- Sebanyak 52,1 persen pekerja melaporkan sedikitnya satu gangguan otot rangka akibat kerja dalam dua belas bulan terakhir.
- Punggung bawah berada di puncak daftar, dikeluhkan 42,8 persen pekerja, disusul bahu 32,5 persen.
- Sebanyak 94,8 persen pekerja sering membungkuk atau memutar punggung saat bekerja.
- Totalnya 62,21 DALY hilang, dengan mekanik menyumbang 24,38 DALY dan tukang las 22,39 DALY.
Daftar Isi
Bosiako Yaw Antwi dan enam rekannya memilih Sunyani Magazine, kawasan bengkel mobil terbesar di Kota Sunyani, Ghana, karena di sanalah para tukang bengkel berkumpul paling rapat. Mekanik, tukang las, teknisi listrik, dan tukang cat semprot bekerja berdampingan di satu tempat. Pada November hingga Desember 2025, tim itu bertanya kepada 271 pekerja tentang pegal dan nyeri yang mereka rasakan setahun terakhir. Hasilnya, lebih dari separuh mengeluh.
Antwi bekerja di Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Sekolah Kesehatan Masyarakat Kwame Nkrumah University of Science and Technology (KNUST), Kumasi. Bersama Eric Yiadom Boakye, Jacob Solomon Idan, dan rekan, ia melaporkan temuannya dalam Prevalence, health burden, and occupational risk factors of work-related musculoskeletal disorders among informal automobile repair artisans in Sunyani Municipality, Ghana: a cross-sectional study di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Para pekerja dipilih acak per jenis pekerjaan dengan cara undian nomor di atas kertas.
Sebanyak 52,1 persen pekerja melaporkan sedikitnya satu gangguan otot rangka akibat kerja dalam dua belas bulan terakhir. Antwi dan rekan membaca angka itu sebagai beban yang besar. “Penelitian ini memperjelas bahwa ada beban gangguan otot rangka akibat kerja yang besar di kalangan perajin bengkel mobil informal di Kota Sunyani, Ghana,” tulis mereka dalam bagian pembahasan, dalam terjemahan. Keluhan itu dicatat dari pengakuan pekerja sendiri, bukan dari pemeriksaan dokter.
Beru dan Sackeya Mengurus Data Keluhan
Martin Muonibe Beru, yang juga tercatat di Departemen Bedah Rumah Sakit Pendidikan Tamale, dan Eugene Sackeya mengurus data penelitian ini bersama Antwi. Dari jawaban kuesioner itulah tersusun peta tubuh para pekerja. Peta itu menunjukkan bagian mana yang paling sering terasa nyeri, pegal, kebas, atau tidak nyaman selama setahun terakhir.
Punggung bawah berada di puncak daftar, dikeluhkan 42,8 persen pekerja. Bahu menyusul dengan 32,5 persen, lalu punggung atas 26,6 persen. Antwi dan rekan juga mencatat keluhan pada pergelangan tangan dan tangan sebesar 15,1 persen, lutut 14,4 persen, leher 12,5 persen, siku 7,0 persen, serta pergelangan kaki dan kaki yang hanya 1,5 persen.
Keluhan itu juga bukan cerita lama. Menurut Antwi dan rekan, lebih dari 80 persen pekerja yang mengalami gangguan masih merasakan gejalanya dalam tujuh hari terakhir. Mereka membacanya sebagai tanda paparan kerja berisiko yang terus berlangsung, sementara kesempatan tubuh untuk pulih terbatas.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Antwi dan rekan juga memilah keluhan menurut jenis pekerjaan. Tukang las paling banyak mengeluh, yakni 59,5 persen, disusul tukang cat semprot 55,3 persen, mekanik 50,0 persen, dan teknisi listrik 43,1 persen. Namun, dalam uji statistik tim itu, perbedaan antarjenis pekerjaan tersebut tidak bermakna, sehingga keempat kelompok tidak bisa dikatakan berbeda nyata.
Antwi Mencatat Hari Kerja yang Membungkuk
Kuesioner Antwi dan rekan juga menanyakan gerak tubuh sepanjang hari kerja. Sebanyak 94,8 persen pekerja sering membungkuk atau memutar punggung saat bekerja, 90,0 persen berjongkok atau berlutut lama ketika mengurus roda atau rem, dan 77,1 persen kerap bekerja dengan tangan terangkat di atas bahu.
John Nuurpo, rekan sedepartemen Antwi di KNUST, ikut menggagas penelitian ini bersama Antwi, Boakye, dan Jacob Solomon Idan. Daftar paparan yang mereka himpun memperlihatkan 83,4 persen pekerja biasa berdiri lama dan 73,4 persen mengulang gerakan tangan serta pergelangan, misalnya memutar sekrup. Sebanyak 66,8 persen memakai alat atau mesin bergetar, sedangkan 82,7 persen bekerja tanpa alat bantu mekanis untuk meringankan tenaga.
Beban berat juga ada di sana. Antwi dan rekan mencatat 41,0 persen pekerja mengangkat beban lebih dari 20 kilogram tanpa bantuan, dan 50,5 persen mendorong atau menarik suku cadang berat seperti mesin, girboks, dan ban. Sebanyak 39,5 persen biasa bekerja lebih dari empat jam beruntun tanpa istirahat, sementara 42,8 persen tidak mengambil jeda sama sekali dalam sehari kerja.
Jam kerjanya pun panjang. Menurut tabel Antwi dan rekan, 72,4 persen pekerja bekerja sembilan jam atau lebih setiap hari. Tekanan batin ikut terasa: 90,8 persen merasa didesak menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan 84,5 persen merasa stres atau cemas karena pekerjaan. Di sisi lain, 92,6 persen mendapat cukup bantuan rekan saat tugas sulit, dan 93,4 persen mengaku puas dengan pekerjaannya.
Boakye Menimbang Tinggi Badan dan Upah
Eric Yiadom Boakye dari Departemen Kebijakan, Manajemen, dan Ekonomi Kesehatan KNUST ikut menganalisis data bersama Antwi, Beru, dan Sackeya. Mereka menguji ciri pribadi mana yang tetap berkaitan dengan keluhan setelah berbagai faktor diperhitungkan bersama. Hasilnya, hanya dua yang bertahan, yaitu tinggi badan dan tingkat penghasilan.
Pekerja bertinggi 1,67 sampai 1,81 meter memiliki rasio odds yang disesuaikan sebesar 3,42 untuk mengalami gangguan, dibanding mereka yang tingginya 1,50 meter atau kurang, menurut tabel Antwi dan rekan. Antwi dan rekan menduga tubuh pekerja tidak pas dengan bagian kendaraan, meja kerja yang tak bisa diatur, atau pekerjaan di permukaan tanah yang lazim di bengkel informal.
Penghasilan juga berkaitan dengan keluhan. Pekerja berpenghasilan 1.501 sampai 2.000 cedi Ghana sebulan memiliki rasio odds yang disesuaikan 4,61 dibanding yang berpenghasilan 1.000 cedi atau kurang. Antwi dan rekan menduga hal ini bisa terkait jam kerja yang lebih panjang, beban kerja, atau kebutuhan mencari nafkah lewat pekerjaan berat, hal yang umum di kalangan pekerja informal Afrika sub-Sahara.
Dalam analisis sebelum penyesuaian, Antwi dan rekan mencatat keluhan dialami 74,3 persen pekerja berusia 50 tahun ke atas, berbanding 38,2 persen pada usia 18 sampai 29 tahun, serta 76,6 persen pada mereka yang sudah bekerja 21 tahun atau lebih, berbanding 34,6 persen pada yang bekerja lima tahun atau kurang. Namun, menurut tim itu, faktor-faktor tersebut kehilangan kemaknaan statistik setelah disesuaikan.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Alat Bergetar yang Membuat Tim Berhati-hati
Satu temuan membuat Antwi dan rekan menahan diri. Pekerja yang memakai alat atau mesin bergetar justru memiliki peluang lebih rendah untuk melaporkan gangguan, dengan rasio odds yang disesuaikan 0,56. Pekerja yang tidak puas dengan pekerjaannya pun lebih jarang melapor, dengan rasio odds yang disesuaikan 0,19 dibanding pekerja yang puas.
Antwi dan rekan tidak membacanya sebagai efek perlindungan. “Hasil ini harus disikapi dengan hati-hati. Kemungkinan besar, hasil ini tidak mencerminkan efek perlindungan yang sesungguhnya, melainkan spesialisasi tugas, paparan yang berselang, atau penggantian tenaga manual dengan perkakas bertenaga, yang mengurangi upaya fisik secara keseluruhan,” tulis mereka, dalam terjemahan. Mereka juga mencatat bukti luas tentang dampak buruk getaran berintensitas tinggi pada lengan dan tulang belakang.
Untuk pekerja yang tidak puas, Antwi dan rekan menduga temuan itu bisa mencerminkan reaksi perilaku seperti mangkir, menghindari tugas, atau berkurangnya paparan pada pekerja yang kecewa. Di lingkungan kerja informal, tulis mereka, persoalan psikososial dapat memengaruhi paparan sekaligus cara keluhan dilaporkan. Karena itu, mereka menekankan perlunya kehati-hatian dalam menafsirkannya.
Tahun Sehat yang Hilang di Bengkel
Antwi, Beru, Sackeya, dan Boakye lalu menghitung beban keluhan itu dalam satuan tahun hidup yang disesuaikan dengan disabilitas, atau DALY. Karena tidak ada kematian akibat gangguan ini di antara peserta, hitungan hanya memakai tahun yang dijalani dengan disabilitas. Totalnya 62,21 DALY hilang pada 271 pekerja, dengan rata-rata 0,230 per orang.
Mekanik menyumbang total terbesar, 24,38 DALY, disusul tukang las 22,39 DALY. Teknisi listrik kehilangan 9,24 DALY dan tukang cat semprot 6,21 DALY. Bila dilihat per orang, tukang las mencatat rata-rata tertinggi, 0,303, sedangkan mekanik 0,256, teknisi listrik 0,181, dan tukang cat semprot 0,163, menurut tabel Antwi dan rekan.
Antwi dan rekan mengaitkan beban tertinggi pada mekanik dan tukang las dengan tuntutan fisik kedua pekerjaan itu serta paparan risiko ergonomis yang lama. Meski begitu, skor kualitas hidup rata-rata keempat kelompok relatif mirip, dari 3,11 pada mekanik hingga 3,21 pada teknisi listrik, dengan rata-rata keseluruhan 3,16.
Baca juga Pekerja Malam Bristol: 85 Persen Tetap Masuk Kerja saat Sakit
Batas Survei dan Usulan Tim Antwi
Antwi dan rekan mengakui batas penelitiannya. Karena survei dilakukan pada satu waktu, hubungan yang ditemukan harus dibaca sebagai keterkaitan, bukan sebab-akibat. Keluhan juga dilaporkan sendiri oleh pekerja, sehingga rawan bias ingatan untuk rentang dua belas bulan, dan sebagian keluhan di luar pekerjaan mungkin ikut terhitung.
Ada pula kemungkinan keluhan tidak dilaporkan, karena “rasa sakit dan tidak nyaman sering dianggap biasa di kalangan pekerja informal,” tulis Antwi dan rekan dalam terjemahan. Penelitian juga dilakukan di kawasan bengkel terbesar di kota itu, sehingga pekerjanya mungkin menanggung beban kerja lebih berat daripada pekerja di bengkel kecil. Hasilnya perlu diterapkan dengan hati-hati pada kelompok lain.
Aliyu Mohammed, yang bersama Beru dan Sackeya mengawasi penelitian ini, turut menyetujui naskah akhir yang memuat usulan tim. Mereka menganjurkan intervensi ergonomis berbiaya rendah, penataan kerja, pendidikan dasar kesehatan dan keselamatan kerja, serta pelibatan bertahap para perajin ke dalam kebijakan nasional kesehatan dan keselamatan kerja.
Dalam simpulannya, Antwi dan rekan menyebut punggung bawah, bahu, dan punggung atas sebagai bagian tubuh yang paling sering terkena, yang mungkin terkait tuntutan fisik pekerjaan. Perkiraan DALY, tulis mereka, menunjukkan beban disabilitas yang tinggi, terutama pada mekanik dan tukang las.















