Remaja Sekolah di Surkhet Nepal Paling Sulit Cari Info Kesehatan

A A

Ilustrasi gedung bata bertingkat Sekolah Menengah Shree Bhagawati di Sankhu, Lembah Kathmandu [Foto: Jonashtand/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 357 dari 501 siswa kelas sembilan di Birendranagar, atau 71,3 persen, belum pernah mendengar istilah literasi kesehatan.
  • Sebanyak 60,9 persen siswa merasa sulit mengakses informasi kesehatan, dimensi yang paling banyak dirasa sulit.
  • Radio, FM, dan televisi menjadi sumber informasi kesehatan yang paling sering disebut, 19,2 persen dari seluruh jawaban.
  • Rata-rata skor literasi kesehatan 501 siswa adalah 67,31, tergolong tingkat sedang.
Daftar Isi
  1. Ketika Siswa Kelas Sembilan Diminta Menjelaskan Arti Literasi Kesehatan
  2. Radio Masih Bersuara Paling Keras, Facebook Menyusul Tepat di Belakangnya
  3. Skor Rata-rata 67,31 dan Sepertiga Siswa Berdiri di Setiap Tingkat
  4. Mencari Informasi Menjadi Pintu yang Paling Sulit Dibuka Para Remaja
  5. Satu Kota, Satu Angkatan Kelas Sembilan, dan Batas yang Diakui Penulisnya

Pertanyaan itu hanya satu baris di lembar kuesioner, dengan dua pilihan jawaban: ya atau tidak. Pernahkah kamu mendengar tentang literasi kesehatan? Di empat sekolah menengah di Birendranagar, Nepal, 501 siswa kelas sembilan memegang pensil di atas pertanyaan yang sama, antara awal Juni dan awal Agustus 2022.

Sebanyak 357 di antara mereka menjawab tidak. Itu 71,3 persen, kira-kira tujuh dari setiap sepuluh siswa. Hanya 144 siswa, atau 28,7 persen, yang mengaku pernah mendengar istilah itu. Bagi kebanyakan remaja di ruang-ruang kelas tersebut, kemampuan mencari, memahami, menilai, dan memakai informasi kesehatan masih berupa nama yang asing.

Temuan itu dilaporkan Shanti Prasad Khanal dan rekan dari Fakultas Pendidikan, Tribhuvan University, Kathmandu, dalam makalah berjudul Assessing the health literacy needs of school adolescents in Birendranagar Municipality, Surkhet, Nepal. Makalah tersebut terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulis menyebutnya studi dasar yang hasilnya akan dipakai untuk merancang program literasi kesehatan di sekolah.

Ke-501 siswa itu berasal dari empat sekolah menengah komunitas yang diundi dari 26 sekolah di Kota Birendranagar, Distrik Surkhet, Provinsi Karnali. Usia rata-rata mereka 14,29 tahun, dan 53,1 persen perempuan. Menurut makalah, Karnali termasuk provinsi yang kurang berkembang dengan angka melek huruf lebih rendah dibanding provinsi lain, sementara Birendranagar menjadi pusat pendidikan bagi pelajar dari berbagai distrik di provinsi itu.

Ketika Siswa Kelas Sembilan Diminta Menjelaskan Arti Literasi Kesehatan

Pertanyaan berikutnya menyusul: apa arti literasi kesehatan? Siswa boleh memilih lebih dari satu jawaban. Pilihan yang paling sering muncul adalah memperoleh pengetahuan terkait kesehatan, sebanyak 223 jawaban atau 33,6 persen. Memperoleh layanan kesehatan disebut 133 kali, atau 20,0 persen dari seluruh jawaban yang masuk.

Jawaban yang memuat seluruh unsur pengertian umumnya, yaitu mengakses, memahami, menilai, dan menerapkan informasi kesehatan, muncul 168 kali atau 25,3 persen. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa hanya sekitar seperempat responden yang memahami konsep itu secara utuh. Jawaban tidak tahu tercatat 111 kali, atau 16,7 persen. Jawaban lain-lain dicatat 29 kali, atau 4,4 persen.

Soal manfaatnya, dua jawaban berbagi tempat teratas dengan jumlah yang persis sama. Mendapat layanan kesehatan dengan tepat dan mencegah penyakit masing-masing dipilih 229 kali, atau 26,4 persen. Mengubah perilaku kesehatan dipilih 169 kali, sedangkan meningkatkan kesehatan hanya 84 kali, atau 9,7 persen dari jawaban. Jawaban tidak tahu tercatat 112 kali, atau 12,9 persen.

Akibat literasi kesehatan yang rendah paling sering dikaitkan dengan kesehatan yang memburuk, yakni 312 jawaban atau 35,9 persen. Layanan kesehatan yang kurang dimanfaatkan disebut 149 kali, keputusan yang tidak berdasar informasi 140 kali, dan biaya kesehatan yang membengkak 127 kali. Jawaban tidak tahu masih muncul 106 kali, atau 12,2 persen.

Baca juga Kesadaran Zoonosis Warga Dhading Nepal Masih Jomplang

Radio Masih Bersuara Paling Keras, Facebook Menyusul Tepat di Belakangnya

Radio dan televisi paling sering disebutRadio, FM/TV 19,2%; Facebook dan jejaring sosial 16,7%; Dokter dan perawat 16,5%; Koran dan poster 10,0%; Situs dan media daring 8,8%; Nada sambung telepon 7,0%; Anggota keluarga 6,9%; Guru 6,2%.Radio dan televisi paling sering disebutSumber informasi kesehatan 501 siswa kelas sembilan diBirendranagar, persen dari seluruh jawaban0%5%10%15%20%25%Radio, FM/TV19,2%Facebook dan jejaring sosial16,7%Dokter dan perawat16,5%Koran dan poster10,0%Situs dan media daring8,8%Nada sambung telepon7,0%Anggota keluarga6,9%Guru6,2%Satu siswa boleh memilih lebih dari satu sumber. Teman sebaya 5,3persen dan lainnya 3,4 persen tidak ditampilkan
Sumber: Shanti Prasad Khanal dan rekan, Assessing the health literacy needs of school adolescents in Birendranagar Municipality, Surkhet, Nepal, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari mana para remaja itu mendengar soal kesehatan? Radio, FM, dan televisi berada di urutan pertama, disebut 235 kali atau 19,2 persen dari seluruh jawaban. Facebook dan jejaring sosial lain menyusul dengan 204 jawaban, atau 16,7 persen. Dokter, perawat, dan petugas kesehatan berada di urutan ketiga dengan 16,5 persen.

Di bawahnya, koran dan poster disebut 10,0 persen, situs dan media daring 8,8 persen, lalu nada sambung telepon 7,0 persen. Anggota keluarga mendapat 6,9 persen dan guru 6,2 persen. Teman sebaya hanya 5,3 persen.

Para penulis menggarisbawahi hal itu: tak satu sumber pun dilaporkan oleh lebih dari seperlima peserta. Menurut mereka, keadaan ini menimbulkan kekhawatiran tentang seberapa mudah remaja menjangkau dan memakai informasi kesehatan, baik dari media lama maupun daring. Mereka juga menyoroti kemungkinan dampak sumber yang tidak andal terhadap keputusan kesehatan remaja. Studi ini pun menunjukkan kemampuan para remaja mengakses informasi kesehatan secara daring masih terbatas.

Skor Rata-rata 67,31 dan Sepertiga Siswa Berdiri di Setiap Tingkat

Dua puluh empat pernyataan menunggu siswa di bagian kuesioner berikutnya. Setiap pernyataan dijawab dengan empat pilihan, dari sangat sulit sampai sangat mudah. Skor totalnya berkisar 24 hingga 96. Rata-rata yang dicapai 501 siswa adalah 67,31, yang oleh para penulis digolongkan sebagai tingkat literasi kesehatan sedang. Rentang 24 sampai 47 digolongkan rendah, 47 sampai 71 sedang, dan 72 sampai 96 tinggi.

Pembagiannya nyaris rata. Sebanyak 159 siswa, atau 31,7 persen, berada di tingkat rendah. Tingkat sedang diisi 174 siswa atau 34,7 persen, dan tingkat tinggi 168 siswa atau 33,5 persen. Jika tingkat rendah dan sedang digabung, makalah mencatat 66,4 persen, hampir dua pertiga siswa. Dengan kata lain, kira-kira sepertiga siswa berdiri di setiap tingkat, sebagaimana dicatat makalah.

Rata-rata skor tiap butir berkisar 2,41 sampai 2,99 dari skala empat. Angka terendah, 2,41, muncul pada butir mencari tahu cara cepat pulih saat terkena pilek biasa atau COVID. Angka tertinggi, 2,99, ada pada butir memahami apa yang dikatakan orang tua tentang kesehatan mereka. Butir memahami apa yang dikatakan dokter dan petugas kesehatan mencatat rata-rata 2,90.

Butir tentang memercayai dan mengambil keputusan atas peringatan risiko kesehatan dari media dan jejaring sosial dijawab sangat sulit oleh 69 siswa dan sulit oleh 130 siswa, dengan rata-rata 2,63. Pada butir menilai apa yang akan terjadi bila mulai merokok, minum alkohol, dan memakai narkoba, 101 siswa atau 20,2 persen menjawab sangat sulit. Kedua butir itu termasuk dalam dimensi menilai.

Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas

Mencari Informasi Menjadi Pintu yang Paling Sulit Dibuka Para Remaja

Ketika kesulitan itu dipilah per dimensi, satu pintu tampak paling berat. Sebanyak 60,9 persen siswa merasa sulit mengakses informasi kesehatan. Menilai informasi berada di urutan kedua dengan 55,1 persen. Menerapkan dan memahami informasi tetap dirasa sulit oleh lebih dari separuh siswa, masing-masing 53,4 dan 52,6 persen. Dalam simpulan, para penulis menyebut mengakses dan menilai informasi sebagai prioritas utama.

Tingkat rendah pun paling banyak muncul pada dua dimensi yang sama, yaitu mengakses dengan 40,7 persen dan menilai dengan 39,5 persen. Tingkat sedang paling sering tercatat pada dimensi memahami, 41,3 persen. Pada ranah layanan kesehatan, tingkat sedang tercatat 43,7 persen, tertinggi di antara tiga ranah.

Mengakses informasi paling dirasa sulitMengakses: Siswa yang merasa sulit +60,9%; Menilai: Siswa yang merasa sulit +55,1%; Menerapkan: Siswa yang merasa sulit +53,4%; Memahami: Siswa yang merasa sulit +52,6%.Mengakses informasi paling dirasa sulitPersentase siswa yang merasa sulit pada tiap dimensiliterasi kesehatan25%50%75%100%0Mengakses60,9%Menilai55,1%Menerapkan53,4%Memahami52,6%Angka dari Gambar 1 paper
Sumber: Shanti Prasad Khanal dan rekan, Assessing the health literacy needs of school adolescents in Birendranagar Municipality, Surkhet, Nepal, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di antara tiga ranah kesehatan, promosi kesehatan paling banyak dinilai sangat sulit atau sulit, yakni oleh 60,9 persen siswa. Layanan kesehatan menyusul dengan 53,1 persen, dan pencegahan penyakit 42,5 persen. Seluruh dimensi juga berkorelasi positif dengan ketiga ranah itu, dengan koefisien dari 0,57 sampai 0,87. Para penulis menempatkan promosi kesehatan sebagai prioritas pertama, disusul layanan kesehatan dan pencegahan penyakit.

“Yang patut dicatat, kesulitan dalam mengakses dan menilai informasi kesehatan lebih besar dibandingkan menerapkan dan memahami, yang menegaskan hambatan nyata yang dihadapi remaja ketika mencari informasi yang dapat dipercaya,” tulis Khanal dan rekan dalam bagian diskusi, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Kesulitan itu, menurut mereka, muncul secara konsisten di semua dimensi dan ranah.

Hasil ini berbeda dari studi lain di Nepal. Sebuah studi di Lalitpur yang dikutip para penulis justru mendapati memahami informasi sebagai tugas paling sulit, dengan angka 98,6 persen. Para penulis menduga perbedaan itu muncul karena studi mereka berfokus pada munisipalitas, sedangkan studi lain di kota metropolitan. Kota metropolitan, tulis mereka, lebih maju dan cenderung punya akses lebih baik ke sumber daya, layanan kesehatan, pendidikan, teknologi, dan media.

Mereka juga menunjuk satu faktor penting di balik rendahnya literasi kesehatan peserta, yaitu sempitnya ruang bagi pendidikan kesehatan di sekolah. Di bagian latar belakang, makalah mencatat pendidikan kesehatan hanya menjadi mata pelajaran pilihan di sekolah menengah Nepal. Para penulis menilai pendidikan berperan penting dalam menumbuhkan pemahaman dan daya pilah remaja terhadap informasi kesehatan.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Satu Kota, Satu Angkatan Kelas Sembilan, dan Batas yang Diakui Penulisnya

Para penulis menyebut studi ini survei dasar pertama tentang kebutuhan literasi kesehatan remaja dalam konteks Nepal. Mereka juga mengakui batasnya. Data diambil pada satu waktu di satu kota, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk tempat lain. Hanya siswa kelas sembilan yang ditanya, tanpa pandangan siswa dari kelas lain.

Jawaban diisi sendiri oleh siswa, sehingga bisa terpengaruh keinginan untuk tampak baik. Studi ini hanya memakai data angka, tanpa pengamatan kualitatif tentang pengalaman remaja. Hasilnya bersifat deskriptif, menggambarkan pola kebutuhan saat ini, dan tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan sebab-akibat maupun hubungan antarfaktor. Studi ini juga belum memuat data dari tahap intervensi maupun sesudahnya.

Dari temuan itu, para penulis mengusulkan program yang menumbuhkan kesadaran, memberi perhatian pada area dengan tingkat sedang, dan mendorong remaja mempertanyakan informasi kesehatan dari media sosial. Mereka juga menyarankan kurikulum yang menyasar celah pengetahuan tersebut. Hasil survei ini akan menjadi pijakan untuk menyusun program literasi kesehatan di sekolah.

“Hasilnya menunjukkan bahwa literasi kesehatan merupakan bidang yang cukup baru dan asing bagi remaja sekolah,” tulis para penulis dalam simpulan. Lembar-lembar itu dikumpulkan dari empat sekolah, dari 501 siswa dengan usia rata-rata 14,29 tahun. Di lembar kuesioner Birendranagar itu, 357 siswa memilih jawaban tidak.

Bagikan

Baca Juga

Taiwan Selatan Lebih Melek Kesehatan, Lebih Jarang Daftar Online
Menu Restoran Besar Inggris Paling Sering Gagal di Target Gula
Darah Tinggi Lebih Banyak pada Warga Meksiko Bersekolah Singkat
Remaja Swedia yang Terus Mengobrol Daring Lebih Kerap Sulit Tidur
Korban Gigitan Ular di Barat Laut Iran Umumnya ke RS dalam Sejam
Vaksin Flu Gratis, Hanya 29,7 Persen Lansia India yang Menerima