Kebanyakan Penderita Darah Tinggi di Lagos Tak Tahu Dirinya Sakit

A A

Ilustrasi perawat memasang manset tensimeter air raksa di lengan seorang pria [Foto: Justmee3001/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Skrining pada 1.547 orang dewasa di Lagos pada 2023 menemukan 52,5 persen tergolong hipertensi.
  • Sebanyak 65,3 persen penderita hipertensi tidak menyadari kondisinya.
  • Hanya 8,3 persen dari seluruh penderita yang tekanan darahnya benar-benar terkendali.
  • Hipertensi lebih sering pada laki-laki, 28,5 persen, dibanding 23,0 persen pada perempuan.
Daftar Isi
  1. Bangku di Klinik dan Apotek
  2. Angka di Layar Alat
  3. Obat Penurun Tekanan Darah
  4. Tangga Perawatan yang Menyempit
  5. Timbangan, Sekolah, dan Jenis Kelamin
  6. Kembali ke Manset

Kursi itu menunggu di klinik, apotek, kantor, dan ruang terbuka Lagos. Orang yang duduk di sana diminta tegak, kaki menapak lantai, lengan setinggi jantung, tanpa pakaian yang menjepit. Setelah lima menit beristirahat, manset di lengannya mengembang tiga kali dengan jeda dua sampai tiga menit. Rata-rata ketiga angka itulah yang menentukan golongan tekanan darahnya.

Adegan itu berulang pada 1.547 orang dewasa antara Juni dan Agustus 2023. Hasilnya, lebih dari separuh, tepatnya 52,5 persen, tergolong mengidap darah tinggi atau hipertensi. Sebagian di antara mereka baru terdeteksi di kursi itu, dari pengukuran yang dilakukan relawan terlatih.

Temuan itu dilaporkan Casmir E. Amadi dan rekan dari Department of Medicine, College of Medicine, University of Lagos, Nigeria. Makalah mereka berjudul Unmasking the contemporary burden of hypertension in Lagos, Nigeria: insights from an opportunistic screening, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Penulisnya juga berasal dari King’s College Hospital London, Yale School of Public Health, dan Lagos University Teaching Hospital.

Pemeriksaan dilakukan dalam kampanye skrining tekanan darah berbasis komunitas, dengan menjaring siapa saja yang datang. Seseorang digolongkan hipertensi bila tekanan sistoliknya 140 mmHg atau lebih dan/atau diastoliknya 90 mmHg atau lebih, atau bila ia mengaku hipertensi atau sedang minum obat penurun tekanan darah.

Bangku di Klinik dan Apotek

Sebagian besar pemeriksaan berlangsung di rumah sakit, klinik, atau apotek, yakni 58,3 persen. Ruang publik di luar gedung menyumbang 26,2 persen, sedangkan tempat kerja 14,7 persen. Orang yang duduk di kursi pemeriksaan umumnya paruh baya, dengan usia tengah atau median 47 tahun, dan perempuan sedikit lebih banyak, yakni 51,2 persen.

Banyak dari mereka sebenarnya bukan orang asing bagi alat tensi. Hampir tiga perempat peserta, atau 72,3 persen, sudah memeriksa tekanan darahnya dalam 12 bulan sebelumnya. Sebaliknya, 106 orang atau 7,1 persen mengaku belum pernah sekali pun diukur. Sisanya, 306 orang atau 20,6 persen, terakhir diukur lebih dari 12 bulan sebelumnya.

Timbangan bercerita lain. Kelebihan berat badan ditemukan pada 35,0 persen peserta dan obesitas pada 28,7 persen, dengan median indeks massa tubuh 26,7. Sebanyak 37,8 persen mengaku kurang bergerak, sementara 6,3 persen punya riwayat diabetes.

Angka di Layar Alat

Angka 52,5 persen itu terdiri atas dua kelompok. Sebanyak 34,7 persen sudah pernah didiagnosis sebelumnya, sedangkan 17,8 persen adalah kasus yang baru terdeteksi di kursi skrining. Mereka yang baru terdeteksi berasal dari 975 peserta yang belum pernah didiagnosis, dan 174 orang di antaranya ternyata memenuhi kriteria hipertensi.

Dari 975 orang yang sama, 248 orang atau 25,4 persen lagi menunjukkan pola “normal-tinggi”. Tekanan sistolik mereka 130 sampai 139 mmHg atau diastoliknya 80 sampai 89 mmHg.

Menurut klasifikasi hasil pengukuran tekanan darah, dari seluruh 1.547 peserta, 748 orang atau 48,3 persen bertekanan normal, 405 orang atau 26,2 persen normal-tinggi, dan 394 orang atau 25,5 persen masuk kategori hipertensi. Hipertensi sistolik terisolasi tercatat pada 6,9 persen peserta dan diastolik terisolasi pada 6,1 persen.

Makin tua, makin banyak yang masuk kategori hipertensi18-39 tahun 12,2%; 40-54 tahun 28,6%; 55-64 tahun 33,8%; 65-74 tahun 33,1%; 75 tahun ke atas 41,0%.Makin tua, makin banyak yang masuk kategorihipertensiBagian peserta tiap kelompok usia dengan kategori tekanandarah hipertensi, persen (Tabel 4)0%10%20%30%40%50%18-39 tahun12,2%40-54 tahun28,6%55-64 tahun33,8%65-74 tahun33,1%75 tahun ke atas41,0%Hipertensi: sistolik 140 atau lebih, atau diastolik 90 atau lebih. p<0,001
Sumber: Casmir E. Amadi dan rekan, Unmasking the contemporary burden of hypertension in Lagos, Nigeria: insights from an opportunistic screening, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Usia memperlihatkan jenjang yang jelas. Pada kelompok 18 sampai 39 tahun, 12,2 persen hasil ukurnya masuk kategori hipertensi. Angkanya 28,6 persen pada usia 40 sampai 54 tahun, 33,8 persen pada 55 sampai 64 tahun, dan 33,1 persen pada 65 sampai 74 tahun.

Pada mereka yang berusia 75 tahun ke atas, bagiannya mencapai 41,0 persen. Hubungan usia dengan kategori tekanan darah ini bermakna secara statistik. Median usia saat pertama kali didiagnosis 45 tahun, dan 27,6 persen pasien sudah didiagnosis pada usia 18 sampai 39 tahun.

Baca juga Pemakai Ponsel Lama di Iran Lebih Rentan Kena Darah Tinggi

Obat Penurun Tekanan Darah

Di antara peserta yang sudah pernah didiagnosis, 39,9 persen melaporkan sedang menjalani pengobatan. Lebih dari separuh dari mereka, 51,9 persen, diresepkan dua atau tiga jenis obat penurun tekanan darah sekaligus. Sebanyak 60,2 persen dari yang berobat memiliki tekanan darah terkendali, angka yang oleh para penulis disebut menggembirakan.

Biaya obat sebagian besar ditanggung sendiri. Dari 620 peserta yang menjawab, 355 orang atau 57,3 persen membayar penuh obat tekanan darahnya. Sebanyak 21,1 persen tidak membayar sama sekali, sementara 15,3 persen membayar sebagian.

Tidak semua obat itu ditelan dengan teratur. Dari 523 orang yang menjawab, 64,6 persen mengaku minum obat secara rutin, tetapi 22,4 persen hanya meminumnya ketika merasa perlu. Alasan lain lebih kecil porsinya: obat sulit didapat 3,4 persen, terlalu mahal 3,3 persen, efek samping 2,5 persen, lupa 1,9 persen, dan memilih pengobatan alternatif 1,9 persen.

Tangga Perawatan yang Menyempit

Para peneliti lalu menyusun jalan yang mesti dilalui seorang penderita, dari tahu dirinya sakit hingga tekanannya terkendali. Di antara 811 peserta dengan hipertensi, hanya 34,7 persen yang mengetahui diagnosisnya. Dalam bagian diskusi, para penulis mencatat 65,3 persen penderita tidak menyadari kondisinya.

Anak tangga berikutnya lebih sempit. Hanya 13,8 persen dari seluruh penderita hipertensi yang sedang minum obat penurun tekanan darah. Karena 60,2 persen dari yang berobat berhasil terkendali, bagian penderita yang tekanannya benar-benar terkendali hanya 8,3 persen dari seluruh penderita.

Menurut para penulis, kebocoran terbesar terjadi di dua titik, yakni saat diagnosis dan saat memulai pengobatan. Kendali di antara yang sudah berobat justru relatif tinggi. Karena itu, mereka menilai program sebaiknya diarahkan terutama pada penemuan kasus dan akses terhadap obat.

Ketidaktahuan itu, menurut para penulis, bukan perkara sepele. “Ketidaktahuan berbahaya karena meningkatkan risiko kerusakan organ akibat hipertensi, termasuk strok, gagal jantung, penyakit ginjal kronis, kematian dini, dan biaya perawatan kesehatan yang besar,” tulis Amadi dan rekan dalam bagian diskusi, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Angka 52,5 persen itu, kata mereka, jauh lebih tinggi daripada prevalensi nasional 38,1 persen yang dilaporkan pada 2017. Studi-studi terdahulu di Lagos mencatat angka antara 27,5 dan 55 persen, tergantung populasi dan kriteria diagnosisnya. Cakupan pengobatan 39,9 persen juga lebih tinggi dari 24,6 persen yang pernah dilaporkan di kalangan pedagang di Lagos.

Baca juga Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi

Timbangan, Sekolah, dan Jenis Kelamin

Hipertensi lebih sering dijumpai pada laki-laki, yakni 28,5 persen, dibanding 23,0 persen pada perempuan. Selisih ini bermakna secara statistik. Pada perempuan, 52,0 persen bertekanan normal, sedangkan pada laki-laki 43,7 persen. Kategori normal-tinggi diisi 25,0 persen perempuan dan 27,8 persen laki-laki.

Laki-laki lebih banyak di kategori hipertensiNormal: Perempuan 52,0%, Laki-laki 43,7%; Normal-tinggi: Perempuan 25,0%, Laki-laki 27,8%; Hipertensi: Perempuan 23,0%, Laki-laki 28,5%.Laki-laki lebih banyak di kategori hipertensiSebaran kategori tekanan darah menurut jenis kelamin,persen (Tabel 4)PerempuanLaki-laki0%20%40%60%52,0%43,7%Normal25,0%27,8%Normal-tinggi23,0%28,5%HipertensiPerempuan n=773, laki-laki n=734. p=0,015
Sumber: Casmir E. Amadi dan rekan, Unmasking the contemporary burden of hypertension in Lagos, Nigeria: insights from an opportunistic screening, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pendidikan juga muncul di tabel. Di antara 25 peserta yang tidak pernah bersekolah formal, 36,0 persen masuk kategori hipertensi dan hanya 16,0 persen bertekanan normal. Pada mereka yang bersekolah lebih dari 12 tahun, bagian hipertensinya 24,8 persen.

Berat badan memperlihatkan pola serupa. Bagian hipertensi 18,7 persen pada peserta berberat normal, 26,6 persen pada yang kelebihan berat, 33,2 persen pada yang obesitas, dan 31,1 persen pada obesitas morbid, yakni indeks massa tubuh 35 atau lebih.

Model statistik para peneliti menimbang faktor-faktor itu bersama. Usia 18 sampai 39 tahun berhubungan dengan peluang lebih rendah berada di kategori tekanan darah yang lebih tinggi, dengan rasio odds 0,38 dibanding usia 75 tahun ke atas. Perempuan juga lebih rendah peluangnya, dengan rasio odds 0,73 dibanding laki-laki.

Sebaliknya, tidak pernah bersekolah formal berhubungan dengan peluang lebih tinggi, rasio odds 2,57 dibanding pendidikan lebih dari 12 tahun. Rentang berat badan nonobesitas, yakni kurus, normal, dan kelebihan berat, berhubungan dengan peluang lebih rendah dibanding obesitas morbid. Mereka yang memeriksa tekanan darah dalam 12 bulan terakhir juga lebih rendah peluangnya, dengan rasio odds 0,59 dibanding yang terakhir diukur lebih dari 12 bulan sebelumnya.

Baca juga Diare Balita Banjir Ebonyi Nigeria dan Teka-teki Wadah Tertutup

Kembali ke Manset

Para penulis mengakui batas temuannya. Skrining yang menjaring siapa saja bisa melebihkan prevalensi, karena sampelnya tidak diacak, suasana skrining bisa menegangkan, dan tidak ada pengukuran ulang untuk memastikan. Tekanan darah juga hanya diukur dalam satu kunjungan, sedangkan data laporan diri rentan bias ingatan.

Meski begitu, mereka menyimpulkan skrining semacam ini tetap cara hemat untuk menemukan hipertensi yang tersembunyi. “Skrining oportunistik berbasis komunitas mengungkap beban hipertensi masa kini yang besar di Lagos, Nigeria, termasuk prevalensi tinggi, ketidaktahuan yang signifikan, dan cakupan pengobatan yang belum optimal,” tulis mereka dalam simpulan. Mereka menyarankan studi berikutnya menilai tren jangka panjang dan menguji cara-cara yang bisa diperluas untuk meningkatkan kesadaran dan kendali hipertensi.

Peserta dengan hipertensi berat tidak dibiarkan pulang begitu saja. Mereka segera dirujuk ke dokter layanan primer atau pusat kesehatan terdekat, lalu ditelepon salah satu peneliti untuk memastikan benar-benar datang berobat. Bagi sebagian dari mereka, tiga kali manset mengembang di lengan berujung pada rujukan ke dokter.

Bagikan

Baca Juga

Anak Kecil Australia yang Lama Pegang Gawai Tidur Lebih Larut
Lansia Tiongkok yang Menopang Anak Jarang Terjepit Biaya Berobat
Kasus Kanker Ovarium di Asia Bisa Tembus 265 Ribu pada 2050
Kematian akibat Cedera di Desa Tiongkok Tetap Melebihi Kota
Warga Desa Nepal Kaitkan Diare dengan Panas, Jarang dengan Hujan
Remaja Sekolah di Surkhet Nepal Paling Sulit Cari Info Kesehatan