- Hanya 3 dari 20 dasawisma Nagari Salimpek yang masih aktif mengelola kebun tanaman obat saat program dimulai
- Pemahaman desa sentra herbal naik dari 29 ke 55 persen, kesadaran potensi Salimpek dari 32 ke 77 persen
- 27 dari 31 peserta memakai pestisida sebelum penyuluhan, dan tetap 27 sesudahnya
- Naskah menulis semua peserta paham konsep sentra herbal, tabelnya mencatat 17 dari 31
Daftar Isi
Bibit ginseng jawa berpindah tangan di halaman Kelompok Wanita Tani Berkah Sinergi, Tanjung Balit, pada 19 Juli 2025. Yang menerimanya adalah perwakilan tujuh dasawisma Nagari Salimpek, Alahan Panjang, Sumatera Barat. Di sekeliling mereka berdiri tokoh masyarakat, perwakilan pemerintah nagari, dinas kesehatan, dinas pertanian, mahasiswa KKN, dan beberapa mahasiswa asing. Bibit itu lalu ditanam bersama, dan dari situlah sebuah program enam bulan dimulai.
Penanaman itu dicatat Satya Wydya Yenny dan dua belas rekannya dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dalam Community Empowerment of Nagari Salimpek in Developing a Herbal Cosmetic Village Based on Family Medicinal Plants (TOGA), terbit di Warta Pengabdian Andalas volume 33 nomor 1, tahun 2026. Sebagian besar penulisnya dokter kulit dari Departemen Dermatologi, Venereologi, dan Estetika, ditambah dua farmakolog.
Halaman Berkah Sinergi
Nagari Salimpek terletak di dataran tinggi Alahan Panjang. Wilayahnya terbagi dalam tujuh jorong dan 20 dasawisma, semuanya bernaung di bawah Kelompok Wanita Tani Berkah Sinergi. Menurut aturannya, setiap dasawisma memelihara satu kebun tanaman obat keluarga. Kenyataannya, ketika tim Unand datang, hanya tiga dari 20 kebun itu yang masih aktif digarap.
Tanaman yang paling dikenal dari nagari ini adalah ginseng jawa, Talinum paniculatum. Paper menyebut tanaman itu berkhasiat antioksidan, antibakteri, dan merangsang kolagen. Warga memakainya sebagai rebusan dan obat rumah. Hasil bumi lain umumnya dijual mentah untuk konsumsi harian, hampir tanpa pengolahan. Nilai tambah yang bisa dipetik dari tanaman itu, kata para penulis, belum tersentuh.
Dari halaman itulah tiga tahap kegiatan berjalan. Pertama, penyuluhan tentang toksikologi obat dan potensi tanaman herbal untuk obat serta kosmetik. Kedua, penandatanganan nota kesepakatan antara Universitas Andalas dan Nagari Salimpek tentang konsep dan peta jalan Nagari Kosmetik Herbal. Ketiga, pelatihan praktis kebun tanaman obat keluarga, disusul pembagian bibit ginseng jawa dan tanaman herbal lain.
Targetnya ditulis jelas: tujuh kelompok kebun tanaman obat yang aktif di seluruh nagari. Angka tujuh itu sama dengan jumlah jorong dan jumlah perwakilan dasawisma yang menerima bibit di halaman Berkah Sinergi. Evaluasi berkala dijadwalkan sampai Desember 2025, dan foto hasil pemeriksaan kebun kelompok tani dimuat di bagian akhir naskah.
Tiga Puluh Satu Kursi
Sebanyak 31 orang duduk mengikuti penyuluhan dan mengisi kuesioner sebelum serta sesudahnya. Hampir semuanya perempuan, tepatnya 90,32 persen. Kelompok usia terbesar di atas 50 tahun, 45,16 persen. Lulusan SMA menjadi kelompok pendidikan terbanyak dengan 32,26 persen. Separuh lebih, 51 persen, adalah ibu rumah tangga, dan 51 persen pula yang memiliki lahan pertanian sendiri.
Sebelum penyuluhan dimulai, pengetahuan dasar mereka sudah tinggi. Sebanyak 27 dari 31 orang pernah mendengar istilah tanaman obat keluarga, 28 tahu artinya, dan 28 pernah menanamnya di rumah. Semua 31 orang setuju tanaman itu berguna sebagai pertolongan pertama sakit ringan dan untuk keperluan kosmetik. Jahe, sirih, kelor, kunyit, dan ginseng jawa disebut sebagai contoh yang paling akrab.
Yang rendah justru pengetahuan tentang gagasan besarnya. Hanya 9 dari 31 orang, atau 29 persen, tahu apa yang dimaksud desa sentra herbal. Hanya 10 orang, 32 persen, tahu bahwa Salimpek berpotensi menjadi desa semacam itu. Dan hanya 18 orang, 58 persen, tahu ada kelompok tani di nagari mereka sendiri yang mengelola tanaman obat.
Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Kuesioner Sesudah Penyuluhan
Sesudah sesi ceramah, video, dan diskusi, kuesioner dibagikan lagi. Semua 31 orang kini mengaku pernah mendengar istilah tanaman obat keluarga dan bisa menyebut contohnya. Pemahaman tentang desa sentra herbal naik dari 9 menjadi 17 orang, dari 29 ke 55 persen. Kesadaran akan potensi Salimpek naik paling tajam, dari 10 menjadi 24 orang, dari 32 ke 77 persen.
Kenaikan lain lebih tipis. Pengetahuan cara mengolah tanaman obat bergerak dari 25 ke 27 orang, dari 80,6 ke 87,1 persen. Kesadaran bahwa tanaman obat bisa menimbulkan efek samping bila dipakai berlebihan atau keliru juga dari 25 ke 27 orang. Pengetahuan tentang bahaya pestisida bagi kesehatan naik dari 27 ke 29 orang, dari 87,1 ke 93,5 persen.
Di luar tabel, para penulis melaporkan hal lain. Sebanyak 27 dari 31 orang mengakui seluruh warga bertanggung jawab memajukan ekonomi berbasis herbal. Kelompok tani yang ada disebut lebih berorientasi pada budidaya, dan kebutuhan utama mereka adalah pelatihan serta pendidikan, disebut 18 orang, lalu penyediaan bibit, disebut 13 orang. Semua responden setuju tanaman herbal pantas menjadi simbol budaya nagari.
Pestisida di Ladang
Ada satu baris kuesioner yang tidak bergerak sama sekali. Ditanya apakah memakai pestisida saat bertani, 27 dari 31 orang menjawab ya sebelum penyuluhan. Sesudah penyuluhan, tetap 27 orang. Padahal pada saat yang sama, 29 orang mengaku tahu bahaya pestisida bagi kesehatan. Pengetahuan naik, praktik di ladang tidak beranjak.
“Namun, meski ada kesadaran itu, 27 dari 31 responden (87 persen) masih melaporkan memakai pestisida dalam bertani, yang menunjukkan jurang antara pengetahuan dan praktik,” tulis Satya Wydya Yenny dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Kalimat itu menjadi satu-satunya tempat di bagian hasil ketika para penulis mengakui ada yang tidak berubah.
Jurang itu dibawa sampai ke pembahasan. Ketergantungan pada pestisida dan rendahnya kesadaran awal tentang sentra herbal disebut sebagai tantangan yang menuntut pendidikan dan pemantauan terus-menerus. Para penulis mengutip riset Liang dan kawan-kawan tahun 2022 yang menemukan budidaya organik tanaman obat menambah keanekaragaman hayati, mengurangi ketergantungan pada pestisida, dan memperbaiki hasil ekonomi. Pelatihan pertanian organik lalu diusulkan sebagai kegiatan lanjutan.
Usulan itu menyentuh inti gagasan Nagari Kosmetik Herbal. Bahan kosmetik yang hendak dijual sebagai produk alami berasal dari ladang yang sama dengan hasil pertanian yang disemprot pestisida. Paper tidak mengukur residu apa pun; ia hanya mencatat jawaban kuesioner. Tetapi angka 27 yang tak bergeser itu berdiri persis di samping angka 24 orang yang kini yakin nagarinya bisa menjadi sentra herbal.
Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir
Nota kesepakatan yang ditandatangani di Salimpek belakangan mendapat pengakuan dari program Kawasan Rumah Pangan Lestari Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat. Program itu mendorong pemanfaatan pekarangan secara intensif dan ramah lingkungan untuk kebutuhan pangan serta gizi rumah tangga. Bagi para penulis, pengakuan tersebut menjadi pintu untuk memasukkan kebun tanaman obat ke rencana ekonomi daerah.
Kesimpulan naskah menyatakan tujuan penguatan kapasitas, kolaborasi, dan pembentukan kelompok tanaman obat aktif telah tercapai. Namun naskah tidak melaporkan berapa kelompok yang benar-benar aktif pada Desember 2025, apakah tujuh sesuai target atau kurang. Evaluasinya bertumpu pada kuesioner pengetahuan 31 orang dari satu nagari, dianalisis secara deskriptif tanpa uji statistik, sehingga hasilnya tidak bisa ditarik ke nagari lain.
Paper juga menetapkan indikator keberhasilan sendiri di bagian metode: 80 persen peserta menunjukkan pemahaman, diukur dari minimal 70 persen jawaban benar. Angka itu tidak pernah muncul lagi di bagian hasil. Pembaca tidak diberi tahu apakah ambang tersebut terlampaui, dan pemahaman tentang desa sentra herbal yang berhenti di 55 persen menyisakan tanda tanya.
Angka yang Tidak Cocok
Beberapa hal bisa diperiksa langsung pada naskah. Teks hasil menulis bahwa sesudah penyuluhan semua peserta memahami konsep sentra herbal dan mengenali potensi Salimpek. Tabel 1 pada butir 11 mencatat 17 orang menjawab ya dan 14 menjawab tidak, sementara abstrak sendiri menulis 55 persen. Butir 12 mencatat 24 ya dan 7 tidak, bukan seluruhnya.
Angka 18 dari 31 ditulis 57 persen di satu kalimat dan 58 persen di kalimat berikutnya. Butir 6 tabel kosong pada kolom jawaban tidak sesudah penyuluhan. Pernyataan tentang tanggung jawab bersama, simbol budaya, dan kebutuhan pelatihan atau bibit tidak punya butir di tabel 13 pertanyaan itu. Nota kesepakatan disebut antara Universitas Andalas dan nagari di bagian metode, tetapi antara Fakultas Kedokteran dan KWT Berkah Sinergi di pembahasan.
Daftar pustaka menyimpan jejak penggantian kata otomatis. Dua rujukan menulis Republik Orang dan tanaman di Orang, tempat seharusnya tertulis Indonesia. Rujukan Liang dan kawan-kawan tahun 2022 di teks tercatat sebagai Jiang di daftar pustaka. Widyastuti dan kawan-kawan dikutip 2024 di teks, tetapi 2023 di daftar. Nama departemen farmakologi dieja Farmacology pada baris afiliasi.
Baca juga Tanah Liat Harau 51,74 Persen Layak Jadi Gerabah
Kembali ke Halaman
Bibit ginseng jawa yang berpindah tangan di halaman Berkah Sinergi pada Juli 2025 itu ditanam di nagari yang sudah lama mengenalnya. Yang berubah setelah enam bulan bukan tanamannya, melainkan seberapa banyak orang percaya bahwa nagari mereka bisa menjadi sesuatu yang lain dari sekadar penjual hasil bumi mentah. Sementara itu, di ladang yang sama, 27 dari 31 tangan yang menanam bibit masih memegang penyemprot pestisida.














