Banyak Warga Bangladesh Tak Tahu Idap Darah Tinggi atau Diabetes

A A

Ilustrasi manset tensimeter digital melingkar di lengan seorang lanjut usia [Foto: Yaroslav Shuraev/Pexels]

  • Sebanyak 31 persen responden dewasa Bangladesh mengidap darah tinggi atau diabetes.
  • Sebanyak 17 persen responden tidak tahu bahwa mereka mengidap darah tinggi atau diabetes.
  • Pada usia 70 tahun ke atas, 27 persen responden tidak tahu dirinya sakit.
  • Tekanan sistolik perempuan melampaui ambang 120 mmHg lebih awal daripada laki-laki.
  • Pemilik ponsel punya peluang keliru 1,78 kali peluang mereka yang tidak punya.
Daftar Isi
  1. Biswas Menghitung: Hampir Sepertiga Mengidap Salah Satunya
  2. Yang Ditemukan Tim Biswas pada Tekanan Darah Perempuan
  3. Usia, Berat Badan, dan Sekolah dalam Tabel Biswas
  4. Peta Distrik yang Disusun Biswas dan Rekan
  5. Ponsel dan Jawaban yang Keliru di Mata Biswas
  6. Batas yang Dicatat Biswas dan Jalan Selanjutnya

Raaj Kishore Biswas menyandingkan dua hal dari orang yang sama. Yang pertama jawaban mereka ketika ditanya apakah mengidap darah tinggi atau diabetes. Yang kedua hasil pengukuran tekanan darah dan gula darah mereka. Peneliti dari Charles Perkins Centre, The University of Sydney, itu melakukannya untuk 13.344 orang dewasa Bangladesh berusia 17 sampai 95 tahun. Dari perbandingan itulah tampak siapa yang sakit tanpa mengetahuinya.

Hasilnya ia tulis bersama sembilan rekan, antara lain Awan Afiaz dari University of Washington, Md. Hasibul Islam Jitu dari University of Dhaka, dan Luigi Fontana yang mengawasi proyek itu. Artikel mereka berjudul Prevalence of hypertension and diabetes in Bangladesh: identifying gaps in awareness and misinformation, terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.

Bahan yang diolah Biswas adalah Bangladesh Demographic Health Survey 2022, survei yang mewakili seluruh negeri itu. Dari sana ia dan timnya memasukkan tiap orang ke salah satu dari tiga kelompok. Ada yang tahu dengan benar keadaannya. Ada yang keliru, karena pengakuannya tidak cocok dengan hasil ukur. Ada pula yang tidak tahu: mereka tidak melaporkan sakit, padahal hasil ukurnya memenuhi kriteria.

Biswas Menghitung: Hampir Sepertiga Mengidap Salah Satunya

Hitungan pertama Biswas adalah seberapa banyak yang sakit. Seseorang digolongkan darah tinggi bila tekanan darahnya 140/90 mmHg atau lebih, atau sedang minum obat penurun tekanan darah. Ia digolongkan diabetes bila gula darahnya 126 mg/dL atau lebih, atau sedang minum obat diabetes. Dengan batas itu, 20 persen responden tercatat darah tinggi dan 16 persen diabetes.

Bila keduanya digabung, Biswas mendapati 31 persen responden mengidap darah tinggi atau diabetes. Itu hampir satu dari tiga orang dewasa. Pada kelompok berusia di atas 50 tahun angkanya naik menjadi 52 persen, lebih dari separuh. Dua penyakit itu, tulis tim tersebut, kerap tidak bergejala, sehingga banyak pengidapnya tidak terdiagnosis, tidak diobati, atau tidak tahu.

Darah tinggi dan diabetes di BangladeshDarah tinggi dan diabetes di BangladeshDarah tinggi dan diabetes di Bangladesh13.344 orang dewasa berusia 17-95 tahun31%pengidapsemua usia52%pengidapdi atas 50 tahun17%tidak tahudirinya sakitsemua responden1,7%keliru soalstatusnya225 orangJalan risetnyaJawaban respondenUkur tekanan dan guladarahDibandingkanPengidap: darah tinggi atau diabetes, salah satu atau keduanya.
Sumber: Raaj Kishore Biswas, Awan Afiaz, Md. Hasibul Islam Jitu, Bushra Chowdhury, Sharmin Sultana, Ahmed Moosa, Enamul Kabir, Jahar Bhowmik, Nicholas A. Koemel, dan Luigi Fontana, Prevalence of hypertension and diabetes in Bangladesh: identifying gaps in awareness and misinformation, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lalu Biswas beralih ke soal tahu dan tidak tahu. Sebanyak 82 persen responden tahu dengan benar keadaan mereka. Sebanyak 17 persen tidak tahu bahwa mereka mengidap darah tinggi atau diabetes, kira-kira satu dari enam orang. Sisanya, 1,7 persen, keliru tentang statusnya. Pada kelompok berusia di atas 50 tahun, bagian yang tidak tahu naik menjadi 22 persen.

Biswas dan rekan-rekannya merangkum temuan itu dalam simpulan naskah yang aslinya berbahasa Inggris. “Studi yang mewakili seluruh negeri ini menunjukkan bahwa hipertensi dan diabetes sangat banyak dijumpai di Bangladesh, terutama pada orang dewasa berusia di atas 50 tahun, dan bahwa banyak pengidapnya tetap tidak mengetahui kondisi mereka,” tulis Raaj Kishore Biswas dan sembilan rekannya.

Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

Yang Ditemukan Tim Biswas pada Tekanan Darah Perempuan

Tim Biswas juga memetakan tekanan darah sistolik, angka atas pada hasil tensi, menurut usia dan jenis kelamin. Tekanan itu naik seiring usia pada laki-laki maupun perempuan. Perempuan memulai dengan rata-rata yang lebih rendah daripada laki-laki pada awal masa dewasa. Namun kenaikannya lebih curam, sehingga sejak usia paruh baya angkanya menyamai atau melampaui laki-laki.

Biswas mencatat kapan garis itu terlewati. Nilai tengah tekanan sistolik laki-laki melampaui ambang 120 mmHg pada usia 60 sampai 65 tahun. Pada perempuan hal itu terjadi lebih awal, pada usia 50 sampai 55 tahun. Perbedaan gula darah menurut usia tidak setajam perbedaan tekanan darah.

Bagi Biswas dan Fontana, pola itu penting secara klinis. Risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, tulis mereka, naik bertahap seiring naiknya tekanan darah, dan berlipat dua setiap kenaikan 20/10 mmHg dari ambang 115/75 mmHg. Karena perbedaan gula darah tidak begitu menonjol, mereka menilai darah tinggi boleh jadi pendorong risiko yang sangat penting pada orang lanjut usia.

Usia, Berat Badan, dan Sekolah dalam Tabel Biswas

Tabel yang disusun Biswas memperlihatkan ketidaktahuan menumpuk di usia tua. Di bawah usia 30 tahun, 10 persen tidak tahu dirinya sakit. Pada usia 30 sampai 39 tahun angkanya sudah 17 persen. Pada usia 40-an dan 50-an masing-masing 20 persen, pada usia 60-an 21 persen. Pada usia 70 tahun ke atas, 27 persen.

Tidak tahu dirinya sakit, menurut usiaDi bawah 30: Tidak tahu mengidap darah tinggi atau diabetes +10%; 30-39: Tidak tahu mengidap darah tinggi atau diabetes +17%; 40-49: Tidak tahu mengidap darah tinggi atau diabetes +20%; 50-59: Tidak tahu mengidap darah tinggi atau diabetes +20%; 60-69: Tidak tahu mengidap darah tinggi atau diabetes +21%; 70 ke atas: Tidak tahu mengidap darah tinggi atau diabetes +27%.Tidak tahu dirinya sakit, menurut usiaPersen responden di tiap kelompok usia (tahun)10%20%30%0Di bawah 3010%30-3917%40-4920%50-5920%60-6921%70 ke atas27%
Sumber: Raaj Kishore Biswas, Awan Afiaz, Md. Hasibul Islam Jitu, Bushra Chowdhury, Sharmin Sultana, Ahmed Moosa, Enamul Kabir, Jahar Bhowmik, Nicholas A. Koemel, dan Luigi Fontana, Prevalence of hypertension and diabetes in Bangladesh: identifying gaps in awareness and misinformation, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Setelah faktor sosial lain diperhitungkan, Biswas mendapati peluang tidak tahu pada kelompok 30 sampai 39 tahun 1,64 kali peluang mereka yang berusia di bawah 30. Pada kelompok 70 tahun ke atas, 3,12 kali. Usia 30-an, menurut tim itu, mungkin masa peralihan: risiko mulai muncul, tetapi pemeriksaan rutin masih jarang dan orang belum merasa rentan.

Berat badan memberi Biswas temuan lain. Responden dengan obesitas paling banyak yang tidak tahu, yakni 23 persen. Dibandingkan dengan responden yang kurus, peluang tidak tahu pada yang berat badannya normal 1,19 kali, pada yang kelebihan berat 1,71 kali, dan pada yang obesitas 2,02 kali. Tim itu menulis, orang ber-BMI tinggi tidak boleh diandaikan lebih sadar akan statusnya.

Sekolah bekerja ke arah sebaliknya dalam hitungan Biswas. Di antara responden yang tidak bersekolah, 21 persen tidak tahu dirinya sakit. Dibandingkan dengan mereka, peluang tidak tahu pada lulusan pendidikan dasar 16 persen lebih rendah, dan pada yang berpendidikan tinggi 21 persen lebih rendah. Warga desa juga punya peluang tidak tahu 14 persen lebih rendah daripada warga kota.

Rekan Biswas kemudian menyusun pohon klasifikasi, dan usia muncul sebagai penentu terpenting. Di bawah 30 tahun, sekitar 91 persen responden yang kurus atau berberat normal tahu dengan benar keadaannya. Pada usia 70 tahun ke atas angkanya sekitar 73 persen di desa dan sekitar 71 persen di kota. Di kelompok terakhir itu sekitar 28 persen tidak tahu, yang tertinggi.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Peta Distrik yang Disusun Biswas dan Rekan

Biswas dan rekan-rekannya lalu menaruh angka itu di atas peta. Darah tinggi atau diabetes paling banyak ditemukan di Narayanganj, 44 persen, disusul Feni dan Dinajpur yang sama-sama 43 persen, lalu Naogaon 40 persen. Pada kelompok berusia di atas 50 tahun, Lakshmipur mencatat 77 persen, Feni 71 persen, serta Chattogram dan Gazipur 69 persen.

Peta ketidaktahuan yang dibuat Biswas tidak sepenuhnya sama. Bagian yang tidak tahu paling besar ada di Dinajpur, 36 persen, dan Narayanganj, 31 persen. Kishoreganj paling kecil, 5,6 persen. Pada kelompok di atas 50 tahun, Dinajpur mencatat 45 persen, Lakshmipur 42 persen, dan Panchgarh 40 persen. Dibandingkan dengan Dhaka, peluang tidak tahu di wilayah Rangpur 21 persen lebih tinggi.

Fontana dan Biswas tidak menyederhanakan peta itu. Pola antarwilayah, tulis mereka, beragam dan tidak boleh diperas menjadi pertentangan kota dan desa, atau Dhaka dan bukan Dhaka. Kantong-kantong dengan kesadaran rendah tersebar di seluruh negeri. Menurut mereka, tiap wilayah mungkin menghadapi tantangan sendiri, sehingga pemeriksaan dan penyuluhan perlu disesuaikan per wilayah.

Ponsel dan Jawaban yang Keliru di Mata Biswas

Kelompok ketiga dalam hitungan Biswas kecil, 225 orang atau 1,7 persen. Mereka keliru: pengakuan mereka tidak cocok dengan hasil ukur. Di antara delapan wilayah, Sylhet mencatat bagian terbesar, 2,6 persen, dan Rangpur terkecil, 0,9 persen. Peluang keliru di Rangpur 48 persen lebih rendah daripada di Dhaka.

Biswas mendapati perempuan lebih sering keliru. Peluang mereka 73 persen lebih tinggi daripada laki-laki. Kekeliruan juga naik seiring usia: dibandingkan dengan kelompok di bawah 30 tahun, peluangnya 2,16 kali pada usia 30 sampai 39 tahun dan 3,41 kali pada usia 60 sampai 69 tahun. Harta bekerja sebaliknya. Dua kelompok terkaya punya peluang keliru lebih rendah daripada kelompok termiskin.

Satu temuan Biswas menyangkut telepon genggam. Pemilik ponsel punya peluang keliru 1,78 kali peluang mereka yang tidak punya, dan kaitan itu bertahan setelah pendidikan, kekayaan, dan tempat tinggal diperhitungkan. Padahal, untuk ketidaktahuan, mereka yang tidak punya ponsel justru lebih banyak, 19 persen berbanding 16 persen. Tim itu menulis bahwa hal ini menunjukkan “akses informasi saja tidak menjamin pengetahuan kesehatan yang akurat atau dapat diterapkan.”

Biswas meminta kaitan itu dibaca hati-hati. Ponsel pintar, tulis timnya, membuka peluang layanan kesehatan digital, tetapi dapat pula menambah paparan pada isi daring yang belum terverifikasi. Soal istilah, mereka menulis dalam bahasa Inggris: “Dalam konteks ini, ‘misinformasi’ harus dipahami sebagai pelaporan yang tidak cocok atau pemahaman yang tidak akurat tentang status penyakit, bukan bukti langsung adanya misinformasi yang disengaja.”

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Batas yang Dicatat Biswas dan Jalan Selanjutnya

Biswas dan rekan-rekannya menuliskan sendiri keterbatasan kajian mereka. Datanya dipotret pada satu waktu, sehingga tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan sebab-akibat. Sebagian bersandar pada pengakuan responden, yang bisa bias oleh ingatan atau oleh keinginan menjawab pantas. Data gaya hidup seperti aktivitas fisik, tidur, dan pola makan tidak tersedia. Pohon klasifikasi mereka sebut bersifat penjajakan.

Dari situ Fontana dan Biswas menunjuk siapa yang perlu didahulukan: orang lanjut usia, orang ber-BMI tinggi, dan penduduk wilayah dengan ketidaktahuan lebih besar. Perempuan mereka sebut mencapai tekanan sistolik tinggi pada usia lebih muda daripada laki-laki. Pemeriksaan berbasis komunitas, tulis mereka, perlu diperluas dan dimulai sebelum usia tua, disertai komunikasi yang lebih jelas.

Wahana kesehatan digital, menurut Biswas, dapat membantu asalkan menyampaikan pesan yang terverifikasi dan sesuai budaya, serta terhubung dengan layanan kesehatan primer dan penjangkauan komunitas. Timnya juga menulis bahwa studi jangka panjang masih diperlukan. Tujuannya memastikan apakah pemeriksaan, komunikasi, dan strategi berbasis gaya hidup benar-benar membawa perbaikan yang bertahan.

Biswas memulai dari dua hal yang disandingkan, pengakuan orang dan hasil ukurnya. Pada 82 persen responden keduanya cocok. Pada 17 persen, alat ukur mencatat darah tinggi atau diabetes yang tidak mereka laporkan. Jarak itulah yang oleh Biswas dan rekan-rekannya disebut kesenjangan, dan paling lebar pada mereka yang berusia 70 tahun ke atas.

Bagikan

Baca Juga

Staf Kampus Lebih Paham Mata Lelah, Mahasiswa Lebih Menjaga
Hampir Sejuta Pasien Klinik di Meksiko Butuh Kacamata
Hepatitis B dan C Masih Asing bagi Separuh Lebih Warga Kirgistan
Sedikit Mahasiswa Yordania-Suriah Tahu Rokok Faktor Risiko Stroke
TBC Sembuh Sebulan? Dokter IPB: Hanya untuk TBC Laten
Pemimpin Finlandia dan Norwegia Telepon Putin, Kremlin Meremehkan