Proyeksi: Harga Minimum Alkohol Naik, Kematian Skotlandia Turun

A A

Ilustrasi lorong rak swalayan berisi deretan botol anggur, vodka, dan minuman keras di Gyumri, Armenia [Foto: Tiia Monto/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Kenaikan harga minimum dari 0,50 ke 0,65 pound per unit diperkirakan menurunkan konsumsi alkohol 12,0 persen.
  • Dalam 20 tahun, kenaikan itu diperkirakan berarti 3.385 kematian lebih sedikit, termasuk 2.578 kematian sepenuhnya akibat alkohol.
  • Jumlah peminum berbahaya diperkirakan berkurang 29,4 persen dan peminum berisiko 8,0 persen.
  • Kawasan paling tertinggal, yang mewakili 20 persen penduduk, menyumbang 34 persen penurunan kematian sepenuhnya akibat alkohol.
Daftar Isi
  1. Harga Lama dan Harga Baru di Rak Toko
  2. Kawasan Sejahtera dan Kawasan Tertinggal
  3. Peminum Moderat dan Peminum Berbahaya
  4. Konsumsi Turun Lebih Banyak daripada Belanja
  5. Penyakit Hati Lebih Dulu, Kanker Belakangan
  6. Manfaat Kesehatan dan Beban bagi Peminum Rentan

Harga satu unit alkohol di rak toko dan jumlah orang yang meninggal karena penyakit hati di Skotlandia tampak seperti dua urusan yang berjauhan. Sebuah pemodelan dari Inggris menghitung kaitan keduanya. Menurut proyeksi model itu, bila harga minimum per unit dinaikkan dari £0,50 menjadi £0,65, konsumsi alkohol turun 12,0 persen dan jumlah kematian berkurang 3.385 dalam 20 tahun.

Hitungan itu disusun John Holmes dan rekan dari Sheffield Addictions Research Group, University of Sheffield, Inggris. Mereka melaporkannya dalam Public health impacts of increasing the minimum unit price for alcohol in Scotland: A model-based appraisal, yang terbit di PLOS Medicine volume 23 nomor 1 tahun 2026. Penelitian ini dipesan Pemerintah Skotlandia untuk menimbang tingkat harga minimum di masa depan, sementara penyandang dana tidak berperan dalam pengumpulan dan analisis data maupun penulisan naskah.

Alat yang dipakai adalah Sheffield Tobacco and Alcohol Policy Model, simulasi yang menghidupkan 200.000 individu sintetis berdasarkan Survei Kesehatan Skotlandia 2016–2018. Penduduk tiruan itu dipecah menjadi 800 subkelompok dengan data pembelian untuk sepuluh jenis minuman, lalu disimulasikan sampai 2040. Sembilan pilihan kebijakan diuji, dari menghapus harga minimum sampai menaikkannya ke £0,80, semuanya dibandingkan dengan harga yang tetap £0,50.

Harga Lama dan Harga Baru di Rak Toko

Harga minimum per unit berlaku di Skotlandia sejak 1 Mei 2018. Sejak hari itu, alkohol tidak boleh dijual kepada konsumen di bawah £0,50 per unit, dengan satu unit Inggris setara 8 gram atau 10 mililiter alkohol murni. Kebijakan ini menaikkan harga paling besar pada produk termurah dan berkadar tertinggi, yang menurut para penulis banyak dibeli peminum berat berpenghasilan rendah.

Di sisi lain, harga yang dipatok tidak kebal terhadap inflasi. Para penulis mencatat ambang itu semestinya sudah £0,63 pada akhir 2024 agar nilai riilnya tidak tergerus, dan Pemerintah Skotlandia menaikkannya menjadi £0,65 pada 30 September 2024. Evaluasi terdahulu yang dirujuk paper menunjukkan kebijakan awal menurunkan penjualan alkohol 3,0 sampai 3,5 persen dan kematian yang sepenuhnya akibat alkohol 13,4 persen.

Karena data yang belum tersentuh pandemi hanya tersedia sampai 2019, model memperlakukan perubahan harga seolah terjadi pada tahun itu, setahun setelah harga minimum pertama. Pada semua skenario, ambang diasumsikan naik setiap tahun mengikuti inflasi sejak 2020. Setiap skenario dibandingkan dengan skenario kontrol, yakni harga minimum £0,50 yang nilai riilnya tetap sepanjang waktu.

Kawasan Sejahtera dan Kawasan Tertinggal

Ukuran ketimpangan dalam studi ini adalah kuintil Indeks Deprivasi Berganda Skotlandia, yang membagi penduduk ke dalam lima kelompok menurut tingkat ketertinggalan kawasan tempat tinggalnya. Pada kelompok paling sejahtera, 12,1 persen orang tidak minum alkohol sama sekali. Pada kelompok paling tertinggal, angkanya 23,9 persen, kira-kira dua kali lipat.

Peminum di kawasan paling sejahtera juga minum paling banyak, rata-rata 13,6 unit per pekan, dan membelanjakan £31,53 per pekan untuk alkohol. Di kawasan paling tertinggal, peminumnya rata-rata menenggak 11,5 unit dan membelanjakan £25,80. Para penulis mencatat belanja makin kecil seiring makin tertinggalnya kawasan, sementara konsumsi di tiga kelompok lain berkisar 11,2 sampai 12,1 unit.

Porsi alkohol murah terbesar ada pada peminum berbahayaPeminum moderat 27,8%; Kuintil paling sejahtera 40,1%; Peminum berisiko 44,0%; Kuintil paling tertinggal 46,3%; Peminum berbahaya 58,2%.Porsi alkohol murah terbesar ada padapeminum berbahayaPersentase unit alkohol yang dibeli di bawah GBP 0,60 perunit, saat harga minimum GBP 0,500%20%40%60%Peminum moderat27,8%Kuintil paling sejahtera40,1%Peminum berisiko44,0%Kuintil paling tertinggal46,3%Peminum berbahaya58,2%
Sumber: John Holmes dan rekan, Public health impacts of increasing the minimum unit price for alcohol in Scotland: A model-based appraisal, PLOS Medicine, 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang dibandingkan berikutnya adalah harga yang dibayar. Kelompok paling sejahtera membeli 40,1 persen unitnya dengan harga di bawah £0,60 dan 50,2 persen di bawah £0,70. Kelompok paling tertinggal membeli 46,3 persen unitnya di bawah £0,60 dan 54,9 persen di bawah £0,70. Menurut para penulis, perbedaan pola belanja antarkelompok kawasan ini tergolong sedikit.

Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung

Peminum Moderat dan Peminum Berbahaya

Perbedaan yang lebih lebar muncul di antara kelompok peminum. Paper membaginya tiga: moderat, yang minum kurang dari 14 unit per pekan; berisiko, yang minum lebih dari 14 sampai 35 unit bagi perempuan atau 50 unit bagi laki-laki; dan berbahaya, yang melampaui batas itu. Sebanyak 71,4 persen peminum masuk kelompok moderat, 24,6 persen berisiko, dan 4,0 persen berbahaya.

Pada kelompok moderat, hanya 27,8 persen unit dibeli dengan harga di bawah £0,60. Pada peminum berisiko, porsinya 44,0 persen, sedangkan pada peminum berbahaya mencapai 58,2 persen, lebih dari separuh. Tabel kedua paper juga mencatat konsumsi rata-rata peminum berbahaya sebanyak 63,9 unit per pekan, sementara peminum moderat 4,8 unit per pekan.

Pada skenario kenaikan ke £0,65, jumlah peminum berbahaya diperkirakan berkurang 29,4 persen dan peminum berisiko 8,0 persen. Sebaliknya, jumlah peminum moderat bertambah 4,4 persen karena perubahan konsumsi menggeser sebaran peminum antarkelompok. Model ini memang dirancang agar individu bisa berpindah kelompok peminum, sesuatu yang menurut para penulis belum bisa dilaporkan model mereka sebelumnya.

Arah sebaliknya juga dihitung. Bila harga minimum dihapus, jumlah peminum berbahaya diperkirakan naik 18,7 persen, sedangkan bila ambang dinaikkan sampai £0,80, jumlahnya turun 57,9 persen. Tabel paper juga mencatat jumlah peminum berbahaya turun 7,9 persen pada ambang £0,55 dan 48,8 persen pada £0,75.

Konsumsi Turun Lebih Banyak daripada Belanja

Dengan ambang £0,65, konsumsi alkohol seluruh penduduk diperkirakan turun 12,0 persen dibanding ambang yang tetap £0,50. Di kawasan paling sejahtera penurunannya 10,7 persen, sedangkan di kawasan paling tertinggal 14,7 persen. Para penulis menyebut semua kenaikan harga minimum menurunkan konsumsi di kelima kelompok kawasan, dengan penurunan terbesar di kelompok yang paling tertinggal.

Perubahan belanja lebih kecil. Pada ambang yang sama, belanja alkohol per peminum per pekan turun 2,1 persen, dengan penurunan 1,8 persen di kawasan paling sejahtera dan 2,8 persen di kawasan paling tertinggal. Pada skenario penghapusan harga minimum, konsumsi justru naik 5,1 persen dan belanja naik 0,6 persen dibanding ambang £0,50.

Menurunkan ambang ke £0,40 diperkirakan menaikkan konsumsi 3,3 persen, sedangkan menaikkannya ke £0,80 memangkas konsumsi 32,7 persen dan belanja 6,7 persen. Pada setiap skenario, arah perubahan belanja sama di semua kelompok kawasan, tetapi kenaikan maupun penurunannya selalu paling besar di kawasan paling tertinggal.

Baca juga Istri Jepang Tertekan Saat Suami Minum Berat, Juga Saat Tak Minum

Penyakit Hati Lebih Dulu, Kanker Belakangan

Dalam 20 tahun, ambang £0,65 diperkirakan berarti 3.385 kematian lebih sedikit, termasuk 2.578 kematian yang sepenuhnya akibat alkohol. Penghapusan harga minimum bergerak ke arah sebaliknya, dengan 1.803 kematian lebih banyak, 1.206 di antaranya sepenuhnya akibat alkohol. Model menghitung risiko kematian dan rawat inap untuk 45 kondisi kesehatan.

Penyakit hati menyumbang bagian terbesar dari penurunan kematian, yakni 51,4 persen. Gangguan mental dan perilaku akibat alkohol menyusul dengan 27,1 persen, lalu kanker 7,6 persen. Penurunan tahunan naik dari tahun pertama sampai puncaknya di tahun kelima, stabil hingga tahun kesepuluh, lalu naik lagi sejak tahun kesebelas ketika penurunan kematian akibat kanker mulai muncul.

Temuan tentang kanker itu, menurut para penulis, tergolong baru, karena menunjukkan porsi yang cukup besar dari dampak kebijakan harga alkohol menyangkut kondisi yang hanya sebagian disebabkan alkohol. Pada sisi lain, penurunan itu sebagian diimbangi kenaikan kematian dari sebab lain. Kematian dari sebagian penyakit jantung dan pembuluh darah juga bertambah, karena minum dalam kadar rendah mungkin menurunkan risiko kematian, efek pelindung yang menurut paper diperdebatkan.

Pada skenario tanpa perubahan, kelompok kawasan paling tertinggal mencatat 1,3 kali lebih banyak kematian secara keseluruhan dan 3,2 kali lebih banyak kematian sepenuhnya akibat alkohol dibanding kawasan paling sejahtera. Ketimpangan itu melebar bila harga minimum dihapus atau diturunkan, dan menyempit bila dinaikkan, karena dampak kebijakan selalu diperkirakan lebih besar di kawasan yang lebih tertinggal.

Kematian paling banyak berkurang di kawasan paling tertinggalKuintil 1 (paling sejahtera): Perubahan jumlah kematian -234; Kuintil 2: Perubahan jumlah kematian -328; Kuintil 3: Perubahan jumlah kematian -473; Kuintil 4: Perubahan jumlah kematian -672; Kuintil 5 (paling tertinggal): Perubahan jumlah kematian -871.Kematian paling banyak berkurang dikawasan paling tertinggalPerubahan jumlah kematian sepenuhnya akibat alkohol selama20 tahun, harga minimum GBP 0,65 dibanding GBP 0,50(Tabel 4)-750-500-2500Kuintil 1 (paling sejahtera)-234Kuintil 2-328Kuintil 3-473Kuintil 4-672Kuintil 5 (paling tertinggal)-871
Sumber: John Holmes dan rekan, Public health impacts of increasing the minimum unit price for alcohol in Scotland: A model-based appraisal, PLOS Medicine, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada ambang £0,65, kawasan paling tertinggal, yang mewakili 20 persen penduduk, menyumbang 34 persen penurunan kematian sepenuhnya akibat alkohol. Angkanya 871 kematian lebih sedikit, dibanding 234 di kawasan paling sejahtera. Tahun hidup yang hilang secara keseluruhan per 100.000 tahun-orang berkurang 230 di kawasan paling tertinggal, sedangkan di kawasan paling sejahtera berkurang 54.

Manfaat Kesehatan dan Beban bagi Peminum Rentan

Para penulis merangkum temuannya dalam simpulan. “Menaikkan ambang harga minimum per unit yang sudah berlaku dapat menghasilkan penurunan tambahan pada konsumsi alkohol, dampak buruk terkait, dan ketimpangan kesehatan. Manfaatnya terutama dirasakan kelompok paling tertinggal dan peminum paling berat,” tulis Holmes dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Pada sisi lain timbangan, paper mencatat kekhawatiran tentang beban keuangan bagi penderita ketergantungan alkohol yang juga rentan secara ekonomi, terutama bila kenaikan ambang melampaui inflasi. “Karena itu, pembuat kebijakan menghadapi tarik-ulur, sebab harga minimum yang lebih tinggi memberi penurunan dampak buruk yang lebih besar, tetapi berpotensi menimbulkan lebih banyak dampak yang tidak diinginkan,” tulis mereka.

Paper juga mencatat bahwa tambahan pendapatan dari harga yang lebih tinggi mengalir ke pelaku usaha, bukan ke kas pemerintah. Saat naskah ditulis, empat wilayah memberlakukan harga minimum untuk seluruh pasar alkoholnya, yakni Armenia, Irlandia, Skotlandia, dan Wales, sementara Northern Territory di Australia mencabutnya pada Maret 2025. Belum ada negara yang berkomitmen menaikkannya setiap tahun.

Para penulis menyarankan pemerintah yang hendak memberlakukan harga minimum ikut menyiapkan mekanisme kenaikan sejak aturannya disusun. Usulan mereka adalah campuran kenaikan tahunan wajib mengikuti inflasi dan tinjauan berkala, misalnya lima tahun sekali. Dengan cara itu, menurut mereka, menaikkan harga minimum menjadi kebijakan bawaan, dan menyimpang darinya harus berupa keputusan yang diambil secara aktif.

Baca juga Promo Takeaway Memikat Keluarga Inggris Berpenghasilan Rendah

Hitungan ini punya batas yang diakui para penulis. Model memakai data konsumsi dan belanja dari sebelum pandemi COVID-19, sehingga perubahan diperlakukan terjadi pada 2019, bukan 2024. Data konsumsi dan belanja digabung dari sumber berbeda, dan model tidak memperhitungkan reaksi lanjutan seperti perubahan harga di atas ambang atau pembelian lintas perbatasan. Model juga tidak memasukkan kebijakan lain seperti reformasi cukai alkohol Inggris pada 2023.

Uji kepekaan juga menunjukkan besaran dampak bisa jauh lebih kecil. Dengan elastisitas harga dari studi lain, dampak terhadap konsumsi menyusut 69,2 persen dan terhadap kematian keseluruhan dalam 20 tahun 62,8 persen. Arah perubahan belanja bahkan berbalik pada dua uji, sehingga para penulis menyebut dampak pada belanja perlu dianggap belum pasti, meski keempat uji tetap memperkirakan konsumsi dan kematian turun.

Di satu sisi, harga per unit di rak toko yang naik dari £0,50 ke £0,65 diperkirakan berarti ribuan kematian lebih sedikit, dengan manfaat kesehatan terbesar bagi kelompok yang lebih tertinggal dan peminum yang lebih berat. Di sisi lain, para penulis meminta perubahan harga yang sudah diberlakukan di Skotlandia dan wilayah lain dievaluasi di dunia nyata, agar dampaknya terhadap konsumsi, kesehatan, dan ketimpangan diketahui dari bukti nyata.

Bagikan

Baca Juga

Pasien HIV RS Jakarta yang Pernah Alami Efek Samping Lebih Patuh
Dokter Gigi Chennai Mengaku Kurangi Antibiotik Usai Pelatihan
Daya Pikir Lansia Tiongkok yang Mulai Mengasuh Cucu Lebih Terjaga
Lebih dari 40 Persen Dokter Gigi Kuwait Pernah Cuti Sakit Otot
Tertinggal 0-8, Tim Ini Tersisa Enam Pemain dan Laga Dihentikan
Remaja Brasil Rajin Sarapan Lebih Aktif dan Kurang Menatap Layar