Badan Terlalu Kurus atau Terlalu Gemuk Terkait Kerapuhan di Osaka

A A

Ilustrasi sepasang kaki berdiri di atas timbangan badan digital di lantai kayu [Foto: Andres Ayrton/Pexels]

  • Dengan KCL, 1.765 dari 8.815 peserta tergolong rapuh, sedangkan dengan FSI jumlahnya 1.221 orang.
  • Pada peserta di bawah 65 tahun, KCL mengaitkan kerapuhan dengan IMT di bawah 18,5 dengan rasio odds 1,882.
  • Pada peserta 65 tahun ke atas, IMT di bawah 18,5 dan IMT 27,5 atau lebih sama-sama berkaitan dengan kerapuhan versi KCL.
  • Para penulis menyebut kaitan antara IMT dan kerapuhan berbeda menurut usia.
  • Angket yang kembali hanya sekitar 60 persen sehingga hasilnya bisa bias.
Daftar Isi
  1. Dua Daftar Pertanyaan yang Menunjuk Orang Berbeda Sebelum Usia 65
  2. Sesudah Usia 65, Kedua Ujung Timbangan Muncul Bersama pada Satu Alat
  3. Tiga Dugaan Para Penulis tentang Orang Kurus yang Tidak Terbaca Rapuh
  4. Satu Sentimeter Tinggi Badan yang Hilang dan Arti Angka di Timbangan
  5. Yang Belum Terjawab oleh Angket yang Dikembalikan Warga Dua Kota

Amplop-amplop itu dibedakan warnanya menurut distrik sekolah dasar. Isinya angket tanpa nama, dikirim kepada 18.000 warga berusia 40 tahun ke atas di Settsu dan Hannan, dua kota di Prefektur Osaka, Jepang. Ketika jawaban yang kembali dihitung, muncul hasil yang tidak seragam. Pada warga di bawah 65 tahun, dua daftar pertanyaan tentang tubuh yang melemah menunjuk orang yang berbeda. Yang satu menunjuk mereka yang berbadan kurus. Yang lain menunjuk mereka yang berbadan gemuk.

Hitungan itu dikerjakan Tsukasa Yoshida, Erika Hikita, Daiki Watanabe, Takashi Nakagata, Yosuke Yamada, Naomi Sawada, Megumi Okabayashi, Hidekazu Shimada, Nobuo Nishi, dan Motohiko Miyachi. Laporan mereka berjudul Association between body mass index and frailty for middle-aged and older adults in Japan: a cross-sectional study of the Osaka health disparity solution program, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Yoshida, penulis korespondensi, bekerja di Graduate School of Medicine, Tohoku University, dan di National Institute of Health and Nutrition.

Yang mereka cari adalah kaitan antara indeks massa tubuh dan kerapuhan. Indeks massa tubuh, disingkat IMT, adalah berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter. Kerapuhan, dalam naskah itu, adalah keadaan yang membuat seseorang lebih rentan terhadap tekanan, serta menaikkan angka kematian dan kebutuhan perawatan jangka panjang. Sebanyak 8.815 jawaban angket masuk hitungan.

Dua Daftar Pertanyaan yang Menunjuk Orang Berbeda Sebelum Usia 65

Kerapuhan diukur dengan dua alat. Kihon Checklist, disingkat KCL, berisi 25 pertanyaan yang mencakup tujuh ranah: kemunduran aktivitas sehari-hari, gangguan gerak, kurang gizi, gangguan fungsi mulut, keterasingan sosial, kemunduran kognitif, dan depresi. Frailty Screening Index, disingkat FSI, hanya berisi lima pertanyaan dan, menurut para penulis, terutama menilai sisi fisik kerapuhan. Seseorang digolongkan rapuh bila skor KCL-nya tujuh atau lebih, atau skor FSI-nya tiga atau lebih.

Dengan KCL, 1.765 dari 8.815 peserta tergolong rapuh. Itu 20,0 persen, satu dari lima orang. Dengan FSI jumlahnya 1.221 orang, setara 13,9 persen. Peserta terbagi hampir sama banyak: 4.367 orang berusia di bawah 65 tahun dan 4.448 orang berusia 65 tahun ke atas. Perempuan 51,8 persen, laki-laki 48,2 persen.

Berat badan mereka beragam. Sebanyak 561 orang, atau 6,4 persen, memiliki IMT di bawah 18,5. Di ujung lain, 983 orang, atau 11,2 persen, memiliki IMT 27,5 atau lebih. Kelompok IMT 22,5 sampai kurang dari 25,0, yang berisi 2.369 orang, dijadikan patokan. Setiap kelompok lain dibandingkan dengan kelompok itu.

Peserta angket di Settsu dan HannanPeserta angket di Settsu dan HannanPeserta angket di Settsu dan HannanDua kota di Prefektur Osaka, Jepang8.815pesertausia 40 ke atas20,0%rapuhmenurut KCL13,9%rapuhmenurut FSI6,4%IMT <18,5561 orangJalan risetnyaAngket dikirimIMT dihitungDua alat ukur
Sumber: Tsukasa Yoshida, Erika Hikita, Daiki Watanabe, Takashi Nakagata, Yosuke Yamada, Naomi Sawada, Megumi Okabayashi, Hidekazu Shimada, Nobuo Nishi, dan Motohiko Miyachi, Association between body mass index and frailty for middle-aged and older adults in Japan: a cross-sectional study of the Osaka health disparity solution program, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lalu datang titik baliknya. Pada peserta di bawah 65 tahun, KCL mula-mula mengaitkan kerapuhan dengan tiga kelompok sekaligus: IMT di bawah 18,5, IMT 25,0 sampai kurang dari 27,5, dan IMT 27,5 atau lebih. Sesudah keadaan hidup peserta ikut diperhitungkan, dari teman serumah, ekonomi, tidur, rokok, sampai frekuensi makan, hanya satu yang bertahan. Kelompok IMT di bawah 18,5 tetap berkaitan dengan kerapuhan, dengan rasio odds 1,882.

FSI bercerita lain. Pada kelompok usia yang sama, alat lima pertanyaan itu mengaitkan kerapuhan dengan IMT 25,0 sampai kurang dari 27,5, rasio odds 1,426, dan dengan IMT 27,5 atau lebih, rasio odds 1,473. IMT rendah tidak menunjukkan kaitan yang bermakna. Para penulis mencatat hasil FSI itu konsisten di semua model: pada usia paruh baya, hanya IMT tinggi yang berkaitan dengan kerapuhan.

Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

Sesudah Usia 65, Kedua Ujung Timbangan Muncul Bersama pada Satu Alat

Pindah ke peserta berusia 65 tahun ke atas. Di sini KCL menunjuk dua arah sekaligus. IMT di bawah 18,5 berkaitan dengan kerapuhan, rasio odds 1,807. IMT 27,5 atau lebih juga berkaitan, rasio odds 1,562. Keduanya bertahan sesudah penyesuaian. Para penulis menyebut bentuk hubungan itu seperti huruf U: kerapuhan lebih sering dijumpai di kedua ujung, kurus dan gemuk.

FSI pada kelompok lansia itu awalnya juga menunjuk banyak arah. Dalam hitungan kasar, kerapuhan berkaitan dengan IMT di bawah 18,5, IMT 25,0 sampai kurang dari 27,5, dan IMT 27,5 atau lebih. Sesudah penyesuaian, kaitan dengan IMT rendah hilang. Yang tersisa hanya IMT 27,5 atau lebih, dengan rasio odds 1,988. Para penulis menahan kesimpulan tentang bentuk hubungan yang satu ini.

Rasio odds kerapuhan menurut usiaRasio odds kerapuhan menurut usiaRasio odds kerapuhan menurut usiaDibanding kelompok IMT 22,5-<25,0, sesudah penyesuaianDi bawah 6565 ke atas1,8821,807KCL, IMT <18,5tak bermakna1,562KCL, IMT >=27,5tak bermaknatak bermaknaFSI, IMT <18,51,426tak bermaknaFSI, IMT 25-<27,51,4731,988FSI, IMT >=27,5
Sumber: Tsukasa Yoshida, Erika Hikita, Daiki Watanabe, Takashi Nakagata, Yosuke Yamada, Naomi Sawada, Megumi Okabayashi, Hidekazu Shimada, Nobuo Nishi, dan Motohiko Miyachi, Association between body mass index and frailty for middle-aged and older adults in Japan: a cross-sectional study of the Osaka health disparity solution program, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ada satu pemeriksaan lagi, yang memperlakukan IMT sebagai garis bersambung dari 15 sampai 35. Hasilnya, menurut ringkasan naskah, berbentuk U untuk kerapuhan versi KCL di kedua kelompok usia. Untuk kerapuhan versi FSI, garisnya naik lurus pada peserta di bawah 65 tahun dan berbentuk L pada peserta 65 tahun ke atas. IMT rendah tetap tidak berkaitan bermakna dengan kerapuhan versi FSI pada kelompok yang lebih muda.

Pemisahan dua kelompok usia itu bukan kebetulan. Para penulis menemukan bahwa kaitan IMT dengan kerapuhan berubah menurut umur, sehingga seluruh hitungan dikerjakan terpisah untuk peserta di bawah 65 tahun dan peserta 65 tahun ke atas. Simpulan pertama mereka pun pendek. Kaitan antara IMT dan kerapuhan berbeda menurut usia.

Tiga Dugaan Para Penulis tentang Orang Kurus yang Tidak Terbaca Rapuh

Satu hasil mengganjal. Pada usia paruh baya, IMT rendah tidak berkaitan bermakna dengan kerapuhan versi FSI, bahkan rasio odds-nya lebih rendah. Yoshida dan rekan-rekannya mengajukan tiga dugaan. Pertama, IMT rendah dan kerapuhan sebenarnya berkaitan, tetapi terjadi salah penggolongan. Kedua, keduanya memang tidak berkaitan dalam penelitian ini. Ketiga, IMT rendah berkaitan dengan kerapuhan secara menekan.

Dugaan terakhir punya sandaran. Pada usia paruh baya, tulis mereka, IMT rendah mungkin mengurangi risiko penyakit terkait gaya hidup. Mereka merujuk penelitian lain yang mendapati kelompok IMT di bawah 18,5 memiliki penilaian kesehatan diri tertinggi di kelompok usia muda, tetapi terendah di kelompok usia lanjut. Penilaian kesehatan diri yang rendah, menurut penelitian terdahulu yang juga mereka kutip, adalah penduga sedang bagi kerapuhan.

Namun dugaan itu berbenturan dengan hal lain. IMT rendah adalah penanda berkurangnya massa otot rangka, komponen utama kerapuhan, dan juga penanda kurang gizi. Dalam naskah itu, lingkaran kerapuhan digambarkan sebagai spiral yang menurun. Karena KCL tetap mengaitkan IMT rendah dengan kerapuhan pada usia paruh baya, para penulis menilai salah penggolongan bisa terjadi bila hanya FSI yang dipakai.

Baca juga Lansia Rentan Thailand Mengumpul di Timur Laut, Cahaya di Tengah

Mereka lalu menoleh ke Swedia. Sebuah penelitian yang mengikuti pesertanya selama 27 tahun melaporkan skor kerapuhan naik dua kali lebih cepat sesudah usia 65 tahun. Kelompok berbadan kurus punya skor terendah sampai usia 60 tahun, lalu melonjak menjadi yang tertinggi. Di titik itu para penulis berhenti. “Karena tidak satu pun kemungkinan dapat disingkirkan, sulit menarik kesimpulan pasti tentang kaitan antara IMT rendah dan kerapuhan yang dinilai dengan FSI pada orang paruh baya,” tulis Tsukasa Yoshida dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Satu Sentimeter Tinggi Badan yang Hilang dan Arti Angka di Timbangan

Angka IMT yang sama, menurut para penulis, bisa berarti lain pada orang paruh baya dan orang lanjut usia. Badan kurus akibat berat yang turun karena penyakit tertentu berdampak buruk bagi kesehatan. Ada pula soal tinggi badan. Orang lanjut usia menjadi lebih pendek, sehingga IMT mereka naik. Contoh dalam naskah: seseorang berbobot 50 kilogram yang tingginya berubah dari 150 menjadi 149 sentimeter, IMT-nya bertambah 0,3.

Hasil di Osaka juga disandingkan dengan penelitian sebelumnya pada warga Jepang berusia 65 tahun ke atas, yang melaporkan hubungan berbentuk U antara IMT dan kerapuhan. Hasil KCL pada lansia serupa dengan penelitian itu. Hasil FSI pada lansia dan hasil KCL pada usia paruh baya tidak sepenuhnya mendukungnya. Para penulis menyebut perbedaan variabel penyesuaian dan alat ukur sebagai kemungkinan sebab, lalu menahan kesimpulan untuk dua hasil tersebut.

Satu catatan lain menyangkut dompet. Peserta dengan IMT lebih tinggi cenderung berekonomi sulit pada kelompok di bawah 65 tahun, tetapi cenderung berekonomi lapang pada kelompok 65 tahun ke atas. Sejauh yang diketahui para penulis, inilah penelitian pertama yang menilai kaitan IMT dan kerapuhan dengan dua alat ukur pada warga paruh baya yang tinggal di tengah masyarakat di Jepang.

Timbangan sendiri punya batas. IMT dan berat badan dipakai luas karena mudah diukur, tulis para penulis, padahal komposisi tubuh lebih penting bagi kesehatan. Mereka menyebut penelitian terbaru yang memasukkan lingkar betis sebagai penanda tidak langsung massa otot, dan hasilnya tidak berubah. Penelitian tentang komposisi tubuh dan kerapuhan pada skala penduduk, kata mereka, masih perlu dikerjakan.

Yang Belum Terjawab oleh Angket yang Dikembalikan Warga Dua Kota

Para penulis mencatat lima keterbatasan. Karena semua data diambil pada satu waktu, mana yang lebih dulu terjadi, perubahan IMT atau kerapuhan, tidak bisa dijelaskan. Angket yang kembali pun hanya sekitar 60 persen, tepatnya 58,1 persen di Settsu dan 60,0 persen di Hannan. Mereka menduga warga yang sangat peduli kesehatan lebih banyak terjaring, sehingga hasilnya bisa bias.

Alat ukurnya juga punya soal. KCL dan FSI teruji pada lansia, dan belum jelas apakah keduanya tepat untuk orang paruh baya. Berat, tinggi, dan kerapuhan dilaporkan sendiri oleh peserta. Pada 498 warga lain yang ditimbang dan diukur langsung, kesesuaian antara angka laporan sendiri dan angka terukur tercatat tinggi, 0,948 sampai 0,994. Meski begitu, para penulis mengakui bukti ketepatan kerapuhan laporan sendiri belum memadai.

Keterbatasan kelima menyangkut batasan itu sendiri. Kerapuhan belum punya definisi yang disepakati dunia. Batasan kurus dan gemuk menurut IMT pun berbeda antarpenduduk. Di Settsu dan Hannan, peserta ber-IMT tinggi jumlahnya sedikit. Penelitian lanjutan, tulis mereka, diperlukan untuk memastikan kekukuhan temuan ini.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Dari semua hasil yang tidak seragam itu, mereka tetap menarik satu arah. “Ketika seluruh hasil penelitian ini dihimpun, kami menyimpulkan bahwa kebiasaan hidup yang mendekatkan pada ‘berat badan normal’ mungkin membantu mencegah kerapuhan,” tulis Yoshida dan rekan-rekannya. Mereka menyebut contoh pemeriksaan gabungan sindrom metabolik dan kerapuhan, serta pemantauan orang dengan IMT tidak normal.

Amplop berwarna dari distrik-distrik sekolah di Settsu dan Hannan itu sudah kembali dan sudah dihitung. Naskah ditutup dengan permintaan. Diperlukan penelitian yang lebih rinci, dengan rancangan yang lebih baik, untuk menaksir kaitan antara IMT, kerapuhan, dan usia.

Bagikan

Baca Juga

Stunting di Kampung Tambang Zambia Lebih Tinggi Tanpa Akses Pasar
Orang Jepang yang Cuek Kesehatan Lebih Jarang Lapor Rawat Inap
Aplikasi Ponsel di Thailand Saring Remaja Berisiko Seks Pranikah
Lansia Migran Musiman Hainan Rajin Jalan, Lemak Viseral Menumpuk
Hampir Separuh Pasien Dewasa di Selatan Arab Saudi Obesitas
Banyak Warga Bangladesh Tak Tahu Idap Darah Tinggi atau Diabetes