- Dari 33.042 anak muda Korea usia 19 sampai 34 tahun, hanya 361 orang atau 1,1 persen tergolong perawat muda dewasa.
- Setelah penyetaraan, rata-rata skor PHQ-9 perawat muda dewasa 2,76, sedangkan anak muda pada umumnya 2,06.
- Selisih terbesar ada pada usia 25 sampai 34 tahun, dengan skor 3,00 berbanding 2,17.
- Hanya perawat muda yang menanggung biaya orang tua di fasilitas perawatan yang selisih skornya bermakna, yaitu 0,69 poin.
Daftar Isi
Merawat sendiri ayah atau ibu yang hidup dengan demensia di rumah dan menanggung biaya perawatan orang tua yang tinggal di fasilitas perawatan tampak seperti dua beban yang berbeda jauh. Yang satu berupa perawatan langsung, yang lain berupa dukungan biaya. Analisis atas survei kesehatan nasional Korea Selatan tahun 2019 justru menemukan hanya kelompok kedua yang skor gejala depresinya berbeda bermakna dari anak muda sebayanya.
Temuan itu ditulis Gyeonga Kang dari College of Nursing, Chungnam National University, Daejeon, bersama Jinseon Yi dari Research Institute of AI and Nursing Science, College of Nursing, Gachon University, Incheon. Laporan mereka berjudul Depressive symptoms among young adult caregivers of parents with dementia in South Korea: the 2019 community health survey dan terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Keduanya membandingkan dua kelompok anak muda berusia 19 sampai 34 tahun. Kelompok pertama adalah perawat muda dewasa, yaitu mereka yang orang tua atau mertuanya didiagnosis demensia oleh dokter dan yang menjadi perawat utama atau penanggung biaya utamanya. Kelompok kedua adalah anak muda pada umumnya, yang tidak punya anggota keluarga berdiagnosis demensia.
Datanya berasal dari Survei Kesehatan Komunitas Korea 2019 yang dijalankan Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea. Dari survei itu, 33.042 anak muda masuk analisis, setara sekitar 9,98 juta anak muda di seluruh negeri. Gejala depresi diukur dengan kuesioner PHQ-9 berisi sembilan pertanyaan, dengan skor total 0 sampai 27.
Perawat Muda dan Anak Muda Sebaya
Jumlah perawat muda dewasa ternyata kecil. Dari 33.042 responden, hanya 361 orang atau 1,1 persen yang masuk kelompok ini, sedangkan 32.681 orang atau 98,9 persen tergolong anak muda pada umumnya. Para peneliti mencatat angka itu lebih rendah daripada riset sebelumnya tentang anak muda Korea yang merawat keluarga secara umum, karena studi ini hanya menghitung perawat orang tua dengan demensia.
Sebagai pembanding, paper itu menyebut sebuah survei tahun 2022 yang mendapati 16,2 persen anak muda berusia 19 sampai 34 tahun terlibat merawat anggota keluarga. Pada tahun itu pula Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea menggelar survei nasional tentang perawat muda, dan pada 2024 sebuah rancangan undang-undang untuk mendukung mereka disahkan. Meski begitu, menurut para penulis, riset tentang kesehatan jiwa perawat muda di Korea Selatan masih di tahap awal.
Profil kedua kelompok berbeda dalam beberapa hal. Separuh lebih perawat muda dewasa, tepatnya 51,0 persen, berusia 19 sampai 24 tahun, sedangkan pada anak muda pada umumnya angkanya 37,3 persen. Yang sudah menikah hanya 3,0 persen di kelompok perawat, dibandingkan 24,1 persen di kelompok pembanding.
Rumah mereka juga lain rupanya. Sebanyak 28,0 persen perawat muda dewasa tinggal di rumah tangga tiga generasi, sedangkan pada anak muda pada umumnya hanya 6,5 persen. Sebaliknya, yang tinggal sendirian hanya 1,7 persen di kelompok perawat, sedangkan di kelompok pembanding 11,1 persen. Rumah tangga dua generasi tercatat 68,3 persen pada perawat dan 68,8 persen pada pembanding.
Baca juga Merawat Lansia di Rumah Menguras Dompet Keluarga di Finlandia
Skor Depresi di Usia 19 sampai 24 Tahun
Setelah kedua kelompok disetarakan dari sisi jenis kelamin, usia, pendidikan, status perkawinan, jenis rumah tangga, penghasilan, dan status kerja, rata-rata skor PHQ-9 perawat muda dewasa tercatat 2,76. Anak muda pada umumnya mencatat 2,06. Selisihnya 0,70 poin dan bermakna secara statistik. Sebelum penyetaraan, selisihnya 0,56 poin, antara 2,76 dan 2,20.
Pada kelompok termuda, usia 19 sampai 24 tahun, rata-rata skor perawat muda dewasa 2,54 dan anak muda pada umumnya 1,95. Selisihnya 0,59 poin dan tetap bermakna setelah pembobotan. Tanpa pembobotan, selisih di kelompok usia ini 0,48 poin dan belum melewati batas kemaknaan statistik yang dipakai para peneliti.
Para penulis menggambarkan usia awal dewasa muda sebagai masa mencari jati diri, pekerjaan yang belum mapan, dan ketergantungan ekonomi yang masih berlanjut. Dalam pengantarnya, paper menyebut tugas merawat pada masa remaja dan dewasa muda dapat mengganggu pendidikan, pekerjaan, dan pernikahan.
Baca juga Gejala Depresi Anak Muda Hong Kong Turun Setelah Berkebun
Skor Depresi di Usia 25 sampai 34 Tahun
Pada kelompok usia 25 sampai 34 tahun, jaraknya lebih lebar. Perawat muda dewasa mencatat rata-rata skor 3,00, anak muda pada umumnya 2,17. Selisihnya 0,82 poin setelah pembobotan dan masih bermakna. Dalam simpulan paper, kelompok usia inilah yang disebut memperlihatkan perbedaan terbesar antara kedua sisi.
Menurut Kang dan Yi, masa akhir dewasa muda biasanya ditandai pekerjaan yang makin stabil, tanggung jawab peran sosial yang lebih besar, dan jalan hidup yang lebih tertata. Dalam konteks itu, tertundanya tonggak-tonggak penting kehidupan dan beban finansial tambahan dari merawat orang tua dapat memperberat tekanan jiwa. Karena itu, mereka menilai program yang disesuaikan usia penting.
Kedua kelompok usia sama-sama menunjukkan pola yang searah. Para penulis menyimpulkan status sebagai perawat muda dewasa berhubungan dengan gejala depresi di seluruh rentang usia dewasa muda, bukan hanya pada satu kelompok usia tertentu. Hubungan ini tidak disebut sebagai sebab-akibat, karena data survei hanya memotret satu titik waktu.
Angka-angka itu juga perlu dibaca dalam ukurannya. Rata-rata skor perawat muda dewasa, 2,76, tergolong rendah dan berada di bawah ambang yang lazim dipakai untuk gejala depresi bermakna klinis. Menurut riset lain yang dirujuk paper, angka itu sebanding dengan rata-rata anak muda Korea berusia 19 sampai 34 tahun, yaitu 2,71. Selisih antarkelompok yang kurang dari satu poin, menurut para penulis, mungkin tergolong kecil secara klinis meski bermakna secara statistik.
Salah satu kemungkinan penjelasannya, menurut Kang dan Yi, adalah budaya Korea yang kerap memaknai merawat orang tua sebagai bakti dan sumber makna. Sebagian perawat muda mungkin menilai beban merawat secara berbeda. Cara pandang budaya itu dapat meredam tekanan emosional dan membuat pelaporan gejala depresi lebih hati-hati.
Penghasilan Lebih Tinggi, Pergaulan Lebih Sempit
Kembali ke profil kedua kelompok, ada satu perbedaan yang disebut menarik oleh para penulis. Rumah tangga perawat muda dewasa justru cenderung berpenghasilan lebih tinggi. Sebanyak 51,8 persen di antara mereka tinggal di rumah tangga berpenghasilan 5 juta won atau lebih per bulan, sedangkan pada anak muda pada umumnya 45,3 persen. Di kelompok penghasilan terendah, di bawah 1 juta won, angkanya 0,5 dan 3,4 persen.
Kang dan Yi memberi tafsir atas angka itu. “Temuan ini menunjukkan bahwa perawat muda dewasa tidak selalu muncul dari latar belakang yang tertinggal secara sosial ekonomi, melainkan dari konteks struktural dan keluarga,” tulis mereka dalam bagian diskusi, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Menurut keduanya, keadaan itu bisa menjadi kerentanan tersembunyi di dalam keluarga yang tampak berkecukupan.
Di sisi lain, pergaulan perawat muda dewasa lebih terbatas. Sebanyak 61,8 persen di antara mereka kontaknya dengan keluarga atau kerabat terbatas, yakni kurang dari sekali seminggu, sedangkan pada anak muda pada umumnya 53,4 persen. Kontak dengan tetangga dekat juga terbatas pada 87,1 persen perawat, dibandingkan 81,8 persen pembanding. Hanya kontak dengan teman dekat yang hampir sama, 27,6 dan 27,9 persen.
Pada sejumlah ukuran lain, kedua kelompok berjalan beriringan tanpa perbedaan bermakna. Yang mengaku stres tinggi ada 30,3 persen di kelompok perawat dan 29,1 persen di kelompok pembanding. Yang sedang bekerja 59,8 dan 61,8 persen. Begitu pula sebaran jenis kelamin, pendidikan, kebiasaan merokok, dan minum berisiko yang tidak berbeda bermakna antarkelompok.
Merawat Langsung di Rumah
Para peneliti lalu memecah perawat muda dewasa menjadi dua subtipe. Subtipe pertama merawat langsung orang tua dengan demensia yang tinggal di tengah masyarakat. Subtipe kedua menanggung biaya utama orang tua dengan demensia yang tinggal di fasilitas perawatan. Masing-masing dibandingkan dengan anak muda pada umumnya.
Pada perawat langsung, rata-rata skor PHQ-9 tercatat 2,72. Selisihnya dengan anak muda pada umumnya 0,74 poin setelah pembobotan, tetapi tidak bermakna secara statistik. Tanpa pembobotan pun hasilnya sama, selisih 0,51 poin dan tidak bermakna. Dengan kata lain, untuk subtipe ini analisis tidak menemukan perbedaan yang bermakna secara statistik.
Kang dan Yi menawarkan satu kemungkinan. Merawat langsung memang bisa memberi beban fisik dan psikologis yang besar, tetapi juga mungkin disertai makna hubungan dan imbalan emosional yang datang dari merawat orang tua sendiri. Dalam simpulan, keduanya menyebut hubungan antara status perawat muda dan gejala depresi hanya bermakna pada mereka yang terutama menanggung biaya.
Membiayai Perawatan di Fasilitas
Pada subtipe kedua, gambarnya berbeda. Perawat muda dewasa yang menanggung biaya orang tua di fasilitas perawatan mencatat rata-rata skor 2,78. Selisihnya dengan anak muda pada umumnya 0,69 poin setelah pembobotan dan bermakna secara statistik. Tanpa pembobotan pun, selisih 0,58 poin juga bermakna.
Seluruh 361 perawat muda dewasa, dari kedua subtipe, juga ditanya langsung soal beban merawat anggota keluarga dengan demensia. Dari jawaban mereka, 41,8 persen menyebut beban psikologis dan 31,8 persen beban ekonomi. Beban waktu disebut 8,0 persen dan beban fisik 3,9 persen. Sebanyak 14,6 persen mengaku tidak merasa terbebani sama sekali.
Para penulis membaca temuan subtipe ini sebagai tanda bahwa tanggung jawab finansial menonjol sebagai titik rawan. Dewasa muda adalah masa penting untuk membangun kemandirian sosial dan ekonomi. Karena itu, menurut mereka, dukungan bagi perawat muda dewasa semestinya tidak berhenti pada yang merawat langsung, tetapi juga menjangkau mereka yang memikul biaya.
Baca juga Jadwal Kerja Tak Menentu, Buruh Korea Lebih Sering Sulit Tidur
“Temuan ini menegaskan perlunya identifikasi dini dan dukungan yang diperluas bagi perawat muda dewasa, termasuk mereka yang memberikan dukungan finansial, disertai intervensi kesehatan mental yang terpadu,” tulis Kang dan Yi dalam simpulan, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Mereka mengusulkan penapisan terarah serta layanan yang menautkan kesehatan jiwa dengan bantuan keuangan dan kesejahteraan sosial.
Studi ini punya batas yang diakui penulisnya. Data sekunder tidak memuat rincian cakupan, intensitas, kesukarelaan, dan jenis sumbangan perawatan, sehingga pembagian dua subtipe mungkin belum menangkap seluruh keragaman pengalaman. Kelompok pembanding juga mungkin berisi orang yang merawat keluarga dengan penyakit lain, yang bisa membuat selisih antarkelompok tampak lebih kecil.
Gejala depresi pun dilaporkan sendiri oleh responden, sehingga bisa terkena bias pelaporan. Karena survei hanya memotret satu titik waktu, hubungan sebab-akibat tidak bisa disimpulkan. Para peneliti menyarankan studi jangka panjang dan studi kualitatif untuk menelusuri dampak tiap jenis perawatan terhadap kesehatan jiwa perawat muda dalam jangka panjang.
Dalam simpulannya, Kang dan Yi menyatakan perawat muda dewasa secara keseluruhan menunjukkan gejala depresi lebih tinggi daripada anak muda pada umumnya, dengan pola yang konsisten di kedua kelompok usia dan selisih terbesar pada usia 25 sampai 34 tahun. Menurut keduanya, temuan pada subtipe pembiaya menyoroti beban psikologis tanggung jawab finansial bagi orang tua dengan demensia pada masa penting membangun kemandirian.















