- Hampir separuh remaja Korea dalam telaah ini, yakni 47,5 persen, masuk ke pola makan serba nasi.
- Nasi putih saja menyumbang 44,4 persen energi harian remaja pada pola makan serba nasi.
- Remaja laki-laki berpola serba nasi berpeluang 1,42 kali lebih besar mengalami obesitas.
- Remaja perempuan berpola serba nasi berpeluang 1,58 kali lebih besar memiliki kolesterol HDL rendah.
- Pola makanan praktis tidak menunjukkan kaitan bermakna dengan satu pun penanda pada kedua jenis kelamin.
Daftar Isi
Dilihat dari isinya, piring yang penuh mi instan, hamburger, dan piza tampak paling tidak sehat, dan di sanalah orang semestinya menemukan tanda bahaya paling dini bagi tubuh remaja. Sebuah telaah atas pola makan remaja Korea Selatan justru menemukan tanda itu di tempat lain: kaitan dengan obesitas dan dengan kolesterol baik yang rendah muncul pada kelompok yang piringnya didominasi nasi putih, bukan pada kelompok penggemar makanan praktis tersebut.
Telaah itu ditulis Eunyoung Tak, Seon-Jip Kim, Eugene Kang, Gaeun Moon, Su Hyun Hwang, Bomi Kim, dan Minji Kang dalam artikel Dietary patterns and cardiometabolic health among Korean adolescents: Korea national health and nutrition examination survey, 2007–2022, yang terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Para penulisnya berasal dari Duksung Women’s University di Seoul dan Dankook University di Cheonan, dua perguruan tinggi di Republik Korea.
Bahannya adalah catatan makan sehari dari 6.952 remaja berusia 12 sampai 18 tahun, terdiri atas 3.693 laki-laki dan 3.259 perempuan, yang terhimpun dalam survei kesehatan dan gizi nasional Korea sepanjang 2007 hingga 2022. Dari catatan itulah para penulis memilah remaja ke dalam kelompok-kelompok menurut makanan yang paling banyak menyumbang energi harian mereka, lalu menyandingkannya dengan gula darah, tekanan darah, lemak darah, lingkar pinggang, dan berat badan.
Tiga Piring yang Membelah Remaja Korea
Pemilahan itu menghasilkan tiga pola, dan masing-masing diberi nama menurut makanan yang paling menonjol di dalamnya. Kira-kira sepertiga remaja, tepatnya 31,2 persen, masuk ke pola roti, daging, dan susu, yang ditandai asupan lebih tinggi dari olahan terigu dan roti, daging merah, unggas, serta susu. Hampir separuh remaja Korea dalam telaah ini, yakni 47,5 persen, masuk ke pola makan serba nasi. Sisanya, 21,3 persen, masuk ke pola makanan praktis.
Pola yang terakhir itu ditandai seringnya remaja menyantap makanan praktis berbahan tepung, yaitu mi, mi instan, udon, hot dog, hamburger, roti lapis, piza, dan pangsit. Pada kelompok ini, makanan semacam itu menyumbang 32,4 persen energi harian, padahal pada pola roti, daging, dan susu sumbangannya hanya 3,9 persen dan pada pola serba nasi 3,4 persen.
Jarak yang sama lebarnya terlihat pada nasi. Nasi putih saja menyumbang 44,4 persen energi harian remaja pada pola makan serba nasi. Pada dua pola lain, sumbangan nasi putih hanya 18,1 persen dan 18,8 persen. Sebaliknya, pola roti, daging, dan susu memperoleh 15,2 persen energinya dari terigu dan roti, 9,4 persen dari daging merah, dan 9,4 persen dari susu serta olahannya, tiga angka yang semuanya lebih tinggi daripada angka pada kedua pola lain.
Para penulis mencatat bahwa remaja berpola serba nasi memperoleh bagian besar energinya dari karbohidrat, dengan kadar yang mendekati atau melampaui batas atas anjuran 65 persen dari energi total menurut acuan asupan gizi bagi orang Korea. Ketika pemilahan diulang secara terpisah untuk laki-laki dan perempuan, tiga pola yang sama muncul kembali, dengan nasi putih menyumbang 46,2 persen energi pada laki-laki dan 43,2 persen pada perempuan di pola serba nasi.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Kebiasaan yang Ikut Datang Bersama Makanan
Ciri sosial dan kebiasaan sehari-hari remaja juga berbeda menurut pola makannya. Di antara remaja laki-laki, kelompok makanan praktis sedikit lebih tua, dengan usia rata-rata 15,3 tahun, dan paling banyak yang pernah minum alkohol, yakni 42,0 persen. Mereka pula yang paling sering melewatkan makan: 40,8 persen melewatkan sarapan, 6,4 persen melewatkan makan malam, dan 45,9 persen makan di luar rumah setiap hari.
Gambaran pada remaja perempuan serupa, meskipun tidak sama persis. Pada kelompok makanan praktis, 35,6 persen pernah minum alkohol dan 43,1 persen melewatkan sarapan, sedangkan melewatkan makan malam justru lebih sering ditemukan pada pola roti, daging, dan susu, yaitu 11,9 persen. Suplemen makanan paling banyak dipakai kelompok roti, daging, dan susu, baik pada laki-laki, 30,3 persen, maupun pada perempuan, 28,8 persen.
Pendapatan keluarga pun berbeda antarpola. Pada remaja perempuan, bagian yang berasal dari rumah tangga berpendapatan rendah paling besar di pola serba nasi, yaitu 15,1 persen, sedangkan rumah tangga berpendapatan tinggi paling banyak terkumpul di pola roti, daging, dan susu, yaitu 31,5 persen pada perempuan dan 33,1 persen pada laki-laki. Asupan energi pun berbeda: laki-laki di pola roti, daging, dan susu rata-rata 2.521,4 kilokalori sehari, sedangkan di pola serba nasi 2.203,9 kilokalori.
Kaitan yang Muncul Justru pada Nasi
Ketika tiga pola itu disandingkan dengan penanda kesehatan jantung dan metabolisme, perbedaan hanya tampak antara pola serba nasi dan pola roti, daging, dan susu. Remaja laki-laki berpola serba nasi berpeluang 1,42 kali lebih besar mengalami obesitas. Angka itu dihitung dengan pola roti, daging, dan susu sebagai pembanding, setelah usia, asupan energi, tempat tinggal, pendapatan rumah tangga, rokok, alkohol, dan aktivitas fisik ikut diperhitungkan, dengan rentang kepercayaan 1,05 sampai 1,92.
Pada remaja perempuan, kaitan itu berpindah dari berat badan ke lemak darah. Remaja perempuan berpola serba nasi berpeluang 1,58 kali lebih besar memiliki kolesterol HDL rendah. Rentang kepercayaannya 1,23 sampai 2,01, dan pembandingnya tetap pola roti, daging, dan susu. HDL adalah kolesterol lipoprotein berdensitas tinggi, dan kadar rendahnya termasuk salah satu penanda kelainan lemak darah yang diperiksa para penulis.
Justru sebaliknya yang terjadi pada kelompok yang isi piringnya tampak paling tidak sehat. Pola makanan praktis tidak menunjukkan kaitan bermakna dengan satu pun penanda pada kedua jenis kelamin. Para penulis tidak membaca kekosongan itu sebagai tanda aman. “Karena itu, tidak adanya kaitan yang bermakna pada pola makanan praktis seharusnya ditafsirkan sebagai belum konklusif, bukan sebagai bukti tidak adanya hubungan, dan perlu dikonfirmasi dalam studi longitudinal yang lebih besar,” tulis Eunyoung Tak dan enam rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Mengapa Makanan Praktis Belum Terbaca
Para penulis menyodorkan tiga penjelasan atas kekosongan tersebut. Pertama, kelompok makanan praktis adalah yang terkecil di antara ketiganya, 1.483 remaja, sehingga ketika dipecah lagi menurut jenis kelamin, kemampuan hitungan untuk menangkap kaitan yang sedang-sedang saja menjadi terbatas. Kedua, akibat pola makan semacam itu bagi jantung dan metabolisme lazimnya menumpuk selama bertahun-tahun, padahal pada usia remaja kelainan metabolik yang nyata masih jarang.
Penjelasan ketiga menyangkut catatan makannya sendiri. Catatan itu hanya merekam apa yang dimakan pada satu hari, sehingga remaja yang menyantap makanan praktis secara berselang bisa saja masuk ke kelompok yang keliru, dan kekeliruan semacam itu cenderung mengaburkan kaitan yang sebenarnya ada. Para penulis juga mencatat bahwa pada kelompok ini alkohol, rokok, dan jam makan yang tidak teratur hadir bersamaan, sebuah penggerombolan perilaku berisiko yang lebih luas daripada soal makanan.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Jalan dari Nasi Putih ke Kolesterol Baik
Untuk kaitan pada pola serba nasi, para penulis menawarkan penjelasan biologis yang mereka sebut masuk akal, tetapi masih harus dipastikan pada remaja. Makanan yang sebagian besar energinya berasal dari karbohidrat olahan yang cepat dicerna, seperti nasi putih, menghasilkan beban glikemik yang tinggi serta lonjakan gula darah dan insulin sesudah makan. Insulin yang terus-menerus tinggi mendorong hati membentuk lemak baru, dan rangkaian itu pada akhirnya menurunkan kolesterol HDL yang beredar dalam darah.
Temuan ini tidak berdiri sendirian, tetapi juga tidak sepenuhnya searah dengan kajian lain yang mereka kutip. Sebuah studi pada remaja Meksiko melaporkan bahwa pola makan berbeban glikemik tinggi terkait dengan kenaikan sekitar 2,4 kali risiko HDL rendah, dan studi pada remaja Inggris mengaitkan beban glikemik sarapan yang lebih tinggi dengan HDL yang lebih rendah pada perempuan. Namun, kajian terdahulu yang lain justru mengaitkan pola makan berpusat nasi dengan lemak tubuh atau indeks massa tubuh yang lebih rendah.
Para penulis menduga ketidakselarasan itu berasal dari jenis nasi yang dihitung, terutama beda antara nasi putih dan beras utuh, serta dari lauk yang menyertainya. Dari sana lahir saran mereka: makanan yang berpusat pada nasi berpotensi lebih baik bila dilengkapi sumber lemak tak jenuh dan serat, termasuk kacang-kacangan, ikan, dan minyak nabati. Mereka juga menyebut perlunya upaya di sekolah dan masyarakat yang dibedakan menurut jenis kelamin.
Tubuh yang Dirasa Gemuk dan Batas Sebuah Potret
Beda antara laki-laki dan perempuan tidak berhenti pada penanda darah. Melewatkan sarapan dilaporkan 34,4 persen remaja perempuan dan 31,3 persen remaja laki-laki, sedangkan melewatkan makan malam dilaporkan 8,8 persen perempuan dan 5,0 persen laki-laki. Sebanyak 35,0 persen perempuan merasa dirinya kelebihan berat badan, dibandingkan dengan 29,8 persen laki-laki, dan asupan energi perempuan, 1.710,0 sampai 1.953,5 kilokalori, disebut para penulis berada di bawah anjuran pada semua pola.
Menurut para penulis, asupan energi yang lebih rendah dan makan yang lebih sering dilewatkan pada perempuan itu mungkin mencerminkan kecemasan yang lebih besar tentang penampilan dan ketidakpuasan terhadap citra tubuh. Di dalam pola makanan praktis, 38,5 persen remaja perempuan merasa dirinya gemuk, dan di dalam pola serba nasi 18,7 persen merasa dirinya kurus. Karena itu, mereka menyebut perlunya cara untuk meluruskan citra tubuh yang keliru sebagai jalan mengurangi kebiasaan makan yang tidak sehat.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Semua itu tetap sebuah potret pada satu waktu, dan para penulis sendiri yang menggariskan batasnya. Data semacam ini tidak dapat menetapkan sebab dan akibat antara pola makan dan penanda kesehatan, dan catatan makan satu hari rentan terhadap kekeliruan ingatan serta belum tentu mewakili kebiasaan makan sehari-hari. Tiga pola itu pun bergantung pada sampel dan cara pengelompokan pangan yang dipakai, sehingga belum tentu muncul kembali pada kelompok remaja lain dan sulit langsung diterjemahkan menjadi anjuran makan.
Dengan batas-batas itu, para penulis menyebut telaah mereka sebagai upaya awal untuk memetakan secara sistematis pola makan utama remaja Korea dan kaitannya dengan penanda kesehatan jantung dan metabolisme memakai data berskala besar yang mewakili penduduk. Pola dan kaitan yang teramati, tulis mereka, perlu dikuatkan dengan indeks pola makan yang ditetapkan lebih dahulu dan pada populasi lain, sedangkan kekosongan pada pola makanan praktis perlu dikonfirmasi dalam studi longitudinal yang lebih besar.














