Siswa Afghanistan Paling Kesepian di Tiga Negara Asia Selatan

A A

Ilustrasi siswa duduk sendirian di bangku halaman sekolah, teman-temannya bergerombol di kejauhan [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Sebanyak 34,76 persen siswa Afghanistan tergolong kesepian, dibanding 11,38 persen di Pakistan dan 8,38 persen di Bangladesh.
  • Sebanyak 18,1 persen siswi tergolong kesepian, sedangkan pada siswa laki-laki angkanya 12,28 persen.
  • Siswa dengan gangguan tidur akibat cemas memiliki peluang kesepian 7,47 kali dibanding yang tidak.
  • Siswa yang dirundung memiliki peluang kesepian 2,75 kali dibanding yang tidak.
Daftar Isi
  1. Kelas-Kelas di Afghanistan
  2. Siswi dan Siswa
  3. Tidur yang Terusik Cemas
  4. Perundungan dan Perkelahian
  5. Bangladesh dan Pakistan
  6. Batas Satu Pertanyaan

Di ruang-ruang kelas yang dipilih secara acak di Afghanistan, Bangladesh, dan Pakistan, semua murid diundang mengisi survei kesehatan pelajar. Salah satu pertanyaannya sederhana: seberapa sering kamu merasa kesepian dalam 12 bulan terakhir. Jawabannya berjenjang lima, dari tidak pernah sampai selalu. Murid yang memilih dua jenjang teratas dicatat sebagai remaja yang kesepian.

Di kelas-kelas Afghanistan, jawaban itu paling banyak muncul. Sebanyak 34,76 persen siswa di sana tergolong kesepian. Di Pakistan angkanya 11,38 persen, dan di Bangladesh 8,38 persen. Jika ketiga negara digabung, 14,73 persen dari 7.903 siswa berusia 13 sampai 17 tahun melaporkan rasa sepi itu.

Angka-angka itu dihimpun Md. Khalid Hasan dari Departemen Pembangunan Manusia dan Ilmu Keluarga, Texas Tech University, Amerika Serikat, sekaligus Institut Manajemen Bencana dan Studi Kerentanan, Universitas Dhaka, bersama tiga rekannya. Makalah mereka berjudul Gender and spatial variation of loneliness among adolescents in three South Asian countries: prevalence and its correlates, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Mereka tidak turun sendiri ke kelas-kelas itu. Bahan yang dipakai adalah Global School-based Student Health Survey, survei kesehatan pelajar yang dikembangkan WHO, UNICEF, UNESCO, UNAIDS, dan CDC. Survei terakhir yang tersedia diadakan di Afghanistan dan Bangladesh pada 2014, sedangkan di Pakistan pada 2009. Data itu diunduh dan dianalisis antara Maret dan Mei 2023.

Kelas-Kelas di Afghanistan

Sebaran siswa dalam data tidak seimbang. Separuh responden berasal dari Pakistan, yakni 4.026 siswa, disusul 2.433 siswa Bangladesh dan 1.444 siswa Afghanistan. Meski jumlahnya paling sedikit, siswa Afghanistan mencatat angka kesepian tertinggi, dengan rentang kepercayaan 32,3 sampai 37,3 persen.

Kesepian paling banyak dialami siswa AfghanistanAfghanistan 34,76%; Pakistan 11,38%; Bangladesh 8,38%; Tiga negara 14,73%.Kesepian paling banyak dialami siswaAfghanistanPrevalensi kesepian, persen siswa usia 13-17 tahun,n=7.903 (Tabel 1)0%10%20%30%40%Afghanistan34,76%Pakistan11,38%Bangladesh8,38%Tiga negara14,73%Survei GSHS: Afghanistan dan Bangladesh 2014, Pakistan 2009
Sumber: Md. Khalid Hasan dan rekan, Gender and spatial variation of loneliness among adolescents in three South Asian countries: prevalence and its correlates, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis juga menyesuaikan angka itu dengan usia, jenis kelamin, rasa lapar, dukungan teman sebaya, dan dukungan orang tua. Dibanding siswa Afghanistan, rasio peluang kesepian siswa Bangladesh tercatat 0,22 dan siswa Pakistan 0,26. Kedua angka itu bermakna secara statistik.

Dalam pembahasannya, para penulis menautkan angka tinggi di Afghanistan dengan keadaan negeri itu. Mereka menyebut konflik bersenjata, kemiskinan yang meluas, pendidikan dan pengelolaan layanan kesehatan yang rusak, serta jaringan komunitas yang terputus. Mereka juga mengutip kajian lain terhadap 300 anak di Kabul, yang 90 persennya merasa bisa mati karena perang.

Usia juga ikut menggeser angka. Di antara siswa berusia 16 tahun ke atas, 30,45 persen tergolong kesepian, sementara pada siswa berusia 13 tahun ke bawah angkanya 10,96 persen. Setelah faktor lain disesuaikan, siswa paling tua memiliki peluang kesepian 2,09 kali dibanding kelompok termuda.

Siswi dan Siswa

Di kelas yang sama, siswi lebih sering memilih jawaban sepi. Sebanyak 18,1 persen dari 3.326 siswi tergolong kesepian. Pada 4.577 siswa laki-laki, angkanya 12,28 persen.

“Studi ini menemukan bahwa hampir satu dari enam anak perempuan dan satu dari sembilan anak laki-laki melaporkan kesepian di Afghanistan, Bangladesh, dan Pakistan, dengan prevalensi tertinggi di Afghanistan,” tulis Md. Khalid Hasan dan rekan dalam simpulan makalah, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Namun, setelah faktor lain disesuaikan, rasio peluang siswa laki-laki dibanding siswi adalah 0,95, dan selisih ini tidak bermakna secara statistik.

Para penulis mencatat temuan itu sejalan dengan kajian sebelumnya yang mendapati anak perempuan lebih sering kesepian. Di Amerika Serikat, misalnya, angkanya 14,7 persen pada remaja putri berbanding 6,7 persen pada remaja putra, sedangkan di Rusia 14,4 berbanding 8,9 persen. Mereka menduga perbedaan cara menghadapi tekanan membuat anak perempuan lebih rentan.

Baca juga Saat Orang Tua Kena Kanker, Remaja Memilih Diam dan Makin Sepi

Tidur yang Terusik Cemas

Sulit tidur karena cemas termasuk faktor yang menurut para penulis berhubungan kuat dengan rasa sepi. Sebanyak 755 siswa, atau 9,55 persen, mengalaminya, dan 52,3 persen di antara mereka tergolong kesepian. Pada siswa yang tidurnya tidak terganggu, angka kesepiannya 10,8 persen.

Setelah usia, negara, rasa lapar, dukungan teman, dan dukungan orang tua disesuaikan, siswa dengan gangguan tidur akibat cemas memiliki peluang kesepian 7,47 kali dibanding yang tidak. Pada siswa laki-laki angkanya 8,64 kali, sedangkan pada siswi 6,11 kali.

Ketiadaan teman dekat juga tercatat. Sebanyak 617 siswa mengaku tidak punya teman dekat, dan 22,9 persen dari mereka kesepian, dibanding 14,0 persen pada siswa yang punya. Peluangnya 2,03 kali untuk kedua jenis kelamin, 2,60 kali pada siswa laki-laki, dan 1,63 kali pada siswi.

Perundungan dan Perkelahian

Sebagian siswa membawa pengalaman yang lebih keras. Sebanyak 34,56 persen responden dirundung dalam sebulan terakhir, dan 39,48 persen pernah diserang secara fisik dalam setahun terakhir. Di antara siswa yang dirundung, 22,9 persen kesepian, sedangkan pada yang tidak dirundung angkanya 10,4 persen.

Siswa yang dirundung memiliki peluang kesepian 2,75 kali dibanding yang tidak. Pada siswa laki-laki angkanya 3,24 kali dan pada siswi 1,94 kali. Pernah diserang secara fisik bertaut dengan peluang 1,73 kali untuk kedua jenis kelamin, dengan angka 1,82 pada siswi dan 1,70 pada siswa laki-laki.

Perkelahian menunjukkan pola yang berbeda menurut jenis kelamin. Siswa laki-laki yang berkelahi dalam setahun terakhir memiliki peluang kesepian 2,53 kali, sedangkan pada siswi angka 1,08 tidak bermakna secara statistik. Sebaliknya, terpapar asap rokok orang lain dalam sepekan terakhir bermakna pada siswi dengan 1,92 kali, tetapi tidak pada siswa laki-laki.

Peluang kesepian menurut jenis kelaminTidak punya teman dekat: Siswi (n=3.326) 1,63, Siswa (n=4.577) 2,60; Gangguan tidur akibat cemas: Siswi (n=3.326) 6,11, Siswa (n=4.577) 8,64; Dirundung sebulan terakhir: Siswi (n=3.326) 1,94, Siswa (n=4.577) 3,24; Berkelahi setahun terakhir: Siswi (n=3.326) 1,08, Siswa (n=4.577) 2,53.Peluang kesepian menurut jenis kelaminRasio odds disesuaikan (AOR) dibanding yang tidakmengalami (Tabel 3)Siswi (n=3.326)Siswa (n=4.577)02468101,632,60Tidak punyateman dekat6,118,64Gangguantidur akibatcemas1,943,24Dirundungsebulanterakhir1,082,53BerkelahisetahunterakhirBerkelahi pada siswi (1,08) tidak bermakna secara statistik
Sumber: Md. Khalid Hasan dan rekan, Gender and spatial variation of loneliness among adolescents in three South Asian countries: prevalence and its correlates, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada siswi, dua kebiasaan lain ikut bermakna. Duduk santai tiga jam atau lebih sehari bertaut dengan peluang kesepian 2,05 kali, dan merokok dengan 4,67 kali. Penggunaan tembakau bermakna pada kedua jenis kelamin, dengan peluang 4,65 kali pada siswi dan 3,57 kali pada siswa laki-laki.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Bangladesh dan Pakistan

Pola tiap negara tidak persis sama. Di Afghanistan, gangguan tidur akibat cemas bertaut dengan peluang kesepian 3,84 kali, dirundung 2,95 kali, dan diserang secara fisik 2,02 kali. Kurang aktif bergerak juga bermakna di sana dengan 2,07 kali, sedangkan tidak punya teman dekat tidak bermakna.

Di Bangladesh, rasio peluang untuk gangguan tidur akibat cemas mencapai 7,71. Penggunaan tembakau bertaut dengan peluang 5,61 kali, dengan rentang kepercayaan 1,94 sampai 16,22. Dirundung tercatat 3,03 kali, berkelahi 2,52 kali, dan tidak punya teman dekat 2,28 kali.

Di Pakistan, rasio peluang untuk gangguan tidur akibat cemas tercatat 8,04. Merokok bertaut dengan peluang 2,84 kali, penggunaan tembakau 2,62 kali, dan tidak punya teman dekat 2,24 kali. Duduk santai tiga jam atau lebih sehari juga bermakna di Pakistan, dengan 2,03 kali.

Bolos sekolah, yang dialami 73,95 persen responden dalam sebulan terakhir, tidak bermakna di negara mana pun. Begitu pula makan cepat saji, minum minuman ringan, serta kurang makan buah dan sayur. Rasio peluangnya tidak mencapai batas bermakna, baik menurut jenis kelamin maupun menurut negara.

Para penulis juga menaruh angka gabungan 14,7 persen di antara temuan dari negara lain. Angka itu lebih tinggi daripada 7,8 persen di negara-negara Asia Tenggara pada 2007 dan 2013. Namun, angka itu lebih rendah daripada empat negara Karibia dengan 15,3 persen, Nigeria 25,8 persen, dan Maroko 19,8 persen.

Baca juga Kecanduan Ponsel Mahasiswa Bangladesh, 54 Persen Berisiko Tinggi

Batas Satu Pertanyaan

Para penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Karena desainnya potong lintang, hubungan sebab-akibat tidak bisa ditetapkan. Rasa sepi hanya diukur dengan satu pertanyaan, sehingga sisi lain kesepian dan perilaku mencari pertolongan tidak tertangkap. Respondennya hanya siswa yang bersekolah, jawaban mereka dilaporkan sendiri, dan sekitar 27 persen siswa dikeluarkan dari analisis karena datanya tidak lengkap.

Data yang dipakai juga sudah berumur, meski menurut penulis itulah data nasional terbaru yang bisa dibandingkan untuk ketiga negara. “Temuan studi ini sebaiknya ditafsirkan sebagai garis dasar penting untuk memahami pola kesehatan mental remaja di Asia Selatan, bukan sebagai perkiraan prevalensi saat ini,” tulis mereka.

Sebagai jalan keluar, penulis menyarankan penguatan dukungan teman sebaya dan orang tua, program keterampilan sosial, layanan konseling di sekolah, serta penanganan kerawanan pangan. Mereka juga meminta riset lanjutan, misalnya studi jangka panjang, yang memakai alat ukur kesepian dengan banyak butir dan memperhitungkan perilaku mencari pertolongan.

Bagikan

Baca Juga

Warga Tokha Buang Obat dan Produk Perawatan Kedaluwarsa ke Sampah
Depresi Warga Korea Justru Lebih Sering Setelah Pandemi Usai
Asap Rokok Lebih Terkait Asma Anak Perempuan dan di Bawah 9 Tahun
Hampir Sepertiga Mahasiswa Bangladesh Tak Habiskan Antibiotik
Separuh Lebih Tukang Bengkel di Sunyani, Ghana, Didera Nyeri Otot
Kurang dari Separuh Karyawan Polandia Dapat Program Sehat Kantor