 tahun. Kelompok 30 sampai 34,9 tahun, yang semula 4,9 kali, tidak lagi bermakna secara statistik setelah penyesuaian. Para penulis menduga pola usia ini mencerminkan masa peralihan sosial, seperti kuliah, mulai bekerja, dan makin seringnya bergaul dengan teman sebaya. Masa itu, menurut mereka, bisa membuat perempuan dewasa muda lebih rentan untuk mulai merokok.

Pegawai Nonpemerintah, Kelompok Kerja yang Menonjol

Pekerjaan juga berhubungan dengan kebiasaan merokok. Porsi tertinggi ada pada wiraswasta, 32,4 persen, dan pegawai nonpemerintah, 31,4 persen. Pegawai pemerintah mencatat 23,7 persen, perempuan yang tidak bekerja 17,0 persen, dan pelajar atau mahasiswa 15,8 persen. Dari delapan pensiunan, tidak ada yang tercatat merokok.

Dalam perhitungan rasio odds, dibanding perempuan yang tidak bekerja, pegawai nonpemerintah berpeluang 2,3 kali lebih besar untuk merokok, dan setelah disesuaikan 2,0 kali. Keduanya bermakna secara statistik. Rasio odds wiraswasta, yakni 2,3 sebelum dan 2,5 sesudah penyesuaian, tidak bermakna secara statistik.

Sebaliknya, tingkat pendidikan, kebangsaan, dan status pernikahan tidak berhubungan bermakna dengan kebiasaan merokok. Peserta dari kawasan Mediterania Timur mencatat 22,0 persen dan peserta dari kawasan lain 18,7 persen. Peserta lajang mencatat 23,0 persen, sedangkan yang menikah 19,5 persen.

Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi

Faktor Pendorong, atau Alasan Bertahan Merokok

Penelitian ini juga menanyakan hal-hal di sekitar kebiasaan terus merokok. Faktor yang berhubungan bermakna antara lain tekanan teman sebaya, tekanan emosional, rasa euforia, kurangnya pengetahuan tentang dampak buruk rokok, dan keinginan mengatasi rasa kurang percaya diri.

Dari lingkungan rumah, konflik keluarga, rendahnya pengawasan orang tua, orang tua yang merokok, dan anggota keluarga yang memakai tembakau juga berhubungan bermakna. Begitu pula iklan produk tembakau alternatif, iklan dan pengaruh media, hukum yang kurang ketat, penegakan hukum yang lemah, serta harga produk tembakau yang murah.

Sebaliknya, kendali suasana hati dan depresi, coba-coba, cemas dan stres, budaya atau tradisi, kumpul sosial, dan mudahnya mendapatkan produk tembakau tidak berhubungan bermakna dengan kebiasaan terus merokok. Secara keseluruhan, tulis para penulis, faktor psikologis, keluarga, sosial, dan regulasi berperan bermakna.

Para penulis menyatakan perlunya penelitian lanjutan untuk memastikan apakah faktor-faktor itu memang ikut menyebabkan perempuan bertahan merokok. Menurut mereka, merokok mungkin menjadi cara mengatasi stres atau cara menyatu dengan lingkaran pergaulan yang kian menerima perempuan merokok.

Peserta yang merokok juga ditanya soal faktor yang memengaruhi keputusan berhenti. Ketergantungan fisik dinilai sangat penting oleh 65,3 persen dari 101 penjawab, dan kebiasaan teman serta anggota keluarga oleh 61,2 persen. Sekitar separuh menilai kesenangan dan relaksasi, kecemasan, serta kewaspadaan sangat penting.

Penerimaan teman sebaya, keyakinan budaya, dan anggapan bahwa tembakau punya nilai obat lebih jarang dinilai sangat penting, masing-masing 39,4 persen, 36,0 persen, dan 41,6 persen. Ketiganya juga lebih sering dinilai tidak penting, dengan porsi 22,2 persen, 22,0 persen, dan 23,8 persen.

Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung

Persepsi Risiko, atau Apa yang Diyakini Peserta

Bagian lain kuesioner menguji persepsi risiko, maksudnya apakah peserta menganggap rokok sebagai faktor risiko penyakit tertentu. Hampir semua peserta mengaitkan rokok dengan penyakit jantung, hipertensi, bronkitis, dan kanker paru. Untuk penyakit jantung, misalnya, 97,8 persen bukan perokok dan 96,8 persen perokok menjawab ya. Pada penyakit-penyakit itu, juga diabetes, batuk dan penyakit paru, serta infertilitas, jawaban perokok dan bukan perokok tidak berbeda bermakna. Selisih yang bermakna muncul pada sejumlah penyakit lain, termasuk kanker serviks dan kanker payudara.

Sebanyak 82,1 persen bukan perokok menganggap rokok faktor risiko kanker serviks, sedangkan di antara perokok hanya 62,0 persen. Untuk kanker payudara angkanya 80,1 persen berbanding 61,5 persen, dan untuk menopause dini 80,3 persen berbanding 60,0 persen.

Perokok lebih jarang mengaitkan rokok dengan penyakit iniStroke 92,7% ke 82,8%; Kolesterol tinggi 69,3% ke 50,9%; Mata terganggu 77,0% ke 59,0%; Cemas, mudah marah 93,5% ke 76,9%; Menopause dini 80,3% ke 60,0%; Kanker serviks 82,1% ke 62,0%; Kanker payudara 80,1% ke 61,5%; Kanker lambung 87,3% ke 73,5%.Perokok lebih jarang mengaitkan rokokdengan penyakit iniPersen yang menganggap rokok faktor risiko penyakittersebutBukan perokokPerokok40%60%80%100%Stroke82,8%92,7%Kolesterol tinggi50,9%69,3%Mata terganggu59,0%77,0%Cemas, mudah marah76,9%93,5%Menopause dini60,0%80,3%Kanker serviks62,0%82,1%Kanker payudara61,5%80,1%Kanker lambung73,5%87,3%Tabel 4, semua selisih bermakna
Sumber: Dima Mashhoor Alwardat, Basema Saddik, dan Jayadevan Sreedharan, Tobacco smoking habits, attitudes and associated factors among women in the United Arab Emirates, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pola serupa terlihat pada stroke, 92,7 persen berbanding 82,8 persen, serta kolesterol tinggi, 69,3 persen berbanding 50,9 persen. Gangguan penglihatan dikaitkan dengan rokok oleh 77,0 persen bukan perokok dan 59,0 persen perokok, sedangkan kanker lambung oleh 87,3 persen berbanding 73,5 persen.

Pada masalah kehamilan, angkanya 98,5 persen berbanding 91,1 persen, dan pada masalah bayi baru lahir 97,4 persen berbanding 91,2 persen. Para penulis menyimpulkan perokok perempuan dalam penelitian ini menunjukkan pengetahuan yang terbatas tentang risiko kesehatan tertentu dari rokok.

Karena itu, mereka menyarankan kampanye edukasi yang menjangkau seluruh rentang risiko rokok bagi perempuan, pesan yang lebih jelas tentang risiko rokok elektrik dan pipa air, serta pemantauan tren tembakau baru. Upaya itu, tulis mereka, bisa dibangun di atas aturan yang sudah ada, seperti larangan shisha di area rekreasi publik Dubai.

Sampel Kemudahan, atau Peserta yang Mudah Dijangkau

Penelitian ini memakai sampel kemudahan, maksudnya peserta bergantung pada siapa yang mudah dijangkau dan bersedia ikut. Para penulis mengakui cara ini membatasi keberlakuan temuan di luar sampel. Perempuan yang tidak berbahasa Inggris atau Arab, yang pendidikannya lebih rendah, atau yang sulit dijangkau mungkin tidak terwakili.

Abu Dhabi juga tidak dilibatkan, sehingga keterwakilan nasional makin berkurang. Jawaban yang dilaporkan sendiri bisa terpengaruh ingatan atau keinginan tampil baik, apalagi merokok pada perempuan masih sensitif secara budaya. Rancangan potong lintang juga tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan sebab-akibat.

Dalam simpulannya, para penulis mencatat sekitar 21 persen peserta pernah merokok dan 15 persen masih merokok, dengan rokok, rokok elektrik, dan pipa air sebagai bentuk yang paling banyak dipakai. Angka itu berasal dari 485 perempuan di Dubai dan lima emirat utara yang mengisi kuesioner antara Januari dan Mei 2023, bukan dari seluruh wilayah Uni Emirat Arab.

Bagikan

Baca Juga

Kematian Jantung dan Pembuluh Darah Kazakhstan Turun pada 2022
Suami Perokok, Istri di Tiongkok Lebih Berpeluang Kena Diabetes
Biaya Stroke di Iran Capai 1,42 Miliar Dolar dalam Setahun
Mahasiswa yang Makan Lebih Banyak Madu Cenderung Tidur Lebih Baik
Pasien Demam Berdarah Bangladesh Kian Banyak di Luar Dhaka
Promosi Rokok Menumpuk di Instagram, Paling Disambut di TikTok