- Sebanyak 1.162 dari 2.735 dokter gigi MOH Kuwait, atau 42,49 persen, pernah cuti sakit terkait gangguan otot rangka.
- Pada kelompok usia 30 sampai 39 tahun, prevalensinya 52,16 persen, lebih dari separuh.
- Dokter gigi perempuan mencatat rasio odds 1,46 dibanding laki-laki.
- Sebanyak 21,4 persen dari semua episode cuti sakit dokter gigi berkaitan dengan gangguan otot rangka.
Daftar Isi
- Gangguan Otot Rangka: Beban di Leher, Bahu, dan Punggung
- Prevalensi: Berapa Banyak yang Pernah Cuti
- Rasio Odds: Membandingkan dengan Kelompok Acuan
- Efek Pekerja Sehat: Penjelasan untuk Dokter Gigi Senior
- Kegubernuran: Wilayah Tempat Tinggal Para Dokter Gigi
- Data Administratif: Yang Tidak Tertangkap Surat Cuti
Nyeri punggung, otot, sendi, keseleo, dan otot tertarik adalah sebagian kata kunci yang dipakai untuk mengenali cuti sakit terkait gangguan otot rangka, atau musculoskeletal disorders (MSD), dari teks diagnosis di surat dokter. Di kalangan dokter gigi Kuwait, keluhan semacam itu cukup sering berujung pada surat cuti. Dari 2.735 dokter gigi di fasilitas Kementerian Kesehatan Kuwait, 1.162 orang pernah mengambil cuti sakit karenanya selama periode penelitian.
Angka itu berasal dari penelitian Saleh Alsarhan dari Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Kuwait, bersama Jagan Kumar Baskaradoss dari Departemen Ilmu Perkembangan dan Pencegahan, Fakultas Kedokteran Gigi, universitas yang sama. Laporan mereka berjudul Prevalence and demographic factors associated with MSD-related sick leave among dentists in Kuwait: a nationwide retrospective study dan terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Menurut keduanya, inilah penelitian nasional pertama di Kuwait yang menelaah cuti sakit terkait gangguan otot rangka pada dokter gigi dengan memakai catatan cuti sakit administratif. Hasilnya memetakan cuti itu menurut usia, jenis kelamin, kewarganegaraan, dan wilayah tempat tinggal.
Gangguan Otot Rangka: Beban di Leher, Bahu, dan Punggung
Maksudnya begini. Menurut paper, praktik kedokteran gigi menuntut postur diam dalam waktu lama, gerakan halus yang berulang, posisi tubuh yang canggung, dan duduk lama selama merawat pasien. Semua itu membebani leher, bahu, dan punggung. Tinjauan yang dikutip penulis mencatat prevalensi gabungan global gangguan otot rangka terkait kerja di dunia kedokteran gigi sebesar 78,4 persen.
Bedanya begini. Penelitian sebelumnya di Kuwait umumnya bertanya langsung kepada dokter gigi lewat kuesioner tentang keluhan yang mereka rasakan. Alsarhan dan Baskaradoss memakai jalan lain, yakni catatan cuti sakit yang disertifikasi dokter dan tersimpan di sistem informasi Kementerian Kesehatan (MOH) Kuwait.
Catatan itu mencakup 1 Januari 2022 sampai 6 Oktober 2023, sebelum cuti sakit elektronik swasertifikasi mulai berlaku pada 7 Oktober 2023. Sejak itu, sebagian surat cuti sakit bisa terbit secara elektronik tanpa diagnosis tertulis dari dokter. Sebanyak 2.735 dokter gigi masuk analisis. Menurut penulis, populasi penelitian itu mewakili sekitar 71,4 persen dari 3.829 dokter gigi negeri dan swasta di Kuwait pada 2022.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Prevalensi: Berapa Banyak yang Pernah Cuti
Prevalensi di sini berarti proporsi dokter gigi yang sedikitnya sekali mengambil cuti sakit terkait gangguan otot rangka selama periode penelitian. Hasilnya 42,49 persen, atau 1.162 dari 2.735 dokter gigi. Dengan kata lain, lebih dari 40 persen dokter gigi MOH pernah absen dengan surat dokter yang diagnosisnya terkait gangguan otot rangka.
Sebagian besar dokter gigi dalam data itu masih muda. Sebanyak 44,79 persen berusia di bawah 30 tahun dan 34,77 persen berusia 30 sampai 39 tahun, sedangkan yang berusia 50 tahun ke atas hanya 7,75 persen. Laki-laki mencakup 54,00 persen, dan 76,38 persen berkewarganegaraan Kuwait.
Dipecah per usia, polanya tidak lurus. Pada kelompok 30 sampai 39 tahun, prevalensinya 52,16 persen, lebih dari separuh. Kelompok di bawah 30 tahun mencatat 38,69 persen dan kelompok 40 sampai 49 tahun 38,33 persen. Angka terendah ada pada dokter gigi berusia 50 tahun ke atas, yakni 27,83 persen.
Perempuan mencatat prevalensi 47,38 persen, sedangkan laki-laki 38,32 persen. Dalam hitungan orang, 596 dari 1.258 dokter gigi perempuan dan 566 dari 1.477 dokter gigi laki-laki pernah cuti sakit karena gangguan otot rangka selama periode itu.
Cuti karena otot dan sendi juga punya porsi tersendiri dalam seluruh cuti sakit. Sebanyak 21,4 persen dari semua episode cuti sakit dan 21,2 persen dari total hari cuti sakit dokter gigi berkaitan dengan gangguan otot rangka. Di antara 1.162 dokter gigi yang pernah cuti karena gangguan ini, nilai tengah atau median total hari cuti sakit terkait gangguan otot rangka selama periode penelitian adalah 3 hari, dengan rentang antarkuartil 2 sampai 6 hari.
Baca juga Pekerja Malam Bristol: 85 Persen Tetap Masuk Kerja saat Sakit
Rasio Odds: Membandingkan dengan Kelompok Acuan
Untuk melihat faktor yang berhubungan dengan cuti sakit, paper ini memakai regresi logistik dan menyajikan hasilnya sebagai rasio odds, yang membandingkan setiap kelompok dengan kelompok acuan yang ditetapkan sejak awal. Kelompok acuannya dokter gigi berusia di bawah 30 tahun, laki-laki, warga Kuwait, dan penduduk Kegubernuran Ahmadi.
Yang dipakai di sini rasio odds terkoreksi. Maksudnya, usia, jenis kelamin, kewarganegaraan, dan tempat tinggal dimasukkan bersama dalam satu model, sehingga tiap angka dibaca setelah faktor lainnya ikut diperhitungkan. Setelah koreksi itu, usia, jenis kelamin, dan tempat tinggal berhubungan bermakna dengan cuti sakit terkait gangguan otot rangka.
Dokter gigi berusia 30 sampai 39 tahun mencatat rasio odds 1,82 dibanding kelompok di bawah 30 tahun, dengan selang kepercayaan 95 persen 1,52 sampai 2,16. Sebaliknya, kelompok 50 tahun ke atas mencatat 0,66, dengan selang 0,46 sampai 0,96. Untuk kelompok 40 sampai 49 tahun, paper tidak menemukan perbedaan yang bermakna secara statistik.
Dokter gigi perempuan mencatat rasio odds 1,46 dibanding laki-laki, dengan selang kepercayaan 1,24 sampai 1,71. Penulis menyebut kemungkinan penjelasannya, yakni perbedaan ukuran tubuh, kekuatan otot, dan desain stasiun kerja, ditambah faktor psikososial dan perilaku yang memengaruhi cara orang merasakan gejala dan mencari pengobatan.
Untuk kelompok 30-an, penulis menduga beban klinis yang tinggi, tuntutan produktivitas, dan paparan kerja yang menumpuk pada awal sampai pertengahan karier ikut berperan. Pada masa itu, dokter gigi sering menangani banyak pasien dengan jam praktik panjang sambil membangun karier. Alexopoulos dan rekan, yang dikutip penulis, juga melihat risiko gangguan otot rangka tidak naik lurus mengikuti usia.
Efek Pekerja Sehat: Penjelasan untuk Dokter Gigi Senior
Efek pekerja sehat, atau healthy worker effect, disebut penulis sebagai kemungkinan penjelasan rasio odds 0,66 pada dokter gigi berusia 50 tahun ke atas. Maksudnya, orang dengan gangguan otot rangka yang berat mengurangi kegiatan klinis atau keluar dari praktik.
Penulis juga menyebut penjelasan lain. Pengalaman klinis yang lebih panjang dan kesadaran ergonomi yang tumbuh seiring waktu mungkin ikut menurunkan risiko, sebagaimana dicatat Finsen dan rekan.
Namun, tidak semua penelitian sejalan. Penulis mencatat beberapa studi justru menemukan prevalensi gangguan otot rangka yang lebih tinggi pada dokter gigi yang lebih tua dibanding yang lebih muda. Menurut mereka, paparan faktor risiko kerja yang menumpuk sepanjang hidup mungkin menjelaskan temuan tersebut.
Paper juga menimbang arti cuti sakit sebagai ukuran. Banyak penelitian lain mengukur keluhan yang dilaporkan sendiri, sedangkan cuti sakit kemungkinan mencerminkan kondisi yang lebih berat atau sampai membatasi kerja. Penulis mengutip penelitian pada dokter gigi Finlandia, tempat gejala otot rangka berkaitan kuat dengan menurunnya kemampuan kerja meski angka cuti sakitnya relatif rendah.
Kegubernuran: Wilayah Tempat Tinggal Para Dokter Gigi
Kegubernuran adalah satuan wilayah tempat tinggal yang tercatat dalam data. Dokter gigi paling banyak tinggal di Hawalli, 35,54 persen, disusul Ibu Kota atau Al Asimah, 25,45 persen. Ahmadi, yang dijadikan acuan, hanya dihuni 4,24 persen dokter gigi dalam data, dengan prevalensi cuti sakit terkait gangguan otot rangka 31,90 persen.
Prevalensi di wilayah lain lebih tinggi. Ibu Kota mencatat 45,26 persen, Jahra 43,58 persen, Hawalli 42,80 persen, Mubarak Al-Kabeer 40,31 persen, dan Farwaniya 40,00 persen. Dalam ringkasannya, penulis menyebut variasi antarwilayah ini bermakna.
Setelah koreksi, tiga wilayah mencatat odds lebih tinggi daripada Ahmadi. Rasio odds Jahra 1,84, Ibu Kota 1,62, dan Hawalli 1,57. Farwaniya, dengan rasio odds 1,54, dan Mubarak Al-Kabeer, dengan 1,29, tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik.
Kewarganegaraan tidak berhubungan bermakna dengan cuti sakit. Prevalensi dokter gigi warga Kuwait 43,32 persen dan non-Kuwait 39,78 persen, sedangkan rasio odds terkoreksi non-Kuwait 1,05. Menurut penulis, hal ini memberi isyarat bahwa paparan kerja mungkin lebih menentukan daripada ciri sosiodemografis.
Baca juga Petani Padi Roi-Et Paham Ergonomi, Nyaris Semua Tetap Nyeri Otot
Penjelasan soal usia, jenis kelamin, dan wilayah itu tetap dugaan. Penulis sendiri menulis bahwa data mereka tidak memuat ukuran langsung beban kerja maupun ciri tempat kerja, sehingga penjelasan tersebut masih bersifat spekulatif.
Data Administratif: Yang Tidak Tertangkap Surat Cuti
Data administratif dalam penelitian ini berarti catatan cuti sakit yang dikeluarkan dokter saat pemeriksaan, lalu dimasukkan ke sistem informasi MOH oleh petugas klinis berwenang. Menurut penulis, catatan bersertifikat dokter mengurangi bias ingatan yang lazim muncul pada penelitian berbasis laporan sendiri.
Meski begitu, dokter gigi yang tidak pernah cuti belum tentu bebas keluhan. “Ketergantungan pada catatan cuti sakit mungkin telah membuat beban MSD yang sebenarnya diperkirakan terlalu rendah, karena sebagian dokter gigi yang mengalami gejala otot rangka mungkin tetap bekerja tanpa mengambil cuti sakit,” tulis Alsarhan dan Baskaradoss dalam terjemahan Cekricek.id.
Dokter gigi yang sudah pensiun atau berhenti praktik karena gangguan otot rangka juga tidak masuk data. Menurut penulis, efek kelangsungan pekerja sehat bisa terjadi di sini, sehingga beban sebenarnya mungkin terhitung lebih kecil dari kenyataan.
Keterbatasan lain ikut dicatat. Desain retrospektif ini tidak bisa menarik kesimpulan sebab-akibat antara faktor demografis dan cuti sakit. Tanggal masuk dan keluar kerja tidak tersedia, dan kasus dikenali lewat kata kunci, bukan kode klinis standar, sehingga salah klasifikasi mungkin terjadi.
Spesialisasi, lama pengalaman, jam kerja, status sosial ekonomi, praktik ergonomi, beban kerja, faktor psikososial, dan tingkat keparahan gangguan juga tidak ada di data. Karena hanya mencakup fasilitas MOH, temuan ini mungkin tidak sepenuhnya berlaku bagi dokter gigi di sektor swasta atau nonpemerintah.
Untuk pencegahan, paper menyebut pelatihan postur, kedokteran gigi empat tangan, pemakaian loupe mikro, dan penataan stasiun kerja sebagai langkah yang pernah direkomendasikan. Efektivitasnya masih beragam menurut tinjauan Cochrane oleh Mulimani dan rekan. Pengaturan beban kerja, istirahat terjadwal, dan ergonomi dalam pendidikan kedokteran gigi disebut bisa memberi manfaat yang lebih berkelanjutan.
Penulis menyimpulkan bahwa odds yang lebih tinggi pada usia 30 sampai 39 tahun menunjukkan pencegahan ergonomi dan kesehatan kerja sebaiknya dimulai sejak awal praktik profesional. Penelitian berikutnya, saran mereka, perlu memakai desain longitudinal dan menggabungkan data administratif dengan data klinis atau survei.
Dengan demikian, angka 42,49 persen hanya mencakup dokter gigi MOH yang keluhan otot rangkanya tercatat di surat cuti dokter antara 1 Januari 2022 dan 6 Oktober 2023. Menurut keterbatasan yang dicatat penulis, dokter gigi yang tetap bekerja meski bergejala, berpraktik di sektor swasta, atau sudah pensiun maupun berhenti praktik tidak terhitung di dalamnya.















