- Sebanyak 33,7 persen remaja sekolah di Yaounde menilai berat badannya tidak sesuai hasil ukur.
- Di kelompok remaja kelebihan berat atau obesitas, salah persepsi mencapai 69,0 persen.
- Remaja yang salah menilai berat badannya lebih berpeluang membatasi asupan kalori dan memakai obat pencahar.
- Penulis menganjurkan program yang dibedakan menurut jenis kelamin serta melibatkan orang tua di rumah.
Daftar Isi
- September 2018 di Sepuluh Sekolah Yaounde
- Temuan Ekwoge: Satu dari Tiga Meleset
- Dari Saleem di Pakistan sampai Riset Mauritius
- Remaja Putri, Remaja Putra, dan Studi 22 Negara
- Upaya Diet yang Dicatat Tim Sobngwi
- Dua Belas Bulan Terakhir dan Catatan Riahi dari Iran
- Sesudah 2018: Batas Data dan Langkah Lanjutan
Ketika remaja Kamerun yang kini berusia 15 sampai 19 tahun masih balita, survei demografi dan kesehatan 2004 mencatat kekurangan gizi yang tinggi: 32 persen anak bertubuh pendek, 5 persen sangat kurus, dan 19 persen berbobot kurang. Gambaran itu berubah pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2011 sampai 2018, remaja kurus tinggal sekitar 9 sampai 10 persen, sementara kelebihan berat dan obesitas melampaui 10 sampai 12 persen, lebih tinggi lagi di kota seperti Yaounde.
Bersamaan dengan itu, cara orang memandang tubuh ikut bergeser. Dalam norma tradisional Kamerun, tubuh yang lebih berisi lama dikaitkan dengan kesehatan, kemakmuran, dan kemapanan sosial. Kini Instagram dan TikTok, yang diperkirakan diakses sekitar 45 persen remaja kota, kerap menawarkan citra tubuh langsing. Di persimpangan dua arus itu sebuah tim dari Yaounde mengajukan pertanyaan sederhana, yakni seberapa tepat remaja menilai berat badannya sendiri.
Jawabannya dilaporkan Diane Dione Ekwoge dan rekan dari RSD (Recherche Sante et Developpement) Institute di Yaounde dalam makalah Body weight misperception among school going adolescents in Cameroon. Naskah itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Tim lima peneliti ini, yang juga melibatkan University of Exeter di Inggris dan University of Yaoundé 1, menemukan bahwa satu dari tiga pelajar yang mereka periksa keliru membaca bobot tubuhnya sendiri.
September 2018 di Sepuluh Sekolah Yaounde
Data dikumpulkan pada September hingga Oktober 2018 di sepuluh sekolah menengah di kawasan kota dan pinggiran Yaounde, masing-masing dengan sedikitnya 500 siswa. Sebanyak 3.153 remaja berusia 12 sampai 19 tahun masuk analisis. Usia rata-rata mereka 14,9 tahun, 55,1 persen laki-laki, dan 62,2 persen bersekolah di kawasan kota. Tinggi dan berat badan diukur langsung, lalu dibandingkan dengan jawaban atas pertanyaan kuesioner kesehatan pelajar WHO tentang gambaran berat badan masing-masing.
Menurut indeks massa tubuh sesuai usia dari hasil pengukuran, 77,6 persen remaja berberat normal, 20,6 persen kelebihan berat atau obesitas, dan 1,9 persen kekurangan berat. Jawaban mereka sendiri membentuk susunan lain: 72,6 persen merasa beratnya normal, 14,9 persen merasa kurus, dan 12,5 persen merasa kelebihan berat.
Temuan Ekwoge: Satu dari Tiga Meleset
Dengan membandingkan hasil ukur dan penilaian sendiri tiap remaja, Ekwoge dan rekan mendapati 33,7 persen remaja menilai berat badannya tidak sesuai hasil ukur. Sebagian besar meleset ke arah yang lebih ringan. Sebanyak 26,6 persen remaja merasa lebih ringan daripada kategori indeks massa tubuhnya, sedangkan 7,1 persen merasa lebih berat. Di dalam kelompok yang keliru sendiri, 79,0 persen menaksir terlalu rendah dan 21,0 persen menaksir terlalu tinggi.
Kelompok yang paling sering keliru adalah remaja yang kelebihan berat atau obesitas. Di kelompok ini, salah persepsi mencapai 69,0 persen, secara bermakna lebih tinggi daripada remaja berberat normal. Bila dilihat dari sisi sebaliknya, di antara semua remaja yang salah menilai diri, 54,7 persen berberat normal, 42,1 persen kelebihan berat atau obesitas, dan 3,2 persen kekurangan berat.
Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas
Dari Saleem di Pakistan sampai Riset Mauritius
Angka sepertiga itu tidak berdiri sendirian. Para penulis menempatkannya di samping studi lain yang mereka kutip. Di Mauritius, remaja dilaporkan memiliki ketidaksesuaian penilaian berat setinggi 42,2 persen. Di luar Afrika, Saleem dan rekan mencatat 41 persen anak muda di Pakistan salah menilai berat badannya, dan pada kelompok kelebihan berat angkanya mencapai 91 persen.
Menurut Ekwoge dan rekan, kemiripan itu memberi isyarat bahwa jarak antara ukuran medis dan penilaian pribadi bisa jadi gejala luas di negara-negara yang sedang mengalami peralihan gizi cepat, tempat pandangan lama tentang ukuran tubuh dibentuk ulang oleh pengaruh modern. Mereka juga mengutip Jones dan rekan, yang mendapati remaja yang salah menaksir berat cenderung lebih cemas soal berat dan lebih bergantung pada makanan cepat saji serta soda.
Remaja Putri, Remaja Putra, dan Studi 22 Negara
Perbedaan jenis kelamin muncul ketika arah kekeliruan dipilah. Di antara remaja putri yang menaksir beratnya terlalu tinggi, 87,6 persen sebenarnya berindeks massa tubuh normal, dibanding 81,8 persen pada remaja putra. Di sisi lain, di antara remaja putri yang menaksir terlalu rendah, 56,9 persen justru kelebihan berat atau obesitas, sedangkan pada remaja putra angkanya 50,0 persen.
Pola itu, tulis para penulis, sejalan dengan studi di 22 negara yang menemukan hampir separuh remaja putri menaksir beratnya terlalu tinggi dan berusaha menurunkannya meski indeks massa tubuhnya normal. Ekwoge dan rekan mengaitkannya dengan pergeseran budaya di Kamerun. Dulu, di banyak komunitas, tubuh perempuan yang berisi dirayakan sebagai tanda kemakmuran, kesehatan, dan kesiapan berketurunan, sedangkan kini remaja putri makin terpapar standar kecantikan ala Barat.
Mereka melukiskan tarik-menarik itu sebagai konflik sosial budaya. Cerita di tengah masyarakat masih bisa memandang tubuh yang sangat kurus sebagai tanda sakit, sementara media digital mengangkat kelangsingan sebagai ukuran utama daya tarik. Bagi remaja putra, penulis mencatat kecenderungan lain, yaitu bisa mengidealkan tubuh berotot. Contoh dari orang tua dalam kebiasaan makan, olahraga, dan kepedulian pada citra tubuh juga disebut ikut membentuk persepsi remaja.
Upaya Diet yang Dicatat Tim Sobngwi
Penilaian yang meleset itu berkaitan dengan apa yang dilakukan remaja terhadap tubuhnya dalam 30 hari terakhir. Hampir satu dari lima remaja, tepatnya 19,6 persen, mengaku mencoba menurunkan berat badan, sementara 11,9 persen mencoba menaikkannya. Upaya menurunkan berat lebih sering dilakukan remaja putri, 22,7 persen, daripada remaja putra, 16,2 persen.
Sebanyak 42,5 persen remaja menjalankan setidaknya satu cara sehat, terutama olahraga atau mengurangi makan. Namun 20,7 persen melakukan setidaknya satu cara yang tidak sehat. Puasa 24 jam atau lebih menjadi cara tidak sehat yang paling sering, disusul pemakaian obat pencahar oleh 5,1 persen remaja dan pil pelangsing oleh 4,2 persen.
Baca juga Pengojek Kamerun Mau Pakai Rompi Pemantul, Lampu Motor Tetap Mati
Setelah faktor lain diperhitungkan, remaja yang salah menilai berat badannya punya peluang lebih besar untuk mencoba menurunkan berat, dengan rasio odds disesuaikan 1,75, dan mencoba menaikkan berat, 1,90. Peluang mereka membatasi asupan kalori juga lebih besar, 1,49, begitu pula memakai obat pencahar, 1,45. Sebaliknya, mereka lebih kecil kemungkinannya menjalankan cara pengendalian berat yang sehat.
Para penulis merangkum pola ini dengan istilah beban ganda. “Pola-pola ini menunjukkan adanya ‘beban ganda’: persepsi berat yang tidak akurat dapat menumpulkan motivasi untuk pencegahan obesitas yang tepat di antara mereka yang menaksir beratnya terlalu rendah, sekaligus mendorong diet yang merugikan dan tekanan psikologis di antara mereka yang menaksir statusnya terlalu tinggi,” tulis Ekwoge dan rekan di bagian diskusi, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Dua Belas Bulan Terakhir dan Catatan Riahi dari Iran
Kuesioner yang sama menanyakan pengalaman kesehatan jiwa selama 12 bulan terakhir. Sebanyak 32,8 persen remaja mengaku cemas sampai kehilangan nafsu makan, dan 43,6 persen cemas sampai sulit berkonsentrasi mengerjakan pekerjaan rumah. Keluhan-keluhan ini lebih sering dialami remaja putri daripada remaja putra.
Pada remaja yang salah menilai berat badannya, sulit berkonsentrasi karena cemas dilaporkan 47,3 persen, dibanding 41,8 persen pada yang menilainya dengan benar. Setelah disesuaikan dengan jenis kelamin dan usia, salah persepsi berkaitan dengan peluang lebih tinggi untuk sulit berkonsentrasi karena cemas, dengan rasio odds disesuaikan 1,19. Tidak ada kaitan bermakna dengan memakai alkohol atau obat untuk meredakan cemas.
Para penulis menegaskan ukuran-ukuran itu dipakai sebagai penanda penapisan yang dilaporkan sendiri, bukan diagnosis klinis. Mereka menyandingkan temuan ini dengan Riahi dan rekan di Iran, yang mencatat 59,1 persen remaja salah menilai berat badan. Di sana, remaja yang keliru lebih sering merasa tidak berharga, cemas, dirundung, sulit tidur, dan depresi dibanding teman sebaya yang menilai beratnya dengan tepat.
Baca juga Skrining Kesehatan Mental Remaja di Padang Belum Efektif
Sesudah 2018: Batas Data dan Langkah Lanjutan
Tim Ekwoge mencatat sejumlah batas. Karena datanya diambil pada satu waktu, studi ini tidak bisa menentukan arah hubungan antara persepsi berat dan tekanan psikologis. Indeks massa tubuh juga hanya diukur sekali, padahal tinggi dan berat remaja berubah cepat pada masa pertumbuhan. Pemilihan sekolah besar berisi sedikitnya 500 siswa membuat remaja di sekolah kecil, juga remaja yang tidak bersekolah, kurang terwakili.
Data juga tidak memuat indikator sosial ekonomi yang kuat maupun jenis sekolah, negeri atau swasta. Karena itu, para penulis menyarankan riset berikutnya di Kamerun memeriksa apakah idaman tubuh langsing atau kecenderungan menaksir berat terlalu tinggi lebih banyak muncul di kawasan kota berpenghasilan tinggi daripada di wilayah berpenghasilan rendah atau perdesaan.
“Studi ini menyoroti pentingnya memantau persepsi berat badan di kalangan remaja di Kamerun,” tulis mereka dalam simpulan. Para penulis menganjurkan program yang dibedakan menurut jenis kelamin, terutama bagi remaja putri yang menaksir beratnya terlalu tinggi dan remaja putra yang menaksir terlalu rendah, serta melibatkan orang tua di rumah. Mereka menyebut studi ini termasuk yang pertama meneliti ketidaksesuaian antara berat terukur dan penilaian sendiri pada remaja di perkotaan Afrika sub-Sahara.















