Vaksin Flu Gratis, Hanya 29,7 Persen Lansia India yang Menerima

A A

Ilustrasi petugas kesehatan berjas putih menyuntikkan jarum ke lengan seseorang [Foto: Pexels]

  • Hanya 984 dari 4.998 lansia di empat lokasi di India, atau 19,7 persen, pernah mendengar tentang influenza.
  • Sesudah vaksin flu gratis ditawarkan, 1.485 lansia atau 29,7 persen menerimanya, dari 48,3 persen di Ballabgarh sampai 2,7 persen di Pune.
  • Alasan terbanyak tidak divaksin adalah tidak percaya vaksin diperlukan, 74,9 persen, dan tidak adanya rekomendasi, 71,3 persen.
  • Sebanyak 65,3 persen lansia yang pernah mendengar influenza tidak bersedia membayar vaksin.
Daftar Isi
  1. Juli 2018, Jaringan Pemantau Lansia Dibentuk
  2. Mei hingga Agustus 2023, 4.998 Lansia Ditanya
  3. Musim Survei yang Sama, Vaksin Masih Diragukan
  4. Sesudah Survei, Kamp Vaksin Gratis Dibuka
  5. Sesudah Kamp Ditutup, Alasan Menerima dan Menolak
  6. Laporan 2026 dan Batas Temuannya

Pada Mei 2023, petugas terlatih mulai mewawancarai orang lanjut usia di empat lokasi di India. Wawancara berlangsung tatap muka dan selesai pada Agustus tahun yang sama. Jumlah yang ditanyai mencapai 4.998 orang berusia 60 tahun ke atas. Salah satu pertanyaannya sederhana: pernahkah mereka mendengar tentang influenza.

Hanya 984 orang, atau 19,7 persen, menjawab pernah. Sesudah wawancara, vaksin flu gratis ditawarkan kepada semua peserta, dan 1.485 orang atau 29,7 persen menerimanya.

Catatan itu dilaporkan Suman Kanungo dari ICMR National Institute for Research in Bacterial Infections (ICMR-NIRBI), Kolkata, dan rekan dari All India Institute of Medical Sciences (AIIMS) New Delhi, ICMR National Institute of Epidemiology Chennai, serta ICMR National Institute of Translational Virology and AIDS Research Pune. Laporan berjudul Knowledge and perception regarding influenza and its vaccine among the elderly population in India: a multicentric study on the drivers of vaccine uptake itu terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.

Juli 2018, Jaringan Pemantau Lansia Dibentuk

Survei ini berpijak pada kohort yang dibentuk pada Juli 2018. Namanya INSPIRE, jaringan pemantauan berbasis masyarakat untuk influenza dan virus pernapasan lain pada orang berusia 60 tahun ke atas. Jaringan itu mencatat kejadian penyakit, faktor risiko, pemakaian layanan kesehatan, dan beban ekonominya.

Kohort itu bekerja di empat lokasi. Ballabgarh di Haryana mewakili wilayah utara, Pune di Maharashtra mewakili barat, Chennai di Tamil Nadu mewakili selatan, dan Kolkata di Benggala Barat mewakili timur. Menurut tim, keempatnya berbeda secara geografis dan sosial ekonomi.

Latar kebijakannya dicatat tim di bagian pendahuluan. Vaksin influenza tidak masuk Program Imunisasi Universal India, dan tidak ada program vaksinasi influenza yang didanai pemerintah. Cakupan vaksin influenza pada lansia India yang dikutip tim hanya 1,6 persen.

Mei hingga Agustus 2023, 4.998 Lansia Ditanya

Survei dimulai pada Mei 2023. Chennai menyumbang 1.274 peserta, Ballabgarh 1.330 peserta, Kolkata 1.384 peserta, dan Pune 1.010 peserta. Semua jawaban dicatat secara elektronik lewat aplikasi Open Data Kit.

Lebih dari separuh peserta, 52,2 persen, berusia 60 sampai 64 tahun. Sebanyak 66,5 persen tidak bekerja dan 14 persen sudah pensiun. Hampir separuh peserta, 48,4 persen, melaporkan penyakit penyerta, terutama hipertensi 39,6 persen dan diabetes 21 persen.

Pendidikan peserta sangat beragam. Peserta tanpa pendidikan formal paling banyak di Ballabgarh, 70 persen, dan di Kolkata, 69,1 persen. Chennai mencatat angka terendah, 23,7 persen, sekaligus angka penyakit penyerta tertinggi.

Demam dan batuk paling dikenali sebagai gejala fluDemam 87,9%; Batuk 87,7%; Pilek 84,7%; Sakit tenggorokan 67,8%; Nyeri otot 63,9%; Sakit kepala 49,7%; Sesak napas 45,7%; Nyeri dada 17,4%.Demam dan batuk paling dikenali sebagaigejala fluPersen lansia yang menyebut tiap gejala, dari 984 orang yangpernah mendengar influenza0%20%40%60%80%100%Demam87,9%Batuk87,7%Pilek84,7%Sakit tenggorokan67,8%Nyeri otot63,9%Sakit kepala49,7%Sesak napas45,7%Nyeri dada17,4%Survei Mei-Agustus 2023 di Chennai, Ballabgarh, Kolkata, dan Pune
Sumber: Suman Kanungo dan rekan, Knowledge and perception regarding influenza and its vaccine among the elderly population in India: a multicentric study on the drivers of vaccine uptake, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kepada 984 orang yang pernah mendengar influenza, petugas menanyakan gejala dan faktor yang membuat penyakit ini lebih berat. Gejala yang paling dikenali adalah demam, disebut 87,9 persen. Batuk menyusul tipis dengan 87,7 persen, lalu pilek dengan 84,7 persen.

Sakit tenggorokan disebut 67,8 persen dan nyeri otot 63,9 persen. Gejala lain lebih jarang dikenali: sakit kepala 49,7 persen, sesak napas 45,7 persen, dan nyeri dada 17,4 persen. Ruam kulit dan penyakit kuning jarang disebut, masing-masing 5,1 persen dan 2,8 persen. Bersama vertigo, keduanya termasuk butir yang dalam kuesioner tergolong bukan gejala influenza.

Untuk faktor yang memperberat influenza, usia tua paling banyak disebut, 79,5 persen. Penyakit bawaan menyusul dengan 74,2 persen, kepadatan hunian 69,1 persen, dan merokok 64,9 persen. Polusi disebut 60,2 persen dan tembakau tanpa asap 59,3 persen. Tiga butir berada di urutan bawah. Tidak pernah divaksin sebagai faktor yang memperberat penyakit disebut 29,6 persen. Kehamilan disebut 26,1 persen, sedangkan jenis kelamin hanya 11,2 persen.

Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China

Musim Survei yang Sama, Vaksin Masih Diragukan

Sebagian besar dari 984 orang itu menganggap influenza penyakit serius, yakni 75,6 persen. Sebanyak 52,3 persen mengakui penyakit ini bisa mematikan dan 71,1 persen menilai penderitanya perlu perawatan medis. Cuci tangan dianggap bisa mencegah penularan oleh 79,2 persen.

Sikap terhadap vaksin, tulis tim, cenderung hati-hati. Hanya 35,9 persen setuju bahwa vaksin aman, dan 39 persen mendukung vaksinasi bagi orang berusia di atas 60 tahun. Separuh peserta, 49,8 persen, percaya kekebalan alami lebih baik daripada kekebalan dari vaksin. Penolakan terang-terangan sebenarnya kecil. Ketidaksetujuan terhadap manfaat vaksin hanya 8 sampai 13 persen. Namun sekitar separuh responden belum menentukan sikap pada butir-butir utama soal vaksin.

Riwayat vaksinasi mereka juga tipis. Hanya 72 dari 4.998 orang, atau 1,4 persen, pernah divaksin influenza sebelumnya, sebagian besar di fasilitas pemerintah. Dari 984 orang yang pernah mendengar influenza, 58 orang atau 5,9 persen pernah dinyatakan positif. Sebanyak 38 dari 58 orang itu, atau 65,5 persen, hanya mendapat perawatan suportif. Delapan belas orang menjalani rawat jalan, sedangkan dua orang dirawat inap di rumah sakit.

Soal biaya, 65,3 persen dari 984 orang tidak bersedia membayar vaksin. Sebanyak 32 persen bersedia membayar sampai 500 rupee, angka yang menurut tim jauh di bawah harga pasar vaksin. Hanya 1,9 persen bersedia membayar lebih dari 500 sampai 1.500 rupee, dan 0,7 persen di atas 1.500 rupee.

Sesudah Survei, Kamp Vaksin Gratis Dibuka

Begitu survei selesai, vaksin influenza gratis ditawarkan kepada semua peserta. Vaksinnya FluQuadri, vaksin kuadrivalen dari Sanofi India, dan disuntikkan perawat terlatih di bawah pengawasan petugas medis. Kamp dibuka di satu tempat tetap di setiap lokasi.

Tim menegaskan kampanye ini bagian dari proyek riset INSPIRE dan dibiayai dana proyek. Kampanye itu bukan bagian dari program vaksinasi pemerintah negara bagian maupun program imunisasi nasional.

Hasilnya, 1.485 dari 4.998 lansia menerima vaksin, atau 29,7 persen. Angka itu naik dari 1,4 persen yang pernah divaksin sebelumnya. Namun jaraknya antarlokasi lebar, dari 48,3 persen di Ballabgarh sampai 2,7 persen di Pune.

Tim mencatat Ballabgarh punya jaringan layanan primer yang mapan dan program kesehatan komunitas yang sudah lama berjalan, termasuk AIIMS Ballabgarh. Pune mengalami keterlambatan logistik, kamp yang lebih singkat, dan kemitraan lokal yang terbatas. Menurut tim, hal itu kemungkinan ikut membuat angka di Pune rendah.

Kolkata dan Chennai berada di antara keduanya. Mobilisasi di sana cukup efektif, dan kepadatan kota mungkin memudahkan akses, tetapi juga memunculkan prioritas kesehatan lain. Tim menyebut persoalan operasional seperti ini penting untuk menaikkan penerimaan vaksin.

Selama tindak lanjut pascavaksinasi, tidak ada kejadian ikutan serius yang dilaporkan. Menurut Kanungo dan rekan, catatan itu “dapat langsung menjawab kekhawatiran soal keamanan dan mendukung pesan berbasis bukti untuk mengurangi rasa takut serta misinformasi tentang risiko vaksin” (terjemahan).

Baca juga Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen

Sesudah Kamp Ditutup, Alasan Menerima dan Menolak

Di antara 1.485 orang yang divaksin, alasan utama adalah melindungi diri sendiri, 71,4 persen. Melindungi keluarga atau teman disebut 28,5 persen, dan pernah terkena influenza 21,4 persen. Separuh dari mereka menyebut rekomendasi dokter, sedangkan 7,2 persen menyebut penyakit bawaan.

Alasan lansia India tidak mengambil vaksin flu gratisTidak percaya vaksin diperlukan: Alasan ragu-ragu (n=3.513) 74,9%; Tidak ada rekomendasi: Alasan ragu-ragu (n=3.513) 71,3%; Kurang informasi keamanan atau keampuhan: Alasan ragu-ragu (n=3.513) 55,9%; Kurang kesadaran: Alasan ragu-ragu (n=3.513) 45,7%; Khawatir efek samping: Alasan ragu-ragu (n=3.513) 40,7%; Akses tidak praktis: Alasan ragu-ragu (n=3.513) 24,2%; Tidak percaya vaksin secara umum: Alasan ragu-ragu (n=3.513) 20,7%.Alasan lansia India tidak mengambil vaksinflu gratisPersen menurut alasan yang dilaporkan sendiri oleh pesertayang tidak divaksin20%40%60%80%0Tidak percaya vaksin diperlukan74,9%Tidak ada rekomendasi71,3%Kurang informasi keamanan atau keampuhan55,9%Kurang kesadaran45,7%Khawatir efek samping40,7%Akses tidak praktis24,2%Tidak percaya vaksin secara umum20,7%Gambar 2 makalah: alasan ragu-ragu dari peserta yang tidak divaksin
Sumber: Suman Kanungo dan rekan, Knowledge and perception regarding influenza and its vaccine among the elderly population in India: a multicentric study on the drivers of vaccine uptake, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada 3.513 orang yang tidak divaksin, alasan terbanyak adalah tidak percaya vaksin diperlukan, 74,9 persen. Tidak adanya rekomendasi disebut 71,3 persen. Kurangnya informasi soal keamanan atau keampuhan vaksin disebut 55,9 persen.

Kurangnya kesadaran disebut 45,7 persen dan kekhawatiran akan efek samping 40,7 persen. Akses yang tidak praktis disebut 24,2 persen, sedangkan ketidakpercayaan umum pada vaksin 20,7 persen.

Tim lalu menguji sejumlah faktor bersamaan dalam model regresi bertingkat. Peserta berusia 60 sampai 64 tahun berpeluang lebih besar menerima vaksin daripada yang berusia 70 tahun ke atas, dengan rasio odds terkoreksi 1,76. Wiraswasta juga berpeluang lebih besar daripada peserta berstatus pekerja (employed), dengan rasio odds terkoreksi 2,07.

Jenis kelamin, pendidikan, riwayat infeksi, tingkat pengetahuan, dan sikap tidak berhubungan bermakna dengan penerimaan vaksin setelah dikoreksi. Pengetahuan tingkat rata-rata, usia lebih muda, dan sikap positif sempat tampak berhubungan pada analisis tanpa koreksi, tetapi hanya usia dan status pekerjaan yang bertahan setelah dikoreksi. Alasan di balik hubungan usia dan pekerjaan, tulis tim, perlu diteliti lebih lanjut. Perbedaan antarlokasi tercatat besar. Koefisien korelasi intrakelas untuk lokasi studi bernilai 0,41, yang menurut tim menunjukkan variasi penerimaan vaksin antarlokasi yang substansial.

Laporan 2026 dan Batas Temuannya

Tim Kanungo mencatat sendiri batas penelitiannya. Survei potong lintang tidak bisa memastikan hubungan sebab-akibat antara pengetahuan, sikap, dan penerimaan vaksin. Data laporan diri juga bisa terganggu bias ingatan, terutama soal riwayat sakit dan vaksinasi.

Temuannya mungkin tidak berlaku untuk seluruh India, terutama penduduk desa atau kelompok terabaikan di luar kohort INSPIRE. Rekomendasi tenaga kesehatan hanya berdasar pengakuan peserta, tanpa dicek ke rekam medis. Pendapatan rumah tangga juga tidak dikumpulkan, sehingga pengaruhnya pada kesediaan membayar tidak bisa dinilai.

Baca juga Calon Dokter India Rajin Cek Kedaluwarsa, Jarang Baca Label Gizi

Dari temuan itu, tim menyarankan kampanye kesadaran publik, edukasi tenaga kesehatan, dan rekomendasi dokter. Mereka juga meminta layanan kesehatan primer diperkuat dan vaksin tersedia setiap tahun, terutama bagi kelompok berisiko tinggi.

Kesimpulan laporan itu ditulis singkat. “Penerimaan vaksin influenza masih belum optimal di kalangan lansia di India, dengan perbedaan besar antarlokasi yang kemungkinan mencerminkan variasi strategi pelaksanaan vaksin, infrastruktur layanan kesehatan, dan keterlibatan tenaga kesehatan,” tulis Kanungo dan rekan (terjemahan).

Survei dimulai Mei 2023 dengan 4.998 lansia. Sesudah kamp gratis dibuka, 1.485 orang di antaranya menerima suntikan vaksin flu.

Bagikan

Baca Juga

Biaya Gigi Berlubang Warga Termiskin Lebih Mahal di 40 Negara
Suhu Lebih Kuat Terkait Alergi Anak di Chongqing daripada Polusi
Petani Semarang Bersih Diri Lebih Jarang Keluhkan Iritasi Kulit
Separuh Remaja Hong Kong Tak Sarapan Tiap Hari, Sayur Pun Kurang
Kurang Tidur dan Hobi Baru, Dua Sisi Ponsel Anak Desa Bangladesh
Korban Gigitan di Kapilvastu Kebanyakan Telat Mulai Vaksin Rabies