Kematian karena Usia Tua di Jepang Berkaitan dengan Tempat Wafat

A A

Tampak belakang gedung panti wreda Gokun no Mori di Kota Ichinoseki, Prefektur Iwate, Jepang [Foto: とらもん192/Wikimedia Commons, CC BY 3.0]

  • Usia tua menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak di Jepang pada 2024, dengan porsi 12,9 persen dari seluruh kematian.
  • Rata-rata 69,3 persen kematian di 335 wilayah Jepang terjadi di institusi medis.
  • Wilayah dengan porsi kematian di panti dan rumah lebih tinggi mencatat angka kematian karena usia tua lebih tinggi.
  • Tiap tambahan satu poin persen kematian di rumah beriringan dengan angka kematian karena usia tua 2,6 persen lebih tinggi pada laki-laki.
Daftar Isi
  1. Penyebab Ketiga Terbanyak
  2. Mayoritas di Rumah Sakit
  3. Peta yang Tidak Acak
  4. Panti dan Rumah
  5. Tiap Satu Poin
  6. Diagnosis atau Perawatan
  7. Batas Penelitian
  8. Di Luar Jepang

Di Jepang, tempat orang wafat beriringan dengan angka kematian karena usia tua. Wilayah yang lebih banyak warganya meninggal di panti perawatan atau di rumah mencatat kematian karena usia tua lebih tinggi. Wilayah yang lebih banyak warganya meninggal di institusi medis justru mencatat angka lebih rendah.

Temuan itu datang dari Rikuya Hosokawa dan rekan dari Sekolah Pascasarjana Keperawatan Ilmu Pelayanan Kesehatan, Universitas Kedokteran Prefektur Kyoto. Laporan mereka berjudul Association between place of death and regional variation in senility mortality in Japan: a nationwide ecological study. Laporan itu terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.

Tim memeriksa seluruh 335 wilayah layanan kesehatan sekunder di Jepang, yakni wilayah yang dipakai untuk perencanaan layanan kesehatan. Datanya catatan kematian 2020 sampai 2024 dari statistik resmi pemerintah. Analisisnya dipisah untuk laki-laki dan perempuan.

Penyebab Ketiga Terbanyak

Dalam beberapa tahun terakhir, kematian karena usia tua di Jepang meningkat tajam. Menurut Statistik Vital Jepang 2024 yang dikutip tim, usia tua menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak, sesudah kanker ganas dan penyakit jantung. Porsinya 12,9 persen dari seluruh kematian, naik dari 12,1 persen pada 2023.

Dalam Klasifikasi Penyakit Internasional revisi kesepuluh, usia tua diberi kode R54. Kode itu umumnya diartikan sebagai kematian akibat kemunduran bertahap karena usia. Syaratnya, tidak ada penyakit tertentu yang bisa ditunjuk sebagai penyebab dasar kematian.

Pedoman sertifikat kematian Jepang memasang syarat yang ketat. Usia tua hanya boleh ditulis bila tak ada penyakit lain yang dianggap bertanggung jawab atas kematian. Kematian itu juga harus dinilai sebagai akibat kemerosotan bertahap pada usia lanjut.

Di statistik kematian internasional, kode ini kerap dicap kurang jelas. Ia juga digolongkan sebagai apa yang disebut kode sampah atau garbage code, karena pemakaiannya dapat mengurangi daya banding dan kekhususan data penyebab kematian. Hosokawa dan rekan ingin melihat bagaimana angka itu tersebar antarwilayah dan apa yang menyertainya.

Mayoritas di Rumah Sakit

Kebanyakan wafat di institusi medisInstitusi medis 69,3%; Perawatan jangka panjang 14,5%; Rumah 14,4%; Tempat lain 1,7%.Kebanyakan wafat di institusi medisRata-rata persen kematian menurut tempat meninggal di 335wilayah layanan kesehatan sekunder Jepang, 2020-20240%20%40%60%80%Institusi medis69,3%Perawatan jangka panjang14,5%Rumah14,4%Tempat lain1,7%Perawatan jangka panjang: panti wreda dan fasilitas perawatan jangkapanjang lain
Sumber: Rikuya Hosokawa dan rekan, Association between place of death and regional variation in senility mortality in Japan: a nationwide ecological study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sebagian besar kematian di Jepang masih terjadi di institusi medis. Rata-rata antarwilayah, 69,3 persen kematian terjadi di institusi medis. Fasilitas perawatan jangka panjang menyumbang 14,5 persen, rumah 14,4 persen, dan tempat lain 1,7 persen.

Porsinya berbeda jauh dari satu wilayah ke wilayah lain. Kematian di institusi medis berkisar 47,3 sampai 90,6 persen. Kematian di fasilitas perawatan jangka panjang berkisar 2,9 sampai 30,7 persen, sedangkan kematian di rumah 5,1 sampai 27,0 persen.

Fasilitas perawatan jangka panjang di sini mencakup panti wreda, fasilitas kesehatan perawatan jangka panjang, dan fasilitas terpadu perawatan medis dan jangka panjang. Menurut latar yang ditulis tim, rumah sakit masih menjadi tempat meninggal yang paling umum bagi lansia Jepang, tetapi porsinya perlahan turun selama beberapa dekade terakhir. Kematian di panti wreda dan rumah pribadi bertambah.

Peta yang Tidak Acak

Angka kematian karena usia tua juga sangat beragam antarwilayah. Tim mengukurnya dengan rasio kematian terstandar, yaitu perbandingan jumlah kematian karena usia tua yang teramati dengan jumlah yang diharapkan menurut angka nasional per kelompok usia dan jenis kelamin. Makin tinggi rasionya, makin banyak kematian karena usia tua dibanding yang diharapkan.

Pada laki-laki, rasio itu berkisar dari 29,0 sampai 200,6 dengan rata-rata 100,5. Pada perempuan, rentangnya 37,0 sampai 193,2 dengan rata-rata 101,4.

Rasio yang tinggi muncul di sejumlah wilayah Jepang timur dan tengah. Rasio yang rendah lebih sering ditemukan di Jepang barat dan sebagian Hokkaido.

Wilayah yang bertetangga cenderung punya tingkat kematian karena usia tua yang mirip. Uji pengelompokan ruang Moran’s I menghasilkan 0,360 untuk laki-laki dan 0,338 untuk perempuan, keduanya bermakna secara statistik. Menurut tim, sebarannya di peta tidak acak.

Baca juga Kanker di Laos Sebagian Besar Tak Pernah Tercatat Rumah Sakit

Panti dan Rumah

Pola tempat meninggal sudah tampak pada uji korelasi peringkat Spearman. Rasio kematian karena usia tua berkorelasi negatif dengan porsi kematian di institusi medis, −0,49 pada laki-laki dan −0,47 pada perempuan. Korelasinya positif dengan porsi kematian di fasilitas perawatan jangka panjang, 0,50 dan 0,51, serta di rumah, 0,27 dan 0,25.

Menurut tim, korelasi terkuat memang melibatkan tempat meninggal. Korelasinya dengan ciri wilayah lain umumnya lebih lemah. Porsi penduduk berusia 75 tahun ke atas, misalnya, hanya berkorelasi −0,02 pada laki-laki dan −0,05 pada perempuan.

Tim lalu menguji hubungan itu dengan model regresi binomial negatif. Model kedua ikut memperhitungkan porsi penduduk berusia 75 tahun ke atas, lansia yang tinggal sendiri, kepadatan penduduk, dan penghasilan kena pajak. Hubungan tempat meninggal dengan kematian karena usia tua tetap bermakna.

Tiap Satu Poin

Hasil model kedua bisa dibaca per satu poin persen. Bila porsi kematian di fasilitas perawatan jangka panjang lebih tinggi satu poin persen, dengan porsi di institusi medis lebih rendah sebanyak itu, angka kematian karena usia tua 2,3 persen lebih tinggi pada laki-laki. Pada perempuan, angkanya 1,9 persen lebih tinggi.

Untuk kematian di rumah, polanya serupa. Setiap tambahan satu poin persen kematian di rumah, dengan porsi institusi medis turun sebanyak itu, beriringan dengan angka kematian karena usia tua 2,6 persen lebih tinggi pada laki-laki dan 2,2 persen pada perempuan.

Tiap satu poin persen di panti atau rumahFasilitas perawatan jangka panjang: Laki-laki 2,3%, Perempuan 1,9%; Rumah: Laki-laki 2,6%, Perempuan 2,2%.Tiap satu poin persen di panti atau rumahPersen angka kematian karena usia tua lebih tinggi untuk tiaptambahan 1 poin persen kematian di tempat itu, menggantikaninstitusi medis (Model 2)Laki-lakiPerempuan0%1%2%3%2,3%1,9%Fasilitas perawatan jangkapanjang2,6%2,2%RumahModel 2 disesuaikan dengan struktur usia, rumah tangga, kepadatan,dan penghasilan wilayah
Sumber: Rikuya Hosokawa dan rekan, Association between place of death and regional variation in senility mortality in Japan: a nationwide ecological study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kematian di tempat lain tidak bermakna dalam model itu. Rasio angka kejadiannya 1,033 untuk laki-laki dan 1,018 untuk perempuan, dengan nilai p 0,073 dan 0,201.

Ciri wilayah lain juga tampak dalam tabel model itu. Porsi penduduk berusia 75 tahun ke atas berhubungan positif dengan angka kematian karena usia tua, dengan rasio 1,021 pada laki-laki dan 1,012 pada perempuan. Porsi lansia 75 tahun ke atas yang tinggal sendiri berhubungan dengan angka sedikit lebih rendah, 0,989 dan 0,994.

Diagnosis atau Perawatan

Tim menawarkan beberapa kemungkinan penjelasan. Lansia yang wafat di panti atau di rumah mungkin lebih sering mengalami kerapuhan berkepanjangan, banyak penyakit sekaligus, dan kemunduran fungsi bertahap, bukan satu penyakit akhir yang jelas. Dalam keadaan itu, dokter bisa kesulitan menunjuk satu penyakit dasar.

Menurut tim, tempat meninggal bisa menjadi penanda keadaan perawatan menjelang ajal, bukan sekadar lokasi kematian. Sejumlah penelitian terdahulu yang mereka rujuk menunjukkan tempat meninggal berkaitan dengan sumber daya kesehatan, ketersediaan perawatan jangka panjang, dukungan keluarga, dan praktik perawatan akhir hayat.

Kematian di rumah sakit lebih mungkin didahului pemeriksaan diagnostik, konsultasi dokter spesialis, dan pengobatan penyakit tertentu. Menurut tim, hal itu memperbesar peluang satu penyebab kematian yang spesifik ditemukan dan dicatat.

Namun, tim menilai hubungan itu mungkin bukan soal diagnosis semata. Banyak lansia lebih suka dirawat di rumah menjelang ajal bila dukungannya tersedia. Perluasan sistem perawatan terpadu berbasis komunitas di Jepang mungkin menambah kesempatan lansia dirawat di luar rumah sakit akut.

Baca juga Tinggi Badan Pria Jepang dan Lamanya Bertahan Bebas Diabetes

“Alih-alih menganggap kematian karena usia tua semata sebagai penanda data kematian yang bermutu rendah, mungkin lebih tepat menganggapnya sebagai penanda kematian terkait penuaan pada tingkat populasi di masyarakat super-tua,” tulis Hosokawa dan rekan dalam bahasa Inggris, yang di sini diterjemahkan. Menurut mereka, angka ini dapat melengkapi statistik penyebab kematian berbasis penyakit.

Tim juga menempatkan temuan ini dalam gambaran penuaan yang lebih luas. Kematian lansia sering didahului perjalanan panjang disabilitas, kerapuhan, dan kemunduran fungsi, bukan satu penyakit akhir yang dominan. Banyak penyakit sekaligus kian umum pada lansia, sehingga makin sulit menunjuk satu penyebab dasar kematian.

Karena itu, menurut Hosokawa dan rekan, cara lama menggolongkan penyebab kematian berdasarkan penyakit bisa makin kurang memberi informasi ketika penduduk menua. Lonjakan kematian karena usia tua di Jepang mungkin tidak hanya mencerminkan cara pencatatan, tetapi juga perubahan profil kesehatan dan kematian lansia.

Batas Penelitian

Tim menyebut sendiri batas penelitiannya. Karena ini studi ekologis berbasis wilayah, kesimpulannya tidak bisa ditarik untuk orang per orang. Desain potong lintangnya juga tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, termasuk soal arah hubungan antara tempat meninggal dan angka kematian karena usia tua.

Keabsahan pencatatan usia tua di setiap sertifikat kematian tidak dinilai. Karena itu, tim tidak bisa memastikan seberapa jauh perbedaan antarwilayah mencerminkan kesehatan lansia, perawatan menjelang ajal, atau kebiasaan pencatatan.

Data 2020 sampai 2024 juga mencakup masa pandemi Covid-19. Pandemi mungkin memengaruhi tempat orang wafat sekaligus pencatatan penyebab kematian, sehingga tim meminta hasilnya dibaca dengan hati-hati. Sikap dokter, kebijakan setempat, dan perbedaan budaya soal kematian juga tidak diukur.

Di sisi lain, tim mencatat kekuatan penelitiannya. Seluruh 335 wilayah layanan kesehatan sekunder diikutkan, dan data kematian lima tahun digabung supaya rasio lebih stabil dan tidak mudah terguncang naik-turun tahunan, terutama di wilayah berpenduduk sedikit.

Baca juga Berhenti Naik Angkutan Umum, Langkah dan Ingatan Lansia Surut

Di Luar Jepang

Tim melihat temuan ini relevan di luar Jepang. Penuaan penduduk berlangsung cepat di seluruh dunia, dan sistem perawatan di banyak negara bergeser dari rumah sakit ke perawatan berbasis komunitas. Jepang, tulis mereka, sering dianggap berada di garis depan penuaan global.

Karena itu, tim menyarankan angka kematian karena usia tua dipantau bersama pola tempat meninggal. Menurut mereka, pemantauan itu dapat membantu memahami kesehatan penduduk dan perawatan menjelang ajal di masyarakat super-tua.

Satu hal masih terbuka. Mekanisme di tingkat orang per orang, tulis tim, masih perlu diteliti.

Bagikan

Baca Juga

Survei di Kurdistan Irak: Anak Muda Paling Jauh dari Hidup Sehat
Suhu Tinggi Dikaitkan dengan 11.684 Kematian Berlebih di Spanyol
Riset 28 Negara: Sejak Usia 50, Masa Kerja Sehat Hampir 11 Tahun
Separuh Warga Desa Gansu yang Diperiksa Punya Hati Berlemak
Kebanyakan Penderita Darah Tinggi di Lagos Tak Tahu Dirinya Sakit
Anak Kecil Australia yang Lama Pegang Gawai Tidur Lebih Larut