- Savina Chham dan tim menganalisis 948 pasien hipertensi Kamboja usia 40 tahun ke atas dari survei 2020; 56,5 persen patuh minum obat.
- Dukungan keluarga baik menggandakan peluang patuh (AOR 2,16), sedangkan dukungan sedang tidak bermakna.
- Bukan perokok, tidak minum alkohol, dan hipertensi lebih dari lima tahun juga berhubungan dengan kepatuhan.
- Desain potong lintang tidak bisa menunjukkan sebab-akibat; beberapa angka di abstrak, diskusi, dan tabel tidak cocok.
Daftar Isi
Savina Chham memilah 948 orang dari sebuah survei rumah tangga di Kamboja, semuanya berusia 40 tahun ke atas dan sedang minum obat hipertensi. Kepada tiap orang ia dan timnya mengajukan dua rangkaian pertanyaan: seberapa rajin obat itu diminum, dan seberapa jauh keluarga menolong ketika mereka sakit. Jawabannya, ketika disandingkan, memberi hasil yang sederhana sekaligus tegas. Yang keluarganya menolong dengan baik dua kali lebih mungkin patuh minum obat.
Temuan itu ditulis Savina Chham, Veerle Buffel, Por Ir, Grace Marie Ku, Srean Chhim, Wim van Damme, Josefien Van Olmen, dan Edwin Wouters dalam Understanding the role of family social support in the medication adherence to hypertension treatment in Cambodia, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 985, tahun 2026. Naskahnya berbahasa Inggris. Chham bernaung di National Institute of Public Health, Phnom Penh, sekaligus University of Antwerp, Belgia.
Chham adalah penulis korespondensi sekaligus orang yang mengerjakan analisis dan menyusun naskahnya. Ia kandidat doktor yang disponsori proyek VLIR-UOS dari pemerintah Belgia. Edwin Wouters, guru besar di University of Antwerp, dan Por Ir dari National Institute of Public Health menjadi pemegang datanya. Menurut mereka, ini studi pertama di Kamboja yang mengukur hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat hipertensi.
Chham Menyaring 5.070 Menjadi 948
Bahan yang dipegang Chham berasal dari survei berbasis populasi tahun 2020 di lima distrik operasional Kamboja, dengan 44 desa di tiap distrik. Seluruh survei mencakup 5.070 orang berusia 40 tahun ke atas. Dari jumlah itu, 1.729 punya riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi. Yang benar-benar berobat dalam tiga bulan terakhir hanya 958 orang.
Chham dan Buffel menyempitkan lagi ke 948 orang yang dalam dua minggu terakhir menerima obat sekaligus nasihat diet dari dokter atau petugas kesehatan. Merekalah yang ditanya lebih jauh. Latar mereka menggambarkan pasien hipertensi Kamboja pedesaan: 78,2 persen perempuan, 58,7 persen berusia di atas 60 tahun, 45,2 persen bekerja di pertanian, dan 77,4 persen tidak punya asuransi kesehatan.
Angka yang membuat Chham risau ada di latar naskahnya. Prevalensi hipertensi pada orang Kamboja usia 40 tahun ke atas mencapai 35,2 persen pada 2020, dan hanya sepertiga yang tekanan darahnya terkendali. Ia mengutip WHO yang menyebut kepatuhan buruk sebagai penyebab paling berarti tekanan darah tidak terkendali, dengan taksiran 50 sampai 70 persen orang tidak minum obat antihipertensinya.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Dua Kuesioner di Tangan Tim Chham
Kepatuhan diukur Chham dan rekan-rekannya dengan lima pertanyaan MARS-5: lupa minum obat, mengubah dosis, berhenti sementara, sengaja melewatkan dosis, dan minum kurang dari yang diinstruksikan. Skor berkisar 5 sampai 25, dan hanya yang mencapai 23 ke atas dihitung patuh. Dengan batas seketat itu, 536 orang atau 56,5 persen tergolong patuh, sisanya 412 orang atau 43,5 persen tidak.
Dukungan keluarga ditakar Chham lewat delapan pertanyaan mMOS-SS yang semuanya konkret. Apakah ada yang menolong bila terbaring sakit, mengantar ke dokter, menyiapkan makan, membantu pekerjaan rumah saat sakit, mengajak bersenang-senang, memberi saran, memahami masalah, dan mencintai serta membuat merasa diinginkan. Skor 0 sampai 100 dibagi tiga: buruk di bawah 60, sedang 60 sampai 79, baik 80 ke atas.
Hasil takaran Chham dan Chhim: 187 orang atau 19,7 persen menerima dukungan buruk, 297 orang atau 31,3 persen sedang, dan 464 orang atau 49,0 persen baik. Dengan kata lain, hampir separuh pasien hipertensi yang sedang berobat ini mengaku punya keluarga yang hampir selalu ada. Yang benar-benar sendirian tinggal seperlima.
Selisih yang Ditemukan Chham
Ketika Chham membelah 948 orang menurut kepatuhannya, pola muncul. Di kelompok patuh, 54,1 persen menerima dukungan keluarga baik. Di kelompok tidak patuh, angkanya 42,2 persen. Sebaliknya, dukungan buruk lebih sering ditemukan pada yang tidak patuh, 23,6 persen, dibanding yang patuh, 16,8 persen. Perbedaan antarkelompok ini bermakna secara statistik.
Chham lalu memasukkan empat belas faktor lain ke dalam perhitungan: jenis kelamin, umur, pendidikan, status kawin, pekerjaan, ukuran rumah tangga, kuintil kekayaan, asuransi, merokok, alkohol, lama sakit, komplikasi, diabetes tipe 2, dan indeks massa tubuh. Setelah semua itu disetarakan, dukungan keluarga baik tetap menggandakan peluang patuh: rasio odds terkoreksi 2,16, dengan rentang kepercayaan 1,49 sampai 3,14.
Yang menarik dari tabel Chham, dukungan sedang tidak cukup. Rasio odds terkoreksinya 1,31 dengan rentang 0,89 sampai 1,94, yang berarti tidak berbeda bermakna dari dukungan buruk. Keluarga yang kadang-kadang ada tidak terbaca di angka kepatuhan. Yang terbaca hanya keluarga yang hampir selalu ada.
Kalimat penutup abstrak Chham dan rekan-rekannya tidak ragu. “Peran dukungan sosial dari anggota keluarga sangat positif dalam meningkatkan kepatuhan minum obat di antara pasien hipertensi di Kamboja,” tulis Savina Chham dan Edwin Wouters bersama enam rekannya, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Di luar keluarga, tabel Chham dan Wouters menyisakan tiga faktor yang bertahan setelah penyesuaian. Bukan perokok lebih mungkin patuh dibanding perokok, dengan rasio odds terkoreksi 1,46. Yang tidak minum alkohol lebih mungkin patuh dibanding peminum, 1,75. Yang sudah hidup dengan hipertensi lebih dari lima tahun lebih mungkin patuh dibanding yang baru kurang dari tiga tahun, 1,44.
Chham menafsirkan faktor lama sakit itu sebagai proses penerimaan. Makin lama seseorang hidup dengan hipertensi, tulisnya, makin ia menerima penyakitnya dan makin membaik perilaku kepatuhannya. Ia merujuk beberapa riset terdahulu yang melaporkan hal serupa. Kebiasaan merokok dan minum alkohol, menurutnya, konsisten dengan tinjauan sistematis yang menemukan kebiasaan pribadi ikut menentukan kepatuhan.
Yang justru tidak terbaca di data Chham adalah faktor sosial-ekonomi. Jenis kelamin, umur, pendidikan, status kawin, pekerjaan, jumlah anggota rumah tangga, kekayaan, dan asuransi semuanya tidak berhubungan bermakna dengan kepatuhan. Pasien terkaya memang cenderung lebih patuh daripada termiskin, dengan rasio 1,57, tetapi rentang kepercayaannya menyentuh angka satu.
Chham Membandingkan dengan Gaza, China, dan Nigeria
Chham menempatkan hasilnya di samping riset dari negeri lain yang ia baca. Di Jalur Gaza, Khadoura dan rekan-rekannya menemukan kepatuhan naik 2,3 kali pada pasien dengan dukungan keluarga baik. Pan dan rekan-rekannya di China mencatat dukungan keluarga inti berhubungan positif dengan kepatuhan. Turan dan rekan-rekannya di Turki melaporkan hubungan positif yang serupa.
Ada satu riset yang berkata lain, dan Chham tidak menyembunyikannya. Adisa dan rekan-rekannya di Nigeria barat daya pada 2016 tidak menemukan hubungan antara dukungan keluarga dan kepatuhan, meski keluarga adalah sumber dukungan paling tersedia di sana. Yang lebih menentukan di Nigeria, menurut riset itu, adalah kemampuan pasien membeli obat.
Chham membaca temuannya lewat kebiasaan orang Kamboja sendiri. Ia merujuk kerangka kebijakan perlindungan sosial nasional yang mencatat penduduk Kamboja cenderung tinggal bersama keluarga besar dan mengandalkan hubungan timbal balik saat sakit, darurat, dan usia tua. Bagi Chham, itu aset yang bisa dipakai untuk memperluas kepatuhan pengobatan.
Peran keluarga itu ia uraikan dengan rinci. “Anggota keluarga dapat menjadi sumber dukungan, dorongan, dan motivasi bagi orang dengan hipertensi untuk lebih menjaga kesehatannya; mereka bisa menjadi kunci kepatuhan minum obat dan gaya hidup sehat, dari sekadar mengingatkan sampai menyediakan makanan sehat,” tulis Chham dan rekan-rekannya, aslinya dalam bahasa Inggris.
Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir
Usul Chham dan Batas yang Ia Akui
Dari situ Chham mengajukan tiga usul kepada pengelola kesehatan Kamboja. Pertama, program dukungan keluarga untuk penyakit kronis, di mana keluarga dilatih mengingatkan minum obat, membeli obat, dan menemani kontrol. Kedua, penilaian dukungan sosial dan kepatuhan dimasukkan ke praktik klinis rutin. Ketiga, keluarga ikut duduk di sesi edukasi pasien, di fasilitas kesehatan maupun di komunitas.
Chham juga jujur soal batas risetnya. “Pertama, desain studi potong lintang membuat kami tidak dapat menentukan hubungan sebab-akibat antara dukungan sosial yang dirasakan dan kepatuhan pengobatan,” tulis Chham dan rekan-rekannya dalam bahasa Inggris. Data mereka diambil satu kali, sehingga hanya bisa berkata kedua hal berjalan bersama, bukan yang satu menyebabkan yang lain.
Dua keterbatasan lain disebut Chham dan Van Olmen. Kepatuhan dan dukungan keluarga sama-sama dilaporkan sendiri oleh pasien, sehingga rentan bias ingatan. Risetnya juga tidak dilengkapi wawancara mendalam untuk menggali bagaimana pasien memaknai dukungan itu, terutama mutunya. Mereka menyarankan riset longitudinal dan kualitatif sebagai langkah berikutnya, ditambah evaluasi ekonomi.
Yang Perlu Diperiksa Pembaca
Ada beberapa ketidakcocokan angka dalam naskah Chham yang bisa diperiksa siapa saja. Abstrak menulis 49,9 persen pasien menerima dukungan baik, sedangkan bagian hasil dan Tabel 1 menulis 49,0 persen, dan 464 dibagi 948 menghasilkan 48,9 persen. Abstrak juga menulis 29,2 persen pasien patuh berdukungan sedang, sementara tabelnya menulis 29,1 persen.
Yang lebih sulit ditelusuri ada di bagian diskusi. Chham dan rekan-rekannya menulis bahwa pasien menerima dukungan keluarga sedang sebesar 27,22 persen dan baik sebesar 23,95 persen. Kedua angka itu tidak cocok dengan angka mana pun di bagian hasil, baik untuk seluruh sampel maupun untuk kelompok patuh saja. Naskah tidak menjelaskan dari mana keduanya berasal.
Jumlah baris di Tabel 1 juga layak dihitung ulang. Baris diabetes tipe 2 berjumlah 748 ditambah 164, atau 912 orang, bukan 948, tanpa keterangan ke mana 36 orang sisanya. Kategori ukuran rumah tangga yang dipakai Chham adalah satu sampai tiga, empat sampai lima, dan lebih dari enam, sehingga rumah tangga beranggota tepat enam tidak punya tempat.
Satu lagi soal penafsiran. Bagian hasil Chham menyebut diabetes tipe 2 berhubungan bermakna dengan kepatuhan pada uji bivariat, tetapi setelah penyesuaian rasio oddsnya 1,43 dengan nilai p 0,057, di atas batas 0,05 yang ia tetapkan sendiri. Naskah tidak menegaskan bahwa hubungan itu tidak bertahan. Hal-hal ini tidak membatalkan temuan utamanya, tetapi menunjukkan penyuntingan yang belum rapi.
Pada akhirnya yang tersisa di tangan Savina Chham adalah 948 orang Kamboja yang sebagian besar perempuan tua di desa, tanpa asuransi, dan dua per lima di antaranya tidak minum obat sebagaimana mestinya. Angka dua kali lipat yang ia temukan tidak bercerita tentang obat atau dokter, melainkan tentang siapa yang mengantar ke klinik dan menyiapkan makan ketika mereka sakit. Chham belum bisa menjawab mengapa itu bekerja, dan ia mengatakannya sendiri.















