- Keseimbangan pikiran (AOR 3,556) dan efikasi diri (AOR 3,371) paling menaikkan niat berhenti mahasiswi perokok
- Ketergantungan nikotin tinggi menurunkan niat berhenti drastis, AOR hanya 0,058
- 67,8 persen dari 423 mahasiswi memakai rokok elektrik, 52,5 persen berniat tinggi berhenti
- Aktivitas fisik berat dan dukungan teman sebaya turut menaikkan niat berhenti merokok
Daftar Isi
Decisional balance, dalam bahasa sehari-hari bisa disebut keseimbangan pikiran, adalah timbangan antara untung dan rugi merokok yang dibuat seseorang di kepalanya sendiri. Bagi mahasiswi perokok di Bangkok, timbangan itu ternyata menentukan besar-kecilnya niat berhenti, jauh melampaui pengaruh usia atau jurusan kuliah mereka.
Temuan itu berasal dari Suparinya Sumpuntharat, Arpaporn Powwattana, Uthumporn Panitanarak, Oi Saeng Hong, dan Surintorn Kalampakorn dalam Determinants of smoking-cessation intentions among female university students in Thailand, dimuat BMC Public Health volume 26, nomor 1912, tahun 2026. Sebagian besar penulis bekerja di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mahidol, Bangkok.
Sebanyak 423 mahasiswi berusia 18 sampai 25 tahun, perokok aktif rokok konvensional maupun rokok elektrik, direkrut dari dua universitas di Provinsi Pathum Thani lewat metode berjejaring. Sebanyak 67,8 persen di antaranya memakai rokok elektrik, dan 52,5 persen mengaku punya niat tinggi untuk berhenti dalam sebulan ke depan.
Keseimbangan pikiran, timbangan untung-rugi
Maksudnya begini. Setiap perokok menyimpan dua daftar di kepalanya: daftar manfaat merokok, seperti meredakan stres atau menemani pergaulan, dan daftar kerugiannya, seperti risiko sakit atau uang yang terbuang. Ketika daftar kerugian dirasa lebih berat, keseimbangan pikiran disebut condong ke arah berhenti.
Pada 63,1 persen mahasiswi dalam studi ini, kerugian memang dirasa lebih berat daripada manfaatnya. Kelompok dengan keseimbangan pikiran tinggi punya rasio odds tersuaikan 3,556, dengan selang kepercayaan 95 persen dari 1,852 sampai 6,828, untuk memiliki niat berhenti yang tinggi. Ini faktor dengan pengaruh terbesar di seluruh model.
Self-efficacy, bukan sekadar percaya diri
Self-efficacy, sering diterjemahkan sebagai efikasi diri, bukan sekadar rasa percaya diri secara umum. Istilah ini spesifik menunjuk keyakinan seseorang bahwa ia sanggup menolak godaan merokok pada situasi tertentu, misalnya saat cemas menjelang ujian atau saat teman-temannya sedang merokok bersama.
Bedanya begini. Seseorang bisa saja percaya diri di banyak hal namun tetap merasa tidak berdaya menghadapi dorongan merokok. Dalam penelitian ini, efikasi diri tinggi berpadanan dengan rasio odds tersuaikan 3,371, selang kepercayaan 1,639 sampai 6,932, untuk niat berhenti yang tinggi, angka kedua terbesar setelah keseimbangan pikiran.
Mayoritas mahasiswi dalam penelitian, sebanyak 44,0 persen, justru melaporkan efikasi diri rendah. Peneliti menulis bahwa efikasi diri berfungsi sebagai jembatan yang menerjemahkan niat menjadi tindakan nyata berhenti, sehingga program yang hanya menumbuhkan niat tanpa membangun keyakinan diri berisiko berhenti di tahap niat saja.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Ketergantungan nikotin, istilah yang sering disalahpahami
Ketergantungan nikotin sering dikira sama dengan seberapa sering seseorang merokok. Padahal dalam penelitian ini, ketergantungan diukur lewat kuesioner Fagerström untuk rokok konvensional dan kuesioner Penn State untuk rokok elektrik, yang menilai hal-hal seperti seberapa cepat sesudah bangun tidur seseorang butuh merokok pertama.
Di sinilah letak salah paham yang perlu diluruskan. Ketergantungan nikotin tinggi justru berpadanan dengan rasio odds tersuaikan hanya 0,058, selang kepercayaan 0,027 sampai 0,122, yang berarti peluang niat berhenti tinggi turun drastis dibanding kelompok berketergantungan rendah. Semakin lekat tubuh pada nikotin, semakin kecil niat untuk melepaskannya.
Frekuensi merokok yang tinggi, dihitung dari jumlah hari merokok per minggu, juga berpadanan dengan rasio odds tersuaikan 0,394, selang 0,202 sampai 0,767. Maksudnya, mahasiswi yang merokok hampir tiap hari cenderung punya niat berhenti lebih rendah daripada yang merokok sesekali, meski secara jumlah rokok terlihat sama-sama merokok.
Rokok elektrik, dianggap lebih aman tapi picu niat berhenti
Rokok elektrik kerap dipasarkan sebagai alternatif yang lebih aman dibanding rokok konvensional. Namun dalam studi ini, justru pengguna rokok elektrik dan pengguna ganda menunjukkan rasio odds tersuaikan 3,102, selang kepercayaan 1,350 sampai 7,129, untuk niat berhenti yang tinggi, dibandingkan pengguna rokok konvensional saja.
Peneliti menghubungkan pola ini dengan kekhawatiran kesehatan yang lebih akut pada rokok elektrik, seperti gangguan pernapasan mendadak dan efek pada kulit serta kesehatan mulut, ditambah lingkungan hukum Thailand yang melarang peredaran rokok elektrik. Kombinasi kekhawatiran dan tekanan hukum itu tampaknya justru mempercepat niat berhenti pada kelompok ini.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Dua faktor lain justru tidak terbukti berpengaruh meski sempat diduga penting. Status akademik tahun keempat dan jurusan non-kesehatan, dua hal yang diduga berkaitan dengan tingkat pemahaman risiko rokok, ternyata tidak berpadanan signifikan dengan niat berhenti. Begitu pula kesadaran terhadap program berhenti merokok yang tersebar lewat media dan tempat umum, rasio odds tersuaikannya 1,283, selang 0,545 sampai 3,020, tidak bermakna secara statistik.
Maksudnya, sekadar tahu ada kampanye berhenti merokok tidak cukup untuk menaikkan niat seseorang. Yang justru berpengaruh adalah bagaimana individu menimbang untung-ruginya sendiri dan seberapa yakin ia sanggup menahan godaan, bukan seberapa sering pesan larangan merokok terlihat di kemasan rokok atau tempat umum.
Aktivitas fisik dan dukungan teman, dua penopang niat
Aktivitas fisik berat didefinisikan penelitian ini sebagai olahraga seperti berlari atau berenang selama minimal 30 menit, tiga kali seminggu atau lebih. Hanya 6,9 persen mahasiswi yang mencapai ambang ini, sementara 74,9 persen mengaku tidak berolahraga berat sama sekali.
Kelompok yang rutin berolahraga berat punya rasio odds tersuaikan 2,692, selang kepercayaan 1,250 sampai 5,794, untuk niat berhenti tinggi. Peneliti menduga kepuasan yang didapat dari olahraga bisa menggantikan kepuasan yang biasanya dicari lewat nikotin, meski mekanisme ini tidak diuji langsung dalam penelitian.
Norma dan dukungan teman sebaya, yakni sejauh mana lingkungan pertemanan mendorong atau menekan seseorang untuk berhenti, juga berpadanan dengan rasio odds tersuaikan 2,606, selang 1,124 sampai 6,040. Hampir separuh mahasiswi, 45,4 persen, melaporkan dukungan teman sebaya yang tinggi terhadap upaya berhenti merokok.
Percobaan berhenti sebelumnya, meski gagal, juga terhubung dengan niat yang lebih tinggi sekarang. Sebanyak 75,2 persen mahasiswi pernah mencoba berhenti dua kali atau lebih dalam 30 hari terakhir, dengan rasio odds tersuaikan 2,550, selang 1,194 sampai 5,449, dibanding yang mencoba kurang dari dua kali.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Kejanggalan pada bagian usia
Ada kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca sendiri pada bagian hasil. Kalimat pembuka subbagian hasil regresi menyebutkan usia sebagai salah satu faktor dalam rangkaian temuan, bersanding dengan ketergantungan nikotin dan BMI. Namun bagian metode statistik menyatakan tegas bahwa usia tidak memenuhi ambang kelayakan pada analisis awal, sehingga dikeluarkan dari model akhir.
Tabel hasil lengkap yang memuat seluruh dua belas variabel yang dianalisis juga sama sekali tidak mencantumkan baris untuk usia. Maksudnya, ada dua bagian naskah yang tidak sejalan soal status variabel ini, satu menyiratkan usia ikut dianalisis, satu lagi menyatakan usia sudah disingkirkan sebelum model akhir dijalankan.
Peneliti sendiri mengakui sejumlah keterbatasan pada studinya. “Rancangan potong lintang mengumpulkan data pada satu titik waktu, yang hanya memungkinkan identifikasi asosiasi antarvariabel, bukan hubungan sebab-akibat,” tulis Sumpuntharat dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris, dari kalimat asli the cross-sectional design collected data at a single point in time, which allows only for the identification of associations between variables rather than establishing causal relationships.
Peneliti juga menonjolkan kekuatan studi ini. Rancangan yang menggabungkan faktor biologis seperti BMI dan aktivitas fisik, faktor psikologis seperti efikasi diri dan keseimbangan pikiran, serta faktor sosial seperti dukungan teman sebaya, memberi gambaran yang lebih utuh dibanding penelitian sebelumnya yang biasanya hanya menyoroti satu ranah saja pada populasi perokok umum, bukan khusus mahasiswi.
Keterbatasan lain juga diakui secara terbuka. Metode berjejaring untuk merekrut partisipan berisiko menjaring perokok yang sudah lebih termotivasi untuk berhenti, data berpusat di sekitar Bangkok sehingga sulit digeneralisasi ke wilayah lain Thailand, dan berat badan yang dilaporkan sendiri oleh partisipan rentan bias sehingga BMI sebenarnya bisa saja lebih tinggi dari yang tercatat.
Yang tersisa dari penelitian ini adalah gambaran bahwa niat berhenti merokok pada mahasiswi bukan soal berapa lama seseorang sudah merokok, melainkan bagaimana ia menimbang untung-ruginya sendiri, seberapa yakin ia bisa menahan godaan, dan seberapa erat tubuhnya sudah terikat pada nikotin. Tiga hal itu, bukan angka usia atau jurusan kuliah, yang tampak paling menentukan arah niatnya.















