- Modul digital 10-15 menit diuji pada 82 anak muda Riyadh dan 109 anak muda Kuala Lumpur
- Pengetahuan gangguan jiwa naik besar di kedua kota, r 0,62 dan 0,56
- Kuala Lumpur unggul pada keterampilan mencari pertolongan, r 0,62 lawan 0,37
- Keyakinan keliru tidak berubah bermakna di kedua kota setelah koreksi Bonferroni
Daftar Isi
Seorang mahasiswa di Riyadh dan seorang mahasiswa di Kuala Lumpur membuka laman web yang sama, menjawab enam belas pertanyaan yang sama, lalu membaca tiga belas halaman yang sama tentang kesehatan jiwa. Keduanya selesai dalam sepuluh sampai lima belas menit. Yang berubah pada keduanya setelah itu ternyata tidak sama, dan perbedaan itulah yang dicatat sebuah studi banding dua negara tentang literasi kesehatan jiwa anak muda.
Studi itu ditulis Nasriah Zakaria, Nik Daliana Nik Farid, Haslina Muhamad, Nurul Fazmidar Mohd Noor, Eylia Nurwani Ab Razak, Amen Bawazir, Amal Mohsen, Sheena Yin Xin Tiong, dan Durrah Mofta dalam Mental health literacy in youth: a quasi-experimental comparison of a reusable learning object in Saudi Arabia and Malaysia, naskah yang telah diterima di BMC Public Health, tahun 2026. Para penulis berasal dari AlMaarefa University di Riyadh dan Universiti Malaya di Kuala Lumpur.
Bahan yang diuji disebut reusable learning object, atau RLO, yaitu modul belajar digital yang bisa dipakai ulang, diterjemahkan, dan disesuaikan untuk konteks lain. Modul ini dibangun dengan kerangka ASPIRE dan berisi pre-test, tujuan belajar, satu vignet kasus, penjelasan mekanisme neuroendokrin, pengenalan gejala dan koreksi salah kaprah, strategi swabantu, kartu kilas, dan post-test. Alat ukurnya kuesioner enam belas butir yang membagi literasi menjadi empat dimensi.
Riyadh: 82 Peserta, Dua Bahasa
Di Riyadh, kelompok yang memakai modul berjumlah 82 orang, 74,4 persen di antaranya perempuan, dengan rata-rata usia 21,39 tahun. Sebanyak 87,8 persen berasal dari perguruan tinggi dan sisanya dari sekolah. Modul untuk mereka tersedia dalam bahasa Inggris dan Arab, dan syarat ikut sertanya adalah bisa membaca salah satu dari keduanya, punya akses internet, serta izin orang tua bila diperlukan.
Kelompok kontrol di Riyadh jauh lebih besar, 173 orang, dan hanya menjawab kuesioner awal. Mereka tidak diberi modul sampai kuesioner selesai, lalu langsung mendapat akses atas pertimbangan etis. Karena itu tidak ada post-test dari kelompok kontrol, dan seluruh angka perubahan yang dilaporkan studi ini hanya datang dari kelompok yang membaca modul.
Kuala Lumpur: 109 Peserta, Satu Bahasa
Di Kuala Lumpur, kelompok yang memakai modul berjumlah 109 orang, 74,3 persen perempuan, rata-rata usia 20,73 tahun. Berbeda dari Riyadh, seluruh peserta intervensi di sini berasal dari perguruan tinggi, tidak satu pun dari sekolah. Modulnya berbahasa Inggris saja, dan kelompok kontrolnya 91 orang yang diperlakukan sama seperti kontrol di Riyadh.
Pada kasus kedua ini, jumlah peserta yang masuk analisis akhir bergeser antara 107 dan 109 orang, tergantung kelengkapan jawaban mereka pada tiap butir. Secara keseluruhan, 455 anak muda berusia 16 sampai 24 tahun dari kedua kota terdaftar tanpa ada yang dikeluarkan, dengan 191 orang di kelompok intervensi. Data dikumpulkan dari Januari sampai Mei 2025 di sekolah dan universitas kedua kota.
Baca juga Hulu Keris Melayu Jadi Bahan Ajar, Nilainya Belum 80
Yang Sama: Pengetahuan Melonjak
Pada dimensi pengetahuan tentang gangguan jiwa, kedua kota bergerak searah dan sama kuat. Di Riyadh, skor naik dengan besaran efek r sebesar 0,62; di Kuala Lumpur, 0,56. Keduanya masuk kategori besar menurut patokan yang dipakai para penulis, yaitu 0,10 kecil, 0,30 sedang, dan 0,50 besar. Butir yang diuji di dimensi ini antara lain bahwa situasi sangat menekan bisa memicu gangguan jiwa dan bahwa lama gejala adalah salah satu kriteria diagnosis.
Skor literasi total juga naik bermakna di kedua kota, meski dengan besaran berbeda: 0,41 di Riyadh, tergolong sedang, dan 0,58 di Kuala Lumpur, tergolong besar. Ketika selisih perubahan total kedua kota dibandingkan langsung, hasilnya tidak berbeda bermakna, dengan nilai p 0,235. Dengan kata lain, dilihat dari angka akhir, modul yang sama itu mengangkat kedua kelompok ke arah yang sama.
Di sisi lain, alat ukurnya sendiri terbukti cukup konsisten di kedua tempat. Nilai alpha Cronbach untuk dimensi pengetahuan sama persis, 0,83 pada awal dan 0,91 sesudah modul, baik di Riyadh maupun Kuala Lumpur. Satu pengecualian ada pada dimensi strategi swabantu di Kuala Lumpur, yang alpha pasca-modulnya jatuh ke 0,53; para penulis menjelaskannya sebagai efek plafon, karena skor sudah tinggi dan variasinya kecil.
Yang Beda: Pertolongan dan Swabantu
Perbedaan mulai terlihat pada dimensi kesediaan mencari pertolongan dan memberi pertolongan pertama. Di Riyadh, kenaikannya sedang, r 0,37. Di Kuala Lumpur, kenaikannya besar, r 0,62, dan ini dimensi dengan perubahan terbesar di kota itu. Uji langsung antarnegara membenarkan jarak ini: peserta Malaysia berubah lebih banyak, dengan p 0,001, meski besaran efek perbedaannya sendiri hanya 0,23.
Pola serupa muncul pada strategi swabantu, yaitu butir tentang tidur cukup, makan seimbang, olahraga, dan melakukan hal yang menyenangkan. Kenaikan di Riyadh 0,33, sedang; di Kuala Lumpur 0,49, yang oleh naskah dimasukkan ke kategori besar. Namun pada dimensi ini uji antarnegara tidak menemukan perbedaan bermakna, p 0,148, sehingga jarak yang tampak di angka r tidak cukup kuat untuk disebut beda.
Para penulis merangkum perbandingan lintas negara ini dengan hati-hati. “Secara keseluruhan, besaran efeknya kecil, menandakan perbedaan yang sederhana antarnegara,” tulis Nasriah Zakaria dan rekan-rekannya dalam naskah yang berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi overall, effect sizes were small, indicating modest differences between countries. Nilai r perbedaan antarnegara memang tidak ada yang melewati 0,23.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Yang Tak Bergerak di Kedua Kota
Satu dimensi tidak bergeser bermakna di mana pun: keyakinan keliru. Tiga butirnya berbunyi bahwa hanya orang dewasa yang bisa mengalami gangguan jiwa, bahwa gangguan jiwa tidak memengaruhi perasaan, dan bahwa gangguan jiwa tidak memengaruhi perilaku. Di Kuala Lumpur, perubahan skornya nyaris nol, r 0,09 dengan p 0,335. Di Riyadh, perubahannya 0,25 dengan p 0,021, tetapi ambang yang dipakai setelah koreksi Bonferroni adalah 0,01, sehingga tetap tidak bermakna.
Para penulis membaca kebuntuan ini sebagai tanda bahwa salah kaprah lebih dalam akarnya daripada pengetahuan. “Tidak berubahnya keyakinan keliru sejalan dengan bukti bahwa stigma dan salah kaprah berakar lebih dalam dan kurang responsif terhadap intervensi jangka pendek,” tulis mereka. Aslinya dalam bahasa Inggris: the lack of change in erroneous beliefs aligns with evidence that stigma and misconceptions are more deeply rooted and less responsive to short-term interventions.
Dari situ naskah menarik saran berbeda untuk dua kota. Untuk Riyadh, mereka menilai muatan pendidikan terstruktur saja sudah cukup mengurangi salah kaprah, sementara untuk Kuala Lumpur diperlukan pendekatan yang menggabungkan psikoedukasi dengan unsur khusus antistigma seperti pembelajaran berbasis kontak, narasi, atau cerita digital. Saran itu bertumpu pada selisih angka Riyadh yang, seperti dicatat tabelnya sendiri, belum melewati ambang bermakna.
Naskah juga mencatat batas-batasnya. Kelompok tidak diacak, sehingga bias seleksi dan perancu tak terkendali bisa memengaruhi hasil; ukurannya laporan diri; post-test diambil segera setelah modul dalam satu sesi dengan kuesioner yang persis sama, sehingga kenaikan skor bisa sebagian berasal dari keakraban dengan pertanyaan. Peserta intervensi dan kontrol pun direkrut dari institusi yang sama, sehingga isi modul bisa saja tersebar lewat obrolan.
Yang Tak Sejalan di Dalam Naskah
Ada beberapa bagian naskah yang saling bertentangan dan bisa diperiksa pembaca dari tabelnya. Abstrak menyebut peserta Malaysia meraih kenaikan pengetahuan gangguan jiwa lebih besar dengan p di bawah 0,001 dan literasi total lebih besar dengan p 0,002. Bagian hasil menulis angka lain: untuk pengetahuan, p 0,024 dengan peserta Saudi yang berubah lebih banyak, dan untuk literasi total, p 0,235 tanpa perbedaan. Tabel 7 memuat r 0,24 untuk pengetahuan, sedangkan teks menyebut 0,16.
Pertentangan kedua menyangkut keyakinan keliru. Abstrak menyajikan penurunan keyakinan keliru di Arab Saudi dengan p 0,021 seolah temuan, padahal Tabel 5 menandainya tidak bermakna setelah koreksi. Bagian diskusi tentang Malaysia menulis peserta membaik bermakna pada keyakinan keliru, lalu dua kalimat kemudian menulis tidak ada penurunan bermakna pada dimensi yang sama. Pada kelompok kontrol, satu bagian menyebut mereka menerima brosur dan diskusi kelas, bagian lain menyebut mereka hanya mengisi kuesioner.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Riyadh dan Kuala Lumpur, dua kota yang oleh para penulis disebut kosmopolitan tetapi berakar kuat pada praktik agama dan budaya, akhirnya memberi dua jawaban untuk satu modul. Di Riyadh, pengetahuan naik paling tinggi dan hal lain menyusul dengan langkah sedang. Di Kuala Lumpur, keterampilan mencari pertolongan dan swabantu naik paling tinggi, sementara pengetahuan menyusul. Yang tidak bergerak di keduanya justru bagian yang paling ingin diubah oleh modul semacam ini, dan naskah sendiri belum sepakat tentang seberapa jauh kedua kota sebenarnya berbeda.















