Orang Jepang yang Cuek Kesehatan Lebih Jarang Lapor Rawat Inap

A A

Foto udara kompleks Rumah Sakit Pusat Prefektur Ishikawa di Kanazawa, Jepang [Foto: J o/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Tiap kenaikan skor ketidakpedulian berhubungan dengan risiko melaporkan rawat inap yang 18 persen lebih rendah.
  • Dari empat belas gejala yang ditanyakan, delapan lebih sering dilaporkan seiring naiknya skor ketidakpedulian.
  • Vaksinasi influenza menurun seiring naiknya skor, sedangkan hubungan dengan vaksinasi COVID-19 tidak berarti.
  • Kanker dan penyakit ginjal kronis lebih jarang dilaporkan, gigi berlubang dan periodontitis lebih sering.
  • Temuan itu menandai satu kelompok untuk diteliti lebih lanjut, tetapi tidak membuktikan penghindaran layanan kesehatan.
Daftar Isi
  1. Oba Menakar Sikap Cuek dengan Tiga Belas Pernyataan
  2. Tabuchi Membawa Jawaban dari 47 Prefektur
  3. Rawat Inap Lebih Jarang Dilaporkan Kelompok yang Cuek
  4. Delapan Keluhan Badan yang Lebih Sering Muncul
  5. Kanker Lebih Jarang Disebut, Gigi Berlubang Lebih Sering
  6. Batas yang Dicatat Oba dan Rekan-rekannya

Hikaru Oba mengajukan satu pertanyaan kepada tumpukan jawaban survei dari seluruh Jepang: apa yang dilaporkan orang yang tidak begitu peduli pada kesehatannya, setahun setelah sikap itu diukur. Bersama Tomohiro Mitoma, Takahiro Tabuchi, dan Jota Maki, ia menelusuri jawaban 15.519 warga berusia 15 sampai 80 tahun yang mengisi kuesioner daring tiga tahun berturut-turut, dari 2021 sampai 2023.

Jawabannya mereka tuangkan dalam artikel Hikaru Oba, Tomohiro Mitoma, Takahiro Tabuchi, dan Jota Maki berjudul Health indifference, symptom reporting, hospitalization, and vaccination: a three-wave longitudinal analysis of a nationwide Japanese online panel (JASTIS), yang terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Dalam naskah itu Oba tercatat sebagai penggagas konsep, pengolah data, dan penulis draf pertama, sementara Maki menjadi pengawas pekerjaannya.

Yang ditemukan Oba tidak lurus. Orang dengan skor ketidakpedulian lebih tinggi lebih jarang melaporkan pernah dirawat inap dan lebih jarang divaksin influenza. Namun orang yang sama lebih sering mengeluhkan badan: demam, nyeri dada, sesak napas, sakit kepala. Sedikit sentuhan dengan layanan kesehatan, banyak keluhan.

Oba Menakar Sikap Cuek dengan Tiga Belas Pernyataan

Oba dan rekan-rekannya memakai istilah health indifference, yang mereka artikan sebagai orang dengan minat rendah pada kesehatan, yakni mereka yang kecil kemungkinannya ikut secara sukarela dalam promosi kesehatan. Naskah itu mencatat bahwa periode ketiga Health Japan 21, yang berjalan 2024 sampai 2035, menjawab kelompok ini dengan membangun lingkungan yang memperbaiki kesehatan tanpa menuntut perhatian atau motivasi terus-menerus dari tiap orang.

Batas istilahnya ditarik tegas oleh Oba. Yang dimaksud adalah ujung rendah dari minat pada kesehatan: kesehatan tidak menonjol dalam pikiran, dorongan dari dalam diri lemah, dan kesehatan dinilai kurang penting dibanding hal lain. “Ini bukan apati klinis, depresi, atau konstruk mapan lainnya,” tulis Hikaru Oba, Tomohiro Mitoma, Takahiro Tabuchi, dan Jota Maki dalam naskahnya yang berbahasa Inggris.

Alat ukur Oba berupa tiga belas pernyataan yang diisi peserta pada Februari 2022. Sembilan bernada positif, misalnya pernyataan bahwa diri sendiri relatif sadar kesehatan. Empat lainnya bernada sebaliknya, misalnya bahwa pekerjaan dan penghasilan lebih penting daripada kesehatan. Jumlah skornya bergerak dari 13 sampai 52, dan makin tinggi angkanya, makin tidak peduli orang itu pada kesehatannya.

Dari hitungan Oba, nilai tengah skor seluruh peserta adalah 29. Dengan garis itu, 8.033 orang atau 51,8 persen masuk kelompok yang lebih cuek, sedangkan 7.486 orang masuk kelompok yang kurang cuek. Pembelahan ini hanya dipakai untuk menggambarkan siapa mereka. Hitungan utamanya memakai skor utuh, sehingga tiap angka hubungan berlaku untuk kenaikan satu simpangan baku skor.

Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air

Tabuchi Membawa Jawaban dari 47 Prefektur

Datanya datang lewat Takahiro Tabuchi, yang dalam naskah tercatat sebagai penyedia sumber data dan pemegang akses penuh atasnya. Survei itu bernama Japan Society and New Tobacco/Infodemic Survey, disingkat JASTIS. Pesertanya direkrut dari lebih dari 2,2 juta anggota panel internet di 47 prefektur, dan 26.000 orang ikut pada putaran pertama, Februari 2021.

Jepang, menurut Oba dan Tabuchi, adalah tempat yang tepat untuk menguji pertanyaan ini. Asuransi kesehatan di sana mencakup semua orang sejak 1961, dengan tarif seragam, kebebasan memilih penyedia layanan, dan batas bulanan untuk biaya dari kantong sendiri. Pemerintah kota dan penjamin juga menyediakan pemeriksaan kesehatan tahunan serta skrining kanker bersubsidi. Hambatan untuk kontak pertama dengan layanan kesehatan relatif kecil.

Ketika Oba membandingkan dua kelompok tadi, wajah kelompok yang lebih cuek mulai terlihat. Mereka rata-rata sepuluh tahun lebih muda, 45,4 tahun berbanding 55,4 tahun. Laki-laki lebih banyak di antara mereka, 55,1 persen berbanding 46,2 persen. Perokok aktif juga lebih banyak, 23,8 persen berbanding 14,5 persen.

Catatan Oba tentang keseharian mereka sejalan. Sebanyak 44,9 persen kelompok yang lebih cuek tidak mengikuti pemeriksaan kesehatan dalam setahun sebelumnya, berbanding 32,4 persen pada kelompok lain. Aktivitas fisik yang rendah tercatat pada 28,0 persen berbanding 19,0 persen. Yang kurang mendapat dukungan sosial 36,3 persen berbanding 23,3 persen, dan yang tinggal sendiri 21,9 persen berbanding 17,0 persen.

Rawat Inap Lebih Jarang Dilaporkan Kelompok yang Cuek

Pertanyaan pertama Oba menyangkut rawat inap. Pada survei 2023, sebanyak 899 peserta melaporkan pernah dirawat inap dalam dua belas bulan terakhir. Di kelompok yang lebih cuek jumlahnya 376 dari 8.033 orang, atau 4,7 persen. Di kelompok yang kurang cuek jumlahnya 523 dari 7.486 orang, atau 7,0 persen.

Selisih itu tidak hilang setelah Oba dan Mitoma memperhitungkan usia, jenis kelamin, pendidikan, penghasilan, dan kebiasaan hidup peserta. Tiap kenaikan satu simpangan baku skor ketidakpedulian berhubungan dengan risiko melaporkan rawat inap yang 18 persen lebih rendah. Rasio risikonya 0,82, dengan rentang kepercayaan 0,76 sampai 0,88.

Cuek pada kesehatan di JepangCuek pada kesehatan di JepangCuek pada kesehatan di JepangHubungan per kenaikan satu simpangan baku skor15.519pesertausia 15-80 tahun18%lebih rendahrisiko laporrawat inap8dari 14 gejalalebih seringdilaporkan0,90rasio risikovaksinasiinfluenzaJalan risetnyaSurvei 2021Skor 2022Hasil 2023Hubungan, bukan sebab-akibat.
Sumber: Hikaru Oba, Tomohiro Mitoma, Takahiro Tabuchi, Jota Maki, Health indifference, symptom reporting, hospitalization, and vaccination: a three-wave longitudinal analysis of a nationwide Japanese online panel (JASTIS), BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Oba juga membagi peserta menjadi empat lapis menurut skor, dan polanya menurun bertahap. Dibanding lapis paling peduli, rasio risiko rawat inap pada lapis kedua 0,93, pada lapis ketiga 0,79, dan pada lapis paling cuek 0,57. Dalam taksiran lain di naskah itu, risiko rawat inap 6,6 persen pada skor satu simpangan baku di bawah rerata, 5,4 persen pada rerata, dan 4,4 persen pada satu simpangan baku di atasnya.

Angka itu tidak dibaca Oba sebagai tanda badan yang lebih sehat, juga tidak sebagai bukti orang sengaja menghindar. “Rawat inap tidak sekadar dipilih; masuk rumah sakit memerlukan kejadian yang berat dan keputusan seorang klinisi,” tulis Hikaru Oba, Tomohiro Mitoma, Takahiro Tabuchi, dan Jota Maki. Karena itu, dalam naskah mereka rawat inap hanya diperlakukan sebagai penanda tidak langsung dari upaya mencari layanan.

Vaksinasi memberi Oba petunjuk tambahan, dan petunjuk itu pilih-pilih. Vaksinasi influenza menurun seiring naiknya skor, dengan rasio risiko 0,90. Di kelompok yang kurang cuek 45,7 persen divaksin influenza, di kelompok yang lebih cuek 31,4 persen. Vaksinasi COVID-19 lain cerita: 89,6 persen berbanding 86,7 persen, dan hubungannya dengan skor tidak berarti.

Perbedaan dua vaksin itu dijelaskan Oba dan Maki lewat cara penyampaiannya. Vaksin COVID-19 diberikan melalui kampanye nasional yang intensif, sedangkan vaksin influenza tidak. Mereka menyebutnya keterlibatan yang selektif. Adapun laporan terinfeksi atau dirawat karena SARS-CoV-2 dalam setahun terakhir tidak menunjukkan hubungan yang memenuhi kriteria mereka.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Delapan Keluhan Badan yang Lebih Sering Muncul

Pertanyaan kedua Oba adalah soal keluhan badan sepekan terakhir, dan di sinilah arah temuannya berbalik. Dari empat belas gejala yang ditanyakan, delapan lebih sering dilaporkan seiring naiknya skor ketidakpedulian. Demam berada di urutan teratas dengan rasio risiko 1,12, disusul nyeri dada 1,11, lalu masalah ingatan dan sesak napas yang sama-sama 1,08.

Empat gejala lain dalam daftar Oba adalah sulit berkonsentrasi dengan rasio 1,07, sakit kepala 1,05, serta rasa tidak nyaman di pencernaan dan kelelahan yang masing-masing 1,04. Hanya satu keluhan yang arahnya terbalik, yaitu menurunnya gairah seksual, dengan rasio 0,95. Nyeri punggung, nyeri sendi, pusing, gangguan tidur, dan batuk tidak memenuhi kriteria.

Keluhan sepekan terakhir, dua kelompokSakit kepala: Kurang cuek +17,1, Lebih cuek +25,0; Sesak napas: Kurang cuek +8,8, Lebih cuek +14,4; Nyeri dada: Kurang cuek +6,0, Lebih cuek +12,2; Demam: Kurang cuek +2,8, Lebih cuek +7,2.Keluhan sepekan terakhir, dua kelompokPersen peserta yang melaporkan gejala pada survei 2023Kurang cuekLebih cuek1020300Sakit kepala17,125,0Sesak napas8,814,4Nyeri dada6,012,2Demam2,87,2
Sumber: Hikaru Oba, Tomohiro Mitoma, Takahiro Tabuchi, Jota Maki, Health indifference, symptom reporting, hospitalization, and vaccination: a three-wave longitudinal analysis of a nationwide Japanese online panel (JASTIS), BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tabel yang disusun Oba memperlihatkan jaraknya dalam persen. Nyeri dada dilaporkan 12,2 persen kelompok yang lebih cuek, berbanding 6,0 persen kelompok lain. Demam atau demam ringan 7,2 persen berbanding 2,8 persen. Sesak napas 14,4 persen berbanding 8,8 persen, dan sakit kepala 25,0 persen berbanding 17,1 persen, kira-kira satu dari empat orang berbanding satu dari enam.

Bagi Oba dan Mitoma, pola banyak gejala dengan sedikit kontak ini masuk akal lewat satu penjelasan yang mereka ambil dari kajian terdahulu: menyadari gejala dan bertindak atasnya adalah dua langkah yang terpisah. Sebuah gejala bisa disadari dan tetap tidak ditindaklanjuti. Mereka juga merujuk survei di Denmark terhadap 45.483 orang, yang mencatat peluang menghubungi dokter umum justru turun ketika gejala yang dirasakan bersamaan makin banyak.

Kanker Lebih Jarang Disebut, Gigi Berlubang Lebih Sering

Pertanyaan ketiga Oba menyangkut penyakit menahun yang dilaporkan peserta, dan hasilnya campur. Kanker lebih jarang dilaporkan seiring naiknya skor, dengan rasio risiko 0,81. Begitu pula penyakit ginjal kronis, 0,87. Sebaliknya, gigi berlubang lebih sering dilaporkan dengan rasio 1,15, dan radang jaringan penyangga gigi atau periodontitis 1,06.

Oba semula menduga laporan diagnosis yang lebih sedikit akan terkumpul pada penyakit yang biasanya ditemukan lewat skrining. Pola yang muncul tidak mengikuti dugaan itu. Tekanan darah tinggi, diabetes, dan gangguan lemak darah tidak memenuhi kriteria. Untuk kanker, naskah itu mencatat bahwa di Jepang jauh lebih banyak kasus ditemukan di luar skrining daripada di dalamnya. Oba menyebut temuan per penyakit ini masih bersifat penjajakan.

Meski begitu, Oba dan Tabuchi mengingatkan cara membaca angka semacam ini. Rendahnya angka diagnosis pada satu kelompok tidak bisa ditafsirkan tanpa tahu seberapa besar kesempatan kelompok itu untuk didiagnosis. “Pelaporan gejala yang tinggi disertai skrining yang rendah dan diagnosis yang rendah semestinya mendorong audit atas kemungkinan kurang terdeteksi, bukan ditafsirkan sebagai kesehatan yang lebih baik,” tulis keempat peneliti itu.

Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara

Batas yang Dicatat Oba dan Rekan-rekannya

Oba tidak menutupi batas pekerjaannya. Semua hasil berasal dari laporan peserta sendiri, bukan dari catatan rumah sakit. Naskah itu mengutip kajian validasi di Jepang yang menunjukkan ketepatan laporan kanker oleh peserta berkisar 41,7 sampai 77,8 persen, bergantung pada letak kankernya. Untuk laporan rawat inap selama dua belas bulan, Oba dan rekan-rekannya tidak menemukan satu pun kajian validasi.

Ada pula yang tidak terukur, tulis Oba. Kunjungan rawat jalan, penanda paling langsung dari upaya mencari layanan, tidak ditanyakan dalam survei. Skor ketidakpedulian hanya diukur satu kali. Masa pengamatan bertumpang-tindih dengan gelombang COVID-19, ketika penemuan penyakit bergeser terlepas dari kejadian yang sebenarnya. Pesertanya anggota panel daring, sehingga hasilnya terbatas untuk digeneralisasi.

Maki dan Oba juga membuka kemungkinan penjelasan lain untuk temuan rawat inap. Menurut hitungan mereka, faktor tak terukur berkekuatan sedang, seperti kerapuhan tubuh, pemakaian banyak obat sekaligus, atau beban penyakit, dapat menjelaskan hubungan itu. Sikap lain yang bertetangga, seperti fatalisme, ketidakpercayaan pada layanan medis, dan optimisme yang tidak realistis, juga tidak diukur dan tetap menjadi penjelasan tandingan.

Maka simpulan Oba ditulis hati-hati. Peserta dengan skor lebih tinggi melaporkan rawat inap dan vaksinasi influenza yang lebih rendah serta beberapa gejala yang lebih sering pada survei berikutnya. Temuan itu, tulis naskahnya, menandai satu kelompok untuk diteliti lebih lanjut, tetapi tidak membuktikan adanya penghindaran layanan kesehatan.

Pertanyaan yang diajukan Oba kepada jawaban 15.519 orang itu berujung pada satu kemungkinan yang masih harus diuji. Bila pola ini terulang dengan ukuran langsung atas kunjungan rawat jalan dan skrining, tulis Oba dan rekan-rekannya, layanan yang menuntut orang mengambil langkah pertama mungkin paling sulit menjangkau mereka yang paling enggan melangkah.

Bagikan

Baca Juga

Aplikasi Ponsel di Thailand Saring Remaja Berisiko Seks Pranikah
Lansia Migran Musiman Hainan Rajin Jalan, Lemak Viseral Menumpuk
Hampir Separuh Pasien Dewasa di Selatan Arab Saudi Obesitas
Banyak Warga Bangladesh Tak Tahu Idap Darah Tinggi atau Diabetes
Staf Kampus Lebih Paham Mata Lelah, Mahasiswa Lebih Menjaga
Hampir Sejuta Pasien Klinik di Meksiko Butuh Kacamata