Pasien Paru Kronis Tangerang Selatan Tangguh dan Merasa Didukung

A A

Ilustrasi tangan memegang lembar foto rontgen dada yang memperlihatkan paru-paru dan tulang rusuk [Foto: Pexels]

  • Skor depresi rata-rata 125 pasien PPOK di Tangerang Selatan 4,65, di bawah ambang 5,5.
  • Skor ketangguhan rata-rata 29,27 dan skor dukungan sosial rata-rata 70,36, keduanya tergolong tinggi.
  • Ketika dukungan sosial rendah, ketangguhan tidak berkaitan bermakna dengan gejala depresi.
  • Tim menyarankan PHQ-9 dan penilaian ketangguhan dipakai rutin dalam penanganan PPOK di puskesmas.
Daftar Isi
  1. Udara yang Kotor
  2. Siapa Pesertanya
  3. Di Bawah Ambang
  4. Tangguh dan Didukung
  5. Saling Menguatkan
  6. Bergantung pada Dukungan
  7. Pesan untuk Puskesmas
  8. Batas Penelitian

Skor depresi rata-rata 125 pasien paru kronis di Tangerang Selatan tidak menunjukkan kecenderungan depresi. Angkanya 4,65, di bawah ambang 5,5 yang dipakai peneliti. Mereka tinggal di wilayah yang pada Juli hingga Oktober 2023 tercatat sebagai kota paling tercemar di Indonesia.

Temuan itu ditulis Adhityawarman Menaldi, Sali Rahadi Asih, dan Farah Ainul Mardhiyyah dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok. Laporannya berjudul Resilience and Social Support on Depression Risk for Chronic Obstructive Pulmonary Disease Patients in South Tangerang, Indonesia. Naskah itu terbit di Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional volume 21 nomor 2 tahun 2026.

Penyakit yang diteliti adalah penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK, rangkaian gangguan paru yang ditandai menyempitnya saluran napas. Gejalanya antara lain sesak napas menahun, batuk kering atau berdahak, dan infeksi saluran napas yang berulang. Menurut naskah, sejumlah studi mencatat sekitar 40 persen pengidap PPOK mengalami depresi klinis atau gejala depresi berat.

Udara yang Kotor

Penelitian ini dilakukan di wilayah yang dikenal sangat tercemar. Menurut data IQAir yang dikutip tim, indeks kualitas udara Tangerang Selatan pada 2023 sekitar 160, masuk kategori tidak sehat, dengan konsentrasi PM2.5 tahunan 71,7 mikrogram per meter kubik. Menurut naskah, angka itu melampaui tingkat anjuran Organisasi Kesehatan Dunia sebesar 43,8 mikrogram per meter kubik.

Pengukuran lembaga lain, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, menempatkan Tangerang Selatan sebagai kota paling tercemar di Indonesia pada Juli hingga Oktober 2023. Bagi pengidap PPOK, udara tercemar bisa memperparah gejala pernapasan dan memperberat beban penyakit. Tim juga menyebut perubahan keseharian sesudah pandemi COVID-19 sebagai sumber tekanan tambahan.

Dengan latar itu, peneliti menduga warga Tangerang Selatan yang hidup dengan PPOK punya tingkat depresi di atas rata-rata. Mereka juga ingin tahu apakah dukungan sosial memperkuat ketangguhan pasien, dan apakah gabungan keduanya melindungi pasien dari depresi.

Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses

Siapa Pesertanya

Sebanyak 125 pasien dewasa yang didiagnosis PPOK mengisi kuesioner daring pada Januari dan Februari 2024. Mereka direkrut lewat kerja sama dengan seluruh 35 puskesmas di Tangerang Selatan, ditambah ajakan lewat Facebook dan Instagram. Petugas puskesmas yang mengenali pasien dari catatan klinis lalu mengundang mereka ikut serta.

Usia rata-rata peserta 41,46 tahun, dengan 64 laki-laki atau 51,2 persen dan 61 perempuan atau 48,8 persen. Status merokok mereka beragam. Sebanyak 48 orang tidak pernah merokok, 42 orang masih aktif merokok, dan 35 orang sudah berhenti.

Status merokok 125 pasien PPOK di Tangerang SelatanTidak pernah merokok 48; Perokok aktif 42; Sudah berhenti merokok 35.Status merokok 125 pasien PPOK diTangerang SelatanJumlah peserta (orang) menurut status merokok0204060Tidak pernah merokok48Perokok aktif42Sudah berhenti merokok35Status merokok tidak bermakna dalam model depresi (p = 0,6118)
Sumber: Adhityawarman Menaldi, Sali Rahadi Asih, dan Farah Ainul Mardhiyyah, Resilience and Social Support on Depression Risk for Chronic Obstructive Pulmonary Disease Patients in South Tangerang, Indonesia, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2026. Grafik: Cekricek.id

Peneliti mengingatkan, merokok berat tetap menjadi penyebab utama PPOK. Paparan udara tercemar, menurut mereka, juga perlu dianggap penyumbang penting risiko penyakit ini, yakni paparan udara dengan indeks kualitas di atas 151 sampai 200. Pengidap kekurangan alfa-1 antitripsin, gangguan yang terkait gen, juga disebut punya peluang jauh lebih besar terkena PPOK.

Di Bawah Ambang

Skor depresi rata-rata peserta 4,65 pada skala 0 sampai 27, sementara ambang kecenderungan depresi adalah 5,5. Skor terendah yang tercatat 0, sedangkan tertinggi 18. Menurut peneliti, angka rata-rata itu menunjukkan tidak ada kecenderungan depresi yang relevan secara klinis pada sampel ini.

Depresi diukur dengan kuesioner PHQ-9 versi Indonesia yang dimodifikasi. Kuesioner ini berisi sembilan butir dengan empat pilihan jawaban, mulai dari tidak pernah, beberapa hari, lebih dari separuh waktu, sampai hampir setiap hari.

Tangguh dan Didukung

Ketangguhan peserta tergolong tinggi, dengan skor rata-rata 29,27 pada skala 0 sampai 40. Angka itu di atas batas 25,5 yang menandai ketangguhan tinggi. Ketangguhan di sini berarti kemampuan menyesuaikan diri saat menghadapi tekanan, diukur dengan skala CD-RISC versi Indonesia berisi 10 butir.

Dukungan sosial yang dirasakan bahkan tergolong sangat tinggi. Skornya rata-rata 70,36, jauh di atas rata-rata hipotetis 48, dengan skor terendah 12 dan tertinggi 84. Dukungan itu diukur dari tiga sumber, yaitu keluarga, teman, dan orang yang berarti bagi pasien.

Baca juga Skrining Kesehatan Jiwa Remaja SMK: Cemas Terbanyak

Saling Menguatkan

Tim lalu menguji kaitan ketangguhan dan dukungan sosial dengan skor depresi. Ketangguhan berkaitan bermakna dengan depresi, dengan nilai t −2,81 dan p 0,006. Dukungan sosial juga menjadi peramal bermakna, dengan t −2,91 dan p 0,004.

Interaksi keduanya pun bermakna dan bernilai negatif, dengan t −2,57 dan p 0,011. Menurut peneliti, ketangguhan yang disertai dukungan sosial berdampak lebih besar dalam menurunkan gejala depresi dibanding masing-masing faktor sendiri.

Secara keseluruhan, model ini menjelaskan 18 persen variasi skor depresi. Jenis kelamin dan status merokok ikut dimasukkan ke dalam model. Keduanya tidak bermakna, dengan p 0,8681 untuk jenis kelamin dan p 0,6118 untuk status merokok.

Bergantung pada Dukungan

Pola paling jelas muncul saat tingkat dukungan dipilah. Ketika dukungan sosial rendah, ketangguhan tidak berkaitan bermakna dengan gejala depresi, dengan nilai b −0,08 dan p 0,17. Pada dukungan sedang, ketangguhan berkaitan nyata dengan gejala depresi yang lebih rendah, dengan b −0,20 dan p 0,002.

Pada tingkat dukungan tertinggi, nilai b mencapai −0,26 dengan p 0,001. Menurut peneliti, kemampuan ketangguhan menangkal gejala depresi diperkuat oleh dukungan sosial yang dirasakan.

Ketangguhan berkaitan dengan gejala depresi lebih ringan saat dukungan sedang atau tinggiDukungan sosial rendah: Nilai b -0,08; Dukungan sosial sedang: Nilai b -0,20; Dukungan sosial tinggi: Nilai b -0,26.Ketangguhan berkaitan dengan gejala depresilebih ringan saat dukungan sedang atau tinggiNilai b kaitan skor ketangguhan dengan skor gejala depresi-0,3-0,2-0,10Dukungan sosial rendah-0,08Dukungan sosial sedang-0,20Dukungan sosial tinggi-0,26p: rendah 0,17 (tidak bermakna), sedang 0,002, tinggi 0,001
Sumber: Adhityawarman Menaldi, Sali Rahadi Asih, dan Farah Ainul Mardhiyyah, Resilience and Social Support on Depression Risk for Chronic Obstructive Pulmonary Disease Patients in South Tangerang, Indonesia, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2026. Grafik: Cekricek.id

“Pola interaksi ini menunjukkan bahwa ketangguhan tidak berfungsi sendirian, tetapi dibentuk oleh konteks sosial di sekitarnya,” tulis Menaldi dan rekan, dalam terjemahan bebas. Dukungan sosial, menurut mereka, bekerja sebagai katalis yang memperkuat mekanisme ketangguhan dan membantu pasien memakai kekuatan dirinya dengan lebih efisien.

Menurut tim, temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya yang melaporkan ketangguhan berbanding terbalik dengan gejala depresi pada pasien penyakit kronis, termasuk kelompok PPOK di Eropa dan Asia Timur. Peneliti mencatat, variasi yang dijelaskan model ini sedikit lebih tinggi daripada beberapa studi PPOK sebelumnya. Menurut mereka, tekanan lingkungan dan struktur sosial di Indonesia mungkin memperkuat hubungan psikososial tersebut.

Pesan untuk Puskesmas

Menurut naskah, perkiraan prevalensi PPOK di Indonesia sekitar 3,7 persen. Lebih dari 112 juta orang tercatat sebagai perokok aktif, dan lebih dari separuhnya mulai merokok pada usia 15 sampai 19 tahun. PPOK kini disebut sebagai penyebab kematian ketujuh terbanyak di Indonesia.

Peneliti menulis, gejala awal di puskesmas tidak selalu dievaluasi secara sistematis. Gejala menahun bisa dianggap masih bisa ditangani atau bagian dari penuaan biasa, sehingga diagnosis dan penanganan bisa tertunda. Menurut mereka, keadaan ini bisa membuat besarnya masalah PPOK dan dampak psikososialnya kurang dikenali.

Tim menyarankan alat penapisan singkat, seperti PHQ-9 dan penilaian ketangguhan, dipakai rutin dalam penanganan PPOK di puskesmas. Petugas kesehatan juga perlu dilatih mengenali gejala depresi dan melibatkan keluarga sebagai sumber dukungan. Langkah itu, menurut mereka, bisa memperbaiki kepatuhan berobat dan hasil jangka panjang.

Menurut tim, intervensi yang hanya berfokus pada cara pasien menghadapi masalahnya sendiri bisa terbatas hasilnya bila tidak disertai upaya memperkuat dukungan sosial yang dirasakan pasien. Edukasi bagi keluarga, pendamping, dan petugas kesehatan dinilai perlu agar dukungan diberikan sesuai kebutuhan psikologis pasien.

Efektivitas dukungan, kata peneliti, tidak hanya ditentukan oleh ketersediaannya, tetapi juga oleh cara pasien memandang dan menghargainya. Di wilayah berpolusi tinggi, program penguatan psikososial disebut bisa menjadi pelengkap intervensi biomedis dan lingkungan.

Baca juga Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti

Batas Penelitian

Kuesioner diisi sendiri oleh peserta, termasuk yang disebar lewat media sosial. Peneliti mengakui cara ini membuka peluang jawaban yang mengikuti harapan sosial, meski anonimitas sudah dijaga. Kerja sama dengan 35 puskesmas juga mungkin menimbulkan rasa tertekan saat perekrutan, walau semua jawaban diisi mandiri secara anonim.

Diagnosis dikonfirmasi petugas puskesmas, bukan lewat akses langsung peneliti ke rekam medis. Cara perekrutan berurutan juga bisa membatasi keberlakuan hasil di luar pasien yang datang ke puskesmas atau aktif di media sosial.

Di sisi lain, perekrutan dari seluruh puskesmas di Tangerang Selatan dinilai memperkuat keterwakilan sampel. Jumlah peserta juga melampaui batas minimal 52 orang hasil analisis daya yang dihitung sebelum penelitian.

Tim menyarankan studi lanjutan yang mengikuti pasien dari waktu ke waktu. Desain itu bisa memperjelas bagaimana ketangguhan, dukungan sosial, persepsi tentang penyakit, dan tekanan lingkungan saling memengaruhi kesehatan jiwa pasien PPOK. Penguatan ketangguhan dan dukungan sosial di layanan kesehatan masyarakat, menurut mereka, bisa membantu mencegah memburuknya kesehatan jiwa pasien.

Menurut tim, komponen psikososial sebaiknya dianggap bagian utuh dari perawatan PPOK, bukan pertimbangan pinggiran. Di kota berudara kotor itu, ketangguhan pasien paru kronis berkaitan dengan gejala depresi yang lebih ringan hanya ketika dukungan sosial yang dirasakan berada di tingkat sedang atau tinggi.

Bagikan

Baca Juga

Kelelahan Kerja Menimpa 84 Persen Dokter Residen di Mesir
Remaja Bradford Habiskan Tiga Jam Lebih Sehari di Media Sosial
Pekerja Rentan Swedia Lebih Berisiko Gangguan Jiwa, Terutama Ibu
Sepertiga Pelajar di Ibu Kota Kamerun Keliru Menilai Berat Badan
Debu Kasar dan Ozon Terkait Cemas dan Depresi Remaja Sichuan
Pekerja Tambang Chile yang Didiskriminasi Lebih Banyak Depresi