- Rata-rata kepala sekolah dalam survei terhadap 2.045 kepala sekolah dan wakil kepala sekolah di Swedia membawahi 31,7 pegawai.
- Sebaran gejala kelelahan dan penilaian kemampuan kerja tidak berbeda bermakna antara kelompok berbawahan sedikit dan banyak.
- Kelompok 0-22 pegawai paling jarang mengalami konflik peran, tuntutan peran, dan tuntutan menampung frustrasi pegawai.
- Kelompok tersempit lebih jarang mendapat dukungan dari sesama kepala sekolah, dengan skor 3,65 dibanding 3,87 sampai 3,94.
Daftar Isi
Kepala sekolah dengan bawahan sedikit lebih jarang bentrok tugas. Itulah temuan survei terhadap 2.045 kepala sekolah dan wakil kepala sekolah di Swedia. Batas yang paling konsisten muncul adalah 22 pegawai atau kurang.
Yang tidak ikut berbeda justru gejala kelelahan. Kepala sekolah yang membawahi banyak orang tidak lebih sering melaporkan tanda kelelahan dibanding yang membawahi sedikit orang. Penilaian mereka atas kemampuan kerja sendiri juga tidak berbeda.
Temuan ini ditulis Roger Persson dari Departemen Psikologi Universitas Lund dan rekan, termasuk peneliti Pusat Pengembangan Kepala Sekolah Universitas Umeå. Artikel mereka, School principals’ span of control and its cross-sectional associations with signs of exhaustion, perceived work ability, and demanding and supportive circumstances in managerial work, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Sorotan pada Jumlah Bawahan
Riset terdahulu yang dikutip para penulis mencatat sekitar 20 hingga 25 persen kepala sekolah Swedia menunjukkan tanda kelelahan, dan mereka menilai kemampuan kerja sendiri sedikit lebih rendah dibanding sampel acak nasional. Survei internasional TALIS menyebut sumber stres utamanya: terlalu banyak pekerjaan administrasi, tugas tambahan karena staf absen, dan kewajiban menampung siswa berkebutuhan khusus.
Para penulis lalu menyoroti satu hal yang bisa diubah lewat keputusan organisasi: rentang kendali. Istilah ini berarti jumlah pegawai yang menjadi tanggung jawab langsung seorang kepala sekolah.
Baca juga Pengusaha Kecil Lagos: Kendali Kerja Baik, Depresi Lebih Jarang
Survei daring berlangsung 25 September hingga 23 Oktober 2018. Yang dianalisis 2.045 orang yang bekerja minimal separuh waktu di prasekolah, sekolah wajib, sekolah menengah atas, dan pendidikan orang dewasa, 77,2 persen di antaranya perempuan, dengan rata-rata usia 49,2 tahun. Jumlah bawahan mereka, dari nol sampai 100 pegawai, dibagi menjadi empat kelompok: 0–22, 23–30, 31–39, dan 40–100 pegawai.
Rata-rata 31,7 Pegawai
Rata-rata kepala sekolah dalam survei ini membawahi 31,7 pegawai, dengan median 30 pegawai, dan angka rata-ratanya sama persis untuk laki-laki dan perempuan. Wakil kepala sekolah membawahi lebih sedikit, dengan median 25 pegawai, sedangkan kepala sekolah bermedian 32. Selisih menurut jabatan ini sesuai dugaan para penulis, mengingat peran yang melekat pada tiap jabatan.
Di antara jenjang, rentang paling sempit ada di pendidikan orang dewasa, dengan median 25,5 pegawai, disusul sekolah menengah atas dengan median 27,5. Prasekolah dan sekolah wajib sama-sama bermedian 32 pegawai. Uji lanjutan menunjukkan pendidikan orang dewasa dan sekolah menengah atas berbeda bermakna dari prasekolah maupun sekolah wajib.
Kepala sekolah wajib dalam survei ini membawahi rata-rata 33,5 pegawai, sementara Badan Pendidikan Nasional Swedia memperkirakan rata-rata 28 guru. Survei ini menghitung semua pegawai, bukan guru saja. Karena itu, menurut para penulis, selisih keduanya bisa lebih kecil atau bahkan tidak ada.
Kota dan Pihak Lain
Selisih besar muncul pada pemilik sekolah. Di sekolah milik pemerintah kota, kepala sekolah membawahi median 33 pegawai. Di sekolah milik pihak lain, seperti perseroan, koperasi, dan yayasan, mediannya 20 pegawai.
Para penulis menyebut selisih sebesar itu agak mengejutkan. Sebagian mungkin terkait strategi dan kondisi khas tiap pemilik, juga beragamnya jenis pemilik di kelompok itu. Simpulan tentang sekolah nonpemerintah kota diminta dibaca hati-hati.
Lama menjabat juga menunjukkan pola: yang baru menjabat hingga tiga tahun membawahi rata-rata 28,2 pegawai, sedangkan yang sudah lebih dari sepuluh tahun membawahi 33,5 pegawai. Apakah pola itu disengaja atau sekadar tradisi, data survei tidak bisa menjawabnya. Para penulis hanya mencatat bahwa keputusan soal rentang kendali bisa diambil di berbagai tingkat, dari nasional sampai unit sekolah.
Kelelahan Tidak Berbeda
Gejala kelelahan diukur dengan daftar periksa 28 butir buatan Universitas Lund, lalu dipilah ke empat tingkat, dari tanpa tanda stres sampai tanda stres berat dan kemungkinan gangguan kelelahan. Sebarannya mirip di keempat kelompok. Pada kelompok 0–22 pegawai, 52,0 persen tanpa tanda stres dan 9,9 persen di tingkat terberat, sedangkan pada kelompok 40–100 pegawai angkanya 48,5 persen dan 9,0 persen.
Uji statistik menunjukkan perbedaan sebaran itu tidak bermakna, begitu pula pada kemampuan kerja yang dinilai sendiri dengan skala 0 sampai 10 dibanding masa terbaik masing-masing. Para penulis menyimpulkan jumlah bawahan tidak berkaitan langsung dengan kesehatan mental kepala sekolah. Namun, mereka tidak menutup kemungkinan rentang kendali ikut membentuk situasi yang dalam jangka panjang berdampak pada kesehatan dan kemampuan kerja.
Bentrokan Tugas Paling Kuat
Gambaran berbeda muncul pada tuntutan kerja selama enam bulan terakhir, yang dinilai dengan skala 1 (hampir tidak pernah) sampai 5 (hampir selalu). Sebelum penyesuaian apa pun, tujuh dari delapan skala tuntutan berbeda antarkelompok, dan hampir selalu kelompok 0–22 pegawai yang paling jarang mengalaminya. Konflik peran, misalnya, bernilai rata-rata 3,42 pada kelompok tersempit dan 3,88 pada kelompok terlebar.
Baca juga Jadwal Kerja Tak Menentu, Buruh Korea Lebih Sering Sulit Tidur
Konflik peran dalam survei ini berarti bentrokan antara pekerjaan administrasi, pengembangan organisasi, dan urusan pegawai, termasuk sulit mencari waktu membahas kegiatan harian dengan kolega. Inilah faktor yang paling kuat berkaitan dengan rentang kendali, baik sebelum maupun sesudah penyesuaian. Ukuran efeknya kecil, tetapi menurut para penulis sumbangannya konsisten.
Faktor Pemilik Sekolah
Polanya berubah ketika jenis pemilik sekolah ikut diperhitungkan: dari delapan skala, tinggal tiga yang tetap berbeda antarkelompok, yaitu konflik peran, tuntutan peran, dan fungsi penampung. Fungsi penampung adalah tuntutan menampung frustrasi pegawai atas pekerjaan yang berat secara psikologis. Wujudnya, pegawai yang tertekan membebankan masalah mereka kepada sang kepala sekolah.
Setelah penyesuaian itu, konflik peran bernilai 3,36 pada kelompok 0–22 pegawai, 3,52 pada 23–30, 3,62 pada 31–39, dan 3,67 pada 40–100. Fungsi penampung bergerak dari 3,12 ke 3,27, 3,35, lalu 3,38.
Tuntutan peran juga paling rendah di kelompok tersempit, yakni 2,87, dibanding 3,01 sampai 3,12 di tiga kelompok lain. Tuntutan peran mencakup tanggung jawab atas kinerja dan mutu, personel, lingkungan kerja, serta pengembangan organisasi.
Kekurangan sumber daya, kekurangan kendali organisasi, dinamika kelompok, dan fungsi penyangga tidak lagi berbeda. Menurut para penulis, ini tidak mengejutkan karena sekolah milik pihak selain pemerintah kota sering lebih kecil dan memang dirancang dengan rentang kendali lebih sempit.
Dukungan Datang Berbeda
Kelompok tersempit lebih percaya atasan akan membantu saat dibutuhkan, dengan skor dukungan atasan 3,43 pada model yang disesuaikan penuh, tertinggi di antara empat kelompok. Sebaliknya, mereka lebih jarang mendapat dukungan dari sesama kepala sekolah, dengan skor 3,65, sedangkan tiga kelompok lain 3,87 sampai 3,94. Kesempatan mereka membahas urusan organisasi dengan kolega setingkat pun lebih sedikit.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Ada gambaran positif yang berlaku untuk semua kelompok. Kepala sekolah jarang perlu membantu pegawai menata pekerjaan, dan merasa pegawainya bertanggung jawab serta berpengetahuan berharga. Skor kerja sama pegawai berada di kisaran 4,14 sampai 4,18.
Batas yang Belum Pasti
Para penulis melihat pola ambang. Kelompok 0–22 pegawai hampir selalu memberi hasil tuntutan kerja paling baik. Analisis ulang tanpa kepala sekolah yang membawahi nol sampai enam pegawai memberi hasil serupa.
Namun, batas 22 itu lahir dari pembagian median dan kuartil sampel ini sendiri. Dalam terjemahan dari naskah berbahasa Inggris, Roger Persson dan rekan menulis bahwa batas-batas tersebut “menunjuk ke satu arah tanpa memberi jawaban pasti atas pertanyaan berapa banyak pegawai yang seharusnya dimiliki seorang kepala sekolah.”
Semua data berasal dari laporan diri yang diambil sekali waktu. Karena itu, bias metode dan sebab-akibat terbalik tidak bisa disingkirkan. Bisa jadi sebagian kepala sekolah justru diberi bawahan lebih sedikit untuk meringankan beban kerjanya.
Para penulis juga belum tahu apakah mengubah rentang kendali secara sengaja akan mengurangi konflik peran, tuntutan peran, atau beban menampung frustrasi pegawai. Di sektor layanan kesehatan, penyempitan rentang kendali dilaporkan meningkatkan keterlibatan pegawai, tetapi dampaknya pada manajer tidak diungkap.
Saran mereka berhati-hati. Menyempitkan rentang kendali ke arah 22 pegawai atau kurang berpotensi meringankan konflik peran, tuntutan peran, dan beban menampung masalah pegawai. Kelelahan, kemampuan kerja, dan dukungan kolega kemungkinan tidak langsung ikut berubah.















