Tensi Pasien Etiopia yang Sering Makan di Luar Sulit Terkendali

A A

Nampan injera beyaynetu berisi aneka lauk di sebuah restoran di Addis Ababa, Etiopia [Foto: Jean Rebiffé/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 68,9 persen pasien darah tinggi di sembilan fasilitas kesehatan Addis Ababa tekanan darahnya belum terkendali.
  • Sebanyak 24,6 persen pasien makan di luar rumah tiga kali atau lebih per minggu.
  • Setelah faktor lain diperhitungkan, pasien yang sering makan di luar punya peluang tekanan darah tak terkendali 1,77 kali dibanding yang jarang.
  • Makanan jalanan seperti injera, kokor, dan ertib paling banyak disantap di luar, dipilih 62,4 persen peserta.
Daftar Isi
  1. Ruang Periksa
  2. Lapak Pinggir Jalan
  3. Tensimeter Digital
  4. Piring di Luar Rumah
  5. Garam di Dapur
  6. Kembali ke Klinik

Pasien duduk diam selama lima menit sebelum tensimeter digital dinyalakan. Tekanan darahnya diukur dua kali, berjarak satu sampai dua menit, lalu rata-ratanya dicatat. Di sembilan fasilitas kesehatan umum di Addis Ababa, Etiopia, angka itu lebih sering melewati batas daripada tidak.

Hampir tujuh dari sepuluh pasien darah tinggi yang diperiksa di sana belum berhasil mengendalikan tekanan darahnya. Pada pasien yang makan di luar rumah tiga kali atau lebih seminggu, porsinya 73,1 persen. Pada mereka yang lebih jarang makan di luar, porsinya 57,4 persen.

Temuan itu dilaporkan Hana Shumetie, Robel Yirgu, dan Samson Gebremedhin dari Sekolah Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Addis Ababa. Laporan mereka berjudul Eating away from home among hypertensive patients in Addis Ababa: frequency and association with blood pressure control dan terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 pada 2026.

Ruang Periksa

Empat perawat mengumpulkan data dari Januari sampai Maret 2025, Senin sampai Jumat, saat pasien datang untuk kontrol terjadwal. Pesertanya 460 pasien hipertensi dewasa dari tiga rumah sakit umum dan enam puskesmas di Addis Ababa. Mereka diwawancarai lebih dulu, baru kemudian tekanan darahnya diukur.

Ketiga rumah sakit itu adalah Eka Kotebe, Tirunesh Beijing, dan Yekatit 12. Puskesmasnya Meshualekia, Amoraw, Felege Hiwot, Kotebe, Teklehaimanot, dan Saris. Pasien yang sakit kritis, ibu hamil, dan ibu menyusui tidak diikutkan.

Batas yang dipakai cukup ketat. Tekanan darah disebut tak terkendali bila angka atasnya 130 mm Hg atau lebih, atau angka bawahnya 80 mm Hg atau lebih, mengikuti pedoman American College of Cardiology dan American Heart Association 2017. Dengan batas itu, 68,9 persen peserta tergolong tak terkendali. Hanya 31,1 persen yang tekanan darahnya terkendali. Pada laki-laki porsi yang tak terkendali 64,6 persen, sedangkan pada perempuan 73,7 persen.

Rata-rata umur peserta 50,6 tahun, dan 52,8 persen di antaranya laki-laki. Banyak yang sudah menanggung komplikasi. Sebanyak 23,0 persen pernah terkena stroke, 16,1 persen punya penyakit jantung, dan 10,2 persen penyakit ginjal kronis. Sebagian besar, 56,7 persen, memantau tekanan darahnya sedikitnya dua kali seminggu.

Lapak Pinggir Jalan

Di luar dinding klinik, kebiasaan makan peserta beragam. Sebanyak 24,6 persen makan di luar rumah tiga kali atau lebih per minggu, kira-kira satu dari empat pasien. Peserta yang tidak pernah makan di luar dimasukkan ke kelompok yang jarang. Yang dimaksud makan di luar adalah menyantap makanan atau minuman yang disiapkan di luar rumah tangga sendiri, dari restoran, cepat saji, pedagang kaki lima, kafetaria, sampai makanan bungkus dan antaran.

Makanan jalanan paling sering dipilihMakanan jalanan 62,4%; Kue atau roti toko 42,4%; Makanan cepat saji 29,6%; Manisan dan camilan 24,6%; Hidangan kasual 8,9%.Makanan jalanan paling sering dipilihPersen pasien hipertensi menurut jenis makanan yangdisantap saat makan di luar rumah, Addis Ababa,Januari-Maret 2025 (n=460)0%20%40%60%80%Makanan jalanan62,4%Kue atau roti toko42,4%Makanan cepat saji29,6%Manisan dan camilan24,6%Hidangan kasual8,9%Makanan jalanan: injera, kokor, ertib. Jawaban boleh lebih dari satu(Tabel 6)
Sumber: Hana Shumetie, Robel Yirgu, dan Samson Gebremedhin, Eating away from home among hypertensive patients in Addis Ababa: frequency and association with blood pressure control, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang paling banyak disantap di luar adalah makanan jalanan seperti injera, kokor, dan ertib, dipilih 62,4 persen peserta. Kue dan roti dari toko roti menyusul dengan 42,4 persen. Makanan cepat saji seperti burger, kentang goreng, nugget ayam, dan piza dipilih 29,6 persen.

Manisan dan camilan disebut 24,6 persen peserta. Hidangan kasual seperti masakan internasional hanya 8,9 persen. Peserta boleh menyebut lebih dari satu jenis makanan, sehingga porsinya tidak dijumlahkan menjadi seratus.

Baca juga Hampir Separuh Pemanggang Injera Addis Ababa Sakit Akibat Panas

Menurut tabel frekuensi, 17,4 persen peserta makan di restoran cepat saji sekali sehari. Sebanyak 14,3 persen bahkan menyebut tiga kali atau lebih sehari. Sebaliknya, lebih dari separuh peserta jarang atau tak pernah menyantap hidangan prasmanan (54,3 persen) dan makanan bungkus (54,8 persen).

Alasan paling umum untuk makan di luar adalah rasa, disebut 57,2 persen peserta. Kepraktisan disebut 50,4 persen, bersosialisasi 43,9 persen, dan gaya hidup sibuk 35,2 persen. Alasan lain lebih jarang muncul. Sebanyak 26,1 persen menyebut kemewahan, 24,1 persen pengaruh teman, dan 15,7 persen mengaku tidak pandai memasak. Pemasaran di media sosial disebut 11,7 persen peserta.

Tensimeter Digital

Kembali ke hasil tensimeter, perbedaan dua kelompok itu cukup jelas. Di antara pasien yang sering makan di luar, 73,1 persen tekanan darahnya tak terkendali dan 26,9 persen terkendali. Di antara yang jarang, angkanya 57,4 persen berbanding 42,6 persen.

Dalam hitungan peluang, pasien yang sering makan di luar punya peluang tekanan darah tak terkendali 2,02 kali lipat dibanding yang jarang. Setelah faktor lain diperhitungkan, rasio peluangnya 1,77 kali, dengan rentang kepercayaan 1,04 sampai 3,00. Hubungan itu tetap bermakna secara statistik.

Faktor yang diperhitungkan cukup panjang. Di antaranya jenis kelamin, usia, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan rumah tangga, lama sejak diagnosis, jumlah penyakit penyerta, aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok, minum alkohol, dan mengunyah khat. Di antara peserta, 19,6 persen mengunyah khat dan 30,4 persen minum alkohol dalam 12 bulan terakhir.

Angka pengendalian 31,1 persen itu, menurut penulis, sebanding dengan temuan di Kenya sebesar 33,4 persen dan studi global PURE sebesar 32,5 persen. Bedanya, kedua studi itu memakai batas yang lebih longgar, yakni di bawah 140/90 mm Hg.

Piring di Luar Rumah

Kelompok yang sering makan di luar juga tampak berbeda di timbangan. Sebanyak 56,6 persen dari mereka kelebihan berat badan atau obesitas, dengan indeks massa tubuh 25 atau lebih. Pada kelompok yang jarang makan di luar, porsinya 37,6 persen. Meski begitu, indeks massa tubuh tidak muncul sebagai penentu bermakna bagi terkendali tidaknya tekanan darah, yang menurut penulis mungkin mencerminkan pengaruh faktor lain.

Piring mereka pun lebih jarang berisi buah dan sayur. Konsumsi buah dan sayur yang rendah ditemukan pada 74,9 persen peserta yang sering makan di luar. Pada yang jarang, porsinya 56,5 persen.

Kelompok yang sering makan di luarTekanan darah tak terkendali: Sering makan di luar 73,1%, Jarang makan di luar 57,4%; IMT 25 ke atas: Sering makan di luar 56,6%, Jarang makan di luar 37,6%; Konsumsi buah dan sayur rendah: Sering makan di luar 74,9%, Jarang makan di luar 56,5%.Kelompok yang sering makan di luarPersen dalam tiap kelompok frekuensi makan di luar rumah;sering = 3 kali atau lebih per mingguSering makan di luarJarang makan di luar0%20%40%60%80%73,1%57,4%Tekanan darah takterkendali56,6%37,6%IMT 25 ke atas74,9%56,5%Konsumsi buahdan sayur rendahTekanan darah: Tabel 7. IMT dan buah-sayur: Tabel 8
Sumber: Hana Shumetie, Robel Yirgu, dan Samson Gebremedhin, Eating away from home among hypertensive patients in Addis Ababa: frequency and association with blood pressure control, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Buah memang jarang hadir di meja seluruh peserta. Sebanyak 17,8 persen tidak makan buah sama sekali dalam seminggu terakhir, dan hanya 3,7 persen yang makan buah setiap hari. Lebih dari separuh, 55,4 persen, tergolong sangat rendah asupan buahnya.

Garam di Dapur

Soal garam, sebagian besar peserta mengaku sudah berusaha. Sebanyak 69,8 persen membatasi garam dengan cara apa pun. Caranya antara lain menghindari makanan olahan (45,0 persen), mengurangi garam saat memasak (38,3 persen), dan menghindari camilan asin (34,3 persen).

Baca juga Garam Beryodium Etiopia Merata, Pengetahuan Warganya Tertinggal

Soal makan di luar rumah, penulis mencatat jarak antara pengetahuan dan kebiasaan. “Meski sebagian besar peserta menganggap makan di luar rumah berdampak buruk pada pengendalian tekanan darah, pengetahuan ini tidak serta-merta berubah menjadi praktik,” tulis Shumetie, Yirgu, dan Gebremedhin dalam bahasa Inggris, yang di sini diterjemahkan. Mereka juga mengakui satu pertanyaan yang belum terjawab. Belum jelas apakah garam berlebih terutama berasal dari masakan rumah yang tak terkontrol garamnya, atau dari makanan tinggi natrium yang disantap di luar rumah.

Arah temuan di Addis Ababa, menurut penulis, sejalan dengan studi di negara lain. Di pedesaan China, studi atas 29.611 orang dewasa mendapati makan di luar tujuh kali atau lebih seminggu berhubungan dengan peluang hipertensi 1,67 kali. Di Singapura, studi pada mahasiswa melaporkan tiap tambahan satu kali makan di luar per minggu berhubungan dengan peluang prahipertensi atau hipertensi 1,05 kali. Kedua studi itu dirujuk penulis sebagai pembanding.

Kembali ke Klinik

Penulis menyebut sendiri batas penelitian mereka. Rancangan potong lintang tidak bisa membuktikan sebab-akibat antara kebiasaan makan dan tekanan darah. Data yang dilaporkan sendiri oleh peserta juga bisa terpengaruh ingatan yang keliru dan keinginan memberi jawaban yang dianggap baik. Sampelnya pun diambil dari fasilitas kesehatan terpilih. Karena itu, hasilnya mungkin tidak sepenuhnya mewakili semua pasien darah tinggi di Addis Ababa.

Baca juga Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi

Untuk langkah berikutnya, penulis menunjuk beberapa jalan. “Temuan ini menegaskan pentingnya meningkatkan kesadaran tentang risiko makan di luar rumah, mendorong makanan yang dimasak di rumah, menegakkan pedoman gizi, memadukan konseling diet, dan menggelar lokakarya komunitas untuk memperbaiki pengendalian hipertensi,” tulis mereka, juga dalam terjemahan.

Program kesehatan, menurut penulis, perlu memikirkan bukan hanya apa yang dimakan pasien, tetapi juga di mana mereka makan dan apa persisnya yang mereka santap. Tingginya porsi tekanan darah tak terkendali, menurut penulis, juga menandakan perlunya pemantauan, tindak lanjut, dan edukasi pasien yang lebih intensif oleh tenaga kesehatan.

Bagikan

Baca Juga

Siswi Uganda yang Tahu Haid Sebelum Mengalaminya Lebih Positif
Banyak Warga Beijing Susah Tidur, Sedikit yang Sampai Didiagnosis
Kematian karena Usia Tua di Jepang Berkaitan dengan Tempat Wafat
Survei di Kurdistan Irak: Anak Muda Paling Jauh dari Hidup Sehat
Suhu Tinggi Dikaitkan dengan 11.684 Kematian Berlebih di Spanyol
Riset 28 Negara: Sejak Usia 50, Masa Kerja Sehat Hampir 11 Tahun