- Luas lahan satu-satunya faktor yang berpengaruh nyata pada pendapatan, dengan T 2,208 dan p 0,028.
- Harga sawit tidak berpengaruh langsung, tetapi berpengaruh lewat luas lahan dengan T 2,112 dan p 0,035.
- Produktivitas gagal di kedua jalur, langsung maupun lewat luas lahan.
- Sebanyak 122 dari 155 responden hanya menggarap 1 sampai 5 hektare.
Daftar Isi
Luas lahan menentukan pendapatan petani sawit, harga sawit tidak. Temuan itu datang dari penelitian atas 155 petani kelapa sawit di Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, salah satu sentra sawit terbesar di provinsi itu. Angkanya tegas: luas lahan lolos uji statistik, harga jual gagal.
Tsamara Afifah, Heri Faisal Harahap, Silfia, dan Reza Mardiyah Amir menulisnya dengan judul The Role of Land Area as A Mediator in The Relationship between Palm Oil Price and Productivity on Farmers’ Income in Bangko Pusako Rokan Hilir. Keempatnya bekerja di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.
Naskah itu terbit di Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences, volume 6 nomor 1, tahun 2025. Respondennya 155 pemilik kebun sawit di Kecamatan Bangko Pusako. Mereka dipilih dengan cara kebetulan, artinya siapa yang mudah ditemui dan bersedia menjawab itulah yang masuk daftar.
Dua jalur diuji
Peneliti menguji dua jalan menuju pendapatan petani. Jalan pertama langsung dan pendek: harga sawit naik, pendapatan ikut naik. Jalan kedua memutar lewat luas lahan, yaitu harga naik, lahan garapan yang luas membesarkan volume panennya, barulah pendapatan bulanan petani ikut naik.
Luas lahan dalam model penelitian itu disebut variabel perantara. Istilah tersebut berarti sesuatu yang berdiri di tengah dan meneruskan pengaruh dari satu faktor ke faktor lain. Tanpa perantara itu, pengaruh harga berhenti di tengah jalan dan tidak pernah sampai ke kantong petani.
Batas lolos uji sudah dipatok peneliti sejak awal. Nilai T harus berada di atas 1,96 dan nilai p harus berada di bawah 0,05. Angka yang meleset dari batas itu berarti hubungannya masih bisa muncul karena kebetulan semata, sehingga tidak diakui sebagai temuan.
Bukti dari tabel
Harga sawit gagal di jalur langsung. Nilai T-nya hanya 0,639 dan nilai p-nya 0,102, dua-duanya jauh meleset dari batas yang dipatok. Artinya kenaikan harga sawit di Bangko Pusako tidak otomatis terbaca sebagai kenaikan pendapatan bulanan petani di sana.
Produktivitas juga gagal di jalur langsung. Nilai T-nya 1,810 dan nilai p-nya 0,071, meleset tipis dari ambang tetapi tetap meleset. Kebun yang lebih produktif per hektare belum tentu memberi pendapatan yang lebih besar bagi pemiliknya.
Hanya luas lahan yang lolos di jalur langsung. Nilai T-nya 2,208 dengan p 0,028 dan koefisien jalur 0,317. Dari tiga faktor yang diuji peneliti, hanya ukuran kebun yang berhubungan nyata dengan besar kecilnya pendapatan bulanan responden.
Harga dan produktivitas ternyata kuat mendorong luas lahan. Koefisien harga terhadap luas lahan 0,498 dengan nilai T 6,372, sedangkan produktivitas terhadap luas lahan 0,380 dengan nilai T 4,281. Keduanya bernilai p 0,000, angka terkuat di seluruh model.
Jalur memutar itulah yang akhirnya bekerja untuk harga. Pengaruh harga sawit terhadap pendapatan lewat luas lahan bernilai 0,158 dengan T 2,112 dan p 0,035. Angka itu lolos uji, meski jaraknya dari ambang tergolong tipis.
Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Arti bagi petani
Kebun sawit di Bangko Pusako rata-rata kecil. Sebanyak 122 dari 155 responden hanya menggarap 1 sampai 5 hektare, atau 78,7 persen sampel. Mayoritas petani berada persis di kelompok yang paling sulit memanfaatkan kenaikan harga pasar.
Kelompok di atasnya jauh lebih tipis. Ada 27 responden dengan lahan 5 sampai 10 hektare, dan hanya 6 responden yang memegang 11 hektare atau lebih. Enam orang itu setara 3,9 persen sampel, kelompok paling kecil dalam penelitian ini.
Pendapatan bulanan mengikuti pola yang sama. Sebanyak 71 responden berpendapatan Rp1,5 juta sampai Rp2,5 juta per bulan, dan 12 responden lagi hanya Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Bersama-sama kedua kelompok itu mencakup lebih dari separuh seluruh sampel.
Di atasnya, 48 responden berpendapatan Rp3 juta sampai Rp5 juta dan 24 responden lagi menembus Rp6 juta ke atas. Kelompok teratas itu setara 15,5 persen sampel. Sebaran pendapatannya menumpuk di bawah, persis seperti sebaran luas lahannya.
Peneliti menjelaskan sebabnya dengan skala usaha. Petani berlahan luas punya volume panen besar, sehingga kenaikan harga menghasilkan tambahan untung yang proporsional lebih besar pula. Volume besar juga memberi posisi tawar yang lebih kuat ketika harga tandan buah segar dirundingkan dengan pembeli.
Produktivitas tetap buntu
Jalur memutar sama sekali tidak menolong produktivitas. Pengaruh produktivitas terhadap pendapatan lewat luas lahan bernilai 0,120 dengan T 1,611 dan p 0,108. Dua-duanya berada di luar batas uji, sehingga hipotesis itu ditolak peneliti.
Penjelasan naskah atas kegagalan itu sederhana. Pada lahan sempit, produktivitas per hektare yang tinggi tetap menghasilkan jumlah panen total yang kecil. Kenaikan mutu kebun tidak sanggup menutup keterbatasan ukuran kebun itu sendiri.
Naskah juga menyebut adanya batas atas. Petani berlahan sangat luas tidak selalu sanggup mengelola seluruh arealnya dengan mutu yang sama, sebab tenaga kerja dan modalnya terbatas. Produktivitas per hektare justru bisa menurun ketika luas lahan terus bertambah.
Ada sebab lain yang ikut disorot peneliti. Kenaikan harga sawit sering datang bersamaan dengan kenaikan ongkos pupuk, upah panen, dan angkutan hasil kebun. Ketika biaya naik lebih cepat daripada harga jual, margin keuntungan petani malah menyusut.
Baca juga Petani Porang Ngrayun Menanam Tanpa Menyebut Etika
Keberatan yang wajar
Cara pengambilan sampelnya membatasi kesimpulan. Peneliti memakai accidental sampling, artinya responden dipilih berdasarkan kemudahan akses tanpa memperhitungkan keterwakilan populasi. Naskah sendiri mengakui metode itu rawan bias dan sulit digeneralisasi ke petani di luar sampel.
Jumlah petani sawit di Bangko Pusako pun tidak diketahui. Naskah menyatakan populasinya tidak teridentifikasi secara rinci sejak awal penelitian. Tanpa angka populasi, tidak ada cara memastikan seberapa jauh 155 responden itu mewakili seluruh kecamatan.
Model penelitian juga meninggalkan banyak hal. Naskah mendaftar variabel yang tidak dimasukkan: akses input produksi, mutu penyuluhan, infrastruktur angkutan, modal kerja dan kredit, serta pendidikan dan pengalaman petani. Semuanya bisa ikut menjelaskan perbedaan pendapatan.
Hasil ini berupa hubungan, bukan sebab-akibat yang sudah terbukti. Satu kecamatan di Rokan Hilir juga bukan gambaran seluruh petani sawit Indonesia. Tabel pekerjaan bahkan mencatat hanya 69 dari 155 responden yang berpekerjaan petani, sisanya wiraswasta, pegawai negeri, dan pelajar.
Kata penulisnya
Kesimpulan naskah ditulis lugas. “farmers with large land areas have comparative advantages in utilizing market price fluctuations,” tulis Tsamara Afifah dan ketiga rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu, yang artinya petani dengan lahan luas punya keunggulan komparatif dalam memanfaatkan naik turunnya harga pasar.
Dari kesimpulan itu peneliti menurunkan saran kebijakan. Mereka mendorong konsolidasi lahan lewat skema kemitraan atau koperasi, redistribusi lahan tidak produktif kepada petani berlahan sempit, dan percepatan sertifikasi lahan. Sertifikat dianggap kunci agar petani bisa mengakses kredit.
Saran lain menyangkut harga dan teknologi. Naskah mengusulkan lembaga penstabil harga yang menjamin harga minimum, kemitraan inti-plasma, subsidi pupuk dan pestisida, serta pengembangan produk turunan sawit agar petani tidak bergantung pada harga tandan buah segar.
Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia
Naskah yang goyah
Naskahnya sendiri tidak konsisten dan pembaca bisa memeriksanya. Abstrak dan Tabel 8 mencatat pengaruh luas lahan terhadap pendapatan sebagai T 2,208 dengan p 0,028. Daftar kesimpulan tepat di bawah tabel yang sama justru menulis T 2,939 dengan p 0,003.
Arah temuan produktivitas juga berubah-ubah. Abstrak dan Tabel 8 menyatakan produktivitas tidak berpengaruh langsung, dengan T 1,810 dan p 0,071. Daftar kesimpulan di bawahnya menyebut pengaruhnya signifikan, dengan T 2,813 dan p 0,005, angka yang tidak ada di tabel mana pun.
Jalur harga lewat luas lahan bernasib serupa. Tabel 9 menulis p 0,035, sedangkan bagian pembahasan menulis p 0,006 untuk jalur yang sama. Naskah juga merujuk “Table 24” dan “Table 25” padahal tabel yang dimaksud bernomor 8 dan 9.
Persentase tabelnya pun bisa dihitung ulang pembaca. Responden lulusan SMA dan SMK berjumlah 133 dari 155, tetapi ditulis 72,9 persen, padahal hitungannya sekitar 85,8 persen. Kelompok umur 51 tahun ke atas berisi 5 orang, tetapi ditulis 1,8 persen.
Satuan luas lahan ikut bermasalah. Bagian awal menyebut kebun sawit Riau 2,8 juta hektare, bagian berikutnya menulis Riau 2.869,30 hektare, lebih sempit daripada Bangko Pusako yang ditulis 22.570,00 hektare. Kelas tabelnya juga berlubang, misalnya tidak ada kelas pendapatan Rp1 juta sampai Rp1,5 juta.
Sisa pertanyaan
Yang belum terjawab adalah arah panahnya. Luas lahan bisa jadi penyebab pendapatan besar, bisa juga sekadar penanda petani yang sejak awal memang bermodal lebih kuat. Data yang diambil pada satu waktu tidak bisa memisahkan kedua kemungkinan itu.
Peneliti menyarankan pendekatan jangka panjang dan analisis per kelompok petani untuk menjawabnya. Sampai itu dikerjakan, yang tersisa dari Bangko Pusako adalah satu kenyataan sederhana. Harga naik untuk semua orang, tetapi tidak sampai ke semua kebun.















